12th ENCHANTED

​Kyuhyun tidak berhenti tersenyum sejak pertama kali terpikir tentang kemungkinan Haewoon berada. Dia secepat kilat melompat dari tempat duduknya dan merampas kunci mobil Donghae yang tergeletak di atas meja. Kyuhyun tidak peduli kalau Ahra mungkin akan membunuhnya saat mereka bertemu nanti. Yang ada di pikirannya hanya Haewoon.

Dia harus bertemu Haewoon.

Harus.

Jadi, hal pertama yang disadarinya untuk tahu kemungkinan Haewoon berada adalah Dae Yeon. Kyuhyun yakin Haewoon ada di rumahnya, dia ingat betul apa yang dikatakan gadis itu. Tapi, entah mengapa Kyuhyun tidak yakin untuk menghubungi Dae Yeon. Gadis itu bersama seorang pria yang katanya bernama Jayden Park kemarin dan… entah mengapa Kyuhyun merasa tidak percaya pada pria itu. Bukan karena apa, Kyuhyun hanya… sedikit sangsi. Dia merasa tidak nyaman. Entah mengapa.

Jadi Kyuhyun memutuskan untuk pergi ke kedai tempat Haewoon bekerja dan bertanya alamat rumah keluarganya. Dia jelas tidak mendapatkannya dengan mudah karena dia tidak dikenali dan beruntunglah dia saat salah satu pegawai mengenali suaranya. Well, dia yang kemarin menerima panggilan Kyuhyun sebelum memberikannya pada Haewoon.

Kemudian Kyuhyun langsung membeli tiket kereta ke Mokpo tanpa peduli dengan luka di kakinya. Kyuhyun sempat menelepon Donghae yang terdengar putus asa menghadapi Ahra. Dan bukan Kyuhyun namanya kalau tidak bisa membungkam mulut besar kakaknya. Dia punya cara tersendiri. Yang tidak bisa dilakukan orang lain selain dirinya.

Lantas setelah beberapa jam terdiam dalam perjalanan, Kyuhyun sampai di kota tempat Haewoon mungkin berada. Oh, dia belum tahu apakah Haewoon ada di sana atau tidak. Tapi apa salahnya mencoba? Kyuhyun akan mencarinya terlebih dahulu. Soal menemukannya atau tidak, itu urusan nanti.

Mobil taksi yang ditumpanginya memasuki wilayah toko buku milik ayah Haewoon berada, Kyuhyun lalu meminta sopir taksi itu memelankan mobilnya dan menurunkan kaca. Tetapi tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang tidak asing di depan sebuah toko.

Kyuhyun menyipit untuk memperjelas tatapannya. Dan sepertinya dia tidak salah. Sesuatu yang tidak asing itu menggunakan pakaian serba putih dari kepala sampai kaki dan sekarang sudah menghilang masuk ke dalam toko. Kyuhyun tanpa sadar tersenyum. 

Cah… ternyata tidak sesulit perkiraannya.

“Turunkan aku di sini.” Ucapnya pada sopir taksi itu, sebelum mereka berhenti di pinggir jalan tepat di seberang toko kue tempat gadis itu menenggelamkan dirinya.

Kyuhyun berterimakasih sambil membungkuk sopan, lalu berlari kecil menuju penyeberangan jalan. Tangannya terangkat menutupi kepala dan senyumnya lagi-lagi mengembang teringat akhirnya tujuannya tidak sia-sia. Dia akhirnya menemukan gadis itu. Jelas tidak sia-sia, bukan?

Tanpa pikir panjang Kyuhyun pun menyeberang jalan dengan satu tangan memberi tanda pada kendaraan yang berlalu-lalang. Sambil mengacak rambutnya yang sedikit basah ia langsung melangkah masuk ke toko itu, memesan segelas Americano dan membawanya ke lantai dua karena dia tidak menemukan Haewoon di lantai satu.

Dan benar saja, matanya langsung menangkap gadis itu ketika ia baru saja menaiki tangga terakhir. Kyuhyun terdiam sejenak, menghela napas sebelum melangkah pasti menghampiri Haewoon. Menarik kursi kayu di seberangnya dan langsung duduk tanpa peduli tatapan bingung bercampur terkejut yang diberikan Haewoon padanya.

“Hai.” Ucapnya santai. Mengacungkan gelas kopinya dan menyesapnya perlahan. “Boleh aku duduk di sini?”

Haewoon sadar mulutnya terbuka, matanya terpaku dan… tidak, tidak, dia tidak boleh seperti ini. Ia lalu mengerjap cepat, berdeham sebelum mencoba tersenyum biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa tiba-tiba ada di sini?” tanya Haewoon, mencoba sesantai mungkin.

Kyuhyun bersandar sambil menoleh ke jendela. Untuk pertama kali sejak ia berhadapan dengan gadis ini Kyuhyun menghela napas pelan. Tapi tetap tidak menghilangkan senyumannya. Rupanya gadis itu memilih untuk bersikap netral. Oke, mungkin lebih baik begitu. Dan mungkin lebih baik juga untuknya berbohong sekarang. Toh Haewoon yang memulainya.
Jadi setelah menoleh dan mengangkat bahu Kyuhyun pun berkata, “Ada pekerjaan.”

Haewoon mengangkat alisnya, mengerti. “Lalu Hyunoo?”

“Dia harus sekolah.”

Haewoon mengangguk pelan tanda ia mengerti, sekali lagi. Sejujurnya dia sedikit khawatir pada Hyunoo. Karena kemarin dia pergi tiba-tiba. Haewoon tahu Hyunoo adalah anak yang perhatian. Dan dari tampangnya saat ia berpamitan kemarin, Haewoon bisa menangkap raut khawatir yang mendadak muncul di wajah Hyunoo. Tapi…

“Hyunoo mencarimu, sebenarnya.” Ucap Kyuhyun kemudian, membuat Haewoon yang sedang melamun sambil menyesap cokelatnya mengangkat wajah, mengerjap ke arahnya.

Namun melihat itu justru membuat Kyuhyun tertawa kecil. Tanpa perlu meminta izin ia menjulurkan tubuhnya pada Haewoon, lalu mengusap bekas cokelat yang menempel di antara bibir dan hidung gadis itu.

“Ah, terimakasih.” Haewoon tidak menunduk malu seperti gadis-gadis yang pernah mendekatinya dan tidak sengaja bersentuhan fisik dengannya. Haewoon hanya memasang wajah santai sambil mengusap mulutnya dengan kertas tisu. “Tapi kapan kau berangkat dari Seoul?”

“Hm…,” Kyuhyun melihat jam tangannya. “Aku lupa, yang jelas aku langsung ke tempat ini begitu sampai.”

“Kenapa? Tidak ke kantormu?”

Kyuhyun tersenyum kecil sambil memiringkan kepala. Lihatlah, gadis ini benar-benar bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Dia berakting dengan baik. “Aku ingin melihatmu dulu.” Jawabnya kemudian.

Dan membuat pergerakkan tangan Haewoon yang sedang memotong cake-nya mendadak berhenti begitu mendengarnya. Tapi sedetik kemudian ia tersadar dan mendongak sambilㅡmasihㅡtersenyum lebar. “Aku senang ada orang yang mau melihatku. Terimakasih.”

“Dan kau?” Kyuhyun balik bertanya.

“Hm… hanya sedang jalan-jalan.” Haewoon mengangkat bahu.

“Kapan akan melihatku?”

Lagi, Haewoon tersentak karenanya. Ia sempat terdiam selama beberapa detik, mengerjap sebelum akhirnya mengerti kalau pertanyaan pertama yang diajukan Kyuhyun bukan mengenai keberadaannya. Tapi tentang perasaannya.

Perasaannya yang Haewoon harap bisa ditangani dengan hanya melupakannya.

Sepersekian detik kemudian Haewoon berdeham pelan, mengerjap cepat dan menyuap satu potong kue langsung ke dalam mulutnya. “Kau mau?”

Kyuhyun langsung membuka mulutnya. Dan Haewoon sambil terus mengunyah mengambil satu potong lagi untuk disuapkan pada Kyuhyun.

“Enak?”

“Green Tea?”

“Mm-hm,” Haewoon membenarkan. Kembali tersenyum seolah dia tidak mendengar apa-apa. “Katanya itu rasa terbaik di toko ini.”

Kyuhyun lalu mengangguk-anggukkan kepala sembari merasakan kue di dalam mulutnya. “Yah… enak sekali.”

“Mau aku membelikannya untuk Hyunoo?”

Kyuhyun mengibaskan tangan, “Dia tidak suka Green Tea.”

“Katakan ini hadiah dariku dan dia harus mencobanya. Anggap saja permintaan maafku karena tidak bisa menepati janjiku dengannya.”

“Janji? Kalian membuat janji?”

“Hm… sebenarnya hanya kesepakatan kecil,” Haewoon lagi-lagi mengangkat bahu. “Dia berjanji padaku untuk tidak menunggumu di seberang gedung sekolahnya sendirian lagi dan aku akan mengajaknya jalan-jalan mencoba semua makanan.”

“Tunggu,” Kyuhyun menegapkan tubuhnya. Ini menyangkut masalah Hyunoo dan sepertinya yang tadi sudah dilupakannya. “Hyunoo menunggu di… mana?”

“Kau tahu, pohon besar yang dikelilingi kursi kayu di seberang jalan sekolah Hyunoo. Kemarin saat aku menjemputnya, dia ada di sana sendirian.”

“Cah…” Kyuhyun sontak tertawa kecil. Kali ini dia menyadari sesuatu. “Itu karena dia tidak sabar menunggumu.”

“Hm?”

Kyuhyun menyesap kopinya sekali lagi, “Aku memberitahunya kalau kau yang akan menjemput dan kau harus tahu, Hyunoo sebenarnya lebih suka menungguku di taman sekolahnya sambil bermain dengan temannya.”

“Tapi kemarin…”

“Dia menunggumu, Lee Haewoon-ssi.”

Haewoon tanpa sadar tersenyum lebar. Hyunoo menunggunya? Tidak sabar ingin bertemu dengannya? Astaga, Haewoon tidak tahu kenapa hal sekecil ini bisa membuatnya bahagia. Oh, well, anggap saja dia senang karena banyak yang percaya padanya.

“Kalau begitu akan kubelikan kue favoritnya.” Ucap Haewoon kemudian, mengundang senyum Kyuhyun yang tampak melegakan. “Ada seseorang yang hebat membuat kue di sini, aku akan memintanya membuat kue itu. Dan omong-omong kapan kau kembali ke Seoul?”

Kyuhyun mengangkat bahu, “Sampai urusanku selesai.”

“Kapan? Aku harus memberikan kue itu padamu sebelum kau pergi.”

Mata Kyuhyun menyipit mendengarnya, “Kau tidak berniat kembali, ya?”

“Siapa bilang?” Haewoon tertawa, terpaksa, lalu menyuap kue lagi untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya. “Aku akan kembali nanti.”

“Kalau begitu berikan sendiri pada Hyunoo.”

Haewoon berhenti mengunyah selama beberapa detik dengan kepala sontak mendongak, tapi kemudian ia tersadar dan segera menetralkan kembali ekspresi serta perasaannya.

“Kuenya tidak akan enak kalau sudah lama.” Ucapnya beralasan, mengambil segelas air mineral dan meminumnya.

“Memang berapa lama kau akan tinggal?”

Sampai aku bisa melupakanmu.

“Entahlah, tidak pasti.”

Kyuhyun menguncang pelan gelas kopinya dan menyesapnya sampai tetes terakhir sebelum memberanikan diri untuk bertanya, “Kenapa?” tanpa menatap lawan bicaranya.

“Apa?” Haewoon juga menghabiskan potongan kue terakhirnya, berikut cokelatnya yang sudah dingin dan menetralkan mulutnya dengan air mineral.

Kyuhyun akhirnya kembali menatap Haewoon, “Kenapa tidak bisa kembali lebih cepat? Aku rindu kau yang ada di sampingku.”

Haewoon meyakinkan diri kalau dia tidak gila. Dia tidak stres, atau dia sedang berkhayal yang tidak mungkin. Tidak. Dia sadar. Kulitnya terasa sakit saat ia diam-diam menusuk tubuhnya sendiri dengan kuku jari di bawah meja. Kyuhyun yang dilihatnya sekarang juga nyata. Haewoon tidak berhalusinasi. Karena dia yakin sedang bicara dengan orang ini.

Oke, ini mengejutkannya, tentu saja. Melihat Kyuhyun yang tiba-tiba datang dan duduk di hadapannya adalah salah satu hal yang sebenarnya diharapkannya sekaligus tidak diharapkannya. Lebih lagi pria itu tampak berbeda. Meskipun setelan yang Haewoon yakin harganya mahal itu tampak pas di tubuhnya dan wajahnya yang terus tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, Haewoon tetap merasa ada sesuatu yang berbeda.

Dan yang jelas Haewoon tahu pria itu sedang mencoba mengerti dirinya.

Kyuhyun sadar tentang dia yang tidak mau mengungkapkan apa-apa dan bersikap baik-baik saja. Kyuhyun memahaminya. Meski dari mata pria itu dapat Haewoon tangkap berbagai macam pertanyaan yang sepertinya sangat ingin diungkapkannya.

Kecuali satu pertanyaan yang Haewoon bahkan tidak pernah berpikir Kyuhyun akan bertanya padanya.

“Kenapa tidak bisa kembali lebih cepat? Aku rindu kau yang ada di sampingku.”

Haewoon tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, menahan rasa ingin menjawab karena dia tahu ini tidaklah benar. Dia tidak boleh merestui perasaannya sendiri. Harusnya Haewoon ingat itu.

Tetapi, begitu Haewoon ingin mencoba menjawab dengan sesuatu yang dia pikir adalah jawaban terbaik, Kyuhyun tiba-tiba meletakkan gelas kosongnya ke atas meja, mengalihkan perhatian Haewoon dan pria itu secara tiba-tiba berdiri, lalu sontak memekik sebelum tubuhnya kembali jatuh ke atas kursi.

“Wae? Wae?” Haewoon menyentuh bahunya. Tapi Kyuhyun hanya tersenyum menahan sakit sambil menunjuk kakinya. Dan Haewoon segera bangkit berdiri, berjongkok di depan kaki pria itu. “Kau terluka?” tanyanya khawatir.

Tapi bukannya menjawab, Kyuhyun justru tersenyum karena rona khawatir yang mendadak muncul di wajah gadis itu sangat menghiburnya.

“Kau terluka?” tanya Haewoon sekali lagi, kali ini sambil memeriksa luka itu yang menurutnya parah sekali. Sementara Kyuhyun berdeham sebelum tersenyum lebih lebar lagi karena sentuhan perhatian Haewoon rasanya sudah cukup untuk jadi pereda rasa sakit pada lukanya ini.

“Apa-apaan ini?” Haewoon menatap perban sembarangan yang dipasang Kyuhyun di kakinya. Dan buruknya lagi pria itu memakai sandal. Oh, Haewoon ingat bagaimana pria itu duduk di hadapannya tadi. Seolah kakinya tidak terluka dan dia baik-baik saja. “Kenapa seperti ini?” tanya Haewoon sedikit ketus. Ia ingin memperbaiki perban itu, tapi teringat ini adalah toko roti. Jadi dengan segera ia berdiri, menarik lengan Kyuhyun untuk pergi.

“Ikut aku. Kau tidak boleh pergi dengan kaki seperti ini.”

“Ke mana?”

“Apotek.”

“Aku punya perban.” Kyuhyun merogoh saku dalam jasnya dan mengambil perban dari sana. Juga plester luka yang ternyata tersisa sedikit lagi. “Plester juga.”

“Obat merah?”

“Aku lupa membawanya.”

“Well, kau tahu lukamu ini terbuka lagi dan kita harus menutupnya dengan benar. Jadi kita tetap harus ke apotek.”

“Tidak bisa ke toko ayahmu saja?”

Haewoon kontan mengerutkan keningnya, “Kau tahu toko ayahku ada di sini?”

Kyuhyun balas mengangkat bahu, “Temanmu yang mengatakannya.”

“Siapa?”

“Ayo,” potong Kyuhyun cepat dan langsung berdiri dengan sedikit mengangkat telapak kakinya yang terluka. “Kita ke apotek saja kalau begitu.”

“Tapiㅡ”

“Ah!” Kyuhyun menjerit pelan setelah dengan sengaja menyakiti kakinya. Tapi hal itu berhasil mengalihkan perhatian Haewoon. Membuat gadis itu kembali memasang tampang khawatir dan langsung membantunya berjalan pelan untuk keluar dari toko itu menunju apotek.

Haewoon berhenti di depan toko roti itu saat menyadari ternyata hujan yang turun belum juga berhenti. Ia menoleh ke sekitar, sempat mundur sedikit sambil menarik Kyuhyun karena terkena cipratan air hujan. Kalau tidak salah ada apotek milik teman ayahnya di sekitar sini. Haewoon lupa namanya tokonya tapi…

“Ada di sana,” ucap Kyuhyun, menunjuk ke sisi kiri mereka. “Aku melihatnya saat dalam perjalanan tadi.”

“Oh, benarkah? Kalau begituㅡ” Haewoon tiba-tiba berhenti saat menyadari mereka tidak mungkin menembus hujan dengan kaki Kyuhyun seperti itu. Itu jelas hanya akan memperparah lukanya. Selama beberapa saat Haewoon tampak berpikir, sebelum mengajak Kyuhyun berjalan pelan ke pinggiran toko dan melepas sepatunya. “Pakai ini.” Ucapnya, meletakkan sepasang sepatunya di depan kaki Kyuhyun. “Setidaknya sampai ke apotek.”

“Tapi kauㅡ”

“Sandalmu,” Haewoon menunjuk sandal Kyuhyun, menagihnya. Tapi Kyuhyun tidak langsung bergerak. Keningnya berkerut dan dari wajahnya dapat diketahui kalau dia tidak percaya. Oh, benar, dia tidak percaya kalau gadis ini ternyata baiknya luar biasa. “Ayo, cepat.”

“Tidak apa-apa?”

“Tentu saja. Apotek itu cuma beberapa meter.”

“Kau bisa kedinginan.”

“Setelah masuk apotek akan terasa hangat.”

“Tapi kakimuㅡ”

Haewoon sontak menunduk dan mengangkat kaki Kyuhyun, melepaskan sandalnya dan memasang sepatu miliknya yang sebenarnya tidak cukup. Tapi setidaknya luka itu tertutup dari air.

“Terimakasih.”

Haewoon hanya mengangkat bahu, lalu menggandeng lengan Kyuhyun setelah memasang topi pada hoodie-nya. Dan kemudian mereka pun berjalan menembus hujan. Sebenarnya ini tidak mudah, tapi Haewoon terus berusaha membawa Kyuhyun tanpa harus mengucapkan kata menyerah. Sebenarnya dia sangsi, kenapa bisa Kyuhyun datang sejauh ini padahal kakinya terluka dan bahkan berjalan saja terlihat sulit sekali.

“Permisi,” sapa Haewoon begitu mereka masuk ke apotek kecil itu. Dan seorang pria seumuran ayahnya langsung tersenyum dari balik meja, balas menyapanya.

“Lama tidak melihatmu, apa kuliahmu lancar?”

“Tentu,” Haewoon tersenyum ramah sambil mendudukkan Kyuhyun ke kursi yang ada di sana. Lalu menghampiri teman ayahnya itu, “Aku perlu plester, pembersih luka, obat merah dan perban.”

“Untuknya?” tanya pria itu sambil mengambilkan pesanan Haewoon. Dan Haewoon balas mengangguk tanpa ragu. “Siapa? Dia cukup tampan dan terlihat kaya.”

“Hanya teman.”

“Benar hanya teman?”

Haewoon mengangguk setengah ragu sambil mengambil pesanannya yang sudah siap di atas meja.

“Bukan kekasihmu?”

“Ye?” kepala Haewoon yang sedang menunduk untuk menghitung uang sontak mendongak. “Dia kekasihku?”

Teman ayahnya itu mengangkat bahu, “Kalian terlihat cocok.”

Haewoon menoleh ke arah Kyuhyun sejenak dan ternyata pria itu sedang memainkan ponselnya. Jadi Haewoon kembali berbalik, “Berapa semuanya?”

“Ambil saja.”

“Tapi ini banyak sekali.”

“Aku tidak akan bangkrut hanya karena itu.”

“Benarkah?”

“Mm-hm, lagipula sudah lama sekali sejak kau mengunjungiku. Anggap itu hadiah dariku.”

“Oh, Tuhan, terimakasih banyak. Kalau begitu aku juga akan memberimu hadiah.”

“Apa itu?”

“Datanglah ke toko, kita makan malam bersama. Aku akan memasak yang enak untukmu.”

Pria tua itu tertawa kecil mendengarnya. Ia ingat kalau masakan enak versi Haewoon saat masih sekolah dulu adalah omurice dengan saus dan mayonaise di atasnya. Tapi untuk sekarang ia tidak tahu bagaimana masakan enak itu. Jadi ia jelas tidak mau kehilangan kesempatan ini.

“Baiklah, aku akan datang.”

Haewoon tersenyum manis sekali. Lalu mengacungkan obat-obatan di tangannya sebelum menghampiri Kyuhyun yang masih memainkan ponselnya. “Kenapa?”

“Tidak mau menyala.” Kyuhyun memukul pelan bagian belakang ponselnya. “Aku baru mau menelepon Hyunoo, tapi ponselnya tiba-tiba mati.”

“Apa karena terkena hujan?”

“Kurasa baterenya habis.”

“Dan kau memukul-mukulnya?” Haewoon kontan berdecak tidak percaya. Apa karena kakinya luka Kyuhyun jadi sedikit gila? Hei, dia bertingkah seolah dengan memukul ponselnya baterenya akan bertambah dan langsung menyala. “Lepas sepatumu.” Perintah Haewoon kemudian, mulai menyiapkan pengobatan.

Kyuhyun pun melepaskan sepatu Haewoon yang dikenakannya, mengangkat kaki ke atas kakinya yang lain dan membiarkan Haewoon mengambil alih segalanya.

“Kenapa bisa terluka?” tanya Haewoon tanpa menatap Kyuhyun. Tangannya bergerak membersihkan luka itu dan sempat berhenti saat mendengar Kyuhyun mendesis sakit. “Tahan sebentar.”

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Dia sudah mencoba menahan sakit, tapi Haewoon tampak sangat serius saat membersihkannya. Kyuhyun tahu memang seharusnya begitu, karena saat Hyunoo terluka dia juga begitu.

“Jadi kenapa kau bisa terluka?” tanya Haewoon sekali lagi. Kali ini mendongak untuk sekilas menatap Kyuhyun yang ternyata langsung membalas tatapannya. “Apa terjadi sesuatu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Hanya terinjak pecahan kaca tadi pagi.”

“Kaca?” Haewoon menegapkan tubuhnya. Keningnya mengerut menatap Kyuhyun tidak percaya. Ternyata dia seceroboh itu?

Menyadari arti tatapan Haewoon itu Kyuhyun pun menjelaskan, “Oke, aku terinjak pecahan kaca saat harus membukakan pintu untuk Donghae pagi ini.”

Donghae? Haewoon mengulang nama itu dalam hati dengan mata sedikit menyipit. Dan sepersekian detik kemudian ia mengangguk, sudah teringat dengan sosok itu.
“Bukankah ada yang lain di rumahmu? Hm…” Haewoon mengangkat bahu, “Ibumu… mungkin.”

Kyuhyun tidak tahu apa ini benar atau dia hanya berhalusinasi, tapi dia melihat perubahan raut wajah Haewoon yang tiba-tiba menunduk dan kembali menyibukkan diri dengan luka di kakinya.

“Aku tidur di apartemen tadi malam.”

“Dan ada pecahan kaca di apartemenmu padahal kau tinggal dengan anak kecil?” Haewoon masih tidak menatapnya.
“Aku sendirian.”

Lagi, Haewoon menatapnya, “Hyunoo?”

“Di rumah keluargaku, tempatmu mengantarnya kemarin.”

“Kenapa begitu?”

“Aku pulang terlalu larut malam tadi dan tidak sempat menjemput Hyunoo. Itu saja.”

Haewoon tidak merespon apa-apa lagi. Kyuhyun melihat gadis itu menghela napas satu kali saat memasang perban di kakinya, sebelum akhirnya tersenyum terpaksa setelah merekatkan perban itu.

“Selesai.”

“Terimakasih.”

“Sekarang pergilah, kau bisa terlambat.”

Teringat akan kebohongannya, Kyuhyun lalu melihat jam tangan berkata, “Aku akan mengantarmu. Kau mau ke mana?”

“Mungkin supermarket. Aku mengundang paman itu makan bersama keluargaku malam ini.” Jawab Haewoon sambil menunjuk orang yang dimaksudnya dengan isyarat mata.

“Boleh aku ikut?”

“Kau tidak akan pulang?”

“Aku bisa pulang besok.”

“Hyunoo tidak apa-apa?”

“Aku akan meneleponnya segera.”

“Kau yakin?”

Kyuhyun mengangguk kelewat yakin. “Ini bukan hanya aku dan paman itu, tapi ayahku dan dua teman baikku.”

“Dae Yeon-ssi?”

“Bukan, bukan,” Haewoon mengibaskan tangannya. “Dia tidak tahu aku di sini.”

“Kenapa? Kurasa kalian teman dekat.”

“Aku terburu-buru dan tidak sempat meninggalinya pesan.”

Kyuhyun lalu mengangguk-angguk mengerti. Sekali lagi dia tahu kalau Haewoon tampaknya tidak mau bicara yang sebenarnya. Mengenai keberadaannya yang tiba-tiba menghilang entah ke mana. Gadis itu berperan seolah dia sangat baik-baik saja. Sehingga Kyuhyun bingung harus mencuri celah untuk mengetahui masalahnya dari mana. Oh, bukan karena ingin ikut campur. Kyuhyun hanya mau tahu kalau-kalau dia bisa membantu. Karena jujur saja, Kyuhyun tidak mau Haewoon menghilang seperti ini lagi. Kyuhyun mau dia jadi orang yang benar-benar Haewoon percaya. Sehingga saat dia harus pergi, Kyuhyun adalah orang pertama yang tahu ke mana arah tujuannya.

“Jadi boleh aku bergabung?”

Haewoon tampak berpikir sambil memainkan bungkusan obat yang ada di tangannya. Well, dia tidak pernah mengajak seorang pria makan malam bersama ayahnya. Dan jika mengingat apa yang dibicarakannya dengan Dae Han pagi ini, Haewoon yakin ayahnya itu akan berpikir yang tidak-tidak. Oh, maksudku Haewoon yakin ayahnya akan berpikir kalau Haewoon memang serius dengan pria ini. Padahal nyatanya dia sedang berusaha untuk tidak memberi restu pada diri sendiri.

Tapi setelah beberapa saat terdiam sambil memikirkan beberapa kemungkinan yang mungkin harus dihadapinya, Haewoon merasa sangat tidak sopan menolak Kyuhyun setelah dia mengundang paman pemilik toko obat itu. Ini terasa seperti diskriminasi dan Haewoon benci itu.

Jadi ia mendongak menatap Kyuhyun dengan matanya yang membulat, berpikir dan beberapa detik kemudian mengangguk pelan. Mengiyakan. “Datanglah.”

“Sungguh?”

“Mm-hm, kami akan makan bersama di toko saja karena di sana cukup luas. Jadi datang saja ke toko ayahku. Satu-satunya toko buku yang ada di daerah ini.”

“Apa nama tokonya?”

“Itu tantangan untukmu.” Haewoon mengangkat bahu lalu berdiri, “Tanyakan pada orang-orang dan jika kau berhasil datang lima belas menit sebelum jam makan malam, aku akan mengabulkan satu permintaanmu. Oke?” 

Haewoon berhenti mencuci sayuran yang tadi dibelinya ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Mulutnya tanpa sadar melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman kecil dan Haewoon terkekeh tanpa suara.

Jujur saja, ada sedikit perasaan senang saat akhirnya ia melihat Kyuhyun datang kepadanya. Pria itu menemukannya meski dari awal Haewoon memang tidak berniat menghilang hanya agar pria itu mencarinya. Semua ini di luar dugaan tapi… Haewoon entah mengapa menyukainya. Dia suka bagaimana pria itu mendadak datang, duduk di hadapannya dan berusaha mengerti dirinya tanpa perlu bertanya. Haewoon tahu pria itu penasaran mengapa ia pergi begitu saja setelah mengantar Hyunoo pulang dan Haewoon juga tahu, Kyuhyun menahan rasa penasarannya itu setengah mati.

Tapi, lagi-lagi sesuatu yang lain mengusiknya.

Tentang miliknya yang telah direbut, entah sejak kapan Haewoon mulai berpikir apakah seleranya dan Kyuhyun sama. 

Setahunya, sepanjang kehidupannya sampai saat ini, Haewoon akan merasa sangat senang saat ada yang memiliki selera sama dengannya. Itu membuatnya merasa bisa berbagi. Meski kadang-kadang dia tidak suka, tapi… itu tidak sesakit sekarang ini.

Haewoon ingat saat dulu Byul membeli kipas portabel berwarna merah muda dan itu satu-satunya yang ada di toko, padahal Byul tahu Haewoon juga ingin membeli yang warna itu. Tapi, Haewoon merelakannya saja dan dia berakhir dengan membeli yang warna biru. Tidak apa-apa, dia baik-baik saja pada saat itu. Rasanya tidak sesakit sekarang ini. Yah… kesamaan selera yang untuk saat ini… entahlah, Haewoon juga bingung harus menggambarkannya bagaimana. Yang jelas ini berbeda dengan masalah kipas portabelnya dulu.

Haewoon menghela napas. Mencoba mengesampingkan terlebih dulu perasaan semacam itu dan kembali melanjutkan membersihkan sayuran di tangannya.

Omong-omong dia akan memasak hari ini. Dia tidak terlalu pandai memasak tapi dia juga tidak seburuk itu. Dan karena sudah mengundang teman ayahnya dan juga Kyuhyun yang sebenarnya ingin diundang, Haewoon mengantisipasi rasa masakannya dengan membeli beberapa menu di salah satu kedai. Setidaknya kalau masakannya tidak enak dia bisa menyajikan masakan dari kedai, dan mengakui kalau itu juga buatannya, mungkin.

Tapi tunggu.

Apa ini benar?

Pertanyaan itu mendadak muncul di kepalanya. Membuat tatapan Haewoon mendadak menerawang dan dia tenggelam dalam dunianya. Seolah dia bertanya apa yang harus dilakukannya meskipun dia tidak mendapatkan jawaban apa-apa.

Kenapa tiba-tiba begini? Haewoon teringat lagi dengan dirinya yang seharusnya tidak merestui perasaannya sendiri. Lantas kalau dia terus seperti ini apa gunanya dia pulang ke Mokpo? Bukankah sama saja jika dia tetap di Seoul?

Haewoon mengerjap satu kali. Menyadarkan diri bahwa seharusnya dia mengikuti tujuan dan alasan awalnya berada di tempat ini.

Berhenti menyukai pria itu.

Ya, itu benar. Itu yang seharusnya dia lakukan. Dia tidak bisa seperti ini lagi. Setidaknya dia berubah menjadi dirinya yang lain satu kali selama hidupnya. Dan Haewoon rasa inilah saatnya.

ㅡ 

Kyuhyun membuka matanya yang selama beberapa jam terakhir tertutup tenang, tertidur di atas empuknya kasur hotel tanpa peduli apa saja yang telah dilewatkannya.
Termasuk rapat penting yang tadi Donghae beritahu padanya.

Kyuhyun tahu dia pasti telah membuat masalah. Semua orang pasti sedang marah padanya sekarang dan… entah apa yang harus dilakukannya untuk mengembalikan keadaan. Kyuhyun belum memikirkannya.

Tapi satu hal yang Kyuhyun tahu. Yaitu satu masalahnya selesai dengan Haewoon yang telah ditemukannya. Meskipun Haewoon tidak menjawab pertanyaannya, Kyuhyun merasa tidak sebingung kemarin saat gadis itu menghilang. Entah bagaimana bisa Kyuhyun berpikir kalau Haewoon ada di dekatnya, dia bisa melakukan segalanya. Justru itu tadi pagi dia berani meninggalkan Seoul hanya untuk menemukan gadis itu. 

Setidaknya sekarang Haewoon ada dan dia bisa mulai memikirkan cara untuk mendapatkan kembali kepercayaan para investor yang telah dikecewakannya.

Kyuhyun menghela napas pelan, lalu bangkit duduk dan meminum air mineral di atas nakas sampai habis setengah. Menoleh ke arah jam dinding, Kyuhyun menyadari kalau sebentar lagi sudah masuk jam makan malam.

Jadi tanpa membuang waktu itu ia bangkit ke kamar mandi dan menyelesaikan semuanya selama tiga puluh menit. Dalam perjalanan dari apotek sebagai tempat terakhir ia bertemu Haewoon tadi, Kyuhyun sempat mampir ke sebuah toko dan membeli satu pasang pakaian secara acak. Dia hanya perlu celana, sweter, jaket dan sepatu kets. 

Lantas setelah memastikan penampilannya yang sebenarnya sangat tidak tampak seperti orang kayaㅡwell, Kyuhyun tidak peduli ituㅡKyuhyun pun berangkat setelah menelepon taksi yang tadi ditumpanginya. Di luar masih hujan meskipun tidak sederas sebelumnya dan Kyuhyun tidak mau memperparah lukanya dengan berjalan ke halte atau berjalan di sepanjang trotoar menunggu taksi yang lewat.

Kyuhyun mengatakan tujuannya dan mobil itu pun melaju di atas jalan raya yang licin dan juga basah. Kyuhyun menyandar, menoleh menatap jendela yang berbintik karena tetesan hujan dan tiba-tiba dia teringat pada putranya.

Di jam seperti ini Hyunoo jelas sudah pulang ke rumah. Donghae pasti menjemputnya. Kyuhyun ingin menelepon, tapi takut Hyunoo justru menangis karena tahu dia tidak di Seoul. Di layar ponselnya yang sudah kembali menyala juga ada beberapa pesan dari ibunya, yang Kyuhyun yakini Hyunoolah yang mengirimnya.

Anak itu bertanya keadaannya, di mana dia berada dan kenapa tidak menjemputnya. Lalu Hyunoo mengingatkannya tentang janji yang sempat dibuatnya kalau malam ini mereka akan makan di kedai mana pun yang Hyunoo mau. Tapi, Kyuhyun tidak bisa menepatinya. Kyuhyun hanya menjawab pesan itu dengan permintaan maaf dan berjanji lagi mereka pasti akan pergi di lain waktu. Kemudian Hyunoo tidak membalas pesannya, yang Kyuhyun simpulkan bahwa anak itu marah padanya. Namun lima menit kemudian pesan baru masuk lagi, dari Hyunoo dan dia bertanya apakah Kyuhyun sudah menemukan Haewoon dan bagaimana keadaannya.

See? Bahkan saat marah padanya Hyunoo tetap mengirim pesan dan menanyakan keadaan gadis itu. Kyuhyun jelas tahu kebiasaan putranya yang kalau marah tidak akan mau bicara. Tapi demi gadis itu…

Kyuhyun terkekeh pelan teringat semua itu. Selera ayah dan anak memang selaras. Kalau begini caranya dia tidak perlu sulit-sulit mencari ibu baru untuk putranya.

“Di sini?” pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunannya. Kyuhyun menilik ke luar jendela untuk melihat nama toko buku di samping kirinya dan ia mengangguk mengiyakan.

“Ya, di sini.” Kyuhyun melihat jam tangannya sejenak dan tersenyum dia lebih cepat dua puluh menit dari jam makan malam. Ia lalu mengeluarkan uang untuk membayar tagihan taksi dan baru ingin membuka pintu ketika seorang gadis berperawakan mungil muncul dari pintu toko itu.

“Haruskah aku menunggumu, Tuan?”

Kyuhyun mengacuhkannya. Keningnya mengerut menyadari raut was-was di wajah gadis itu dan dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Kyuhyun sudah tahu apa nama toko buku ayah Haewoon dan gadis asing itu ada di sana, yang mungkin saja mengenal Haewoon. Jadi raut was-was itu…

“Tuan?”

“Ya?” Kyuhyun menoleh, “A-ah, kau boleh pergi. Aku tidak mau kau kehilangan pelanggan karena menungguku.” Dia kemudian turun dari mobil taksi itu setelah berterimakasih sekali lagi.

Dan ketika Kyuhyun sedikit berlari untuk melindungi diri dari air hujan, gadis asing itu menatapnya. Membuat Kyuhyun melupakan sejenak rasa nyeri di kakinya dan balas menatap gadis itu.

“Apa kau teman Haewoon?”

Oh, benar. Gadis ini mengenal Haewoon. “Ya, aku temannya.” Ucap Kyuhyun, menjulurkan tangannya.

Dan seketika raut was-was di wajah gadis itu menghilang. Ia menjabat tangan Kyuhyun sejenak, “Aku Byul. Na Byul, teman dekat Haewoon.”

“Oh, senang bertemu denganmu. Tapi…,” Kyuhyun menoleh ke arah toko. “Haewoon mengundangku makan malam hari ini. Apa dia ada?”

“Makan malam?” Byul tampak memutar otak. “Kami tidak mengadakan makan malam apa pun. Apa Haewoon menyuruhmu datang ke mari?”

“Mm-hm, ini toko ayahnya, bukan?”

“Ya. Dia pergi setelah memasak tadi, katanya ada sesuatu yang mendaㅡoh! Tunggu sebentar.” Byul berlari masuk ke dalam toko, mengambil ponselnya dan juga sebuah bungkusan. “Tunggu, namamu… Cho Kyuhyun?” tanyanya setelah melihat pesan yang satu jam lalu dikirimkan Haewoon padanya.

Kyuhyun mengangguk. Mulai mencoba memahami apa yang terjadi di sini.

“Ah, kalau begitu Haewoon menitipkan ini untukmu. Dia bilang maaf karena tidak bisa menepati janji.”

Kyuhyun tersenyum kecil mendengarnya, yang sebenarnya hal itu tidak diharapkannya. Tapi ia menerima bungkusan itu dari Byul, “Terimakasih. Tapi ke mana dia pergi?”

“Kalau itu dia tidak bilang apa-apa. Katanya hanya ada sesuatu yang mendadak, begitu saja.”

“Oh, baiklah…” Kyuhyun mengangguk-angguk. Lalu memutuskan untuk pergi setelah berpamitan pada Byul yang masih berdiri di depan toko.

Omong-omong tentang urusan mendadak Haewoon… kenapa Kyuhyun merasa ada yang aneh? Setahu Kyuhyun orang seperti Haewoon tidak pernah mengingkari janji. Maksudnya gadis itu tidak mungkin membatalkan makan malam setelah mengundang seseorang. Secara tidak langsung itu tidak sopan. Tapi…

Kyuhyun berhenti di depan sebuah toko jam. Kepalanya menunduk menatap bungkusan makanan yang ada di tangannya lalu beralih pada jam di tangannya.

Apa Haewoon akan kembali segera?
Apa dia bisa menunggu?

“Appa, makanlah.” Panggil Haewoon setelah mengetuk dua kali pintu kamar ayahnya. Lalu membukanya dan tersenyum melihat pria setengah baya itu masih duduk menghadap monitor, menulis tugas yang harus diselesaikannya segera. “Makanlah dulu baru selesaikan.” Ucap Haewoon perhatian, meletakkan meja kecil berisi makanan ke sisi kanan ayahnya.

“Kau sudah makan?”

“Belum. Aku ingin makan di rumah Bibi Yoon saja.”
“Maaf, aku tidak bisa menemanimu makan saat kau pulang.”

“Tidak apa-apa, aku tahu Appa sibuk. Kita bisa makan bersama besok pagi.”

Lee Daehan tersenyum, lalu menyentuh tangan putrinya dan menggenggamnya hangat. Dari pancaran matanya, Haewoon bisa membaca sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dipikirkannya.

“Wae?” tanya Haewoon pelan.

Lagi-lagi Daehan tersenyum lembut, kali ini tangannya bergerak mengelus puncak kepala Haewoon. “Pergilah padanya kalau hatimu ingin dengannya.”

“Hm?” Haewoon memiringkan kepalanya. Bingung. “Kenapa tiba-tiba bicara begitu?”

Daehan memutar tubuhnya menghadap Haewoon. “Aku tahu kenapa kau mengajakku pulang cepat. Jangan disembunyikan begitu. Tunjukkan saja apa maumu, seperti Haewoon yang kubesarkan dari dulu. Mengerti?”

“Appa…”

“Haewoon-ah, kau putriku. Aku tahu bagaimana sikapmu dan Tuan Han juga temanku. Dia mengatakan apa yang dia tahu padaku. Jadi jika benar pria itu orangnya, biarkan dia mendekatimu. Tapi kalau menolaknya, katakan padanya, jangan menghindarinya.”

“Tapiㅡ”

“Tidak akan ada yang bisa menghalangimu. Percayalah pada dirimu, dengarkan suara hatimu. Oke?”

Haewoon tidak tahu lagi harus berkata apa. Mengikuti kata hati terkadang adalah hal termudah yang bisa dilakukan ketika kita berada di antara dua pilihan. Tapi untuk kondisi sekarang Haewoon juga memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Dia takut jika memang ia harus mengikuti kata hatinya, ia justru akan menyakiti banyak orang. Dia takut itu terjadi.

“Sekarang begini saja,” ucap Daehan setelah menatap putrinya yang tidak berkata apa-apa itu. “Ini mungkin sulit bagimu. Aku tahu itu karena aku juga pernah merasakannya. Jadi pergilah, beli apa pun yang kau mau dan jernihkan pikiranmu. Itu hal pertama yang harus dilakukan sebelum memutuskan sesuatu. Aku tahu itu.”

“Tapiㅡ”

“Jangan bilang tidak.” Daehan mengangkat tangannya. “Untuk kali ini saja, pikirkan dirimu juga. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Jadi jangan memaksa diri. Oke?”

“Kau yakin?”

“Tentu saja.” Pria itu mengangguk yakin sekali. “Pergilah.”

“Bagaimana kalau aku membuat keputusan yang salah?”

“Kau bukan orang yang melepaskan tanggung jawab, Haewoon-ah. Aku yakin kau bisa menghadapi apa pun risiko dari keputusanmu itu.”

“Benarkah?”

“Mm-hm.”

“Appa akan selalu mendukungku?”

Daehan menyentuh pundak putrinya, menepuknya dua kali lalu berpaling lagi pada layar monitor setelah mengambil satu potong roti.

Sementara Haewoon terdiam sambil berpikir. Hingga lima detik kemudian dia memutuskan untuk mendekat pada Daehan, memeluk ayahnya itu sejenak dan mengingatkannya untuk makan sebelum bangkit berdiri dan pergi.
Kalau diingat-ingat lagi, kenapa semua yang terjadi hari ini seperti tidak ada yang sesuai perkiraannya?

Haewoon berjalan ke luar rumahnya setelah mengambil jaket bertopi yang sudah lama tidak dipakainya. Tadinya Haewoon ingin menumpang makan di rumah Bibi Yoon, tetangga sebelah yang sudah sejak dulu sering mengajak Haewoon makan bersama.

Tapi tadi ayahnya tiba-tiba berkata begitu, membuat semangat Haewoon tiba-tiba luntur dan dia mau tidak mau kembali memikirkan masalah perasaannya. Jujur saja, Haewoon ingin mengesampingkannya. Tapi jika kondisinya sudah terlanjur begini, dia bisa apa?

Haewoon menghela napas pelan, menghasilkan kepulan asap putih di depan mulutnya dan ia berhenti sejenak untuk menatapi asap itu. Tiba-tiba terpikir olehnya, jika saja dia bisa menghilang seperti kepulan asap itu, dia tidak perlu memikirkan semua yang terjadi sampai seperti ini. Dia tidak perlu bingung, sakit hati dan terluka lagi.


“Pergilah padanya kalau hatimu ingin dengannya.”




Lagi, kalimat itu terulang dalam tempurung kepalanya.

Haewoon bingung luar biasa. Dia sudah bertanya pada dirinya sendiri apa yang diinginkannya, tapi dia tidak tahu pasti apa itu. Separuh hatinya ingin bersembunyi dan separuhnya lagi ingin pergi.

Haewoon mendongakkan kepala menatap langit malam yang tidak terlalu berbintang. Hujan baru mereda sejak ia keluar rumah tadi, tapi sepertinya akan turun lagi. Jadi… 

“Ke sana saja.” Putusnya sambil menunjuk kafe kecil di ujung jalan. Dia memilih menikmati secangkir teh hangat untuk malam ini. Soal makanan… sepertinya Haewoon benar-benar sedang tidak bernafsu. Haewoon berpikir untuk makan saat terasa lapar saja nanti. Apalagi untuk urusan hati, sepertinya Haewoon memilih untuk melupakannya dulu dan menenangkan diri.

Mengetahui gadis itu tidak ada di toko ayahnya padahal mereka telah membuat janji makan malam, membuat Kyuhyun mau tidak mau berpikir kalau sebenarnya Haewoon sedang menghindarinya. Entah karena apa. Kyuhyun tidak bisa memikirkan alasannya. Dia hanya merasa begitu dan itu sangat mengganggu. 

Meskipun baru saja mengenal Haewoon, Kyuhyun tahu dengan benar kalau gadis itu adalah tipikal gadis yang akan bertanggung jawab apa pun yang terjadi. Paling tidak kalau ada masalah gadis itu akan menghadapi, bukan bersembunyi.
Oh, tunggu. Memang gadis itu bersembunyi karena masalahnya ada pada Kyuhyun? Tidak ada yang berkata seperti itu, bukan? Tapi kenapa Kyuhyun justru berpikir demikian? Argh! Sial! Semua ini hanya membuat Kyuhyun berpikir yang tidak-tidak.

Kyuhyun menghempaskan punggungnya ke kursi yang ada di tempat tunggu kereta di stasiun itu. Ia mendengus, sedikit kesal pada sikap gadis itu tapi dia bisa apa? Kondisi sekarang menyatakan bahwa dia tidak bisa mengganggu atau menemui gadis itu. Ingat lagi perkataan Byul, bahwa Haewoon sedang ada urusan mendadak. Entah urusan macam apa.

Kemudian sekitar lima belas menit berlalu, Kyuhyun mendengar pemberitahuan bahwa kereta terakhir tujuan Seoul akan segera berangkat. Jadi ia bangkit berdiri, berjalan sedikit tertatih ke arah pintu kereta dan memilih kursi pertama yang dilihatnya. Omong-omong kakinya sebenarnya tadi tidak sakit lagi. Hanya saja kalau suasana seperti ini, denyutan nyeri itu datang kembali.

Kyuhyun melihat ponselnya, menyadari ada lima panggilan tidak terjawab dari nomor ibunya dan Kyuhyun yakin itu sebenarnya dari putranya.

Oh, putranya.

Cho Hyunoo.

Berpikir tentang anak itu membuat Kyuhyun memutar otak. Dia harus memberikan alasan logis tentang apa yang hari ini dilakukannya agar Hyunoo tidak terlalu banyak tanya. Lebih lagi jika tentang Haewoon. Anak laki-laki itu pasti akan menanyainya perihal kondisi ‘teman barunya’.

Beberapa hari berlalu sejak Kyuhyun kembali ke Seoul, Kyuhyun masih belum menemui Haewoon karena gadis itu tampaknya belum pulang juga. Kyuhyun mengecek rumahnya setiap hari, tapi pintunya tetap terkunci. Ingin sekali rasanya Kyuhyun pergi lagi ke tempat itu hanya untuk menemui gadis itu, tapi ini adalah hari libur. Kalau pergi maka Kyuhyun harus mengajak Hyunoo juga. Sementara Kyuhyun merasa, kalau dia pergi ke Mokpo maka dia akan menyelesaikan masalah hatinya. Jadi dengan adanya Hyunoo sangat tidak baik untuk siapa pun. Kyuhyun akan merasa canggung sementara Hyunoo akan terdiam bingung. Well, itu semua hanya sia-sia, bukan?

Tapi kalau seperti ini saja, Kyuhyun tidak tahu akan menunggu sampai berapa lama. Dia sudah memberi petunjuk pada gadis itu mengenai perasaannya dan jika Kyuhyun mendiamkannya terlalu lama, Kyuhyun takut Haewoon akan mengira dia hanya bercanda.

Jadi keputusannya? 

Kyuhyun menyandarkan kepala ke kursi kemudi mobilnya, menoleh ke arah jalan setapak menuju rumah Haewoon yang baru saja dilewatinya. Yah, kali ini dia lagi-lagi mengecek rumah itu meski hasilnya sia-sia. Kyuhyun mendesah pelan, berpikir sambil memantapkan diri sebelum membuka mata dan melihat jam tangannya.

Oh! Ini jam makan siang.

Oke, Kyuhyun sudah memutuskan sesuatu. Ia pun segera menyalakan mesin, menancap gas dengan perlahan sampai mobilnya berbaur dengan mobil-mobil lain di jalanan.

Lantas setelah beberapa menit berlalu, mobil Kyuhyun berhenti di depan rumah utama keluarganya. Ia tanpa peduli memarkirkan mobilnya sembarangan, berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan langsung tersenyum mendapati Hyunoo sedang tengkurap di atas lantai tanpa karpet di ruang tengah.

“Hei,” sapanya sambil mengangkat tubuh anak itu dan menggendongnya. “Kenapa berbaring di sini, dada Hyunoo bisa sesak kalau terlalu lama.”

“Hyunoo sedang menggambar.”

“Bukankah bisa di meja?”

Hyunoo mengerjap satu kali, lalu, “Hyunoo mau mencoba sesuatu yang berbeda.”

“Tetap saja lebih baik menggambar di meja.”

“Tapiㅡ”

“Biarlah, Kyu.” Ucap Oh Hae Young yang baru saja tiba dari dapur, membawakan segelas jus melon untuk Hyunoo dan disambut oleh Kyuhyun. “Kalau merasa lelah dia akan berhenti sendiri.”

Mendengar itu Hyunoo langsung memberontak minta diturunkan dan Kyuhyun tidak punya pilihan lain. Kyuhyun mendesah pelan menatap putranya yang mengambil gelas jus di tangannya, menghabiskannya sebelum berlari masuk ke dalam kamar. “Awas saja kalau nanti malam ada yang dadanya sesak dan menangis minta disembuhkan!” ucap Kyuhyun sedikit nyaring.

“Itu khusus untukmu, Kyu.”

“Eomma!”

Hae Young tertawa kecil melihat protes langsung dari Kyuhyun. Wanita itu lalu duduk di sofa, menepuk sisi kosong di sampingnya sebelum Kyuhyun balas tersenyum dan duduk di sana. “Apa kau berpikir Hyunoo sepertimu?” tanyanya tanpa menatap Kyuhyun.

“Tentu saja, dia anakku.”

Lagi, Hae Young tersenyum lembut. Meskipun dia tidak bersama Kyuhyun sejak pria itu lahir, Hae Young tahu bagaimana Kyuhyun. Kebiasaan yang disukainya maupun dibencinya, Hae Young menghafalnya di luar kepala. Termasuk kebiasaan tengkurap di atas lantai yang disukai pria itu. Saat masih kecil Kyuhyun suka sekali seperti itu, tapi setelah malam tiba dia akan merasa sesak di bagian dadanya. Hal itu membuatnya tidak bisa tidur sebelum ada yang menolongnya, setidaknya menggenggam tangannya dan membantunya mengatur napas untuk kembali normal. Well, ini kebiasaan yang disukai sekaligus dibencinya.

Tapi untuk Hyunoo…

“Kau tahu?” Hae Young menoleh pada Kyuhyun sejenak sebelum kembali pada televisi di depannya. “Terkadang anak itu menunjukkan sisi ibunya yang sangat berbeda dengan dirimu.”

Kyuhyun menunduk, menatap tangannya yang bersatu. “Aku tahu.”

“Dan dia pernah bertanya padaku, kenapa dia tidak bisa bernyanyi sepertimu.”

Kali ini Kyuhyun menoleh pada ibunya. Menunggu.

“Dia senang mendengarmu menyanyi untuknya sebelum tidur, atau saat dia menangis dan kau sedang berusaha menghiburnya. Dia suka itu, jadi dia juga ingin menyanyi agar dia bisa menghibur orang lain. Tapi dia menyerah. Kenapa suaranya jelek sekali? Kenapa cicak berlari saat dia mulai bernyanyi? Dia bertanya begitu.” Hae Young tertawa kecil mengingat kelucuan cucunya itu. “Jadi kujelaskan kalau itu karena dia masih kecil dan nanti harus belajar bernyanyi.”

Kyuhyun masih menunggu. 

“Tapi dia menyangkal, berkata kalau itu mungkin karena ibunya tidak bisa bernyanyi. Dia tidak mendapat bakatmu. Lalu dia marah, persis seperti sikap Ju Ra yang kau ceritakan padaku.”

“Mau bagaimana lagi?” Kyuhyun mengangkat bahu. “Hyunoo anaknya juga. Wanita itu yang melahirkan Hyunoo. Aku tidak bisa mengecap Hyunoo sebagai anakku sendiri. Demi Tuhan aku tidak bisa melahirkan.”

Oh Hae Young kontan tertawa mendengar gurauan kecil itu. Lantas mereka lanjut berbincang, menikmati waktu sampai Kyuhyun menyadari bahwa dia harus segera pergi.

Kyuhyun melihat jam, sekitar satu jam lagi ada kereta terakhir menuju Mokpo. Dia harus segera bersiap diri.
Kemudian Kyuhyun menghampiri Hyunoo di dalam kamarnya. Tanpa banyak bicara ia meminta anak itu segera mandi, menyiapkan pakaian yang akan digunakannya juga dua pasang pakaian lain lagi untuk dimasukkan ke dalam tas Hyunoo.

“Appa,” Hyunoo meminta tolong memasangkan resleting celananya dan Kyuhyun menyuruhnya mendekat. Lalu memasangkan hoodie warna merah serta sepatu berwarna senada.  “Apa kita akan jalan-jalan?”

Kyuhyun berdeham sambil mengecek keperluan Hyunoo sekali lagi.

“Ke mana?”

“Ke suatu tempat.”

“Ke rumah imo?”

Kyuhyun menghentikan pergerakannya. Lalu menoleh pada Hyunoo yang sedang menyisir rambutnya. Kalau diingat-ingat Hyunoo tidak ada mengungkit masalah gadis itu selama beberapa hari ini. Dia tidak menanyakan kabar Haewoon sama sekali. Kyuhyun pikir Hyunoo sudah melupakannya tapi ternyata…

“Ya, kita ke rumah imo dan menginap di sana. Senang?”

Well, tidak pernah Kyuhyun melihat sebelumnya senyum secerah itu pada wajah putranya, yang juga langsung mengangguk dan memeluk lehernya. 

​Haewoon berhasil mengendalikan diri selama beberapa hari ini. Dia tidak memikirkan Kyuhyun apalagi masalah hati yang harus di hadapinya. Setiap hari Haewoon habiskan dengan membantu ayahnya, bahkan dia juga belajar menulis meskipun dia hampir gila karena tidak bisa merangkai kata. Tapi beruntunglah ada tiga guru yang membimbingnya sehingga pembelajarannya itu tidak membosankan. Yah… keberadaan mereka sangat membantu Haewoon melupakan masalahnya meski hanya untuk sebentar, tapi Haewoon menyukainya.

Lantas berhubung Daehan sudah mengusirnya untuk pulang ke Seoul karena dia terlalu lama membolos kuliah, Haewoon mengusulkan untuk membuat pesta kecil yang sudah lama ingin dilakukannya. Maka dari itu sejak tadi pagi, Haewoon yang sengaja tidur di toko bersama Byul sudah sibuk menyiapkan daftar belanjaan yang harus dibeli. Mereka bahkan tidak peduli dengan membersihkan toko karena Yu Yeol datang cukup pagi. Jadi bertahanlah Yu Yeol yang terpaksa membersihkan toko seorang diri.

“Marshmallow?” tanya Byul saat mereka melewati tempat tumpukan marshmallow warna-warni berada. Haewoon menyipit sejenak, lalu menggeleng.

“Aku mau kentang goreng.”

“Kita baru membuatnya tadi malam.”

“Memang tidak boleh membuat lagi?”

“Kau tidak bosan?” 

“Never.” Balas Haewoon sambil mengangkat telapak tangan kanannya, lalu mendorong troli besi di depannya menuju tumpukan kentang siap goreng di depan sana. “Kau mau puding?”

“Puding? Hm… oke.”

“Tolong ambilkan aku yang cokelat kalau begitu. Vla vanilla juga.”

Byul mengangguk sekali, lalu berjalan pergi untuk mengambil puding instan. Sedangkan Haewoon terus berjalan sambil melihat-lihat, memikirkan apa lagi yang mereka perlukan. Sampai tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Kepalanya menoleh pada lemari es berisi es krim yang di matanya sangat menggiurkan. Oh, dia tidak lupa sekarang sedang musim dingin dan makan es krim saat pesta malam hari bukanlah ide yang baik. Tapi…

“Aku tahu kau mau itu, Nona Lee.” Ucap Byul santai, memasukkan beberapa bungkus puding ke dalam troli dan berjalan lagi untuk membuka lemari es itu. Ia terdiam sejenak selagi memilih, sebelum kemudian memutuskan mengambil satu box es krim cokelat yang ternyata membuat Haewoon juga langsung mengambil satu untuk dirinya.

“Aku akan mencampurnya ke salad nanti.”

“Oke, terserah kau saja.” Byul mengambil alih troli di tangan Haewoon. “Sekarang apa lagi?”

“Sebentar.” Haewoon berlari kecil ke tempat deretan berbagai macam mie ramen dan mengambil lima cup sebelum membawanya pada Byul, menjatuhkannya ke dalam troli.

“Ramen? Untuk apa? Kita akan memanggang daging malam ini dan ramㅡ”

“Untuk Dae Yeon eonni.” Haewoon tersenyum. “Aku merasa bersalah sudah membuatnya mengkhawatirkanku dan juga mencariku. Jadi setidaknya aku membelikan ramen untuknya.”

Byul sontak mendecih mendengarnya. Gadis gila, ucapnya dalam hati. “Kau bahkan bisa membeli ramen di supermarket dekat rumahmu. Untuk apa membelinya di sini dan membawanya lagi ke Seoul?”

Haewoon mengangkat alisnya, lalu kemudian mengangkat bahu sambil tertawa lucu. Dia tidak mau menjawab. Tepatnya tidak mau lebih lama mendengar omelan Na Byul. “Sudahlah, ayo.” Haewoon menarik troli itu dan Byul pun terpaksa diam saja sambil menghela napas lelah. Kadang benar, gadis di depannya ini tidak bisa ditebak. Byul tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Sungguh.

Mereka berbelok ke tempat sayur-sayuran berada. Tadi pagi mereka sebenarnya sudah ke pasar tradisional untuk membeli daging, ikan dan juga sayuran. Tapi apa salahnya berkeliling sebentar lagi. Kalau-kalau ada sesuatu yang menarik yang bisa dibeli.

“Omong-omong tadi aku mendengarmu bicara dengan anjing Paman Byun.”

Kepala Haewoon kontan berputar pada Byul yang berkata sambil memilih buah-buahan. “Kau menguping. Itu termasuk tindak kejahatan, tahu.”

“Aku tidak sengaja.” Byul memalingkan muka, tidak peduli.

“Kalau begitu kenapa tidak pergi? Aku yakin kau tetap diam di tempat dan mendengarkan.”

“Setidaknya itu cukup membantu untuk mengetahui masalah temanku yang sama sekali tidak mau bercerita kepadaku.”

Haewoon meliriknya kesal. Lalu berbalik dan meninggalkan Byul untuk memilih sayuran di tempat lain. Tapi pikirannya tidak fokus. Tangannya berkali-kali mengambil barang yang tidak dimaksudnya dan itu jadi membuatnya kesal. Dia jadi kepikiran tentang Byul yang sekarang pasti sudah tahu apa yang sedang terjadi padanya.

“Jadi kenapa kau tidak pulang saja?”

Haewoon berdecak saat suara Byul lagi-lagi terdengar tepat di samping telinganya. “Rumahku di sini, oke? Aku harus pulang ke mana lagi?” 

“Ke rumah orang itu.” Byul yang berdiri di sampingnya mengangkat bahu. “Kurasa ayahmu benar, kalau hatimu berkata kau menyukainya, kenapa tidak langsung hampiri saja? Kenapa justru bersembunyi di sini?”

“Kau tidak mengerti…”

“Apa? Apa? Apa yang tidak kumengerti?”

Haewoon membalikkan tubuhnya menghadap Byul. Dari raut wajahnya sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi setelah memikirkannya selama beberapa detik, Haewoon justru memilih menggeleng dan melangkah pergi menuju kasir.

Tidak. Dia tidak boleh mengatakannya.
Haewoon harus menjaga semua yang diketahuinya agar tidak ada yang terluka.

Tanpa ada yang tahu, sesungguhnya seseorang dengan masker dan kaca mata hitam di sisi lain toserba itu terdiam membisu. Kedua tangannya mengepal di sisi-sisi tubuh. Menahan diri setengah mati untuk tidak berlari pada gadis itu dan membuka diri, memberitahu siapa dia dan apa yang terjadi sebenarnya.

Tapi saat gadis itu menatap temannya, lantas menggeleng dan berjalan pergi, orang itu sontak melangkah mundur. Bersembunyi di balik rak-rak tinggi sambil memegang dadanya yang terasa berdegup kencang sekali.

Oke, mungkin bukan kali ini.

Sepulang berbelanja di toserba, selagi Byul bertugas ke percetakan atas perintah Daehan, Haewoon memilih mampir ke toko kue yang beberapa hari lalu dihampirinya. Dia teringat Hyunoo entah karena apa, jadi memutuskan membeli cake cokelat keju dengan es krim vanilla di bagian atasnya. Haewoon juga mengambil kue pesanannya untuk Hyunoo yang ternyata sudah matang sejak tadi pagi. 

Sesampainya di rumah Haewoon memasukkan semua bahan ke dalam kulkas, termasuk cake yang tadi dibelinya. Kecuali buah-buahan segar yang akan diolah menjadi salad untuk cuci mulut nanti malam.

Oh, ya, omong-omong rencana pesta ini sudah dibicarakan sejak lama. Tapi baru bisa terlaksana sekarang. Mereka sudah membagi tugas dan sepertinya satu jam lagi Yu Yeol akan datang membawa pemanggang. Oh, oke, dari mereka bertiga yang punya alat pemanggang hanya Kim Yu Yeol. Jadi demi kenyamanan bersama, Yu Yeol terpaksa bertugas mengambil pemanggang itu di gudang rumahnya, membersihkannya dan kemudian membawanya ke rumah Haewoon.

Haewoon melihat jam. Menyadari masih ada beberapa jam lagi sebelum jam makan malam dimulai, dia pun pergi ke halaman belakang.

Oke, mereka akan berpesta di sini. Jadi Haewoon harus merapikan tempat ini dulu. Tepatnya gubuk indah berukuran kecil di bawah pohon mangga yang dibangun ayahnya saat ia masih kelas lima.

Haewoon mengambil peralatan kebersihan, lalu masuk ke dalam gubuk itu. Tanpa sadar ia tersenyum. Tempat itu sama sekali tidak berubah. Maksudnya tidak berdebu dan masih sama seperti saat pertama kali. Untuk itu Haewoon tahu, pasti ayahnya yang merawat tempat ini. Kalau tidak salah dua bulan yang lalu beliau membeli cat baru dan membuat gubuk ini lebih berwarna. Bahkan membersihkan dalamnya sehingga Haewoon masih bisa tidur dengan nyaman di sana.

Senyumnya tidak berhenti mengembang, apalagi saat melihat teropong berwarna merah muda yang tersimpan rapi di atas meja. Haewoon duduk di sana dan mengambil teropong itu lalu membawanya ke jendela.

Dulu yang sering dilakukannya saat masuk ke dalam gubuk ini adalah menggambar atau bermain atau… mengintip tetangga sebelah yang punya anak laki-laki berwajah tampan. Haewoon ingat kamar anak itu bisa dilihatnya dengan teropong dan dia bisa tahu apa saja yang dilakukan anak itu di kamarnya. Itu menyenangkan. Haewoon ingin melakukannya lagi, tapi begitu ia mengarahkan teropongnya ke arah kamar anak itu, dia justru melihat seorang gadis cantik yang sedang memasang wajah kesal menatap langit, sebelum kemudian datang seorang laki-laki yang memeluknya dari belakang bahkan mengecup pipi kanannya penuh sayang.

“Oh…,” Haewoon berhenti mengintip. Teropongnya menempel di dadanya dan Haewoon sadar dia sedang berpikir bahwa anak laki-laki itu sudah dewasa sepertinya dan… “Dia sudah menikah.”
Haewoon duduk menyandar di dinding. Teringat akan sesuatu, tetapi ia berusaha melupakannya dengan melakukan hal lain. Ia menarik box mainan di sudut gubuk, membongkarnya hanya untuk mengingatkannya pada masa kecilnya yang seorang diri.

Sekitar tiga puluh menit yang lalu kereta yang ditumpangi Kyuhyun dan Hyunoo tiba di Mokpo. Kemudian mereka memanggil taksi untuk langsung pergi ke rumah keluarga Haewoon. Sopir taksi itu berkata kalau perjalanan akan memakan waktu paling lama satu jam ke tempat yang dituju, kalau tidak macet. Jadi Kyuhyun menyiapkan makanan untuk Hyunoo yang sejak tadi tidak berhenti bicara. Anak itu berkata tentang semua hal yang dilihatnya dan dirasakannya, sampai ketika mereka masuk mobil taksi, anak itu berkata perutnya lapar dan minta diisi.

“Ini,” Kyuhyun memberikan satu lembar roti tawar dengan selai kacang di atasnya. Lalu Hyunoo dengan senang mengambilnya, dilipat jadi dua sebelum melahap makanan itu tanpa peduli dengan sisa-sisa selai yang menempel di wajahnya. “Pelan-pelan, Cho Hyunoo.” 

Hyunoo tidak menyahut. Justru terus menggigit rotinya dan menyuapkan potongan terakhir sebelum menadahkan tangannya pada Kyuhyun. “Lagi.” Pintanya.

Dan Kyuhyun tidak punya pilihan lain selain memberikannya. Sepanjang perjalanan di kereta tadi Hyunoo hanya menghabiskan satu kotak susu sambil bermain game, sebelum melompat ke pangkuan Kyuhyun dan tertidur di sana. Hyunoo bahkan baru bangun sekitar sepuluh menit sebelum kereta berhenti. Jadi Kyuhyun mengerti bagaimana kelaparannya anak itu. Terlebih sebentar lagi waktunya makan malam. Hyunoo jelas perlu asupan.

“Lagi?” tanya Kyuhyun setelah Hyunoo menghabiskan rotinya.

Hyunoo menggeleng dan terus mengunyah. Sesekali menjilati sisa selai di jari-jari tangannya. Melihat itu Kyuhyun segera mengambil tisu basah, menghentikan aktivitas Hyunoo dengan menarik tangan anak itu dan membersihkannya, berikut mulut dan seluruh wajah Hyunoo.

“Apa masih jauh?” Hyunoo bertanya setelah wajahnya dibersihkan sambil menempelkan dahinya ke kaca jendela. 
Melihat itu lagi-lagi Kyuhyun mengeluarkan tisu basahnya dan menegur Hyunoo untuk tidak menempelkan wajahnya ke kaca. 
“Kenapa tidak boleh? Hyunoo cuma mau melihat jalanan.”

“Ya, boleh. Tapi jangan mengotori kacanya, oke?”

Hyunoo mengerucutkan bibirnya kesal setelah memundurkan tubuhnya dan menahan diri untuk tidak menempelkan dahinya. Tapi beberapa menit berlalu, setelah dilihatnya Kyuhyun menyandar dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan mata terpejam, Hyunoo menempelkan dahinya lagi sambil tersenyum lebar. Dia suka ini. Rasanya dingin dari dahinya turun ke seluruh tubuhnya. Hyunoo bahkan memiringkan wajahnya, menempelkan pipi kiri lalu kanan sebelum Kyuhyun mencubit pelan pipinya itu dari belakang, yang sontak membuat Hyunoo terkejut dan menoleh hanya untuk melihat wajah jengah ayahnya karena tingkahnya barusan.

Hyunoo tertawa kecil, lalu menjauhkan dirinya dari jendela sambil meminta maaf pada Kyuhyun. Tapi ayahnya itu justru memberinya tisu basah dan menyuruhnya membersihkan wajahnya sekali lagi dan juga tidak lupa kaca jendelanya.

“Jangan diulangi lagi. Mengerti?” Kyuhyun berkata sambil meletakkan telapak tangannya di kening Hyunoo dan Hyunoo juga melakukan hal yang sama. Berjanji.

“Maaf, Appa.”

“Berjanjilah.”

“Hyunoo berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Nice.” Kyuhyun menurunkan tangannya begitu juga Hyunoo. Setelah itu Hyunoo justru membaringkan tubuhnya dengan pangkuan Kyuhyun sebagai bantalannya. Matanya melihat ke luar jendela, ke arah langit yang mulai menggelap dan Hyunoo mengerjap pelan.
Dia teringat sesuatu…

Kim Yu Yeol adalah orang pertama yang menyelesaikan makan malamnya. Pria itu menutup sendoknya lalu mengangkat tangan, menyerah karena katanya masakan Haewoon terlalu pedas untuk dimakan. Kemudian berakhir dengan berlarinya Yu Yeol ke kamar mandi sebelum Byul juga melompat naik ke kamar Haewoon, menggunakan kamar mandi Haewoon dengan alasan sama. 

“Apa sepedas itu?” tanya Haewoon pada ayahnya. Dia tidak tahu kalau ternyata masakannya bisa membuat dua orang yang dikenalnya sampai masuk kamar mandi seperti itu.

Daehan menyipit menatap salah satu menu yang memang terlihat lebih pedas daripada yang lain. Dia tidak tahu namanya karena katanya Haewoon membuat ini berdasarkan resep sendiri. Daehan juga tahu kalau sebenarnya gadis itu hanya memasukkan apa yang dimaunya untuk membuat masakan itu.

“Appa?” tanya Haewoon lagi, menunggu jawabannya.

Daehan menatap putrinya, sedikit tidak percaya, “Kau membeli semua makanan ini, ‘kan?” Haewoon mengangguk. “Kecuali ini, ‘kan?” Daehan menunjuk makanan pedas itu dan Haewoon kembali mengangguk.
“Apa seburuk itu?”

“Kau tidak mencobanya?”

Haewoon mengangkat bahu, “Aku takut rasanya aneh, jadi aku membeli makanan lain untuk berjaga-jaga. Ternyata aku benar.”

“Ini tidak aneh.”

“Lalu apa?” Haewoon mendecih kecil. “Keahlianku memang bukan memasak.”

“Kau hanya kurang belajar. Seharusnya memasukkan lada ada ukurannya. Apalagi memasukkan bubuk pedas. Aku yakin kau memasukkannya masing-masing dua bungkus. Ya, ‘kan?”

“Internet bilang aku harus menambahkannya dua bungkus agar kuahnya kental.”

“Terkadang internet tidak bisa dipercaya.”

Haewoon diam saja, kembali melanjutkan sisa makanannya.
Melihat itu Daehan menepuk kepala putrinya, tersenyum kecil. Dia tahu apa yang dipikirkan Haewoon sekarang. 

“Kau bisa belajar lagi. Bukankah kau hebat dalam hal belajar?”

“Haruskah?”

“Tentu saja. Kau juga pintar membuat nasi goreng dan makanan ringan yang lain, seharusnya kau bisa mengembangkan itu untuk jadi masakan yang lebih enak.”

“Kau bisa mengajariku?”

“Oh, maafkan pekerjaanku yang menumpuk, sayang. Kau bisa belajar di kedai tempatmu bekerja.”

“Tugasku hanya menyambut pelanggan, menerima pesanan, mengantar pesanan, mencuci piring, membeli yang diperlukan dan…”

“Kurasa kau pintar merayu seseorang.”

Kepala Haewoon kontan menoleh pada ayahnya yang sudah selesai makan dan kini duduk santai sambil menunggu putrinya selesai makan. “Merayu? Oh, astaga, aku ini Lee Haewoon. Aku tidak bisa meraㅡ”

“Maksudku kau pintar mengambil hati orang lain.” Daehan mengangkat bahu dan Haewoon semakin bingung. “Setidaknya dengan itu kau bisa merayu teman-temanmu yang bekerja sebagai koki untuk mengajarimu. Awali dengan memerhatikan, lama-kelamaan kau akan terbiasa dan mengerti cara kerjanya.”

“Apa Byul dan Yu Yeol dulu juga begitu?”

“Ya,” sahut Yu Yeol yang baru muncul dari kamar mandi. Daehan tersenyum melihat kehadiran pria itu. Yu Yeol lalu duduk kembali di kursinya, balas menatap Daehan. “Kau beruntung kami mau mengajarimu menulis dari awal sekali. Paman dulu membiarkan kami melihatnya bekerja selama berminggu-minggu dan hanya disuruh membaca apa yang ditulisnya, atau buku-buku yang ada di toko.”

“Tapi akhirnya kau mengerti bagaimana caranya merangkai kata karena referensimu cukup banyak. Bukankah begitu?”

Yu Yeol tertawa membenarkan. “Terimakasih sudah mengajariku.”

“Kau cukup pintar dalam hal itu.”
Mereka tertawa bersama, berlanjut dengan perbincangan kecil soal masa lalu di saat Haewoon sedang di Seoul. 
Haewoon menikmati semuanya. Dia senang melihat sikap keren Yu Yeol saat bercerita apalagi saat sekali-sekali pria itu bercanda yang membuat ayahnya tertawa. Apalagi setelah Byul turun sambil memegangi perutnya. Semua orang tertawa melihat tampangnya dan Haewoon segera bersembunyi ke dapur, terlalu malu untuk mengakui hasil masakannya. Tapi dengan suasana itu, Haewoon menyukainya.

See? Kebahagiaan itu sederhana. Hanya berkumpul dengan orang-orang yang dikenal, sebuah candaan ceria seketika muncul tanpa direncana. Memikirkan itu membuat senyum yang mengembang di wajah Haewoon sontak memudar.

Haewoon berhenti mencuci piring, lalu menoleh pada ayahnya yang masih bercanda dengan Yu Yeol dan juga Byul di meja makan.

Tanpa sadar ia menghela napas. Bagaimana bisa ia melenyapkan senyuman bahagia itu demi perasaannya?

Tapi… 


“Pergilah padanya kalau hatimu ingin dengannya.”

Ayahnya berkata begitu, yang sialnya selalu terulang dalam benaknya meskipun Haewoon sudah berusaha melupakannya.

Haewoon berbalik. Menutup mata sejenak. Menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring dan ketika ia hendak menghampiri mereka di meja makan, suara bel terdengar ditekan berulang-ulang. Haewoon menunjuk pintu setelah menunjukkan tangannya yang masih basah pada Byul, yang akhirnya membuat gadis itu berdiri dan membuka pintu.

“Jadi apa kau akan menulis lagi malam ini?” tanya Haewoon pada ayahnya setelah duduk di tempatnya tadi.

Daehan melihat jam, “Kurasa aku ingin istirahat. Punggungku terasa sakit sekali.”

“Aku bisa memijatmu.” Yu Yeol menawarkan diri.

“Tidak, tidak, kalian harusㅡ”

“Haewoon-ah!”

Kepala ketiga orang itu sontak menoleh saat mendengar panggilan Byul yang sedang membuka pintu. Haewoon mengangkat alis, menatap Yu Yeol lalu ayahnya sebelum suara Byul terdengar lagi. Kemudian dengan segera ia berdiri, berjalan ke pintu depan dan…

“Imo!”

Tubuhnya membeku melihat kedua orang itu berdiri di sana. Menatapnya. Tersenyum lebar padanya. Bahkan melambaikan tangan seolah mereka. sudah kenal lama.

“Hei,” ucap Haewoon setelah beberapa detik tidak sadarkan diri. Gadis itu tertawa kecil, lalu menghampiri mereka bahkan memeluk Hyunoo yang tampak senang sekali saat melihatnya. “Kenapa kalian ada di sini?”

“Aku mengajaknya makan di kedai tempatmu bekerja.” Jawab Kyuhyun yang seketika membuat Haewoon mendongak untuk menatapnya. Kyuhyun berdeham. “Dia bertanya tentangmu tanpa henti jadi kutanyakan alamatmu pada bosmu.”

“Dan mereka memberitahumu?”

“Tentu saja.”

“Semudah itu?”

Kyuhyun membenarkan.

“Benarkah?”

Kyuhyun membenarkan sekali lagi. “Mereka tahu aku yang meneleponmu waktu itu.”

Haewoon terdiam sejenak. Seperti sedang berpikir, sebelum kemudian ia mengangguk. Mengingatnya. “Oh, benar, kau meneleponku.”

“Jadi apa aku mengganggu?”

“Tidak, tidak,” Haewoon bangkit berdiri sambil mengibaskan tangannya. “Tentu tidak. Masuklah, ayahku ada di dalam.”

Kyuhyun tersenyum menanggapinya, lalu mengangguk pelan pada Byul yang terdiam menatapinya. “Aku Kyuhyun.” 
Ucapnya mengenalkan dirinya lebih dulu, sementara Haewoon membantu Hyunoo melepaskan jaket dan menggiringnya masuk.

Dan Byul balas menjabat pelan tangan Kyuhyun, “Aku Na Byul. Teman Haewoon.”

“Kupikir kau masih mengingatku.”

“Tentu saja.” Byul tersenyum ramah sekali. Kemudian memersilakan Kyuhyun masuk ke ruang tengah di mana semuanya sudah berkumpul.
Byul menatap Yu Yeol yang langsung memberi isyarat untuk ke dapur. Dia tahu Haewoon sedang menyiapkan sesuatu jadi ia harus membantu. Oh, lagipula…

“Haewoon-ah,” panggil Byul yang entah mengapa di telinga Haewoon terdengar seperti gadis itu sedang berusaha membongkar sesuatu.

“Apa?” sahut Haewoon tanpa menatapnya, sibuk menyusun cangkir dan memberikan mangkuk kecil ke tangan Byul. “Tolong buatkan salad buah untuk Hyunoo.”

Tapi Byul justru mendekatkan wajahnya, mencari celah dari wajah Haewoon sampai gadis itu mendesis dan mendelik ke arahnya. “Dia oranganya, ‘kan?”

“Buatkan saja saladnya, Na Byul.”

“Aku benar, ‘kan?”

Haewoon diam saja.

Byul menyipitkan mata. “Kau menghindarinya waktu itu. Oh, oke, aku paham apa yang terjadi. Tapi jujur saja, dia cukup tampan diusianya dan dengan satu anak laki-laki sebesar itu. Kau tidak menyesal sudah menghindarinya? Toh akhirnya dia yang datang padamu. Apa kau akan membuka hatimu dan menerimanya atauㅡ”

“Na Byul, tutup mulutmu itu, oke?” Haewoon menatapnya geram. “Jangan membuat mood-ku memburuk karena kita sedang ada tamu. Jadi, buat saja salad itu dan bersikaplah seolah kau tidak tahu-menahu.”

Byul memajukan bibir bawahnya, mencibir Haewoon yang secara pelan memarahinya. “Aku memang tidak tahu apa-apa.” Gumamnya, sambil bergerak membuka lemari es dan membuat salad seperti yang Haewoon minta.

“Ingat,” Haewoon berbalik lagi pada Byul setelah semua cangkir di hadapannya terisi teh hangat. “Bersikaplah tidak tahu apa-apa. Jangan tanya yang tidak-tidak. Mengerti?” ucapnya, lalu mengangkat nampan dan berlalu ke ruang tengah terlebih dulu.

Sementara Byul hanya bisa memajukan bibirnya. Jujur saja, mulutnya sangat gatal tentang hal seperti ini. Dia sangat ingin tahu bagaimana perasaan Haewoon dan apa yang sebenarnya gadis itu inginkan. Tapi Haewoon menyuruhnya diam saja. Bahkan jika kali ini Byul diam dan lain kali bertanya lagi, Byul yakin dia tetap tidak akan dapat jawabannya. 

Oh, baiklah, dia hanya tahu sebagian tentang ini. Tepatnya masalah Haewoon yang menyukai seorang pria dan sedang menghindarinya. Suatu saat Daehan pernah menggoda Haewoon tentang pria itu dan berakhir dengan Haewoon yang mengasingkan diri ke toko roti karena kesal pada ayahnya sendiri. Hanya sebatas itu. Maka dari itu Byul sangat ingin tahu. Dia ingin tahu semuanya secara utuh, tetapi Haewoon selalu berhasil menghindarinya, membuatnya bungkam tanpa bisa berkata-kata.

Ketika Donghae melihat jam tangannya setelah berlama-lama menyegarkan pikirannya di pinggiran sungai yang sangat tenang, dia mulai berpikir apakah ini waktunya untuk pergi? 

Dia sudah sampai ke tempat ini sejak tadi pagi. Tetapi yang dilakukannya selama hampir satu hari ini hanya berkeliling kota tanpa tujuan, mengisi perut saat lapar, menelepon Gi Hye saat merasa perlu hiburan dan berakhir dengan duduk merenung di pinggiran sungai tanpa peduli dengan orang-orang sekitar.

Tapi ini sudah lewat jam makan malam. Perutnya terasa lapar, tapi rasanya dia tidak punya nafsu untuk makan. Karena tujuannya datang ke sini bukan untuk jalan-jalan dan itu membuatnya tidak nyaman jika dia tidak menuntaskan tujuan utamanya sebelum makan.

Donghae menghela napas, mendongak selama beberapa detik untuk menatapi langit malam yang tidak terlalu berbintang sebelum kemudian memutuskan untuk bangkit berdiri.

Oke, pergi sekarang. Donghae harus meyakinkan diri bahwa dia bisa. Dia harus. Semua ini hanya akan jadi kesalahpahaman jangka panjang jika dia tidak bertindak sekarang. Donghae tidak boleh bersembunyi dan takut sakit hati lagi. Tidak.

Dengan semua keyakinan yang berusaha dikumpulkannya, Donghae memanggil taksi yang melintas dan memberitahu tujuannya. Punggungnya jatuh menyandar, kepalanya menoleh ke luar jendela dan… masa lalu yang tidak pernah terbayangkan olehnya baru saja muncul dalam ingatannya. Donghae tidak melupakannya. Waktu itu dia hanya terlalu kecil dan tidak mengerti. Lantas setelah semuanya dijelaskan tanpa ada satupun yang tertinggal, Donghae tidak menyangka bahwa dirinya hidup dengan keluarga yang berpisah karena banyak sekali alasan.

Tapi Donghae tidak masalah dengan semua itu. Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Ibunya sudah berubah. Perselisihan seperti dulu tidak akan terjadi lagi. Jadi dia bisa memulai yang baru. Dia tidak perlu takut lagi kehilangan siapapun. Karena dia akan membuat semua orang baik-baik saja. Dia akan melindungi semuanya dan membuat mereka tetap berada di sampingnya.

Sekitar satu jam sejak mereka tiba, entah Kyuhyun maupun Hyunoo tampak sangat nyaman dengan suasana di rumah itu. Termasuk Tuan Han yang sepertinya menikmati sekali perbincangannya dengan Kyuhyun. Haewoon tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi jujur saja, dia senang melihat senyum setulus itu muncul di wajah ayahnya. Bahkan Byul yang sempat mencurigainya, untuk sekarang sepertinya tidak peduli lagi. Gadis itu hanya tampak senang sekali karena ada Hyunoo, di mana anak itu memintanya membacakan beberapa buku dongeng lengkap dengan peragaannya. Oh, untuk informasi saja, Byul dan Yu Yeol sebenarnya pernah masuk ekstrakulikuler teater saat masih sekolah dan mereka sangat suka hal-hal seperti itu.

Kemudian saat Byul tiba-tiba teringat kalau sudah dua malam turun hujan, mereka berpikir untuk memajukan pesta supaya tidak terlalu larut. Kalau-kalau hujan mendadak turun dan itu hanya akan merusak acara. Jadi mereka menyiapkan semuanya. Bahkan Kyuhyun membantu juga sementara Tuan Han memutuskan untuk bersantai di rumah kaca di lantai atas, tempat di mana mereka mengumpulkan tanaman dan menghiasnya seperti tempat bersantai yang menenangkan. Hanya Yu Yeol yang terpenjara di gubuk kecil Haewoon karena Hyunoo suka di sana dan juga melarang Yu Yeol meninggalkannya.

“Apa ini diangkat juga?” Kyuhyun bertanya sambil menunjuk pemanggang milik Yu Yeol.

Haewoon menilik dari arah dapur, lalu mengangguk mengiyakan. “Ya, tolong nyalakan juga kalau bisa.”

Kyuhyun mengikuti perintahnya. Ia juga menyalakan api sambil sesekali mengipasnya. Sementara Haewoon dan Byul menyusun bahan makanan yang akan jadi santapan pesta nanti.

“Sepertinya Yu Yeol membeli bir.” Ucap Byul, menunjuk sekantong plastik minuman kaleng yang ketika dibukaㅡbenar saja, isinya sepuluh kaleng bir dan lima kaleng soju. “Dia pasti ingin kita tertidur seharian besok sampai membeli sebanyak ini.”

“Padahal dia yang paling tidak kuat minum.”

“Kau tahu, dia hanya pria sok hebat.” Byul mengatakannya dengan raut muka seolah-olah dia geli sekali dengan pria bernama Kim Yu Yeol itu. Tapi hal itu hanya membuat Haewoon tertawa. Dia tahu bahwa pertemanan mereka bukan pertemanan biasa. Byul jelas tidak serius dengan ucapannya. “Jadi,” Byul berkata lagi sambil membawa kantong plastik itu pada Haewoon. “Kita minum bir dulu atau soju dulu? Oh, ya, apa Kyuhyun-ssi bisa minum?”

Haewoon terdiam sejenak. Ia melirik Kyuhyun yang berjalan ke gubuknya, mengecek keadaan Hyunoo yang tampaknya bersenang-senang di dalam sana. Lalu…, “Kurasa sebaiknya kita tidak minum. Ada Hyunoo di sini, kau tahu.” Ucapnya.

“Oh, benar. Tapi kita tidak punya minuman. Haruskah aku membelinya? Kau mau apa? Aku akan ke supermarket sebentar.”

“Tidak, tidak, biar aku saja. Kau siapkan semua dan susun di meja, aku juga sedang ingin membeli sesuatu.”

“Baiklah kalau begitu.” Byul mengangkat bahu. Lalu menyiapkan lagi apa yang harus disiapkan sebelum membawanya ke halaman belakang.

Pada saat itulah Kyuhyun berbalik, melihat Byul yang sambil bernyanyi menyusun makanan lalu beralih pada Haewoon yang tampaknya naik ke lantai dua. “Ke mana Haewoon?” tanyanya kemudian.

Byul mengikuti arah pandang Kyuhyun sejenak. “Ke supermarket. Katanya ada yang ingin beli.”

Supermarket, ya?

Kyuhyun terdiam selama beberapa saat. Berpikir. Lalu menoleh pada gubuk di mana Hyunoo berada. Berpikir lagi. Menatap lampu kamar Haewoon yang sempat menyala sebelum kemudian kembali mati. Berpikir lagi dan lagi, lalu…
“Haewoon-ah!” panggilnya begitu Haewoon terlihat turun dari tangga sambil memasang jaketnya. Dengan segera ia masuk ke dalam rumah, menghampiri gadis itu sambil tersenyum cerah. “Byul bilang kau ingin ke supermarket.”

“Ya, kenapa? Ingin menitip sesuatu?” tanyanya sambil berjalan ke pintu depan, diikuti Kyuhyun di belakangnya. “Aku ingin membeli minuman. Oh, ya, Hyunoo suka apa?”

“Hyunoo?” Kyuhyun tampak berpikir sambil menatap Haewoon yang sedang memasang sepatu. Oh, padahal ini pertanyaan termudah tapi dia mendadak melupakannya. “Hyunooㅡ”

“Jus?” Haewoon berdiri tegap menghadap Kyuhyun, memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Menunggu.

“Jus…”

“Melon? Anggur? Apel? Atau jeruk?”

“Susu saja!”

“Jus susu?”

“Tidak, tidak,” Kyuhyun mengibaskan tangannya. Dia benar-benar terlihat bingung di mata Haewoon, entah mengapa. “Maksudku belikan susu saja. Kau tahu dia harus meminum susu sebelum tidur. Jadi…”

“Susu apa? Aku akan membelikannya.”

“Aku…” Kyuhyun memiringkan kepala, “Aku lupa namanya. Tapi mungkin kalau melihat aku akan ingat.”

“Kalau begituㅡ”

“Aku ikut saja!” putusnya kemudian, yang seketika berbalik dan berjalan cepat mengambil mantelnya sebelum menghampiri Haewoon, bahkan berjalan ke luar rumah mendahului gadis itu.

Haewoon terdiam di tempat, ternganga melihat tingkah aneh Kyuhyun yang sungguh tidak seperti dirinya. Lalu tanpa sadar ia tertawa.

“Apa kita akan jalan kaki?” tanya Kyuhyun begitu Haewoon keluar rumah, menutup pintu pagar sebatas pinggul dan berbalik menatapnya.

“Naik apa lagi? Sangat sulit mencari taksi dari sini.”

Kyuhyun mengangguk mengerti. Lalu mengangkat bahu sebelum memasukkan tangannya ke saku mantel, “Kalau begitu ayo.”

Haewoon tampak ragu sejenak. Ia menimbang-nimbang apakah tidak apa-apa mereka berjalan bersama. Atau ini hanya akan memperburuk suasana hatinya. Maksudnya membuat dirinya lagi-lagi dilanda kebingungan karena tidak tahu harus melakukan apa perihal perasaannya. Haewoon takut dia tidak bisa menahan diri.

Tapi, begitu melihat punggung Kyuhyun yang mulai melangkah di depannya sementara dia masih terdiam membeku, Haewoon mendadak berpikir kalau mungkin tidak apa-apa mereka berjalan berasama. Toh sepertinya Kyuhyun juga biasa-biasa saja. Haewoon pasti bisa menahan dirinya.

“Sejak kapan kau tinggal di sini?” tanya Kyuhyun setelah beberapa saat mereka terdiam, sejenak ia menoleh pada Haewoon di sampingnya yang menatap lurus ke arah depan.

Haewoon balas menatapnya, satu detik. “Sejak aku dilahirkan.”

“Ah… kalau begitu kau pasti sangat mengenal tempat ini.”

“Tentu saja.”

“Kau terbiasa berjalan ke supermarket seperti ini?”

“Sangat terbiasa.” Haewoon tertawa kecil. “Dan aku yakin kau tidak pernah berjalan demi ke supermarket sebelumnya.”

“Tidak!” Kyuhyun menyanggahnya seketika. “Aku sering melakukannya saat masih kuliah dulu. Kau tahu, rasanya belajar mati-matian dengan satu anak dan tanpa istri itu menyusahkan luar biasa. Aku stres dan berjalan ke supermarket untuk makan ramen adalah obatnya.”

Haewoon mendecih mendengarnya, “Aku nyaris tidak percaya.”

“Aku bersumpah, Lee Haewoon.” Kyuhyun menghentikan langkahnya, sementara Haewoon terus berjalan sambil sedikit tertawa. “Meskipun aku bekerja di perusahaan yang dibangun sendiri oleh ayahku, aku tetap harus punya ilmu supaya bisnis kami selalu maju. Aku bukan anak manja yang cuma tahu minta uang pada orangtua.” Ucapnya lagi setelah menyesuaikan langkahnya dengan Haewoon.

“Oh, aku terharu.”

 “Kau tidak percaya padaku.” Kyuhyun menyimpulkan sendiri. Ia lalu membuang muka, memasang tampang kesal dan tidak bicara lagi selama hampir lima menit lamanya.

“Bagaimana lukamu?” tanya Haewoon kemudian, kembali membuka pembicaraan.

“Sudah sembuh.” Sahut Kyuhyun ketus dan Haewoon yang mendengarnya sontak menghentikan langkahnya, mengernyit melihat tingkah Kyuhyun itu.

Pria itu marah padanya? Hanya karena candaannya yang tidak berguna itu?

“Hei, kau marah padaku?” tanya Haewoon tidak percaya. Selama ini pria itu tidak pernah marah padanya. Tapi kali ini Kyuhyun bahkan tidak menjawab, tidak berbalik dan terus berjalan meninggalkannya. “Hei, Cho Kyuhyun!”

Pria itu berpura-pura membersihkan telinganya.

“Kenapa kau kekanakan sekali hari ini? Hei!” Haewoon terus memanggilnya, tapi tidak berniat mengejar. Haewoon hanya terus berjalan mengikuti Kyuhyun dari belakang. “Kau mau aku percaya padamu?” tanyanya lagi, sedikit lebih nyaring.

Tapi Kyuhyun tetap tidak mau bicara.
“Atau kau ingin aku sungguh-sungguh berpikir bahwa kau sangat manja dan hanya bisa meminta uang orangtuamu?”

Kyuhyun memberi gestur dengan tangannya yang Haewoon anggap sebagai ‘terserah’ sambil menggeleng kecil.

“Ah, kau benar-benar membuatku berpikir kau adalah pria manja dengan sikapmu ini.” Haewoon berdecak. “Omong-omong aku jadi penasaran bagaimana kau dulu, apakah lebih manja dari sekarang? Atauㅡ” Haewoon mengatupkan mulutnya tepat ketika Kyuhyun berbalik, berjalan menghampirinya, meraih tangan kanannya dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya.

“Apa ini cukup untuk membuatmu tutup mulut, Haewoon-ssi?”

Haewoon terdiam, masih menatap pria itu sambil berusaha menenangkan kondisi jantungnya.

“Seorang anak manja tidak akan menggenggam tangan orang lain sebelum meminta izin ibunya dan aku tidak perlu izin ibuku untuku ini,” Kyuhyun mengeratkan genggaman tangan mereka. Ia lalu tersenyum kecil. “Haruskah kita hidup bersama setelah ini supaya kau tahu kebiasaanku, Lee Haewoon-ssi?”

Haewoon ternganga. Seratus persen terkejut dengan pernyataan Kyuhyun yang seperti main-main di telinganya. “Kau gila?”

Kyuhyun tertawa, lalu mengangkat bahu sebelum mengajak Haewoon kembali melanjutkan langkah mereka.
Oh, oke, setidaknya gadis itu menerima genggaman tangannya.

Saat Byul dengan senyuman senangnya menatap semua hal sudah tertata rapi di atas meja, Kim Yu Yeol tiba-tiba memanggilnya di gubuk yang baru Byul sadari tidak seberisik sebelumnya. Byul menoleh, bertanya ‘apa’ dengan gerakan matanya dan Yu Yeol menyuruhnya mendekat sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.

“Ada apa?” tanya Byul, berbisik begitu sampai di depan Yu Yeol.

Pria itu menunjuk Hyunoo yang tertidur di atas tempat tidur kecil di sana. “Aku tidak tahu kapan dia tertidur tapi sepertinya dia lelah sekali.” Ucap Yu Yeol tak kalah pelan.

“Haruskah kita pindahkan? Di sini dingin.”

“Tentu saja.”

“Ayo.”

Yu Yeol berbalik menghampiri Hyunoo dan dengan sangat perlahan mengangkat anak itu ke dalam pelukannya. Hyunoo sempat melenguh karena tidurnya terganggu, tapi Yu Yeol langsung menepuk punggungnya pelan sehingga Hyunoo kembali tertidur dengan nyaman. Byul membukakan pintu, menyelimuti Hyunoo dan mereka berjalan pelan ke dalam rumah, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sama sekali.

“Atas?” bisik Byul sambil menunjuk tangga. Maksudnya kamar Haewoon. Dan Yu Yeol mengangguk. Tidak ada pilihan lain, ‘kan? Tidak ada kamar tamu di rumah ini.

Maka mereka pun membawa Hyunoo ke kamar Haewoon, menidurkannya dan menyelimutinya. Byul memastikan Hyunoo nyaman dan tidak ada yang mengganggu, seperti menutup jendela yang biasanya dibiarkan terbuka oleh Haewoon. Setelah itu baru mereka turun, kembali ke halaman belakang sembari menunggu Kyuhyun dan Haewoon datang.

“Omong-omong,” Yu Yeol membuka pembicaraan setelah duduk di kursi kayu yang ada di sana. “Apa menurutmu ada sesuatu antara Haewoon dan pria itu?”

Byul keluar dari gubuk membawa dua selimut, memberikan salah satunya pada Yu Yeol dan baru menjawab setelah menyelimuti dirinya sendiri. “Haewoon sama sekali tidak mau bicara masalah itu.”

“Ah, gadis itu. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu.”

“Kalau menurutku…,” Byul menyandarkan punggungnya, lalu mendongak menatap langit. “Haewoon menyukai Kyuhyun-ssi tapi dia tahu sesuatu, jadi semacam menghindar supaya dia berhenti menyukai pria itu.”

“Mm-hm, tapi nyatanya pria itu justru datang mendekatinya. Dan kau lihat? Haewoon bersikap biasa-biasa saja.”

Byul mendesah lelah, “Lee Haewoon benar-benar tidak bisa ditebak.”

“Kau benar. Dia gadis paling misterius kalau itu tentang perasaannya.”

Byul membenarkan dengan dehamannya. Setelah itu mereka terdiam selama beberapa menit, menikmati angin malam yang dingin sambil menatap langit yang tak terlalu berbintang. Sepertinya benar malam ini akan turun hujan. Kalau begitu akan lebih baik Kyuhyun dan Haewoon segera datang agar pestanya bisa dimulai.

Byul menutup mata. Tapi dua detik kemudian ia kembali membukanya karena suara bel terdengar dari dalam rumah. Byul menegapkan tubuhnya, menatap Yu Yeol tapi yang ditatap justru langsung menjatuhkan kepalanya ke kursi dan menutup mata. Yang artinya memang dia yang harus berjalan dan membuka pintunya.

“Ya! Tunggu sebentar!”

p.s: Sorry kalo rada kecepetan (sengaja hehe) dan btw aku masih dalam mode males ngedit si italic so terimakasih atas penantiannya wahai kalian semuaa!!

Advertisements

32 thoughts on “12th ENCHANTED

  1. mitarashi8899 says:

    Minggu lalu sempet dipost kan ya???!! Tapi begitu ku buka via email gak Ada..
    Yg dateng pasti donghae.. Kira kira gimana reaksi kyu n donghae ya kalo mereka ketemu di rumah yg sama dengan tujuan yang berbeda.. Aku panasaran lanjutannya

  2. Lyla says:

    Apa lee donghae kakanya lee haewoon
    kalau benar apa Yg akan kyuhyun lakukan?…
    Mungkin masalah ini Yg bikin haewoon menghindari kyuhyun

  3. Lyla says:

    Apa lee donghae kakanya lee haewoon
    Kalau benar apa Yg akan kyuhyun lakukan?..
    Mungkin karena masalah donghae dan ibu nya Yg bikin haewoon menghindari kyuhyun

  4. elfrye says:

    Haewoon itu cm blm tahu dg jelas aj ttg org yg di pnggil omma oleh kyu,dia salh paham doang..
    Kyu kyjya udh melncarkn aksiny utk mendekati haewoon,semoga mslh kesalahphman ini cpt selesai dg dtgny donghae
    Saeng lm bgt updateny,aq nunggu trs lho,semngt y utk trs update,jgn lm2

  5. ellalibra says:

    Woww panjang 😀 makasih udh update eon hihihii ~ padahal haewon udh nutupin msa lalu nya yg nyangkut ibunya biar g ada yg trluka tp kl yg dtg donghae apa jdny nanti?? Apa bakal ada pemeran baru kah??? Yg diliat haewon pake teropong itu loh sp y???? Aaaaaaaaakh eon smg semangat y buat next chap hehe ….kepo abiz 😀

  6. kyuoi says:

    gemes sama tingkahnya Hyuno di dalem taxi, kkke~
    Kyuhyun kenapa ga blak-blakan aja sekalian? Haewoon dalam mode salah paham pula! huh, greget banget sama mereka
    Itu Donghae ya? Donghae ya kan? Donghae datang membawa kebenaran kan??? haha
    fighting^^ thor, min, Anggie kah? atau apa? ga tau manggil gimana u.u
    selalu berharap bisa cepet baca lanjutannya hoho

  7. selvy says:

    aku udah ga sabar kpn semuanya akan terungkap..
    suka sama pasangan kyuhyun dan haewoon..
    semangat terus buat nulisnya, selalu ditunggu cerita2nya..
    walaupun panjang tapi justru aku senang karena ga mau selesai baca cerita ini selalu ingin tau lanjutannya..
    jgn lama2 yah updatenya heheheh #maafkanreaderyangbanyakmaunya 🙂

  8. kimjju says:

    langsung seneng banget pas buka blog ini, ada ff baru, tapi pas lagi baca tuh aku pelan2in, supaya gak cepet selesai part ini.
    wkwkwk akhirnya si kakak muncul jugaa,,, happy holiday ya kak^^
    semangat lanjutinnya!

  9. hyurapark27 says:

    aku nggak tahu mau ngomong apa. tapi ini keren.. berharap agar kyu sama haewon cepet jadi aja. dan donghae dapat menemukan haewon.. kkk

  10. sulistyowatifitria says:

    Salut sama perjuangan kyuhyun berusaha sebisa mungkin ada selalu buat hyunoo, penyayang, perjuangan buat bikhn haewoon peracaya sama perasaannya. the best daddy wkwk
    Penasaran berat tapi, Entah lah bingung mau nebak nya, masih sama kayak tebakan2 awal, ibu haewoon kemungkin ibu tiri kyuhyun, donghae kakak haewoon yang terlantar atau ilang mungkin hahaha
    Iya kemungkinan haewoon nghindari kyuhyun karena ibu tiri kyuhyun ibu kandung haewoon.
    Nebak nya terlalu banyak kata “kemungkinan” huhuhu ditunggu next part nya kak ^^ biar rasa penasaran nya ga kebayang2 trus haha

  11. sulistyowatifitria says:

    Salut sama perjuangan kyuhyun berusaha sebisa mungkin ada selalu buat hyunoo, penyayang, perjuangan buat bikhn haewoon peracaya sama perasaannya. the best daddy wkwk
    Penasaran berat tapi, Entah lah bingung mau nebak nya, masih sama kayak tebakan2 awal, ibu haewoon kemungkin ibu tiri kyuhyun, donghae kakak haewoon yang terlantar atau ilang mungkin hahaha
    Iya kemungkinan haewoon nghindari kyuhyun karena ibu tiri kyuhyun ibu kandung haewoon.
    Nebak nya terlalu banyak kata “kemungkinan” huhuhu ditunggu next part nya kak ^^ biar rasa penasaran nya ga kebayang2 trus haha

  12. Q_ain says:

    akhirnya.. update juga.. kayanya aku harus baca part2 sebelumnya deh.. hehe.. hampir lupa sama ceritanya, kok ini bisa gini? bisa gitu?
    keep write authornim.. makin seru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s