[Vignette] “Beautiful Destiny and Beautiful Birthday!” [RYEOWOOK’S BIRTHDAY]

Birthday copy 1

Tittle: Beautiful Destiny and Birthday!

Cast: -Kim Ryeowook

-Cho Jyuwoon

Author: Anggieeeee

Disclaimer: Don’t Copas! Don’t Bash Me! If You don’t like it, don’t read! Thanks a lot… *Bow*

~Happy Reading~

Takdir… Yah, sebagian besar di dunia ini orang-orang percaya akan hal itu. Karena menurut mereka takdir adalah apa yang sudah diberikan Tuhan pada mereka. Entah itu berupa hal yang buruk atau hal yang baik. Mereka tetap menerimanya. Tapi terkadang ada saja orang-orang yang tidak menyukai takdir. Biasanya orang seperti itu adalah orang yang selalu mendapat hal buruk di dalam hidupnya. Sehingga ia tak percaya takdir. Lalu… Bagaimana cara agar kita mendapatkan takdir yang baik? Yah, dengan selalu berbuat baik pada orang lain dan tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Percayalah… Takdir baik akan selalu berpihak.

 

`STORY BEGINS`

 

Di awal musim semi di kota Seoul ini. Tampak seorang gadis bertubuh mungil itu tengah duduk di salah satu café dengan segelas coklat panas di tangannya. Mata bulatnya yang ditutupi kacamata bening itu menatap lurus ke arah depan. Memandangi burung-burung yang beterbangan dengan bebasnya dan merasakan desiran angin segar yang menerpa wajahnya. Sesekali disedotnya coklat panas itu untuk mengurangi rasa bosan yang memang sejak tadi sudah menghantuinya. Yah, ia gadis cantik yang tengah kesepian. Padahal jika dilihat dari penampilannya gadis itu tidak tampak sama sekali jika ia adalah gadis yang kesepian. Wajah yang cantik, hidung mancung, mata bulat, kulit putih mulus dan rambutnya yang tergerai panjang. Sangat tidak mungkin jika tidak ada pria yang mendekatinya ataupun untuk sekedar menghiburnya agar tidak kesepian. Tapi inilah nyatanya. Tak ada satupun pria yang mendekatinya. Yah, mungkin karena sikapnya yang bisa dibilang cukup dingin dan mirip dengan pria.

Cho Jyuwoon, nama gadis itu. Perlahan tangannya terangkat untuk menyentuh matanya yang tiba-tiba mengabur. Pertama dilepaskannya kaca mata besarnya itu dan mulai mengusap matanya pelan. Entahlah, matanya tiba-tiba terasa perih dan kabur. “Aiish….” Dengusnya sebal. Dengan matanya yang tertutup, tangannya meraba-raba meja di depannya untuk mengambil selembar kertas tisu yang diletakkannya di sana. Tapi tiba-tiba…

“Aaargghhh… Panas!” pekiknya begitu dirasanya coklat panasnya itu menumpahi sebagian paha kanannya yang memang hanya ditutupi hot pants jeans. Jyuwoon memaksakan untuk membuka matanya dan berdiri untuk membersihkan coklat itu dari pahanya. Sungguh sial! Bahkan sekarang paha kanannya itu memerah. Tentu saja! Coklat itu sangat panas. Terlebih lagi karena Jyuwoon baru beberapa menit yang lalu memesannya.

Jyuwoon melepaskan topinya dan mengipas-ngipaskannya di depan pahanya yang benar-benar terasa panas. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Tak mungkin jika ia berlari masuk ke café itu dengan kondisi seperti ini. Terlebih lagi sekarang café itu sangat ramai. Yah, Jyuwoon tadi duduk di bagian luar café yang memang langsung menghadap alam luar.

“Aargh, panas… Aiih, mataku….” Rintihnya kebingungan. Matanya mengerjap-kerjap untuk mengurangi rasa perihnya. Sedangkan tangannya masih tak berhenti untuk mengipas-kipaskan topinya di depan paha kanannya.

“Gwaenchana, aggashi?”

Jyuwoon terperanjat begitu dirasanya seseorang menyentuh pundaknya dengan tiba-tiba. Ia lantas membelalakan matanya dan menatap orang itu dengan tatapan tak suka. “Jangan sentuh aku!” ucapnya dingin. Dan sedetik kemudian ia kembali menatapi pahanya yang kian lama kian memerah.

Tanpa banyak bicara lagi, orang itu lantas menggendong Jyuwoon ala bridal style untuk keluar dari café itu. Persetan dengan Jyuwoon yang terus berteriak dan meronta karena perlakukannya. Ia tetap menggendong Jyuwoon dan memasukkannya dengan perlahan ke mobil putihnya. “Mianhae, aggashi. Aku membawamu dengan paksa. Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin menolongmu. Karena aku kasihan melihatmu yang sedari tadi hanya merenung sendirian dan tiba-tiba ketumpahan coklat panas.” Ucap orang itu dengan senyuman lucu setelah ia duduk di kursi kemudi.

Jyuwoon mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajah kesalnya di alihkan untuk melihat suasana kota Seoul dari dalam jendela mobil yang bisa dikatakan cukup mewah ini. Siapapun orang yang menolongnya itu. Ia tak perduli. Ia hanya kesal dengan orang itu sekarang. Karena bagaimanapun juga ia sudah berani menyentuh tubuhnya dengan tiba-tiba. Tanpa izin pula.

***

 

Masih dengan kesegaran angin musim semi yang berhembus. Jyuwoon duduk di sofa ruang tengah rumah orang itu dengan wajahnya yang ditekuk. Matanya masih tak mau menatap orang yang kini tengah duduk di sampingnya itu. Ia lebih memilih untuk mengamati alam luar yang memang bisa dilihatnya dari sofa yang kini di tempatinya.

“Aggashi, minumlah dulu. Setidaknya ini bisa mengurangi rasa terkejutmu tadi.” Ucap orang itu lembut.

Jyuwoon menoleh dan menatap orang itu geram. Lalu sedetik kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya.

Orang itu menghela nafas berat, “Baiklah, boleh aku tau namamu? Aku Kim Ryeowook.”

“Aku tidak tanya. Dan kurasa kau tak harus tahu siapa namaku!” jawab Jyuwoon dingin tanpa menatap orang yang ternyata bernama Ryeowook itu.

Ryeowook mengangguk. “Hm… Sekarang, boleh aku mengobati lukamu? Sungguh aku tak bisa jika melihat orang yang harus menahan sakit.”

Jyuwoon menatap Ryeowook tajam. Tangannya yang tadi terlipat kini terangkat untuk menyentuh bekas coklat yang memerah di pahanya dan menepuknya, “Ini maksudmu? Cih, aku bukan yeoja lemah, Ryeowook~ssi. Kau pikir aku tak bisa menahannya sehingga kau harus mengobatinya? Siapa kau, eoh?!”

“Aku? Aku Kim Ryeowook.” Jawab Ryeowook dengan tampang polosnya.

“Ish, sudahlah. Aku pulang saja!” Jyuwoon berdiri dari duduknya dan mengambil topinya yang tergeletak di atas meja. “Terimakasih atas pertolonganmu, Tuan Kim!” ketus Jyuwoon sesaat sebelum menyentuh knop pintu rumah itu.

“Kau yakin tidak apa-apa, aggashi? Apa kau tak lihat itu sangat merah? Apa kau—“

BRUK!

 

Belum sempat Ryeowook menyelesaikan perkataannya. Ia sudah dikejutkan dengan terjatuhnya Jyuwoon secara tiba-tiba. Ryeowook lantas bangkit dan mengangkat tubuh mungil gadis itu kepangkuannya. “Aggashi! Ireona! Aggashi!” ucapnya kalut. Benar saja, bukankah Jyuwoon baru berkata jika ia bukan gadis yang lemah sehingga tak bisa menahan rasa sakit itu? Tapi sekarang? Ia bahkan sudah pingsan.

“Maafkan aku.” Ryeowook menggendong Jyuwoon dan merebahkannya di kamarnya. Ia bingung. Apa lagi yang harus dilakukannya? Sungguh, ia tak pernah sepanik ini begitu melihat seseorang yang pingsan.

Setelah merebahkan Jyuwoon ke kasur empuknya. Ryeowook lantas berlari ke dapur dan mengambil sekantung es untuk dikompreskan pada paha Jyuwoon yang kini sudah benar-benar memerah. Berkali-kali ia meminta maaf dalam hatinya karena telah lancang menyentuh bagian tubuh gadis yang baru ditemuinya ini. Ia sungguh tak bisa jika harus mengabaikan gadis itu. Sekalipun Jyuwoon yang sejak tadi hanya bersikap dingin dan memarahinya. Ia tak bisa jika melihat gadis ini harus terkulai lemah. Ia merasa jika ia harus merawatnya. Tapi… Ia bukan siapa-siapa. Jadi, apa ia pantas melakukannya?

“Aish, aku lupa! Bukankah hari ini aku harus ikut Kyuhyun menjemput adiknya? Ah, Kim Ryeowook! Kenapa kau menjadi pelupa?!” kesalnya pada dirinya sendiri. Tapi ia tak perduli lagi. Sekalipun nanti Kyuhyun akan memarahinya karena tidak menemaninya menjemput adiknya yang memang baru datang dari Amerika. Yang terpenting sekarang adalah ia harus merawat gadis yang kini ada di hadapannya. Baginya sekarang menolong orang adalah hal yang terpenting. Terlebih lagi jika yang ditolong adalah seorang gadis.

***

 

Hari semakin larut. Tak terasa jika kini sang mentari tengah dalam perjalanannya untuk kembali keperaduannya. Ditemani burung-burung yang beterbangan untuk meramaikan langit sore dan siulan angin malam yang akan segera datang.

Di sebuah rumah dengan desain minimalis itu. Tampak seorang namja tengah tertidur dengan pulasnya dengan posisi yang bisa dikatakan kurang wajar. Tentu saja! Dengan kepalanya yang tertumpu di atas kasur dan tubuhnya yang terduduk di lantai. Entahlah apakah namja itu merasa jika dirinya tidur dalam posisi yang sangat tidak mengenakkan seperti itu. Yang jelas sekarang ia tengah tidur. Bahkan ia tak sadar jika gadis yang sejak tadi dijaganya sudah terbangun dengan mata yang masih sangat berat untuk terbuka.

Perlahan Jyuwoon bangkut dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Tangannya terangkat untuk memijat pelan pelipisnya yang masih terasa berdenyut. Hingga akhirnya ia dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang berada tepat di samping kirinya. “Eoh? Ryeowook~ssi?” tanyanya bingung. “Hey, Ryeowook~ssi! Apa yang kau lakukan? Ireona!” tangan Jyuwoon bergerak untuk menyentuh dan mengguncang pelan tubuh Ryeowook. Ia tak habis pikir. Apakah namja ini menjaganya sejak tadi? Ia tak tahu apa keuntungan yang didapat namja ini jika menjaganya seperti ini?

Akhirnya Ryeowook menggerakkan tubuhnya. Perlahan kepalanya mendongak dan menatap Jyuwoon dengan matanya yang setengah tertutup. “Eoh, kau sudah bangun, aggashi?” tanyanya dengan suara parau dan senyuman lucunya. Entahlah sepertinya itu efek karena bangun tidur.

Jyuwoon terkekeh geli melihat tingkah namja di hadapannya ini. Tanpa ia sadari, senyuman yang sangat lebar juga terpatri indah di wajah cantiknya. “Sudahlah, namaku Jyuwoon. Panggil saja aku Jyu. Terlalu formal rasanya jika kau terus memanggilku dengan sebutan ‘Aggashi’.

Ryeowook mengangguk dan merentangkan kedua tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sesekali ia menguap lebar karena rasa kantuk yang benar-benar menyerangnya. “Oh, namamu Jyu. Baiklah, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

“Sudah lumayan membaik. Setidaknya mataku tidak perih lagi.”

“Mwo? Tadi matamu perih juga? Kupikir hanya pahamu saja yang sakit karena panas. Ternyata matamu juga?” Ryeowook menunduk sejenak. “Ah, maafkan aku. Tadi aku mengobati pahamu itu tanpa izin. Maafkan aku.”

Jyuwoon mengalihkan pandangannya pada pahanya yang kini memang tak terlalu memerah lagi. Dan seulas senyum kembali mengembang di kedua sudut bibirnya. “Nde, gwaenchana. Kau sudah mengobatiku. Dan seharusnya aku yang meminta maaf. Karena tadi aku terus memarahimu karena kau tiba-tiba menggendongku.”

“Ehm… Nde, itu… Aku tadi hanya… Ehm, ingin menolongmu. Tapi kau menolak. Jadi terpaksa aku menggendongmu.” Ryeowook menunduk dan menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Entahlah, kenapa ia menjadi gugup seperti ini?

Jyuwoon pun seperti itu, ia terus menunduk dan memainkan ujung kemeja merah yang dipakainya dengan sesekali mengerjapkan mata untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menghantuinya. Ia juga bingung kenapa ia seperti ini? Lalu, ke mana sikap pemberaninya? Sikap dinginnya kepada semua orang? Kenapa semua itu seolah hilang sejak ia melihat senyum lucu Ryeowook tadi?

“Ah, aku harus pergi. Tadi aku ada janji dengan temanku untuk menjemput adiknya di bandara. Kau… Ingin ikut, kuantar pulang atau tinggal di sini dulu?” tanya Ryeowook yang kini mulai berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.

“Ehm, aku… Aku belum tahu aku tinggal di mana. Aku lupa di mana rumahku dulu karena aku baru pulang dari Amerika. Terlebih lagi tadi koperku hilang saat di bandara. Ponselku juga, jadi aku tidak tahu harus menghubungi siapa.” Jyuwoon menunduk.

Sedangkan Ryeowook terperanjat dengan penjelasan Jyuwoon. Tunggu dulu, ia bilang tadi ia baru pulang dari Amerika? Bukankah adik Kyuhyun juga akan pulang dari Amerika? “Siapa nama lengkapmu?” tanya Ryeowook seduktif. Kini ia sudah duduk di hadapan Jyuwoon dan menggenggam tangan gadis itu.

Jyuwoon menunduk. Bukan ia tak mau menjawab pertanyaan Ryeowook, hanya saja ada sesuatu yang berdesir hebat di dalam dadanya karena perlakuan tiba-tiba Ryeowook itu. Tidak. Jangan katakana jika itu berarti ia mulai…

“Siapa nama lengkapmu, Jyu?”

“Eoh? Ehm… Cho Jyuwoon.” Jawabnya lirih dengan kepalanya yang masih menunduk. Sungguh ia masih tak bisa mengontrol kinerja jantungnya yang tiba-tiba berdegup dengan kencang.

Ryewook tersenyum. Dan didetik berikutnya ia menarik tangan Jyuwoon dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya. “Kau adik Kyuhyun, bukan?”

Jyuwoon yang masih terpaku dengan apa yang dilakukan Ryeowook padanya, jadilah ia hanya bisa mengangguk seraya membelalakan kedua mata bulatnya.

“Bahkan sebelum Kyuhyun mengenalkanmu padaku kita sudah bertemu.” Ucap Ryeowook setelah melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Jyuwoon. “Kyuhyun sudah berjanji padaku bahwa ia akan mengenalkan adiknya padaku. Dan sekarang aku sudah bertemu dengan adiknya. Kurasa kita jodoh.”

“Apa? Kyu—“

“Nde, dia ingin menjodohkanmu denganku. Tapi sepertinya takdir sudah lebih dulu melakukannya. Sehingga ia tak perlu repot-repot lagi. Karena sekarang kurasa aku sudah menyukaimu,” Ryeowook melepaskan tangannya dari wajah Jyuwoon dan kembali menggennggam tangan gadis itu dengan lembut dan penuh perasaan. “Saranghae.”

Entah apa yang mendorong Jyuwoon untuk melakukan ini. Yang jelas sekarang ia membalas genggaman tangan Ryeowook di tangannya dan mengecup singkap pipi namja itu. “Kurasa aku juga menyukaimu, entah kenapa setelah aku melihat senyuman lucumu tadi. Aku tiba-tiba merasa berubah. Aku… Mencintaimu.”

CHUP!

 

Mendengar Jyuwoon membalas pernyataannya. Ryeowook lantas tersenyum bahagia dan mengecup bibir Jyuwoon sekilas. “Ini untuk balasanmu tadi, nona Cho!” desisnya seraya memainkan hidung mancung Jyuwoon dengan hidungnya.

“Aish, kau ini!”

“Wae?” Ryeowook tersenyum dan menyentuh bibir Jyuwoon lembut.

Jyuwoon bergidik dan segera mengalihkan tangan Ryeowook yang menyentuh bibirnya. “Kupikir kau begitu polos, seperti apa yang Kyuhyun Oppa ceritakan padaku. Sayangnya ia tak pernah berkata padaku siapa namanya. Dan ternyata…” Jyuwoon menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Ryeowook dengan mata yang disipitkan.

“MWO? MWOYA?!” Ryeowook mendekat pada Jyuwoon seraya mengangkat dagunya. Berniat menantang gadis yang baru saja menjadi miliknya itu.

Merasa Ryeowook semakin mendekatinya, Jyuwoon lantas memundurkan tubuhnya dan menurunkan kakinya untuk menghindari namja itu. Dan seperkian detik kemudian… “Aaaaa!!!” teriak Jyuwoon yang langsung berlari keluar kamar itu.

“Hey! Jangan lari!!” sahut Ryeowook yang kini justru turut berlari mengejar Jyuwoon.

Jyuwoon bingung harus ke mana untuk bersembunyi. Ia memang sudah di luar kamar itu kini. Tapi ia benar-benar tidak tahu seluk beluk rumah Ryeowook. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memasuki salah satu ruangan yang pintunya tidak tertutup. Jyuwoon masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menutup pintunya. Menyandarkan punggungnya di daun pintu itu dengan tangan kirinya yang memegangi dadanya. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak diluar batas dan darahnya berdesir dengan derasnya di dalam sana. “Apa itu?” tanyanya pada diri sendiri saat matanya menangkap sesuatu seperti buku yang terletak tak jauh darinya.

Perlahan Jyuwoon mengambil buku itu dan membukanya. Mulai untuk membaca isinya dan memahami apa arti yang sebenarnya terkandung dalam buku itu.

HARI INI ULANG TAHUNKU! KUPASTIKAN TAHUN INI TIDAK AKAN ADA YANG PERDULI LAGI PADAKU! BAHKAN SAHABATKU SENDIRI TIDAK AKAN PERDULI! INGAT ITU! HUH! -,-

 

Itulah yang tertulis di bagian depan buku itu. Jyuwoon mengernyit. Apa maksudnya tulisan itu? Apa hari ini ulang tahun Ryeowook? Jyuwoon kembali menatap buku itu dan mencoba menemukan sesuatu yang mungkin bisa membantunya mengetahui sesuatu. Hingga akhirnya matanya terhenti pada sebuah tulisan yang berada di pojok buku itu.

My Bad Birthday 21st of June 2012

 

Jyuwoon mencoba mengingat-ingat lagi. Tanggal berapa hari ini? Tunggu… Ini tanggal 21 juni. Yah, 21 Juni 2013. Itu berarti tulisan itu sudah berusia 1 tahun. Jadi, hari ini ulang tahun Ryeowook? Ya, benar! Hari iniulang tahun namja itu!

Jyuwoon kembali menutup buku itu dan membuangnya ke sembarang tempat. Ah, ia baru sadar. Sekarang ia ada di gudang. Seperkian detik kemudian Jyuwoon bangkit dan berjalan untuk membuka pintu itu. Perlahan… Agar tidak menghasilkan suara decitan dan membuat Ryeowook menemukannya.

 

KLEK!

 

Jyuwoon mendengus kesal. Ia sudah bersusah payah untuk meredam decitan pintu itu dengan cara membukanya secara perlahan. Tapi nyatanya, suara knop yang dipegangnyalah yang berbunyi. “Aish, babo!”

“JYU!”

“Nde….” Sahut Jyuwoon lemas seraya berjalan keluar gudang itu. Baiklah, ia mengalah…

Ryeowook berjalan mendekat dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap Jyuwoon tajam dan nafasnya terdengar memburu. Sebegitu lelahnyakah namja itu demi mencari Jyuwoon hingga nafasnya terdengar seperti itu? “Kau ini. Senang sekali memb—“

CHUP!

 

“Saengil Chukhahae Hamnida… Saranghaeyo, Kim Ryeowook.” Ucap Jyuwoon lembut setelah berhasil membuat Ryeowook terpaku dengan cara mengecup bibir namja itu.

Ryeowook terdiam. Ia masih cukup terkejut dengan cara Jyuwoon yang sangat tiba-tiba. Dan itu justru membuat rasa kesalnya terhadap Jyuwoon menjadi hilang. “Apa kau bilang tadi?”

“Saengil Chukhahae Hamnida… Kuharap tahun ini tidak akan menjadi ulang tahunmu yang buruk, karena sekarang ada aku yang akan selalu memperdulikanmu. Saranghaeyo, Kim Ryeowook.” Jyuwoon mendekat pada Ryeowook dan memeluk namja itu erat. Membenamkan wajahnya pada dada bidang Ryeowook dan mencoba mencari kehangatan di sana. Entahlah, sejak kapan ia senang dipeluk seorang namja. Mengingat sikapnya selama ini yang selalu dingin dan tidak suka di sentuh oleh orang lain, terutama namja.

Ryeowook tersenyum dan mengangguk. Tangannya juga terangkat untuk membalas pelukan Jyuwoon. “Gomawo… Kupegang janjimu itu, Jyu~ya. Saranghaeyo….” Ucap Ryeowook sembari menenggelamkan wajahnya di sela-sela rambut Jyuwoon yang tergerai. Sebenarnya ia masih belum percaya ini semua. Ia bisa berpelukan dengan seorang gadis yang tiba-tiba merebut hatinya. Terlebih lagi gadis itu baru beberapa jam yang lalu ditemuinya.

“Saengil Chukhahae, Wook~ah….”

-FIN-

 Thanks for reading this…

^_*

Advertisements