13th ENCHANTED

​Dia yakin. Sangat amat yakin, tadi. Tapi ketika matanya melihat alamat di tangannya dan mencocokkannya dengan papan penunjuk jalan, Donghae mulai merasa khawatir. Kepalanya mendadak kosong. Semua yang sudah dirancangnya dan berniat diungkapkannya nanti seolah menguap begitu saja. Dia melupakan semuanya. Bahkan dia tidak sadar jika mobil taksi yang dinaikinya telah berhenti, tepat di depan rumah yang ditujunya.

“Tuan.” Panggil sopir taksi itu dan Donghae tersentak. Pria itu mengerjap cepat, menyadarkan diri terlebih dulu sebelum menanyakan tagihan yang harus dibayarnya.

“Terimakasih.” Ucapnya, lalu turun dari taksi. Sejenak ia terdiam, menahan napas sambil menatapi rumah berukuran sedang itu dengan sorot tidak terbaca.

Rumah itu pernah ditinggalinya, Donghae ingat itu. Hanya saja dia sudah lupa bagaimana bentuk rumah ini dulu. Dan jika dilihat sekarang, Donghae yakin yang tinggal di dalam sana pasti hidup baik-baik saja selama ini. Donghae bisa melihatnya dari rumah yang terawat, halaman bersih dan betapa tenang dan nyamannya rumah itu terlihat dari luar sini.

Tapi, meskipun dia sudah mengatakan pada diri sendiri bahwa tempat itu bukanlah tempat yang buruk, Donghae tetap saja ragu-ragu. Dia sudah melangkah maju dan hendak membuka pagar pendek itu, tapi sesuatu mengganggunya dan membuatnya kembali mundur.

Donghae mengacak rambutnya, bingung harus bagaimana.

Seharusnya tidak seperti ini. Tidak. Benar-benar tidak!

Dia harusnya berjalan dengan dagu terangkat dan senyum mengembang, menekan bel pintu lalu memeluk ayahnya dengan hangat begitu beliau membukakan pintu.

Tapi apa ini? Dia bahkan hampir melupakan siapa dirinya sendiri.
Donghae menggeram tertahan sambil sekali lagi mengacak rambutnya. Ia berjongkok di depan pagar, menarik-narik rambut sambil mencoba memikirkan lagi apa yang harus dilakukannya setelah bertemu dengan ayahnya nanti.

Sampai tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, yang berhenti sekitar dua meter di belakangnya dan Donghae kontan menoleh. Ia mendongak untuk menatap pejalan kaki itu, mengernyit.

“Kau baik-baik saja?” tanya orang itu, yang ternyata seorang wanita.

Donghae segera bangkit berdiri, membenahi rambutnya dan baru bisa melihat wanita itu dengan jelas. Dengan sopan ia membungkuk tahu wanita itu terlihat berumur seperti ibunya, “Ah, ya, aku baik-baik saja.” Jawabnya.

“Kau terlihat tidak baik-baik saja.”

“Tidak, tidak, aku hanya…” Donghae memutar otak. “Aku… hm… aku… Ah! Aku sedang mencari cincinku yang terjatuh, itu cincin pernikahanku. Istriku pasti marah kalau tahu aku menghilangkannya.”

“Begitu… maaf tidak bisa membantu, penglihatanku buruk di malam hari.”

“Terimakasih, aku akan menemukannya.”

“Kalau begitu aku pergi dulu.”

Donghae membungkuk sekali lagi ketika wanita itu berbalik pergi. Ia kemudian menghela napas. Lega karena hampir ketahuan sedang kebingungan. Hei, dia tidak mungkin mengakui kalau sedang bingung apakah harus masuk atau tidak ke rumah ayahnya, bukan?

Tapi dengan pertemuan singkat itu, Donghae jadi teringat pada ibunya. Senyum wanita itu tampak sangat lembut. Dia tampaknya seorang wanita yang baik hati dan disukai banyak orang di tempat ini. Donghae jadi merasa seperti mendapat suntikan kepercayaan diri. Justru itu, setelah beberapa detik berlalu pria itu mulai melangkah maju, membuka pagar dan tanpa ragu menekan tombol bel yang terletak di samping pintu.

Tubuhnya menegang, tapi dia tetap menunggu. Meskipun tidak ada respon apa pun sehingga Donghae memutuskan untuk menekan belnya sekali lagi, sampai suara seorang wanita terdengar dan ia kembali melangkah mundur.

Lantas beberapa detik kemudian pintu itu akhirnya terbuka, menampilkan seorang gadis mungil yang matanya membulat menatap ke arahnya.

Nuguseyo?”

Suaranya terdengar lucu tapi entah bagaimana caranya tapi Donghae langsung tahu kalau gadis ini cukup banyak bicara dan kadang menyebalkan.

Jadi, inikah adiknya?

Donghae mengerjap selama beberapa saat, mencari sedikit saja celah di wajah gadis itu yang mungkin sama dengan dirinya.

Tapi…

“Maaf, apa kau mencari seseorang?”

“Oh?” Donghae tersentak dari lamunan sesaatnya. Ia mengerjap sebelum menjawab, “Ah, ya, aku mencari seseorang. Tuan Lee Daehan. Apa benar ini alamatnya?”

Gadis itu mengangguk membenarkan tanpa melihat secarik kertas alamat yang ditunjukkan Donghae padanya. “Ya, benar. Boleh aku tahu kau siapa?”

“Aku… anak salah satu kerabatnya.”

“Namamu?”

“Lee Donghae.”

“Masuklah dulu, aku akan memberitahu beliau kau ada di sini.”

Gadis yang tak diketahui namanya itu mengajaknya masuk. Donghae mengikutinya dan bahkan melepas sepatu lalu meletakkannya di rak, seperti sepatu-sepatu lain yang ada di sana. Oh, sepertinya sedang banyak orang di rumah ini.

“Duduklah dulu.”

Donghae mengangguk, berjalan ke ruang tamu tempat gadis itu mengarahkannya. Donghae duduk di sana, sejenak memerhatikan punggung gadis itu yang menghilang naik ke lantai atas, lalu kepalanya berkelana ke dinding di sekitarnya.

Tidak seperti rumah Kyuhyun atau apartemennya yang dipenuhi foto-foto memori. Dinding rumah ini kosong dan hanya diisi beberapa figura berisi lukisan. Tidak ada foto keluarga atau apa pun yang bisa digunakannya untuk meyakinkan kalau gadis yang tadi adalah adiknya.

“Lee Donghae-ssi,” panggil gadis itu dari ujung tangga. Donghae menoleh ke arahnya, “Naiklah, beliau menunggu di atas.”

“Terimakasih.”

Senyum manis gadis itu membalas ucapannya sebelum dia berlalu pergi entah ke mana. Lalu Donghae pun memberanikan diri berjalan ke arah tangga, kakinya sempat kaku saat harus meniti satu persatu karena dia masih cukup ragu. Tapi ketika tanpa terasa ia telah sampai di tangga teratas dan sekitar dua meter di samping kanannya tampak seorang pria setengah baya berdiri menunggunya, Donghae tidak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaannya selain melangkah lebih cepat dan memeluknya.

Lagi dan lagi, tanpa ada yang mengetahui. Di sudut jalan yang sepi itu seseorang terdiam sambil merapatkan jaketnya. Kepalanya sesekali menggeleng dan matanya mengerjap untuk memerjelas pandangannya.

Sudah sekitar lima belas menit ia berdiam di sana setelah bertemu seorang pria di depan rumah itu, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang ditunggunya muncul. Ia sangat berharap bisa melihatnya sebentar saja malam ini sebelum pulang ke rumah. Tapi sepertinya keberuntungan belum berpihak padanya.

Lagi-lagi, mungkin lain kali.

“Sudah semua?” tanya Kyuhyun begitu mereka keluar dari supermarket. Haewoon berhenti sejenak, membuka plastik di tangannya untuk memeriksa belanjaan mereka sebelum kemudian mengangguk.

Complete.” Sahutnya.

“Kalau begitu sini,” Kyuhyun mengambil plastik Haewoon dan membawanya, lalu meraih tangan gadis itu, memasukkannya ke dalam saku jaket dan sambil tersenyum lebar ia menggenggamnya hangat. “Saling menghangatkan di cuaca dingin bukan tindak kejahatan, ‘kan?”

Haewoon terdiam sejenak. Tatapannya pada awalnya seperti campuran antara terkejut, tidak percaya dan juga suka. Tapi ketika ia menunduk menatap tangannya yang merasa nyaman di dalam saku jaket Kyuhyun, Haewoon pun mendecih kecil sambil tertawa.

“Ada yang lucu?”

Gadis itu melirik Kyuhyun dengan mata menyipit, tapi detik berikutnya ia kembali tertawa.

“Apa yang lucu?”

“Kau.” Jawab Haewoon langsung, memberi isyarat dengan balas menggenggam tangan Kyuhyun yang ternyata juga membuat pria itu tertawa.

“Sekarang kau juga lucu.”

“Benarkah? Wah… keren, sekarang kita sama-sama lucu.”

“Kalau begitu bisa kita jalan sekarang, Lucu?”

“Tentu. Ayo.” Haewoon tersenyum tak kalah lebar. Ia bahkan menggerakkan tangan mereka sebagai tanda untuk cepat melangkah pergi.

Tadi mereka menghabiskan waktu hampir dua puluh menit berjalan kaki dari rumah ke supermarket karena tidak ada taksi. Tapi meskipun sekarang banyak taksi yang lewat karena mereka di jalan besar, tampaknya tidak ada yang berniat memanggil satu.

“Kita jalan kaki lagi?” tanya Kyuhyun begitu saja.

“Kau mau naik taksi?”

“Kau tidak?”

“Aku sudah bilang aku terbiasa jalan kaki. Tapi kalau kau lelah kita bisa naik taksi.”

“Tidak!” jawab Kyuhyun cepat. Seketika teringat dengan apa yang sebelumnya mereka bicarakan. Kalau Kyuhyun memilih naik taksi pasti Haewoon akan mengatainya anak manja lagi.

“Takut aku mengataimu anak manja lagi?” tanya Haewoon kemudian.

Dan Kyuhyun mengernyit menatapnya, gadis ini membaca pikirannya?

Haewoon mendecih sambil tertawa, “Aku benar.”

“Kau,” Kyuhyun menarik tangan Haewoon, membuat tubuh gadis itu merapat secara tiba-tiba ke arahnya. Kyuhyun tersenyum miring merasakan keterkejutan Haewoon namun juga kagum karena gadis ini tak gencar membuang muka, tapi justru balas menatap matanya.

“Ya, aku kenapa?”

“Kau benar-benar ingin aku membuktikan kalau aku bukan anak manja?”

“Oh, astaga, jangan mulai lagi.”

“Kau yang memulainya.”

“Maaf kalau begitu.”

“Ini tidak akan selesai hanya dengan maaf.”

“Kalau dengan itu?” Haewoon menunjuk mobil penjual makanan ringan di pinggir jalan. Kyuhyun mengikuti arah pandangnya dan kembali lagi pada Haewoon. Hei, lihatlah matanya yang berbinar cerah itu. Kyuhyun tertawa. Apalagi saat tiba-tiba Haewoon melepaskan genggaman tangan mereka dan berlari ke arah mobil itu lebih dulu.

Kyuhyun menghela napas pelan, tersenyum lembut melihat bagaimana perubahaan gadis itu ketika melihat makanan; sesuatu yang sangat digilainya. Ia terdiam beberapa saat, memerhatikan dari jauh bagaimana senangnya Haewoon saat bertanya macam-macam pada bibi penjual itu sambil mencoba satu persatu makanan yang ada di sana. Kemudian baru berjalan mendekat, berdiri di samping gadis itu dan langsung menerima suapan sosis bakar dengan saus tomat di atasnya.

“Kita lupa membeli sosis untuk di rumah jadi makan di sini saja.” Ucapnya dengan mulut penuh dan mata membulat. “Enak, ‘kan?”

Kyuhyun mengangguk mengiyakan. Walau nyatanya dia tidak terlalu suka saus tomat. Dia tetap menikmatinya dan terus menerima suapan dari Haewoon yang tidak peduli sudah habis berapa tusuk makanan yang masuk ke dalam perutnya.

“Sudah,” tegur Kyuhyun ketika Haewoon ingin mengambil beberapa tusuk lagi. “Masih banyak yang harus kita makan di rumah nanti.”

“Oh, kau benar. Aku hampir lupa.” Haewoon tertawa lucu. Lalu bertanya harga semua makanan yang sudah dihabiskannya sebelum Kyuhyun mengeluarkan uang, membayarnya lebih dulu.
“Terimakasih.” Ucapnya, tampak senang sekali sampai matanya menyipit dan melengkung. 

Kyuhyun juga ikut tertawa melihatnya, “Ayo, Hyunoo pasti sudah mencariku.”

Haewoon berdeham sambil mengangguk semangat. Ia lalu meraih tangan Kyuhyun, menggenggamnya dan memasukkan tangan mereka ke mantel Kyuhyun seperti sebelumnya.

“Wah… kau benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku berdebar.”

Haewoon tertawa saja. Lalu menatap jalanan di depan mereka sambil menunjuk sesuatu sebelum mulai membicarakannya. Seperti toko boneka milik keluarga temannya, game center tempatnya dulu sering bermain, sampai seseorang yang berjalan dengan pakaian tipis dan make-up tebal di malam yang dingin ini. Haewoon membicarakan semuanya, seolah tidak membiarkan Kyuhyun membuka topik selain membahas apa yang dibicarakannya.

Well, Kyuhyun tahu gadis itu sedang mengalihkan perhatian dari apa yang sebelumnya Kyuhyun katakan.
Tapi tidak apa-apa. Setidaknya kali ini gadis itu yang lebih dulu menggenggam tangannya. Ya, Haewoon yang lebih dulu, bukan dia.

Bertemu lagi dengan seseorang setelah beberapa tahun bukanlah hal mudah. Kecanggungan pasti terasa, semacam bingung harus bicara atau melakukan apa. Donghae sendiri juga merasakannya. Dia bahkan sempat mengurungkan niat untuk bertemu ayahnya karena tidak tahu harus bicara apa. Namun, ketika akhirnya sosok itu berdiri di hadapannya, tersenyum lebar sebelum kemudian memeluknya, Donghae sadar keputusannya untuk datang tidaklah salah.

Lee Daehan, ayahnya itu sangat terbuka dan baik hati, sama seperti yang Donghae ingat saat mereka bertemu terakhir kali. Beliau bahkan mengajaknya duduk dan menanyakan kabarnya, seolah mereka sangat dekat meskipun sudah lama tidak berjumpa. Dan Donghae tidak terusik dengan itu. Dia suka bagaimana sikap ayahnya. Itu membuatnya juga terbuka, menceritakan semuanya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.

“Jadi apa dia adikku?” tanya Donghae kemudian. Mereka banyak membicarakan saat-saat menyenangkan di mana mereka tidak bersama dan meninggalkan bagian tersedihnya. Masing-masing dari mereka tahu bahwa itulah yang terbaik untuk menciptakan suasana menyenangkan seperti sekarang.

Lee Daehan menyesap tehnya sebelum menjawab, “Yang membukakan pintu untukmu?” Donghae mengangguk. “Ah, itu Byul. Dia teman adikmu dan bekerja denganku di toko buku.”

“Kupikir dia orangnya. Aku sangat penasaran bagaimana rupanya setelah ibu memberitahuku.”

“Kau akan terkejut melihatnya.” Daehan tertawa kecil. “Ibumu hanya pernah bertemu dengannya saat dia masih kecil, sebelum semua itu terjadi.”

“Ibu bilang dia sangat manis.”

“Ya, dia sangat manis dan juga berani.”

“Apa dia tinggal di sini?”

“Tentu. Tapi sekarang dia sedang melanjutkan sekolahnya di Seoul.”

“Benarkah?”

“Mm-hm, setelah ini kau harus lebih sering menemuinya. Dia tinggal sendiri dan sangat keras kepala. Jaga dia untukku, oke?”

Donghae mengangguk semangat sekali dan Daehan menepuk punggungnya hangat. “Jadi sekarang dia ada di Seoul?”

“Sekarang ini?” Donghae berdeham mengiyakan. “Sekarang dia ada di sini. Katanya sedang menenangkan diri tapi setahuku dia sedang melarikan diri.”

“Melarikan diri?”

Daehan menghela napas pelan, menyandarkan punggung dan membuang pandangan ke langit malam. “Dia gadis yang sangat baik. Hatinya tidak pernah terluka karena dia selalu tersenyum dan tertawa. Kau tahu tipe orang yang selalu berpikir positif, itulah dia. Tapi kemarin dia tiba-tiba pulang di tengah malam dan bahkan tidak masuk kampus padahal dia ada kelas. Ini sudah beberapa hari sejak dia tinggal di sini.”

“Apa sesuatu terjadi padanya?”

“Hm… ada seseorang yang disukainya, tapi sepertinya dia menghindari orang itu.”

“Kenapa?”

Daehan mengangkat bahu. “Entahlah, dia tidak memberitahuku.” Pria itu menyesap tehnya sekali lagi. “Kupikir karena dia takut terluka.”

“Kau bilang dia pemberani.”

“Mungkin karena ini pertama kalinya dia menyukai seseorang.”

Donghae mengangguk-angguk mengerti. Apa yang pernah diceritakan ibunya tentang adiknya memang benar. Kalau gadis itu manis dan pemberani, bahkan ketika dia masih kecil.

“Kau harus menemuinya malam ini. Oh, kau akan menginap, bukan? Aku akan meminta anak-anak menyiapkan tempat.”

“Tidak, tidak, aku akan kembali lagi nanti. Aku harus pulang malam ini.” Donghae menolaknya dengan halus.

“Kalau begitu habiskan waktumu dengan anak-anak sebelum pergi. Mereka sedang berpesta di bawah, kau bisa bergabung.”

Donghae tersenyum malu mendengarnya, “Itu hanya akan terasa canggung, Appa.”

“Tidak akan. Anak-anak itu sangat terbuka dan tidak akan ada kata canggung kalau ada mereka.”

“Aku akan menyesuaikan jadwal kereta kalau begitu. Aku pasti bergabung kalau masih sempat.”

“Kenapa tidak sekarang saja?”
Donghae mengerjap satu kali, berpikir, sebelum kemudian tersenyum lebar dan mengangguk pasti. “Kalau begitu aku akan turun.”

“Hm… bersenang-senanglah, punggungku sedang sakit jadi aku akan menunggu di sini saja.”

Donghae menyentuh tangan ayahnya sejenak sebelum bangkit berdiri. Tapi ketika ia hendak melangkah menuruni tangga, ponselnya yang tergeletak di atas meja berbunyi. Daehan mengambilnya dan mengacungkannya.

“Gi Hye.” Ucapnya, membaca sebaris nama di layar ponsel itu.

Donghae mengambilnya dengan sopan, lalu meminta izin pada ayahnya untuk mengangkatnya sambil turun ke lantai dasar. Donghae berjalan ke tempat Byul memersilakannya duduk tadi, lalu menelepon Gi Hye balik karena panggilan gadis itu sudah terputus. Tapi Gi Hye tidak langsung mengangkatnya. Donghae mencoba beberapa kali, tapi tetap tidak ada jawaban.

Dan pada saat itu pula Byul muncul dari sebuah pintu yang menghubungkan bangunan rumah dengan halaman tempat mereka berpesta. “Halo, aku Byul.” Ucapnya menyapa, tepatnya memperkenalkan diri lebih dulu.

Donghae membungkuk sopan, “Aku Lee Donghae.”

“Apa kau butuh sesuatu?”

“Tidak, tidak. Aku hanya sedang menerima telepon.”

“Ah, begitu. Kau sepertinya teman dekat Tuan Lee.”

“Aku anaknya.”

“Oh, anaknya…” Byul mengangguk-angguk mengerti, lalu, “APA?” tanyanya dengan nada tinggi dan mata membelalak sempurna. “Kau anaknya?”

Donghae tertawa kecil melihat respon gadis yang sedang membawa nampan itu, “Maaf mengejutkanmu. Tapi aku kakak temanmu.”

“Haewoon?”

Donghae mengiyakan dan Byul semakin tampak kebingungan. Matanya refleks memindai pria itu dari kepala sampai kaki hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tapi…

“Ayahku bilang kalian sedang berpesta. Boleh aku bergabung? Aku merasa harus dekat dengan adikku dan teman-temannya.”

“Kau yakin kau kakaknya?”

“Tentu.”

“Tapi…” Byul tampak sangsi. Kemudian…

“Byul-ah!” kepala gadis itu menoleh pada Yu Yeol yang tampak kewalahan mengatasi pemanggang yang berasap banyak sekali. Melihat itu Donghae segera menghampirinya, sementara Byul meletakkan nampan ke atas meja sebelum menyusul mereka.

“Kita akhirnya pulang jalan kaki.” Ucap Kyuhyun setelah mereka terdiam begitu lama.

“Menyenangkan, bukan?”

“Mungkin karena ini?” Kyuhyun menggerakkan genggaman tangan mereka di dalam sakunya dan Haewoon hanya tersenyum menanggapinya.

“Omong-omong kenapa kau ada di sini?” tanya Haewoon kemudian, mengalihkan pembicaraan. “Aku sangat penasaran sejak tadi tadi tadi tadi sekali.”

Kali ini Kyuhyun tertawa kecil, “Sudah kubilang karena Hyunoo mencarimu saat aku mengajaknya ke kedai tempat kau bekerja.”

Mata Haewoon menyipit. “Kenapa aku tidak percaya?”

“Oh, jangan bilang kau mengharapkan alasan lain.”

“Cih, mengharapkan apa?” Haewoon membuang muka. Dalam hati kecilnya sebenarnya memang berharap yang lain. Seperti alasan bahwa Kyuhyun merindukannya, atau karena pria itu ingin melihatnya. Tapi dia jelas tidak mau mengatakan itu langsung karena Kyuhyun bisa jadi besar kepala. “Aku hanya heran kenapa kau harus jauh-jauh ke sini hanya karena Hyunoo mencariku.”

“Kau tahu aku ayah yang mengerti keinginan putraku.”

Haewoon menoleh pada Kyuhyun lagi. “Kau bisa memberinya pengertian atau sedikit berbohong tentang aku yang ada di kota lain. Tidak perlu datang sejauh ini.”

“Kau terdengar seperti tidak suka aku datang ke sini.”

“Bukan begitu…” Haewoon tanpa sadar mengerucutkan bibirnya, membuat Kyuhyun tertawa. “Aku… aku hanya… tidak mengerti caramu berpikir.”

“Kalau begitu hiduplah bersamaku agar kau mengerti.”

“Lagi?” Haewoon tertawa saat mengatakannya. “Kau sudah mengatakannya dua kali dalam waktu kurang dari dua jam, Cho Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun mengangkat bahu. Dia serius. Tapi kalau Haewoon masih saja merespon begitu, ya, biar saja. Gadis itu jelas tidak bodoh untuk mengerti apa maksudnya. Jadi Kyuhyun kira Haewoon hanya sedang mengalihkan pembicaraan karena dia perlu waktu untuk berpikir.

“Ayo,” ucap Kyuhyun setelah mereka sampai di depan rumah tapi gadis itu diam saja sambil menatapi sebuah rumah lain. “Tidak mau masuk?”

“Duluan saja.”

“Kenapa?”

Haewoon menatap Kyuhyun sejenak, “Aku ingin menjenguk bibiku sebentar.”

Kyuhyun memanjangkan lehernya menatap rumah kecil itu, kemudian mengangguk dan ia masuk lebih dulu sambil membawa belanjaan yang mereka beli sebelumnya.

Sementara Haewoon berjalan santai ke rumah itu. Dia berjanji ingin mengajak Bibi Yoon makan malam bersama kemarin tapi dia lupa karena terlalu memikirkan pesta. Lantas sekarang Haewoon baru ingat karena tidak sengaja melihat seorang wanita yang tadi berjalan di sekitar rumah Bibi Yoon.

Haewoon menyimpan tangannya ke saku jaket karena dingin dan pada detik itu juga telinganya mendengar suara gesekan aneh di sebelah kanannya. Haewoon berhenti berjalan, kepalanya menoleh ke sisi yang cukup gelap itu mencoba mengetahui dari mana suara itu berasal. Tetapi tidak ada apa pun. Haewoon lalu menghela napas sebelum melangkah lagi dan…

“Ah!”

Haewoon kontan berbalik, memutar tubuhnya ke segala arah karena dia jelas baru saja mendengar suara seorang wanita. Haewoon langsung berpikir wanita itu sedang terluka jadi ia dengan segera berlari untuk mencarinya. Lantas ketika akhirnya matanya menemukan seorang wanita terduduk sambil memegangi kaki kanannya, Haewoon memanggilnya. Namun wanita itu tersentak dan langsung bangkit berdiri, berlari sekuat tenaga dan bersembunyi di sebuah rumah atap dengan dada berdegup kencang.

Haewoon mengejarnya dan berhenti di persimpangan. Napasnya terengah dan kepulan asap menggumpal di depan mulutnya. Kepalanya menoleh ke semua tempat tetapi tidak ada yang ditemukannya selain kesunyian. Haewoon yakin wanita itu terluka meskipun tidak melihat wajahnya. Tetapi mengetahui wanita itu langsung berlari begitu mendengar suaranya berarti ada sesuatu yang terjadi yang mungkin saja wanita itu tidak ingin orang lain tahu.

Bukan maksudnya Haewoon ingin tahu masalah orang lain. Dia hanya ingin membantu. Tapi… ya, sudahlah. Wanita itu menghilang jadi Haewoon kembali ke rumah Bibi Yoon dan meminta maaf dan berjanji mereka pasti akan makan malam bersama lain kali.

Yu Yeol tersenyum sambil bertepuk tangan melihat kelihaian Donghae mengendalikan asap yang tadi benar-benar banyak sekali. “Pengendali asap.” Komentarnya.

“Aku air.” Sahut Byul sambil mengangkat sewadah besar air dan Donghae terkekeh mendengarnya.

“Kalau begitu kau api.” Donghae membalas, merujuk pada Yu Yeol yang tadi menyalakan api terlalu besar.

Yu Yeol tertawa malu, “Itu tadi tidak sengaja. Biasanya aku juga ahli.”

“Cih!”

“Jangan mendecih, Na Byul.”

“Cuh!”

“Jangan mendecuh juga.”

“Laㅡ”

“Hei!” suara Haewoon memotong kalimat Byul, membuat semua orang menatap ke arahnya. Haewoon tersenyum lebar dan begitu matanya mendarat pada Donghae, dia tidak menyadari perubahan rautnya yang berubah bingung tetapi masih tersenyum. “Siapa?” tanyanya, pada Byul.

Lalu Byul menatap Donghae, memberitahu bahwa ‘inilah adikmu jadi perkenalkan dirimu sendiri’ sambil menyenggol pelan sikunya. Byul lalu menarik Yu Yeol ke sisi lain agar tidak mengganggu mereka. Haewoon mudah bergaul dan Donghae juga sama. Mereka bahkan mendadak berteman sejak Yu Yeol tidak bisa mengendalikan apinya. Tentang rasa penasaran yang sebenarnya sangat menyiksa, kedua orang itu mencoba menahannya dengan memberi waktu Donghae dan Haewoon untuk bicara.

Haewoon melirik Byul dan Yu Yeol sejenak sebelum tersenyum kikuk pada Donghae. Tapi kemudian ia berinisiatif menjulurkan tangan lebih dulu. “Lee Haewoon. Apa kau teman Byul?”

Donghae menjabat ramah tangan Haewoon dan balas tersenyum kecil, “Aku Lee Donghae. Pernah mendengarnya sebelumnya?”

Lee Donghae?

Haewoon berpikir. Dia pernah mendengarnya. Tapi…

“Aku kakakmu.”

Ye?” Haewoon mengerjap, dia belum selesai mengingat nama itu tetapi pria yang sedikit lebih tinggi darinya ini sudah bicara begitu, yang jelas saja membuat pikirannya jadi tidak menentu. “Kakakku?”

Donghae mengangguk mengiyakan, “Ayah bilang beliau dulu sering menceritakan tentangku padamu tapi mungkin kau sudah lupa.”

Haewoon mengerutkan kening. Sesuatu mendadak terlintas di kepalanya dan itu… cukup mengganggunya.
“Kau tidak membual, bukan?”

Donghae tertawa, “Tentu saja. Aku sungguh kakakmu, Haewoon-ah.”

Apa yang terjadi sebenarnya? Haewoon mulai berpikir lagi apa yang pernah terjadi dalam hidupnya. Dia mulai menyangkut-pautkan memori-memori yang sebagian sudah dilupakannya. Tapi…

“Oh, maaf,” Donghae mengambil ponselnya yang bergetar. Gi Hye menelepon lagi. “Aku permisi sebentar.”

“Y-ya.” Haewoon mengangguk canggung sebelum Donghae ke tempat sunyi untuk menerima telepon. Sementara Haewoon membeku, lalu mengerjap menatap Byul yang juga mematapnya.

“Terkejut, ya?” Haewoon mengangguk pelan. “Sama, aku juga.”

“Aku juga.” Sahut Yu Yeol.

Byul mendecih lagi. Kemudian menghampiri Haewoon, merangkul bahunya dan berkata, “Pria itu menyenangkan. Tenang saja. Tidak sulit menganggapnya kakak kandungmu meski sudah lama tidak bertemu.”

Haewoon diam saja. Keningnya masih berkerut bingung, lalu detik selanjutnya kepalanya mendongak ke atas karena merasa ada sesuatu. Ternyata Tuan Lee berdiri di tempat bersantainya, tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arahnya.

“Apa itu artinya orang itu kakakku?” tanya Haewoon dan Byul mengangguk.

“Kurasa, ya.”

“Tapiㅡ”

Donghae berbalik setelah menyimpan ponselnya yang sontak membuat Haewoon menghentikan kalimatnya. “Senang bisa bertemu kalian semua terutama kau,” ucapnya sebelum menatap Haewoon sendu. “Aku selalu ingin datang ke rumah ini tapi aku takut kau tidak menerimaku. Jadi ini kebanggaan bagiku.”

Haewoon menunggu.

“Ayah bilang sekarang kau tinggal di Seoul. Aku boleh mengunjungimu, bukan?”

“T-tentu.”

Donghae tersenyum sambil menunduk. Dia tahu gadis itu shock tapi mau bagaimana? Dia memang harus mengatakan siapa dirinya. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Dia mengakhirinya dengan cepat.

“Tidak menginap saja? Ini sudah malam.” Byul menawarkan.

“Ada yang harus kuselesaikan jadi aku harus pulang sekarang. Aku akan lebih sering berkunjung.” Donghae mengangkat tangan pada Yu Yeol yang membalasnya dengan gestur sama. Lalu mendekati Haewoon dan menepuk bahunya pelan. “Maaf sudah membuatmu terkejut.”

Haewoon menunduk diam.

“Aku pergi dulu.” Ucapnya berpamitan.
Haewoon mengangguk pelan dan tidak tahu harus merespon bagaimana saat punggung pria itu menjauh, berjalan masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai atas. Sepertinya ingin berpamitan pada ayahnya. Oh, mungkin sekarang ayah mereka.

Tubuhnya terjatuh, berjongkok di tanah dengan tatapan mendadak berubah kosong.

Dia baru saja bisa tenang setelah melihat wanita itu tapi kenapa sekarang dia justru melihat pria itu? Kenapa waktunya untuk bernapas lega terasa sempit sekali?

Donghae menghela napas begitu keluar dari rumah itu. Tangannya terangkat mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya dan sekali lagi ia menghela napas lega.

Pertemuan dengan adiknya lebih sulit daripada dengan ayahnya. Sungguh. Donghae sudah mengira akan seperti ini jadi dia memang sudah berencana akan mengakhiri pertemuan mereka dengan cepat seperti tadi. Mereka tidak banyak bicara karena dia yakin Haewoon pasti perlu berpikir banyak karena keterkejutannya. Jadi meski terasa aneh, Donghae terus berpikir kalau yang dilakukannya tidaklah salah.

Yah, setidaknya gadis itu sudah tahu siapa dirinya.

“Aku masuk sebentar.” Ucap Haewoon dingin setelah beberapa detik berjongkok, terdiam menatap rerumputan basah di bawahnya. Byul menatap Yu Yeol sejenak, kemudian membantu Haewoon berdiri dan menggiringnya masuk ke dalam rumah. Tapi begitu sampai pintu Haewoon mencegahnya, “Aku sebentar saja. Kembalilah.”

Byul tidak mengatakan apa-apa. Tapi Haewoon tahu maksud tatapannya. Jadi gadis itu berusaha tersenyum biasa, menepuk kedua bahu Byul dan berkata,

“Beri aku 10 menit lalu kita akan mulai berpesta.”

“Sungguh?”

Yes.”

“Baiklah,” Byul mengangkat bahu. “Tenangkan dirimu, kami akan menunggu. Oh, ya, di mana Kyuhyun-ssi?”

“Kyuhyun? Kupikir tadi dia sudah masuk.”

“Oh, mungkin sedang melihat Hyunoo. Anak itu tertidur jadi kami pindahkanㅡ”

KLEK!

Pintu kayu di samping mereka terbuka, sebelum menyembul dari sana kepala Kyuhyun yang menunduk karena sedang mengeringkan kakinya.

“Kyuhyun-ssi,”

“Ada apa? Apa aku ketinggalan pesta?”

“Tidak, tidak. Apa kau sejak tadi di toilet?”

“Ya, perutku mendadak sakit. Maaf aku menggunakan toilet tanpa izin, ini darurat.” Saat itu Kyuhyun melihat Haewoon melambai singkat padanya lalu melangkah ke lantai atas. Kyuhyun kembali pada Byul yang tidak menyadarinya. “Terjadi sesuatu saat aku tidak ada?”

“Maksudmu…” Kyuhyun memberi isyarat tentang Haewoon dengan menggerakkan dagunya ke arah tangga. Byul pun menoleh dan terkejut karena Haewoon sudah tidak ada di sampingnya. “Ah, gadis itu…”

“Ada apa?”

Byul menggigit bibirnya. Dia ingin berbagi sedikit, tapi dia merasa jahat kalau berbagi sekarang saat temannya dalam kondisi tidak baik. Maksudnya masih terkejut atas apa yang terjadi. Tapi kalau pada Cho Kyuhyun… Ah, tidak, tidak, Byul harus menjaga perasaan sahabatnya.

Haewoon membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Hyunoo yang tertidur di atas tempat tidur. Ia menghela napas sejenak, melangkah masuk lalu menutup pintu dengan sangat pelan. Sedikit ragu ia berjalan ke jendela, melihat suasana luar rumahnya yang sunyi tanpa tahu harus bersikap bagaimana.

Salah satu bagian dalam dirinya berharap orang yang baru saja ditemuinya masih ada di luar sana. Haewoon berpikir untuk melihat wajahnya sedikit lebih lama. Supaya diketahuinya kesamaan antara mereka, untuk menyakinkan dirinya bahwa orang itu benar kakaknya. Tapi nyatanya tidak ada siapapun. Hanya lampu jalanan yang menguning yang tampak ramai karena dikerumuni binatang malam penyuka cahaya.

Ini mengejutkan, tentu saja. Haewoon memang pernah mendengar tentang kakaknya. Lee Dae Han pernah bercerita, tapi itu sudah lama sekali. Mereka bahkan hampir tidak pernah mengungkitnya lagi beberapa tahun ini. Tapi karena pria itu mendadak datang dan bersikap seperti tadi…
Haewoon tidak tahu harus bagaimana. Dia masih ingat jelas alasannya mengasingkan diri ke kota kelahirannya ini. Tapi kalau begini caranya, entah mengapa acara mengasingkan dirinya justru terasa sia-sia.

Haewoon menutup mata, menempelkan keningnya ke kaca jendela dan menghela napas berat sekali lagi. Oke, mungkin ini akan menjadi awal yang baik. Haewoon percaya kalau usaha itu tidak ada yang sia-sia. Kedatangan Donghae pasti akan menjadi awal yang baik. Haewoon harus mencobanya. Dia tidak boleh runtuh lagi seperti kemarin. Dia harus lebih kuat. Dia harus jadi Lee Haewoon yang biasanya, yang tidak mengenal takut dan bisa menghadapi semua yang terjadi dalam hidupnya.

Sekitar lima belas menit setelah Haewoon masuk ke kamarnya, Byul mulai merasa gelisah. Kakinya berulang kali berjalan ingin masuk ke dalam rumah dan melihat wajah Haewoon, tapi berulang kali pula ia mengurungkan niatnya dan berakhir kembali duduk di kursinya. Kyuhyun dan Yu Yeol sedang memanggang kentang sambil membicarakan banyak hal. Byul sebenarnya juga punya tugas membuat bumbu barbekyuㅡkarena hanya dia yang tahu rahasia rasanyaㅡtapi dia sedang gusar, sehingga masalah bumbu itu terlupakan begitu saja olehnya.

Betapa tidak? Byul selalu mengecek jam dan ini sudah lebih dari sepuluh menit tapi Haewoon tidak kunjung muncul. Haewoon tidak mungkin sedang bicara dengan ayahnya, dia tahu betul kebiasaan ayah dan anak itu saat terjadi sesuatu. Mereka akan mencari saat yang tepat untuk bicara. Jadi Hawaoon pastinya ada di kamarnya. Sementara Hyunoo ada di sana juga.

Oh, benar. Kalau begitu Haewoon tidak mungkin melakukan hal-hal gila, bukan? Dia suka anak-anak jadi tidak mungkin membuat Hyunoo terbangun karena perbuatannya, bukan?

“Benar.” Gumam Byul sambil menjentikkan jari. Ia melihat jam di ponselnya sekali lagi dan memutuskan untuk menunggu lima menit lagi.

Tapi baru saja ia ingin menghampiri Kyuhyun dan Yu Yeol dan membuat bumbu ketika suara seseorang mengejutkannya. Membuat mereka kontan menoleh ke sumber suara dan Kyuhyun adalah orang pertama yang sadar sebelum melepaskan sarung tangannya lalu menghampiri Haewoonㅡyang dengan wajah tenangnya menggendong Hyunoo di depan dada.

“Dia terbangun saat aku ingin keluar kamar.” Ucap Haewoon begitu Kyuhyun mengambil alih gendongan Hyunoo. Anak itu masih menutup matanya tapi mulutnya terus bergumam. “Aku mencoba menidurkannya lagi tapi dia mencarimu.”

“Dia belum minum susu.”

“Ah, susu.” Haewoon tersadar tentang sesuatu, lalu mengambilkan susu yang dimaksud Kyuhyun dari kantong plastik berisi belanjaan mereka tadi.

“Terimakasih, dia akan tidur lagi. Boleh aku masuk ke kamarmu? Atau di di sini ada kamar tamu?”

“Tidak, tidak ada kamar tamu. Masuklah ke kamarku. Ada di atas, pintunya dicat biru.”

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum, juga memberi isyarat pada Byul dan Yu Yeol bahwa dia harus mengurus Hyunoo sebentar. Lantas sementara Kyuhyun masuk ke dalam rumah, Haewoon menghampiri kedua sahabatnya itu, tersenyum lebar bahkan langsung mengambil satu potong ayam dan memakannya seolah dia baik-baik saja.

Byul mengernyit menatapnya, ingin bertanya, tapi kemudian menyembunyikannya. Jadi dia mengalihkan perhatian dengan bertanya, “Kau sungguh akan ke Seoul besok?”

Haewoon menghabiskan ayamnya dan mengambil satu potong lagi sambil mengangguk. “Aku tidak boleh lama-lama bersembunyi. Tugasku pasti akan menumpuk.”

Byul menghela napas, “Aku hampir lupa kau seorang mahasiswa.”

Haewoon mengiyakan sambil mengangguk. Lalu mulai mencicipi semua makanan yang ada di meja. Dia benar-benar berakting baik-baik saja. “Omong-omong tadi aku melihat seseorang saat ingin ke rumah Bibi Yoon.”

“Siapa?” Yu Yeol lebih dulu bertanya, pria itu meletakkan kentang bakar yang sudah matang ke atas piring dan membawanya ke meja tempat kedua sahabatnya berada. “Penguntit seperti dulu?”

“Bukan.” Haewoon mengelak sambil tersenyum kecil, teringat peristiwa menyenangkan di masa lalu. “Aku mendeㅡ”

“Kenapa? Apa dulu ada yang menguntit Haewoon?” suara itu memutus kalimat Haewoon. Mereka melihat Kyuhyun datang dan Haewoon menatap Byul, tersenyum malu. Mengetahui itu, Yu Yeol pun angkat bicara.

“Tidak ada yang mau menguntit Haewoon karena dia menakutkan.” Ucap Yu Yeol sambil tertawa. “Omong-omong Hyunooㅡ”

“Dia langsung mengusirku begitu kutidurkan di kamar.” Mereka mengangguk mengerti, lalu, “Tapi kenapa Haewoon menakutkan?”

Kyuhyun berkata santai sambil melirik Haewoon yang berpura-pura tidak mendengarkan.

“Karena Lee Haewoon dulu hobinya memburu penguntit.”

“Oh, ini pasti menarik. Ceritakan padaku.” Kyuhyun menarik kursi ke samping Byul, menatap Haewoon terang-terangan dan Yu Yeol tertawa. Dia selalu suka membicarakan hal ini. Menurutnya pengalaman melihat salah satu sahabatnya berlari mati-matian demi mengejar penguntit teman sekolah mereka adalah pengalaman terbaik yang pernah dimilikinya.

Haewoon membaringkan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur, menatap langit-langit sambil memikirkan banyak hal. Mulai dari yang biasa sampai yang tidak biasa. Sebenarnya melelahkan, tapi sejak pesta berakhir satu jam yang lalu Haewoon tidak bisa berhenti berpikir.
Jika tentang orang asing yang dilihatnya tadiㅡyang kata Yu Yeol hanya orang isengㅡHaewoon merasa sebaliknya. Dia sudah menceritakan hal itu tadi sejelas-jelasnya sambil mereka menikmati barbekyu buatan Byul yang rasanya jangan ditanya.

Awalnya Yu Yeol berkata mungkin itu salah satu penguntit yang dulu pernah dilumpuhkan Haewoon dengan tendangan brutalnya. Tapi Haewoon merasa tidak begitu. Dia bahkan mendengar suara orang terjatuh. Kyuhyun yang sangat menyukai cerita masa lalu Haewoon juga mengiyakan pendapat Yu Yeol. Dua orang itu tampaknya mulai bersekongkol. Sementara Byul yang menengahi berkata kalau besok dia akan memeriksa pada petugas yang berjaga malam ini. Setidaknya itu menenangkannya.

Oh, tenang… dia tidak seharusnya tenang. Masih banyak yang harus diketahuinya. Setenang apa pun dia terlihat, Haewoon yakin dia tidak akan pernah tenang.

Jadi, memutuskan untuk memecahkan salah satu rasa penasarannya, Haewoon bangkit berdiri dan berjalan ke kamar ayahnya.

Omong-omong semua orang sudah pulang. Kyuhyun menelepon taksi dan membawa Hyunoo ke hotel, sementara Yu Yeol mengantar Byul ke tokoㅡatau dalam kasus iniㅡrumahnya. Haewoon tidak bisa meminta mereka menginap karena ruangannya terbatas. Mungkin Byul bisa tidur dengannya tapi tidak yang lain. Tapi Byul sendiri tadi memutuskan untuk pulang saja, katanya ada yang harus diselesaikannya.

Sekarang Haewoon sudah berdiri di depan kamar ayahnya, dia tidak tahu beliau sudah tidur atau belum. Jadi dengan gerakan sangat pelan ia membuka pintu kayu itu, melongokkan kepalanya ke dalam dan…

Ayahnya belum tidur.

Appa,” panggilnya sambil tersenyum. Lalu melangkah masuk dan duduk di samping ayahnya yang sedang menyelesaikan sesuatu di laptopnya. “Berhenti menulis.”

“Kupikir kau sudah tidur.” Ucap ayahnya, hanya meliriknya sekilas sambil balas tersenyum sebelum kembali mengetik. “Mereka pulang?”

“Hm, kubilang kau sudah tidur jadi tidak ada yang berpamitan.”

“Tidak apa-apa.”

“Kubilang berhenti menulis, kau harus istirahat.”

“Sebentar lagi selesai.”

Haewoon mendengus kesal. “Kalau saja kemampuanmu menurun padaku aku bisa menggantikanmu menulis semua itu.”

“Sayangnya menulis satu paragraf saja perlu satu jam untukmu.”

“Aku punya kemampuan lain.” Haewoon pun mengelak.

“Omong-omong kau pulang besok?”

“Pulang ke mana? Ini rumahku.” Haewoon mengangkat bahu, lalu memeluk pinggang ayahnya dan menyandarkan kepalanya, menutup mata. “Ini rumahku dari dulu dulu dulu dulu sekali dan akan selalu begitu.”

Lee Daehan tertawa. Dia mengerti maksud anak gadisnya itu masuk ke kamarnya pada jam seperti ini. Bahkan arah pembicaraannya pun dia sudah mengerti. “Kau ingin bertanya tentang Donghae?” tanyanya langsung setelah menepuk kepala Haewoon dua kali.

Gadis itu membuka mata, lalu mengubah posisi duduknya supaya menghadap ayahnya yang masih saja fokus ke layar monitor. “Apa benar dia kakakku?”

“Kau melupakannya?”

“Kami tidak pernah bertemu.”

“Dulu aku sering menceritakannya padamu.”

“Ingatanku tidak sebaik itu.” Meskipun masih ada beberapa hal yang diingatnya.

“Kalau begitu, ya, dia kakakkmu. Dia tinggal dengan salah satu keluarga ibunya di Seoul sejak kecil.”

“Kenapa?”

“Kenapa?” Daehan berhenti mengetik, menunduk, kemudian menoleh pada putrinya yang tampak sangat ingin tahu. “Karena ibunya tidak pernah bisa mengurusnya dan aku terlalu sibuk menghasilkan uang untuk menghidupinya.”

Haewoon menunggu. Sebenarnya dia menangkap sesuatu dari kata-kata ayahnya. Dia paham maksudnya. Tapi menunggu ayahnya menceritakan semuanya.

“Mungkin ini saatnya aku menceritakan yang sebenarnya.”

“Aku tidak menuntutmu untuk menceritakannya, kalau berat untumu aku bisa menunggu. Kau tahu itu, ‘kan, Appa?”

“Tidak, aku tidak bisa menundanya lagi. Kau sudah dewasa dan kau berhak tahu.”

Haewoon mengangkat alisnya, lalu tersenyum dan mengangguk. “Kalau begitu baiklah.”

Daehan melihat raut tenang putrinya. Dia suka Haewoon yang seperti ini. Ah, tidak, dia suka bagaimana pun putrinya ini. “Waktu itu, saat kubilang kau sangat mirip ibumu karena keberanianmu. Sebenarnya aku berbohong.”

“Maksudmu?”

“Ibumu tidak seperti itu. Dia sangat tenang dan selalu tersenyum malu. Itu yang membuatku menyukainya. Waktu itu aku hanya ingin membuatmu yakin dengan perasaanmu, karena kau mulai menyukai seseorang dan… dan aku ingin kau bahagia atas perasaanmu itu. Kau harus jadi seseorang yang berani dan juga terbuka.”

Haewoon menunduk. Kembali menunggu.

“Sebelumnya aku minta maaf karena jadi pria pengecut yang hanya bisa diam di tempat ini.”

Appa, jangan berkata seperti itu.”

“Aku tidak bisa mengurus mereka, makanya semua ini terjadi.”

Appa…”

“Ibumu, sebenarnya dia istri keduaku. Kami menikah karena cinta, aku bersumpah dialah wanita yang selalu kucintai.”

Haewoon terkejut, matanya membelalak dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak langsung menatap ayahnya.

“Itu terjadi setelah satu tahun aku berpisah dengan wanita itu, ibu kakakmu.”

“Kenapa kalian menikah lalu berpisah? Kau bilang kau hanya mencintai ibu.”

“Itu terjadi begitu saja. Ada pesta yang diadakan teman-temanku, kami bertemu di tempat itu dan kami mabuk bersama. Aku bahkan tidak ingat apa pun tapi akhirnya wanita itu mengandung anakku.”

“Kau yakin itu anakmu, kakakku?”

“Awalnya aku tidak yakin tapi aku tahu sebenarnya dia wanita yang baik, dia tidak berbohong. Jadi aku memercayainya, kami bahkan melakukan tes DNA dan dia benar anakku.”

“Lalu kalian menikah?”

“Ya, demi anak itu.”

“Laluㅡ”

“Dia wanita karir dan tidak mau berhenti bekerja. Sementara aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku karena aku kepala keluarga. Waktu itu tidak ada penitipan, jadi kami menitipkan Donghae ke rumah saudara di Seoul dan mengunjunginya sesekali.

“Tapi suatu hari dia berhenti bekerja, karena suatu alasan yang sampai saat ini tidak kuketahui. Sejak saat itu aku bekerja lebih keras, karena dia suka menghabiskan uangku. Dia seperti hampir gila. Bahkan tidak mau menjemput Donghae meski sudah tidak bekerja. Lalu aku lelah, jadi kami memutuskan untuk berpisah.”

“Kemudian kau menikah dengan ibu?”

“Ya, sebenarnya aku ingin membawa pulang Donghae. Ibumu setuju dengan itu, dia akan merawat Donghae seperti anaknya. Tapi kami terus-menerus diteror wanita itu. Dia tidak membiarkanku menemui Donghae. Dia berkata anak itu sudah aman bersamanya, padahal kulihat dia seperti orang gila. Pernah suatu hari aku pergi ke Seoul untuk menemui Donghae, tapi mereka sudah pindah entah ke mana. Aku mengira wanita itulah yang sudah mengaturnya. Tapi baru kudengar tadi dari Donghae, sebenarnya mereka pindah karena wanita itu selalu mengganggu ketenangan mereka. Dia bahkan pernah hampir mencekik Donghae yang tidak tahu apa-apa. Mereka mengamankan anakku sampai dia tumbuh dewasa.”

Haewoon menghela napasnya di akhir kalimat ayahnya. Dia tidak tahu kehidupan ayahnya serumit itu. Dia sungguh tidak mengira hal itu.

“Tapi tidak hanya itu. Sejak kami memilikimu, kami pikir wanita itu sudah berhenti meneror kami. Tapi nyatanya dia semakin menjadi. Dia tidak terang-terangan datang, tapi melakukan sesuatu yang tidak pernah kami pikirkan.”

“Seperti memukuli dan mengancam ibu?”

“Haewoon-ah…” Pria setengah baya itu akhirnya menatapnya. Haewoon menunduk teringat hal menyakitkan itu kembali dalam benaknya. “Haewoon-ah, kau…”

“Ya, aku melihatnya. Aku melihat wanita itu datang saat kau tidak ada. Ibu menyuruhku diam di dalam rumah tapi aku mengikutinya, dan aku melihat wanita itu memukulinya dengan kayu yang besar sampai ibu terluka. Dia tidak memukul wajah, justru itu ibu terlihat baik-baik saja.”

“Kenapa kau baru mengatakannya?”

“Aku takut akan semakin buruk kalau aku memberitahumu, karena setelah itu ibu justru pergi dengan mobil yang bagus itu. Aku takut ibu tidak kembali jika aku memberitahumu. Dan ketika ibu benar-benar tidak kembali, sudah sangat terlambat untuk kau tahu semua itu.”

“Oh, Tuhan… aku tahu wanita itu mengancam ibumu justru itu dia memintaku menceraikannya lalu pergi dengan mobil itu, tapi aku tidak tahu kalau dia juga disakiti seperti itu.”

“Tapi…” Haewoon menghela napas sekali lagi sebelum menatap ayahnya, “Apa benar yang kudengar dulu? Bahwa ibu pergi ke Seoul dan menikah dengan orang yang mempekerjakannya?”

Lee Daehan menggeleng. “Itu ancaman yang dikatakan wanita itu, aku tidak tahu kenyataannya karena dia benar-benar membuat ibumu jauh dari jangkauanku.” Beliau tersenyum miris. Sungguh ingin rasanya menangis jika teringat hal itu. Tapi dia tidak bisa bersikap lemah di hadapan putrinya, dia harus kuat karena Haewoon juga harus begitu. “Maaf karena jadi ayah pengecut seperti ini.”

“Tidak, tidak, kau tidak seperti itu.”

“Kau pasti merindukan ibumu, kalau saja aku bisa menghentikan wanita itu, kita pasti tinggal bersamanya sekarang.”

“Benar,” Haewoon mengusap wajahnya lalu tersenyum lebar. “Tapi sekarang itu bukan masalah untukku. Kita bahagia dengan kehidupan kita sekarang, ada Byul dan Yu Yeol juga. Mungkin ibu juga bahagia dengan hidupnya, kita hanya harus berpikir begitu.”

Lee Daehan menyentuh kepala Haewoon, mengusapnya lembut. “Hm… terimakasih sudah menjadi putriku.”

Haewoon menunjukkan deretan giginya. “Terimakasih juga sudah menjadi ayahku.”

Well… inilah hal terindah bagi Haewoon. Dia bersyukur memiliki ayah seperti Tuan Lee Daehan, yang selalu mengerti perasaannya. Haewoon sungguh berterimakasih dengan tulus atas itu.

Tanpa ada yang tahu, di sebuah rumah berukuran kecil itu seorang wanita tergeletak lesu. Napasnya terputus-putus dan matanya nyaris terkatup. Penyakitnya kambuh lagi. Dia seharusnya ingat tentang ini, bukannya memaksakan diri. Tapi keinginannya untuk melihat lagi orang itu setelah sekian lama membuatnya senekat ini.

Sekali lagi ia menjulurkan tangan, mencoba meraih tasnya yang tergeletak di atas meja. Inhaler-nya ada di sana, tapi otot-otot tubuhnya tidak mampu membantunya. Untuk kesekian kalinya ia ambruk, lantas semuanya mendadak gelap dan ia tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.

😆😆😆 Tunggu kelanjutannyaaa. Aku lama banget ya gak posting apa-apa. Maaf yes. Terimakasih untuk kalian yang sudah bersedia menungguku. Chap 14 tinggal dibenerin kok. Doain aja lancar ngeditnya biar cepet diposting 😊oh, ya, thanks ya yang udah komen di postingan sana sini. Aku gak bisa ngebales semua tapi aku baca dan sangat berterimakasih atas itu. Semoga gak bosen mampir ke sini. Doain juga si ENCHANTED cepet berakhir 😂 akunya gak sabar nulis akhirnya tapi belum dapet bagian yang pas. Sekali lagi makasih ya yang udah mau bacaa 🙆🙆🙆

Advertisements

12 thoughts on “13th ENCHANTED

  1. Sapphire Blue says:

    siapa wanita itu? apa itu ibunya haewoon ?? makin penasaran aja. oh ya ini hubungan kyu sm haewoon udah resmi apa belum 😅😅 padahal si kyu udah ngajak hidup bersama tp haewoon selalu nolak katanya itu bercanda padahal bener wkwkwk

  2. Lyla says:

    Akhirnya
    Terimakasih udah d lanjutan kangen banget dengan cerita ini, itu yg nguntit ibu nya donghae
    Trus yg d jumpai haewoon di rumah nya kyu ibunya haewoon, bagaimana kalau sampai donghae tau ya kalau kyuhyun jatuh cinta sama adiknya sendiri

    • Anggiye says:

      Terimakasih juga udah kangenXD iya iya deh ibunya donge itu yg pingsan. Masih gatau ya gimana reaksi dongekalo tau kyu sama haewoon, yg jelas pasti gila kalo tau kyu sama aku ^^^^^^

  3. kimjju says:

    huaaaa akhirnya kak anggi updateee,,,, kangennn
    maaf ya aku baru comment sekarang padahal udah selesai bacanya dari kemarin-kemarin (sibuk banget nih sekolahnyaㅠㅠ
    gimana kabar kak anggi?

    semangat terus yaaa kak, aku selalu menunggu dan mendukung mu ❤

    • Anggiye says:

      Huaaaa juga makasih ya udah kangen 😊(akhirnya ada yang ngangenin juga)😆😆 gapapa baru aja komennya, aku malah makasih banget karena meskipun udah baca dari kemarin kamu tetep balik kesini cuma buat komen. Thanks so damn a lot ya. Aku baik btw😊 cuma sedikit gugup aja udah mau masuk kuliah hehe. Semangat juga ya kamu sekolahnyaa 😉

  4. selvy says:

    akhirnya, sering cek ke blog tapi ga ada update apapun..
    tapi authornya sehat kn?
    selalu ditunggu ko ceritanya, good luck 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s