Posted in Family, Hurt, Romance, Sad

11th ENCHANTED

Kyuhyun langsung menelepon Min Ju begitu ia tahu apa yang terjadi. Mereka harus menemukan Haewoon secepatnya dan bukan ide bagus untuk membawa Hyunoo bersamanya. Jadi Kyuhyun menitipkannya dan bahkan itu pun harus dengan beribu alasan agar Hyunoo tidak terus-menerus menanyakan Haewoon.

Selesai menitipkan Hyunoo, Kyuhyun menancap gas ke tempat yang dikatakan Dae Yeon. Wanita itu tidak banyak bicara selama perjalanan dan Kyuhyun tahu betapa khawatirnya ia. Kyuhyun juga tidak berani bertanya karena…

“Haewoon pernah mau bunuh diri di sungai itu.”

Kepala Kyuhyun kontan menoleh dan Dae Yeon mendesah frustasi. Wanita itu menunjuk jalanan dengan tangannya sehingga Kyuhyun kembali fokus sebelum ia melanjutkan.

“Itu saat pertama kali ia gila.” Kyuhyun menancap gasnya lebih dalam, tapi tetap menunggu.

“Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu tapi yang kutahu sebelum ke sungai pada hari itu Haewoon menjadi saksi tabrak lari dan dibawa ke kantor polisi.”

“Dia bilang karena teringat masa lalunya.”

“Itulah, aku tidak tahu masa lalu macam apa yang membuatnya seperti itu. Aku tahu ibunya pergi dan itu hal terburuk dalam hidupnya tapi aku tidak tahu apa membuatnya teringat dengan hal itu. Aku tidak bisa mencegahnya karena aku tidak tahu.”

“Apa dia sering seperti itu?”

Dae Yeon menggeleng, “Tidak. Hanya dua kali dan ini yang ketiga kali.”

“Mungkin itu yang kau tahu. Bagaimana saat dia sendiri?”

“Entahlah…” Dae Yeon mendesah untuk kesekian kali. Menjadi orang yang bisa bertindak sesuka hati seperti Haewoon memang tidak mudah. Dae Yeon tahu kenapa Haewoon bersikap demikian, justru itu dia mendukung apa pun keputusan Haewoon. Gadis itu kesepian. Dia takut menghadapi masa lalunya atau dia akan gila, justru itu berusaha untuk menjadi seceria yang dia bisa. Dan Dae Yeon tahu itu berat bagi Haewoon. Tapi dia bisa apa?

Dae Yeon menutup mata, memijit pelipisnya dan tidak lama kemudian mobil Kyuhyun berhenti. Pria itu segera melompat turun diikuti Dae Yeon di belakangnya. Mereka berlari ke arah berbeda untuk menemukan Haewoon tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di sana. Dae Yeon bahkan menatapi air sungai itu selama beberapa menit dan sialnya dia tidak tahu apakah ada orang atau tidak di dalam sana. Sambil menggeram ia memanggil seseorang dengan ponselnya, meminta bantuan sementara Kyuhyun masih mencari ke tempat lain di sekitar sana.

Kyuhyun berlari ke bagian kanan sungai dan melihat ada sebuah rumah kecil yang sepertinya tidak digunakan lagi. Tanpa takut ia menendang pintu kayu itu, membuatnya menjeblak terbuka dan tetap… tidak ada orang di sana. Kyuhyun meremas rambutnya, berpikir keras ke mana kiranya Haewoon mungkin berada dan tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.

Gadis itu suka makanan. Tidak menutup kemungkinan sekarang dia ada di tempat yang banyak makanannya karena itu bisa membantu membuatnya senang. Dan gadis itu juga tipikal yang suka mendapat makanan gratis jadi…

Kyuhyun menjentikkan jari dan sedetik kemudian ia kembali berlari. Dilihatnya Dae Yeon masih berdiri di tempat yang tadi dan seorang pria sudah menceburkan diri ke dalam sungai itu. Entah siapa.

“Dae Yeon-ssiㅡ”

“Oh! Kyuhyun-ssi.” Potong Dae Yeon begitu melihat Kyuhyun. Lalu menunjuk seseorang di dalam air di depannya. “Dia Jayden yang akan membantuku. Kau tenang saja dan pulanglah. Kami pasti akan menemukan Haewoon.”

“Kau bercanda?” Kyuhyun mengerutkan keningnya, tidak percaya. “Pria itu menceburkan diri dan kau bilang kalian akan menemukannya? Kau berharap Haewoon sudah mati? Kau berharap dia benar-benar bunuh diri di tempat ini?” Kyuhyun merasakan suaranya meninggi dan kedua tangannya mengepal karena emosi. Tapi melihat Dae Yeon yang sontak mundur saat melihatnya berteriak membuat Kyuhyun menunduk untuk menenangkan diri.

Jangan gegabah. Gadis itu pasti baik-baik saja.

“Maaf.” Ucap Kyuhyun kemudian. Lalu berbalik, pergi dengan mobilnya. Dia akan mencari Haewoon sendiri dan dia yakin akan menemukannya.

Dengan keyakinan diri itu Kyuhyun mencari ke segala tempat yang menurutnya mungkin. Bazar makanan, toko kue baru dibuka, supermarket dekat rumah Haewoon, dan masih banyak tempat lagi yang didatanginya. Kyuhyun bahkan memeriksa klinik atau rumah sakit dekat rumahnya, kalau-kalau saat pulang tadi Haewoon pingsan dan ada yang membantunya. Tapi Kyuhyun tetap tidak menemukannya.

Bahkan ponselnya yang berdering berkali-kali dengan berbagai nama sebagai penelepon diacuhkannya sama sekali. Kyuhyun bisa menelepon mereka nanti karena sekarang yang ada dipikirannya hanya Haewoon. Mengingat kembali kata Dae Yeon kalau Haewoon pernah nyaris bunuh diri membuat Kyuhyun gusar setengah mati. Dia takut gadis itu berbuat nekat.

Kyuhyun menghentikan mobilnya di taman dekat rumah Haewoon lalu menyandarkan kepalanya dan menutup mata. Langit di luar sudah gelap, entah sudah pukul berapa Kyuhyun tidak peduli lagi. Dia melupakan makan malam dan semua hal yang seharusnya dilakukannya hanya untuk mencari Haewoon.

Pria itu menghela napas, mencoba menenangkan diri dan berdoa di dalam hati agar Haewoon baik-baik saja. Dia tidak tahu di mana saja Haewoon mungkin berada tapi semoga dia menemukannya. Kyuhyun tidak menghubungi Dae Yeon karena sudah cukup kesal dengan wanita itu dan tidak juga meminta tolong orang lain karena dia tidak punya petunjuk yang jelas. Sekarang Kyuhyun hanya bisa berdoa, berharap Haewoon tiba-tiba datang mengetuk sisi jendela mobilnya sambil tersenyum lalu mengajaknya makan puding di teras depan rumahnya. Tapi khayalan tetaplah khayalan. Meskipun Kyuhyun balas tersenyum dan sudah membuka pintu mobilnya, nyatanya gadis itu tidak ada di sana. Justru angin dingin yang menyentuh kulitnya dan Kyuhyun membuang napas untuk ke sekian kalinya.

Ke mana sebenarnya gadis itu pergi?


Ia menghela napas pelan sambil mendongakkan kepala menatap langit malam. Kesunyian yang sudah lama tak menyapanya kini kembali datang. Perasaan tak enak itu kembali datang. Bersama sejuta perasaan yang dia pun tidak tahu harus diapakan. Hidupnya seperti harus kembali ke masa-masa itu. Masa saat ia harus mengurung diri, menangis di pojok yang sunyi dan dihantui kenyataan pahit yang kini sudah berhasil terobati.

Memang tak mudah hidup di dunia ini. Donghae sudah pernah merasakan saat-saat di mana ia merasa terbang ke langit dan pernah juga terjatuh sampai semua tubuhnya hancur tak berbentuk. Dia paham mengapa orang yang patah hati bisa sampai bunuh diri. Karena dia pun pernah merasakannya.

Hidup bersama orang-orang yang sangat menyayanginya sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi Donghae. Hanya saja, ketika perlahan-lahan mereka pergi dan dia tertinggal sendiri dan juga harus menerima kenyataan itu sendiri, menurut Donghae semua itu tidak berarti. Dia rapuh saat tahu dia anak yang dibuang dan dirawat paman serta bibinya. Dia gila karena tidak tahu rupa orangtuanya. Dan dia hampir mati saat melihat lagi sosok wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya.

Percaya? Jelas tidak! Mana mungkin dia langsung berlari ke pelukan wanita itu meskipun dia pernah dibuang? Atau Donghae secara sepihak meyakini wanita itu benar-benar ibunya dan bahwa wanita itu berkata jujur. Tidak! Nyatanya Donghae mengurung dirinya selama berhari-hari. Takut dia akan tersakiti lagi karena wanita yang tiba-tiba datang itu. 

Tapi mungkin Tuhan memberinya sedikit waktu untuk berpikir jernih. Menenangkannya sehingga dengan sendirinya ia pergi dari kamarnya yang gelap itu, meninggalkan dalam diam tali panjang yang sudah bersiap di langit-langit untuk membawanya ke tempat lain.

Sejak saat itu ia terus berpikir positif. Kehadiran wanita itu awalnya tidak diterimanya dan dia tetap tinggal sendiri selama bertahun-tahun. Dia hanya sesekali dikunjungi dan Donghae tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun untuk dilontarkan. Tapi diam-diam ia mencari tahu siapa wanita itu. Apakah benar orang itu ibunya kandungnya? Apa yang dilakukannya sekarang? Dan di mana ayahnya berada? Lantas ketika Donghae telah mengetahui semuanya, dia tetap menyimpannya sampai saatnya tiba.

Sampai suatu saat di taman kota yang sepi, wanita itu menghampirinya sambil membawa sekotak makanan beserta kopi hangat untuk diberikan padanya. Dan saat itu juga Donghae sadar… wanita itu sangat tulus memerhatikannya. Wanita itu benar ibu kandungnya. Dan dia yang awalnya sulit menerima, mulai membuka diri dan menceritakan semuanya, sampai hubungan mereka membaik dan beginilah kenyataannya.

Sekali lagi ia menghela napas dan mengerjap pelan. Dia ada di teras samping kediaman keluarga Kyuhyun sekarang dan sebenarnya di sini sangat nyaman. Dia tidak pernah berpikir bisa ke tempat ini atas apa saja yang sudah terjadi. Banyak sekali kebohongan yang sudah dilakukannnya. Tapi itu semua untuk kebaikan mereka bersama.

Ia lalu menunduk, menatap rumput basah di bawah kakinya karena hujan gerimis yang mulai datang membasahinya. Lantas tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan adanya pesan masuk dan Donghae melihat nama Kyuhyun tertera di sana. Tanpa pikir panjang ia pun membukanya.

“Hyung, bisa tolong jemput Hyunoo di rumah Min Ju? Aku tidur di apartemen malam ini. Telepon aku kalau dia menangis. Terimakasih, Hyung. Aku mengandalkanmu.”

Donghae berdecak setelah selesai membaca pesan singkat itu. Dia senang ada yang percaya padanya seperti ini. Padahal dulu, saat mereka baru bertemu karena ibu mereka, Donghae tidak tahu sama sekali kalau Kyuhyun sudah punya anak. Tidak disangka kalau sebenarnya pria itu sangat menyayangi putranya. Terlebih baru-baru ini Donghae diberitahu Ahra kalau istri Kyuhyun sudah meninggal. Selama ini dia menyangka kalau istri Kyuhyun tinggal di luar negeri atau mereka sudah bercerai dan hubungan tidak baik. Tapi nyatanya… siapa yang tahu?

Sekali lagi Donghae menghela napas dan baru hendak bangkit berdiri ketika bel rumah terdengar berbunyi. Ia pun dengan segera mendekati pintu, tepatnya melihat ke layar interkom dan ternyata Min Ju datang bersama suaminya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Donghae pun mempersilakan mereka masuk, bahkan ia sendiri keluar untuk menjemput mereka yang baru masuk pagar.

“Hei.” Sapanya begitu melihat mereka. Tapi kemudian tatapannya jatuh pada Hyunoo yang terlelap di gendongan suami Min Ju. Mengerti apa maksudnya Donghae lalu mengambil alih Hyunoo. “Aku baru mau menjemput Hyunoo.”

“Dia tertidur setelah menangis dengan Shin Ju.” Ucap Yunho.

“Mereka bertengkar?”

“Tidak,” Shin Ju yang tidak membawa apa pun membuka pintu utama. “Hyunoo menangis karena mencari ayahnya, dan Shin Ju ikut menangis karena melihat temannya menangis.”

Mereka tertawa kecil. Membayangkan bagaimana lucunya Shin Ju yang khawatir pada temannya. “Duduklah, aku mengantar Hyunoo dulu.” Kata Donghae setelah mereka sampai di ruang tamu.

Dan dengan perasaan bersalah Min Ju menatap suaminya sebelum beralih pada Donghae. “Maaf, tapi kami harus cepat pulang.”

“Kenapa? Aku akanㅡ”

“Tidak, tidak. Tidak perlu repot-repot. Shinny sudah tidur di rumah. Kami takut kalau dia terbangun dan menangis saat tidak ada orang.”

“Ah, begitu. Baiklah. Terimakasih sudah mengantar Hyunoo.” Mereka kemudian kembali berjalan keluar, sementara Donghae yang masih menggendong Hyunoo hanya berdiri di depan pintu. 

“Terimakasih. Hati-hati di jalan!”

Yunho dan Min Ju mengangguk mengiyakan, lalu melambai singkat sebelum mereka benar-benar melangkah keluar dari pagar. Dan Donghae langsung membawa Hyunoo ke kamarnya. Tidak lupa melepas jaket dan juga sepatunya. Setidaknya beberapa tahun mengenal Kyuhyun membuatnya mengerti apa yang harus dilakukannya pada anak kecil.


Ketika matahari menyambut paginya di tempat yang berbeda dengan hari kemarin ia membuka mata dan wajah orang itu langsung memenuhi kepalanya, Haewoon mulai berpikir apakah benar ini dirinya? Wajah itu mengingatkannya pada kenyataan yang sepertinya harus ia terima. Meskipun sekarang ia sedang bersembunyi dari kenyataan itu, Haewoon tahu pada akhirnya dia akan tetap menghadapinya.

Tapi semua ini tidak semudah kelihatannya.

Dia memang orang yang mudah jatuh cinta. Tapi baru kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu seperti kau ingin memilikinya dan bukan hanya sekadar menyukainya, tapi kau tidak punya hak untuk itu. Kenyataan tidak mengizinkanmu untuk memilikinya. Yah, semacam itu. Dan rasanya menyakitkan sekali. Haewoon sudah berkeliling sejak kemarin untuk menjernihkan pikirannya. Tapi tidak berhasil juga. Tidak, dia tidak gila. Sebenarnya hampir. Tapi karena wajah orang itu yang selalu terbayang di kepalanya, Haewoon merasa berbeda. Dia tidak memikirkan masa lalu sampai gila, tapi memikirkan masa depannya karena sekarang orang itu yang menjadi tokoh utama dalam pikirannya. Dan itu tidak membuatnya gila. Dia hanya sedikit sakit hati karena sepertinya kisah tokoh utama itu tidak berakhir seperti yang diharapkannya.

Haewoon lalu mengerjap pelan, menerawang ke langit-langit ruang tengah rumah ayahnya sebelum memutuskan untuk bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi. 

Kemarin ia tiba hampir tengah malam setelah berkeliling di tempat kelahirannya ini dan Tuan Lee Daehan jelas sangat terkejut melihat anak gadisnya pulang di malam hari. Dan Haewoon yang tahu bagaimana perasaan ayahnya memutuskan untuk tidak bicara. Ia hanya menyuruh ayahnya untuk kembali tidur, sementara dia menghabiskan malam dengan menonton beberapa film ditemani berbungkus-bungkus makanan ringan sampai akhirnya tertidur sekitar jam empat pagi.

See? Dia tidak gila, ‘kan?

Dia hanya sedikit stres karena… yah, seperti tadi. Karena orang itu ternyata… oke, Haewoon ingin berhenti memikirkan itu untuk hari ini. Jadi lupakan saja.

Lantas sekitar tiga puluh menit setelah itu, Haewoon akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut bergumpal handuk. Ia berjalan ke dapur dan membuka kulkas lalu tersenyum lebar mendapati sebotol susu segar ada di sana. Tanpa pikir panjang ia mengambilnya, berikut sereal cokelat yang kemarin baru dibelinya, kemudian membawa semua itu kembali ke ruang tengah.

Dan pada saat itu pula ayahnya muncul dari kamar. Membuat Haewoon yang baru duduk langsung menoleh dan tersenyum lebar seperti biasanya. “Pagi, Tuan Lee.” Sapanya.

“Pagi, Nona Lee.” Sahut ayahnya balik. Lalu menghampiri Haewoon dengan duduk di sofa sementara Haewoon tetap duduk di lantai. “Omong-omong kau belum menjawab pertanyaanku tadi malam.”

“Yang mana?” Haewoon bertanya sambil lalu, menyalakan televisi dan menyuap serealnya tanpa peduli.

“Kenapa tiba-tiba datang di malam hari? Berbahaya untuk gadis sepertimu, tahu.”

“Aku sudah besar, tenang saja.”

“Memang kalau sudah besar kau bukan wanita?”

“Appa!”

Pria setengah baya itu berdecak tidak percaya. Anak gadisnya ini memang sulit. Tidak ada yang mengerti jalan pikirnya. Melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan sudah seperti makan nasi di setiap pagi dalam hidupnya. Sudah biasa. Justru itu terkadang Daehan merasa khawatir karena Haewoon tinggal sendirian di Seoul sana.

“Cepat selesaikan.” Kata Daehan kemudian sambil bangkit berdiri, berniat mengambil jaketnya di dalam lemari.

“Kita ke toko sekarang?”

“Tentu saja.”

“Tunggu sebentar.” Haewoon menghabiskan serealnya dengan cepat, bahkan sampai tetes terakhir susu yang tersisa di mangkuk. Lalu bergegas berganti pakaian di kamarnya, tidak lupa menyisir rambut tanpa perlu mengeringkannya.

Sementara Daehan sudah menunggu di depan rumah. Jam memang sudah menunjukkan hampir pukul 10 pagi, tapi cuaca di sini terasa dingin dan sangat nyaman. Lingkungan rumah yang jauh dari jalanan utama kota membuatnya hidup dalam ketenangan yang sangat baik untuk kesehatannya. Dia sangat menyukai tempat ini. Terlepas dari apa saja yang pernah terjadi, Daehan pikir dia akan selalu tinggal di sini.

“Appa, ayo.” Haewoon muncul dari rumah dengan hoodie putih dan celana kapri berwarna senada. Ia memasang sepatu kets sambil membenahi rambutnya yang menutupi mata. Lalu menghampiri Daehan. Tersenyum sebelum mengaitkan lengannya di lengan ayahnya itu. “Apa ada pesanan lagi?” tanyanya sambil berjalan.

“Ada.”

“Buku apa?”

“Hanya buku cerita anak-anak.”

“Apa akan diperbanyak?”

Daehan berdeham membenarkan. “Tapi hanya sebanyak yang dipesan.”

“Boleh aku memesan satu?”

“Untuk apa?”

“Untuk dibaca.”

Daehan mengernyit mendengar putrinya berkata demikian. Dia tidak tahu kalau Haewoon juga suka membaca buku cerita. Setahunya Haewoon sangat aktif dan hanya suka mendengarkan cerita daripada membacanya. Haewoon pernah bilang kalau buku pelajaran lebih penting daripada buku cerita.

“Tapi kadang-kadang aku juga perlu hiburan. Dan buku cerita bukanlah ide yang buruk.” Itu yang dikatakannya pada diri sendiri saat ia membaca buku cerita.

Omong-omong tentang buku, sebenarnya Lee Daehan adalah seorang penulis yang cukup terkenal di Mokpo. Bukunya sudah sangat banyak meski hanya sebatas novel pendek dan buku cerita anak-anak. Tapi Haewoon sangat bangga karena ia memiliki ayah yang bahkan masih berusaha untuk berkarya diusianya yang sudah renta. Dan Haewoon juga tidak bisa memaksa ayahnya untuk berhenti. Bahkan beliau membuka sebuah toko buku di tengah kota Mokpo ini.

“Appa,” panggil Haewoon setelah beberapa saat mereka berjalan dalam diam. Gadis itu menempelkan pipinya di bahu ayahnya, sambil berpikir apa lagi yang harus dikatakannya. “Menurutmu bagaimana kalau aku, diusiaku sekarang ini, tiba-tiba pulang dan membawa seorang anak kecil berusia 7 tahun lalu kubilang dia anakku.”

“Hm?”

“Kalau aku punya anak usia 7 tahun sekarang ini. Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengusirku?”

“Hm… 7 tahun, ya? Berarti…,” pria itu tampak berpikir sambil terus berjalan. Seperti sedang menghitung dan, “Tidak.” Jawabnya kemudian. “Aku tidak akan mengusirmu.”

“Alasannya?”

“Karena tujuh tahun yang lalu kau masih tinggal di sini dan kau baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padamu sampai kau harus punya anak. Jadi anak yang kau maksud bukanlah anakmu.”

“Begitukah?”

Daehan mengangguk mengiyakan.

“Lalu bagaimana kalau aku mulai menyukai seseorang?”

“Oh, putriku sudah besar…”

“Appa, aku serius.”

“Oke. Lanjutkan.”

“Bagaimana kalau aku suka pada seseorang?”

“Siapa?”

“Jawab dulu.”

“Oh, baiklah.” Daehan berdeham sekali lagi, lalu berkata, “Tidak apa-apa menyukai seseorang. Itu hak setiap orang. Kalau kau menyukainya, kau harus meyakinkan dirimu kalau kau benar-benar menyukainya sebelum kau memutuskan untuk mengungkapkan perasaanmu.”

“Appa, aku perempuan.”

“Lalu?”

“Mana mungkin aku mengungkapkan perasaan…”

“Kenapa tidak?” Daehan melirik wajah putrinya yang cemberut di bahunya, lalu tertawa bahagia. “Kau tahu kenapa ayah bisa jatuh cinta dan menikah dengan ibumu?”

Ibumu…

Air muka Haewoon berubah seketika. Dan wajah seseorang yang untuk sekarang tak diharapkannya kembali terbayang di dalam kepalanya. Ia mengerjap pelan, berusaha bersikap biasa saja lalu menggeleng sebagai jawaban untuk ayahnya. “Wae?”

Beliau tampak menerawang sambil tersenyum kecil. Mengingat kembali masa mudanya yang berbunga-bunga memang tidak pernah membuatnya bosan. Lagi-lagi terlepas dari apa yang telah terjadi, Daehan akan terus mengenang memori indah yang pernah terjadi dalam hidupnya.

“Itu karena ibumu sangat mirip denganmu. Dia suka sekali ayam goreng dan ketika memakannya dia akan melupakan apa pun di sekitarnya. Bahkan saat ada yang bertanya siapa orang yang disukainya, ibumu langsung berkata kalau akulah orangnya.”

Haewoon tersenyum kecil, terpaksa. “Benarkah?” bahkan suaranya terdengar jauh. Tapi Daehan tidak memerhatikannya.

“Ya. Ada satu temannya yang suka memancingnya. Jadi hari itu saat dia tersadar, dia terus menghindariku. Dia tidak mau menatap mataku. Bahkan saat kubelikan ayam goreng, dia hanya mengambilnya dan meminta tolong padaku untuk pulang saja.”

Apa Haewoon seperti itu?

“Tapi suatu hari, dia tiba-tiba datang padaku. Dan dia bilang dia memang menyukaiku. Dia ingin menikah denganku. Pokoknya dia hampir gila karena terus memikirkanku.”

Apa dia juga akan gila?

“Hal itulah yang membuatku jatuh cinta pada ibumu. Sejak saat itu dia yang memang pemberani, menjadi semakin berani. Dia tidak peduli kalau kami sempat tidak direstui. Keberanian dan kepercayaannya padaku membuat kami berdua direstui.”

Awalnya tidak direstui…

Dan akhirnya tetap direstui.

Tapi bukan itu masalahnya.

Haewoon bukan stres karena hubungannya dengan orang itu tidak direstui, tapi karena dia berpikir untuk tidak merestui diri sendiri. Dia berusaha untuk berpikir kalau memang inilah takdirnya. Haewoon harus menjalaninya, tidak perlu memaksa agar takdirnya ini sesuai keinginannya. Justru itu dia mulai belajar untuk tidak merestui diri sendiri. Terhitung dari saat dia sedang mandi tadi pagi.

“Jadi apa kau sedang menyukai seseorang?” tanya Daehan kemudian.

Dan menurut Haewoon tidak ada gunanya berbohong. Ini haknya untuk menyukai seseorang, meskipun dia ingat betapa ia tidak boleh merestui dirinya untuk bersama orang itu. Jadi selang beberapa detik setelah itu Haewoon pun mengangguk mengiyakan.

“Siapa?”

“Hanya seseorang yang baik.”

“Benarkah?”

Haewoon berdeham.

“Apa karena dia kau pulang larut malam? Apa dia menyakitimu?”

“Tidak…,” Haewoon menunduk menatap jalanan di bawahnya dengan masih memeluk lengan ayahnya. “Ini bukan karena dia.”

“Lalu?”

“Karena seseorang yang berhubungan dengannya.”

“Apa dia punya kekasih lain?”

Haewoon menggeleng.

“Istri?”

“Istrinya sudah meninggal.”

“Apa?” Daehan sontak berhenti melangkah dan menatap putrinya yang masih betah menunduk. “Kau suka pada pria yang sudah pernah menikah?”

Haewoon mendongak, menatap ayahnya polos, “Apa itu salah?”

Tanpa sadar pria setengah baya itu menghela napasnya. Ia ingin berkata sesuatu tapi takut gadis ini sakit hati. Sampai akhirnya Haewoon melepaskan pelukkannya dan mengalihkan pandangannya, lalu kembali menatap matanya, Daehan sadar betapa kesedihan sangatlah terlihat di kedua mata indah milik putrinya. Ia menghela napas sekali lagi, lalu tersenyum sambil mengangguk sebelum menepuk kepala Haewoon lembut.

“Tidak, itu tidak salah. Itu hakmu, sayang.”

“Dia juga sudah punya anak.” Haewoon menunduk lagi.

“Berusia tujuh tahun?”

“Mm-hm.”

“Kau mencintainya?”

Haewoon mendongak lagi menatap ayahnya. Ingin sekali rasanya mengangguk mengiyakan pertanyaan itu. Tapi Haewoon takut membebani dirinya. Bagaimanapun orang berkata dia adalah gadis yang kuat, Haewoon terkadang juga takut kalau-kalau dirinya ambruk.

“Kau mencintainya?” tanya Daehan sekali lagi. Yang lantas ditanggapi Haewoon dengan mengangkat bahu dan tersenyum lebar.

“Entahlah.” Jawabnya, lalu kembali merangkul ayahnya dan mereka berjalan lagi. “Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi sejak bangun tidur tadi. Tapi bahkan saat mandi aku memikirkannya sampai sekarang. Cih!”

“Itu berarti kau mencintainya.”

Senyum Haewoon luntur seketika.

Dia mencintainya.

Dia mencintai orang itu.

Oh, oke, tapi mau bagaimana? Dia satu-satunya orang yang mengerti keadaannya saat ini. Haewoon tidak bisa bertanya pada orang lain dia harus bagaimana. Padahal dia bisa bercerita, paling tidak pada ayahnya. Tapi menurut Haewoon ini terlalu berat untuk diceritakan. Dia yakin bukan hanya dirinya yang akan stres, tapi juga ayahnya. Dan… sebaiknya tidak. Haewoon tidak mau itu mengganggu kesehatan ayahnya.

Beberapa menit dalam diam yang digunakannya untuk berpikir, Haewoon kemudian menghela napas dan kembali mencoba untuk tersenyum seolah tidak ada yang terjadi. Ia mendongak menatap ayahnya, memberitahu kalau dia tidak mau memikirkan semua itu lagi.

“Ayo, kita masih harus sarapan sebelum sampai ke toko.”


Donghae tidak tahu sudah berapa kali ia mendesah pagi ini. Dimulai dari Hyunoo yang tidak berhenti bertanya di mana ayahnya dan tidak mau sekolah. Dan kini Donghae juga harus menghadapi Kyuhyun yang entah mengapa tidak kunjung menerima teleponnya. Oh, oke, cukup tahu saja, Donghae sudah menunggu di depan pintu apartemen Kyuhyun sejak satu jam yang lalu dan bahkan pria itu tidak mau membukakan pintu. Ada rapat penting hari ini dan Ahra mengingatkannya untuk membawa Kyuhyun ke kantor. Gawat kalau dia tidak berhasil. Wanita itu pasti akan mengomelinya karenaㅡ

KLEK!

Pintu di depannya tiba-tiba terbuka. Donghae mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menyentuh kenop pintu, menariknya perlahan sebelum menenggelamkan diri di sana. Kyuhyun akhirnya menyadari kehadirannya.

Dan hal pertama yang dilihatnya begitu melangkah lebih dalam adalah sesuatu yang pecah di atas lantai lalu…

Ia berhenti di ujung lorong, ternganga melihat keadaan yang sangat tidak seperti biasanya. Meskipun Kyuhyun tidak pernah mempekerjakan pembantu, Donghae tahu kalau Kyuhyun sangat rajin membersihkan tempat tinggalnya. Pria itu cukup pembersih. Tapi untuk kali ini entah mengapa jadi terasa terbalik. Donghae tidak menyangka akan ada beberapa tempat yang terhambur pecahan kaca, genangan air dan bahkan tetesan darah. 

Tunggu, tetesan darah? 

Kepala Donghae sontak mendongak, membelalak saat menyadari sesuatu dan ia dengan cepat melangkah dari tempatnya berdiri tadi. Ia memanggil nama Kyuhyun tanpa henti sambil terus mencari pria itu ke segala ruangan, berharap apa yang ada dipikirannya tidak benar terjadi sampai langkah kakinya mendadak berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.

Ada suara gemericik air dari dalam sana. Donghae lalu mendekatkan telinganya, mencoba mengetahui apakah Kyuhyun di dalam sana. Tapi dia tidak tahu karena gemericik air itu sangat mengganggu. Membuat Donghae tidak sabar dan ia akhirnya memutuskan untuk membuka pintu ituㅡyang beruntungnya tidak dikunciㅡdan yang langsung dilihatnya setelah itu adalah Kyuhyun yang terduduk bersandar di bathtub sambil memegangi kaki kanannya.

“Oh, Tuhan…” Donghae mendesah lelah. Tidak percaya. “Bisa-bisanya kau…”

“Tidak sopan.” Desis Kyuhyun dengan tampang tidak bersahabat.

Tapi Donghae tidak peduli. Ia hanya berdiri di tempatnya sambil berkacak pinggang melihat tingkah konyol pria beranak satu yang kini ada di depannya. “Ada apa dengan rumahmu? Kenapa berantakan sekali? Dan kenapa tidak mengunci pintu saat kau mandi? Danㅡ”

“Kakiku berdarah saat ingin membukakan pintu untukmu. Jadi ini salahmu.”

“Apa?”

Kyuhyun hanya melirik Donghae kesal, lalu mencoba menggapai selang terdekat untuk membersihkan darah di kakinya setelah ia berhasil mengeluarkan beling yang menancap di sana.

“Dan apa yang terjadi di sini?”

“Memang apa?” sahut Kyuhyun, masih tidak peduli.

Dan Donghae balas mendesah lelah. Ia mengusap wajahnya lalu berkata, “Rumahmu berantakan. Oke? Sangat-sangat berantakan. Dan kurasa ini bukan kebiasaanmu saat mandi tidak mengunci pintu. Otakmu sedang bergeser, ya? Apa ini bukan Kyuhyun yang kukenal? Kenapaㅡ”

“Berisik.”

“Aku cuma bertanya!”

“Satu-satu!”

Donghae mendesah keras sekali lagi. Tapi ia mencoba untuk tenang. Dilihat dari tampangnya sejak ia membuka pintu tadi sepertinya Kyuhyun sedang dalam mood yang buruk. Dia tidak boleh membuat keadaan semakin memburuk atau dia yang nanti akan kena imbasnya.

“Oke, jadi kenapa?” ucap Donghae kemudian.

“Aku kelelahan tadi malam. Lupa makan lalu sakit.”

“Kenapa tidak pulang ke rumah saja?”

Aku belum siap menghadapi Hyunoo yang pasti akan menanyai tentang Haewoon. Setidaknya aku harus bersikap kalau aku dan gadis itu baik-baik saja. Ucap Kyuhyun dalam hati. Tapi alih-alih menyuarakannya, Kyuhyun justru bicara sebaliknya.

“Tidak punya tenaga lagi untuk berkendara sampai rumah.”

“Kau bisa meneleponku.”

“Mobilmu rusak, ‘kan? Masih di bengkel, ‘kan?”

“Oh, benar. Aku baru mengambilnya pagi ini. Tapi kenapa rumahmu berantakan?”

Kyuhyun menghela napas jengah. Si pria banyak pertanyaan! Sial, setelah ini pasti Donghae akan melapor pada ibunya dan ketika pulang nanti Kyuhyun yakin dia akan melihat wajah khawatir wanita setengah baya itu. Jujur saja, Kyuhyun tidak suka melihatnya. Tepatnya dia tidak mau wanita itu menghabiskan waktu hanya untuk mengkhawatirkannya.

“Aku sakit karena tidak makan, tapi tidak bisa diam saja jadi aku harus makan semalam-malamnya. Dan dalam perjalananku ke dapur aku memegangi semua benda, membuat mereka terjatuh tanpa kusadari danㅡ”

“Dan kau menginjak pecahannya?”

“Tidak. Setelah makan roti aku cukup segar kembali. Aku baik-baik saja kembalinya dari dapur jadi aku bisa menghindari beling-beling itu.”

“Laluㅡ”

“Sudah kubilang aku terluka saat ingin membukakan pintu untukmu, bodoh!”

“Tapiㅡ”

Kyuhyun berdecak satu kali yang ternyata berhasil membuat Donghae bungkam. “Aku tidak ingat kapan terakhir kali kau menginterogasiku seperti ini tapi kupastikan inilah yang terakhir.” Ucapnya dingin sambil mencoba bangkit berdiri, mengambil obat merah dan perban serta plester yang ada di laci wastafel. “Dan satu lagi.”

Donghae yang baru ingin berbalik pergi kembali menoleh.

“Aku sedang tidak mandi. Hanya sedang mengobati kakiku jadi aku tidak mengunci pintu. Dan kuingatkan padamu, jangan lupa mengetuk pintu.” Katanya sinis.


Lantas setelah hampir satu jam Donghae berdiam diri menunggu Kyuhyun bersiap-siap, mereka akhirnya melangkah keluar sambil memasang jas masing-masing. Kyuhyun tidak membersihkan apartemennya, jadi Donghae melaporkan apa yang terjadi pada ibunya tanpa sepengetahuan pria itu. Padahal Donghae tahu Kyuhyun sangat tidak suka diceramahi, tidak suka melihat ibu mereka khawatir dan tidak suka masalah pribadinya dicampuri.

“Aku menumpang.” Kata Kyuhyun setelah sampai parkiran. Dan Donghae jelas tertawa kecil, teringat ketidakbodohannya akan hal ini. Dia cukup merasa bangga, sebenarnya.

“Kalau aku tidak tahu kau akan menumpang aku mungkin sudah pergi setelah membangunkanmu.”

“Oke, kau menang.” Kyuhyun mengangkat tangannya. Lalu melanjutkan melangkah tertatih ke arah mobil Donghae. Oh, cukup tahu saja, dia tidak menggunakan sepatu hari ini tapi hanya sandal biasa karena kaki kanannya terbalut perban. Kyuhyun tidak bisa menempelkan telapaknya ke lantai dengan benar karena sungguh itu sakitnya luar biasa. Itulah mengapa ia menumpang ke mobil sekretarisnya.

Donghae membuka kunci mobilnya, dan Kyuhyun langsung duduk di bangku penumpang sementara Donghae di sampingnya. Ia sempat meringis karena lupa kakinya sedang terluka dan tadi ia justru menghentakkannya ke lantai mobil dengan keras. Tapi tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Yah, luka kecil tapi dalam. Oke.

“Berangkat?”

“Tentu saja.” Sahut Kyuhyun sambil lalu.

“Ibu menyuruhku mengajakmu sarapan.”

Kepala Kyuhyun kontan menoleh. “Kau sudah selesai melapor, ya?”

Donghae tertawa kecil sambil mengangguk. “Ibu khawatir, kau tahu?”

“Cih! Kebiasaan. Kau tidak lihat ibu sudah tua dan kau masih suka membuat ibu khawatir? Terkadang itu buruk untuk kesehatan, tahu!” Kyuhyun ingin sekali memukul kepala pria itu. Tapi ia harus ingat diri siapa dia dan lagipula dia lebih muda. “Sudahlah, ayo jalan.”

“Tidak sarapan?”

Kyuhyun hanya menggerakkan tangannya. Menolak.

Dan mobil itu pun mulai bergerak, berbaur di jalan raya. Kyuhyun menoleh ke jendela, menyandarkan kepala sambil memikirkan segala hal yang muncul dalam kepalanya. Kalau diingat-ingat dia pulang sangat larut tadi malam dan itupun karena tubuhnya tidak bisa diajak kompromi lagi. Tapi itu bukan berarti Kyuhyun menyerah mencari Haewoon. Dia sudah pergi ke mana pun. Dan bahkan melawan egonya sendiri perihal pertengkarannya dengan Dae Yeon, berakhir dengan ia memutuskan untuk menerima panggilan dari gadis itu. Meskipun Dae Yeon berkata dia tidak menemukan Haewoon di mana pun. Dae Yeon terdengar lelah, Kyuhyun tahu karena tadi malam ia juga begitu. Jadi ia berusaha tenang dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa Haewoon ada di suatu tempat yang aman untuknya.

Kyuhyun menghela napas pelan. Sempat membuat Donghae menoleh tapi Kyuhyun tidak menyadarinya. Melihat itu, Donghae akhirnya memutar kemudi ke sebelah kiri, melaju sekitar dua menit dan berhenti di sebuah tempat yang sudah sering ia kunjungi.

“Turun.” Ucapnya sambil melepaskan sabuk pengaman.

Tapi Kyuhyun mengernyit tahu mereka bukan berhenti gedung perusahaan.

“Kau harus sarapan atau nuna akan membunuhku karena kau tidak fokus hanya karena kelaparan.”

Kyuhyun berdecak kesal mendengarnya. Kemudian Donghae turun lebih dulu, sementara Kyuhyun hanya bisa menatap nanar punggung pria itu. See? Sebenarnya dia pernah merasa kalau dia adalah manusia terjahat yang pernah ada. Karena ia merebut sesuatu yang bukan miliknya. Dan bahkan pemilik sesuatu itu kini menjadi sahabat dekatnya, mau berbagi dengan dirinya. Tidakkah dia terlihat jahat? Tapi mau bagaimana lagi? Takdirnya sudah begini. Kyuhyun tidak pernah menghindar karena ia selalu berpikir untuk mencoba menghadapinya.

Kemudian terdengar dua kali ketukan ringan di jendela, membuat Kyuhyun seketika tersadar dan menoleh hanya untuk melihat Donghae yang menunggunya di luar sana. Kyuhyun pun segera melepas sabuk pengaman, lalu memberi isyarat kalau dia akan segera keluar.

“Tidak ada waktu untuk ke restoran. Kita ke kedai saja.” Kata Donghae sambil berjalan dan Kyuhyun tertatih di belakangnya.

Kyuhyun hanya balas berdeham. Oh, jujur saja, dia jarang ke kedai di pinggir jalan karena dia tidak percaya pada kebersihannya. Tidak terjamin juga. Tapi mengingat Haewoon juga bekerja di kedai membuat Kyuhyun berpikir ulang. Setidaknya ada seseorang yang dia percaya bekerja di sana. Sehingga dia tidak perlu terlalu khawatir soal jaminan kebersihan dan kesehatan makanannya. Yah, meskipun kedai ini berbeda dengan tempat Haewoon bekerja.

Mereka duduk tak jauh dari pintu, lalu memesan sesuatu yang sama. Donghae tahu apa kesukaan Kyuhyun dan lagipula pria itu tidak protes sama sekali. Kyuhyun hanya diam sejak masuk tadi. Kepalanya ditolehkan untuk melihat pemandangan para pejalan kaki di luar sana dan kedua tangannya tersimpan di saku celana.

Melihat itu membuat Donghae berdeham satu kali, menetralkan suaranya sebelum berkata, “Aku berniat menjenguk ayahku.” Yang otomatis membuat kepala Kyuhyun beralih kepadanya.

Kyuhyun mengernyit. Oke, ada sesuatu dengan mereka tentang ini. Dan sebenarnya Kyuhyun merasa sedikit tidak nyaman pada pria itu. Tapi dia tetap harus menghormati itu, toh Donghae yang sudah memulainya. Jadi ia mencoba bersikap santai. “Untuk pertama kali saat kau sudah dewasa?” tanyanya kemudian.

“Hm…”

“Kau yakin beliau akan percaya kalau kau anaknya?”

Donghae mengangkat bahu. “Setidaknya aku melihatnya dan mengatakannya. Itu cukup.”

“Kapan?”

“Mungkin hari minggu, aku akan berangkat sabtu.”

“Dengan Gi Hye?”

“Tidak.”

“Perlu aku ikut denganmu?”

“Tidak perlu, ini bukan liburan.”

Kali ini Kyuhyun yang mengangkat bahu. “Kau tahu semestinya aku memang bicara dengan ayahㅡ”

“Lupakan itu. Aku yang akan bicara padanya.”

Kyuhyun ingin bicara lagi, tapi pesanan mereka sudah datang. Mereka mengucap terimakasih bersamaan lalu mulai menyantap hidangan sederhana yang ada di hadapan mereka. Melupakan sejenak sebuah topik yang baru saja dibicarakan.

Dan Donghae diam-diam tersenyum kecil melihat Kyuhyun tampak fokus pada makanannya. Setidaknya dia berhasil mengalihkan perhatian pria itu dari lamunannya. Dan sesungguhnya dia juga tidak berniat memberitahu Kyuhyun tentang keberangkatannya, karena jujur saja dia belum yakin. Tapi daripada melihat Kyuhyun terus diam dan entah memikirkan apa, Donghae memutuskan untuk memberitahukannya. Lebih baik dia membuka pembicaraan daripada mereka diam saja.

“Tapi omong-omong, kenapa mendadak ingin bertemu dengannya?” tanya Kyuhyun tanpa menatap lawan bicaranya. Rupanya tidak sanggup menahan rasa penasarannya sampai selesai makan.

Dan Donghae lagi-lagi mengangkat bahu. “Entahlah. Aku bicara sesuatu dengan ibu kemarin dan kupikir inilah saatnya aku bertemu ayahku.”

“Tidak ada alasan lain?”

“Hm… sebenarnya tidak tapi…” Balas Donghae menggantung. Ia meletakkan sendoknya lalu bersandar di kursi, kali ini tatapannya yang jatuh pada para pejalan kaki. “Tapi kadang aku merasa ingin berada di tempat yang nyaman dan aman. Tempat di mana seharusnya aku berada. Dan bukankah rumah adalah tempat teraman untuk kita?”

Mulut Kyuhyun kontan berhenti mengunyah. Begitu pun tangannya yang baru hendak menyendok sup mendadak jatuh ke atas meja. Lalu tatapannya berubah kosong seolah ia baru tersadar akan sesuatu yang sempat dilupakannya.

“…bukankah rumah adalah tempat teraman…”

Rasanya tidak asing.

Seolah pernah mendengarnya tapi entah kapan dan di mana.

“…bukankah rumah adalah tempat teraman…”

Kyuhyun yakin pernah mendengarnya. Hatinya bilang begitu, tapi…

“Tidak ada tempat paling aman selain berada di rumahmu sendiri. Aku benar, ‘kan?”

Kyuhyun tiba-tiba mengangkat kepalanya. Dan sepersekian detik kemudian ia berdecak, memukul meja dan bahkan tersenyum lebar bak orang gila. “Aku mengingatnya!” ucapnya lantang, tanpa peduli tatapan orang sekitar. Dia hanya tertawa berkali-kali sambil menggeleng dan mengacak rambutnya sendiri. Oh, benar, dia mengingatnya! Apa yang pernah dikatakan Haewoon, Kyuhyun merasa itu dapat membantunya menemukan gadis itu. Astaga, kenapa tidak terpikirkan sejak kemarin?

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae kemudian, sempat terkejut dengan perubahan Kyuhyun yang tiba-tiba. “Kau sakit?”

“Tidak, tidak, I’m okay. Aku hanya… hanya baru saja mendapatkan petunjuk… hm… petunjuk tentang… hm… yah, itulah!” ucapnya terlampau senang, sampai tidak tahu lagi harus bicara apa. Kyuhyun bersumpah dia merasa seperti baru saja menang undian. Padahal petunjuk itu belum tentu benar. “Tapi yang jelas aku sangat berterimakasih padamu, Hyung.”

“Apa?”

“Ini,” Kyuhyun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan meletakkannya ke atas meja. “Terimakasih atas makan paginya dan anggap ini uang untuk menyewa mobilmu. Aku tidak tahu kapan kembali tapi akan kukembalikan segera. Oke? Terimakasih, Hyung. Aku mencintaimu.” Kyuhyun bicara cepat sekali, setelah itu berusaha berlari keluar dari kedai meski kakinya sakit sekali. Tapi persetan dengan itu semua. Kyuhyun ingin menemui gadis itu. Dan dia akan melakukan apa pun untuk bisa menemuinya lagi.

Sementara Donghae yang terjebak di kedai itu hanya bisa mendesah lelah. Dia hanya bisa mengejar Kyuhyun sampai pintu depan karena Kyuhyun sudah masuk mobil dan langsung melaju di jalan raya. Lebih lagi para pegawai kedai itu menatapinya dari jauh, yang tentu saja Donghae pahami apa maksudnya.

Justru itu ia yang tidak lagi bernafsu makan berjalan ke meja kasir, membayar tagihan makan mereka dan keluar dari sana. Sambil sesekali mendesah ia berjalan di atas trotoar, menunggu taksi yang lewat sambil berpikir apa yang harus dikatakannya pada Ahra tentang Kyuhyun yang sepertinya akan terlambat. Atau kemungkinan terburuknya pria itu tidak akan menghadiri rapat.


Sebenarnya Lee Daehan ingin mengajak putrinya makan di sebuah restoran yang terkenal di sana. Tapi dia lupa karena sebenarnya Haewoon lebih suka makan jajanan biasa, dan tidak menolak juga sebenarnya kalau diajak ke restoran. Tapi Haewoon bilang situasi sekarang sedang tidak membuatnya ingin makan di tempat mahal. Jadi mereka hanya membeli beberapa makanan di beberapa kedai dan membawanya ke toko buku.

Tapi, baru saja Haewoon melangkah masuk dan meletakkan belanjaan mereka ke atas meja di ruang tengah, salah satu karyawan ayahnya terdengar berteriak dan berlari dari lantai dua lalu…

“Paman! Dae Yeon eonni bi…!” suaranya sukses membuat langkah Haewoon terhenti hanya untuk melihatnya dan ternyata gadis itu tersentak saat menyadari kehadirannya. 

Haewoon yang melihat reaksi gadis itu di pertengahan tangga dengan cepat meletakkan telunjuknya di depan bibir. Menyuruh gadis itu diam. Tetapi tampaknya tidak mengerti, gadis bernama Na Byul itu menelengkan kepala, memerhatikan Haewoon lebih saksama sebelum kemudian menggangguk saat Haewoon berkata, “Katakan aku tidak ada.” Tanpa suara.

“Oh, maaf,” Na Byul yang mengerti maksud putri bosnya itu pun kembali menempelkan telepon ke telinganya, sambil berjalan perlahan menuruni anak tangga. “Kupikir beliau sudah datang. Ternyata Yu Yeol. Maafkan aku, eonni. Tapi Haewoon tidak ada di sini. Kami akanㅡ”

“Kau bohong, ‘kan?”

Byul melirik Haewoon yang berdiri di dekat meja sambil menata makanan sebelum menjawab, “Tidak. Aku tidak bohong. Mungkin dia sedang jalan-jalan.”

“Tapi diaㅡ”

“Kau tahu Haewoon suka sekali jalan-jalan.”

“Tapi kali ini diaㅡ”

“Kita tunggu saja. Oke? Aku yakin dia akan pulang. Kalau tidak kembali ke Seoul, dia akan ke sini. Oke, begitu saja. Terimakasih atas infonya, kututup dulu.” Dan Byul pun langsung memutuskan sambungan telepon mereka. Oke, cukup cepat dan mencurigakan sebenarnya caranya mengakhiri panggilan itu. Byul jelas ingat bagaimana tadi dia terkejut setengah mati saat diberitahu Haewoon hilang. Tapi hanya selang beberapa detik setelah melihat Haewoon, dia justru berubah seolah dia tidak peduli. Sejenak Byul terdiam, menutup mata sambil menghela napas sebelum mengalihkan tatapannya pada Haewoon yang tampak biasa-biasa saja.

“Hei, kau.” Panggilnya.

Haewoon berdeham. Masih sibuk dengan acara menata makanannya.

“Kenapa Dae Yeon meneleponku dan bilang kau hilang? Kau kabur, ya?” tanyanya setengah kesal.

Haewoon balas menatapnya singkat, lalu menjawab, “Tidak. Aku tidak kabur.”

Na Byul mendecih kecil, “Kau tahu dia sangat khawatir padamu? Suaranya sangat bergetar, cukup tahu saja.”

“Aku hanya sedang menenangkan diri.”

“Tapi kenapa Dae Yeon sampai begitu? Kau ada masalah, ya? Apa kau mencuri? Apa…” Byul menyipit menatap teman lamanya. “Kau sedang dikejar polisi?”

“Tutup mulutmu dan cepat mandi lalu makan sebelum aku melakukan sesuatu yang kau benci hanya untukmu.”

“Ah… jadi kau benar ada masalah, ya.”

Kepala Haewoon kontan menoleh pada gadis yang seumuran dengannya itu, “Masih belum mau diam?”

Byul mengangkat bahu, “Aku hanya mau tahu kenapa kau ada di sini sementara Dae Yeon mencarimu seperti orang gila. Kau tahu, untuk hari ini kau orang terjahat yang kutemui pertama kali setelah aku membuka mata.”

“Cepat pergi.”

“Jadi kenapa?”

“Kau sadar bagaimana tampangmu, eh? Kau mau aku yang memandikanmu? Kau mau akuㅡ”

“Oke!” potong Byul cepat. “Oke, oke, aku pergi.” Byul mengangkat kedua tangannya. “Tapi…,” gadis itu berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Haewoon. “Masalah apa yang sebenarnya kau buat, hm?”

Haewoon menggeram karenanya. Dan sebelum ia sempat mengangkat kepalan tangannya untuk menakuti Byul, gadis itu sudah berlari cepat menaiki tangga menuju kamarnya.

Haewoon menghela napas pelan melihat gadis itu. Kemudian melanjutkan merapikan makanan.

Oh, omong-omong Byul memang tinggal di sini. Dia suka sekali menulis dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya hanya untuk belajar menulis dan bekerja pada ayahnya. Byul juga menyewa salah satu kamar di toko ini. Dan kalau tidak salah, Haewoon mendengar kabar kalau Byul pindah kamar yang awalnya di lantai dasar ke lantai dua sekitar tiga bulan yang lalu karena katanya ada tikus yang masuk dan mengecup jari kakinya. Dan dia sangat trauma dengan kejadian itu.

Juga ada satu orang karyawan lagi yang belum datang. Dia orang yang tadi disebut-sebut Byul. Yah, Kim Yu Yeol, si lelaki banyak bicara yang sebenarnya seumuran dengan mereka. Tepatnya, mereka sudah bersama sejak sekolah menengah pertama.

Tapi meskipun begitu, hubungan mereka masih sangat baik sampai sekarang. Yu Yeol yang juga sama seperti Byul, lebih memilih bekerja dan belajar menulis daripada kuliah, sebenarnya anak orang kaya. Dia hanya suka hidup sederhana di kota kelahirannya saat keluarganya hidup sangat berkecukupan di Seoul sana. Berbeda dengan Byul yang berasal dari keluarga sederhana dan memutuskan untuk hidup mandiri di rumah toko ini.

Well… beginilah hidup di kota kecil. Sama seperti ayahnya, Haewoon suka sekali kota ini terlepas dari hal buruk apa saja yang pernah terjadi. Dia suka orang-orang yang respek padanya, saling membantu, kehangatan yang bisa ditemui di mana saja, yah… hal-hal menyenangkan semacam itu. Intinya kota ini tidak pernah membuatnya bosan.

Haewoon tertawa sendiri mengingat-ingat hal itu. Semenjak ia tinggal berdua saja dengan ayahnya, seingat Haewoon dia merasakan lebih banyak kesenangan daripada kesedihan. Dia punya banyak teman, tidak dikucilkan tapi justru dibanggakan karena keberaniannya, dan masih banyak hal lainnya. Yu Yeol dan Byul adalah penyemangatnya sejak dulu dan Haewoon tahu mereka akan selalu begitu.

Sejenak ia menatap jam dinding lalu kembali menata makanan yang mereka beli tadi ke atas meja. Sesekali ia bersenandung, menyanyikan lagu-lagu lama yang dulu sering dinyanyikannya saat pulang sekolah. Dan tanpa sadar kepalanya bergerak lagi menatap jam dinding, lalu mengalihkannya lagi.

Omong-omong kenapa ayahnya lama sekali? Beliau bilang hanya akan membeli beberapa roti untuk camilan saat menulis. Tapi kenapa tidak datang juga?

Haewoon memiringkan kepala, menyalakan ponsel Byul yang tertinggal di atas meja untuk melihat jam. Lalu memutuskan untuk menutupi terlebih dahulu semua makanan yang ada di sana, sebelum berjalan ke bagian depan toko untuk merapikan apa pun yang bisa dirapikannya.

Dan tidak lama setelah itu pintu depan terbuka, menampilkan sosok yang baru saja dipikirkannya.

“Appa, kenapa lama sekali?” tanyanya sambil mengambil alih kantung roti yang dibawa ayahnya. “Aku sudah menata makanannya. Ayo makan, Byul sedang mandi.”

“Kau sudah lapar?”

Haewoon menatap jam sejenak, “Belum. Aku sudah makan sereal tadi pagi tapi kalau kau lapar dan ingin makan sekarang akan kutemani.”

Daehan berdecak mendengarnya. Putrinya memang tidak berubah untuk hal yang satu ini. Dia tidak pernah mau menyerah soal makanan. “Nanti saja kalau begitu, tunggu Yu Yeol dan Byul. Kita makan bersama.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja.” Sahut ayahnya yakin. Dia memang sudah memakan sesuatu jadi menunda sarapan sedikit lebih lama lagi bukan masalah. Lagipula dia suka makan bersama. Apalagi saat ada Haewoon dan juga dua karyawan yang sudah seperti anak-anaknya itu. “Sekarang bantu aku bersih-bersih.”

Haewoon mengangguk mengiyakan. Tapi baru saja ia melangkah untuk mengambil peralatan kebersihan, telepon yang tergeletak di atas meja kerja berdering. Haewoon ingin memanggil ayahnya yang baru saja masuk ke toilet, tapi mengurungkan niatnya. Jadi dengan sedikit hati-hati ia menerimanya. Takut kalau-kalau itu Dae Yeon yang masih sibuk mencarinya. Ah… tentang gadis itu, Haewoon sangat meminta maaf karena sudah merepotkannya.


Sekitar lima belas menit sebelum jam rapat dimulai Donghae akhirnya tiba di depan gedung perusahaan. Ia menghela napas begitu keluar dari mobil taksi dan menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya itu. Well, dia bukan khawatir soal runtuhnya gedung itu dan kemungkinan menjatuhi dirinya. Tapi lebih pada seorang wanita yang bahkan keruntuhan gedung tidak lebih buruk daripada amukannya. Donghae harus menenangkan diri terlebih dahulu. Meskipun dia tahu akan dimarahi, setidaknya Donghae punya alibi. Tepatnya alasan kenapa dia datang sendiri.

Satu kali lagi ia menghela napas pelan, menatap jam tangannya sejenak lalu berjalan masuk sembari membenahi setelan yang dikenakannya. Beberapa orang yang melihatnya melintas sontak membungkuk, dan Donghae membalasnya sambil tersenyum ramah. Oh, jangan ditanya kenapa semua orang tampak sopan kepadanya. Ini bukan karena dia investor besar di perusahaan itu atau dia punya jabatan tinggi sekelas direktur. Tidak. Dia hanya sebatas sekretaris pribadi Kyuhyun. Keberadaannya bahkan terkadang tidak diperlukan. Tapi sebagai pekerja yang baik Donghae jelas harus selalu hadir. Apalagi kalau mengingat siapa dia sebenarnya. Donghae tidak boleh menyia-nyiakan pekerjaan begitu saja. Seperti sekarang ini contohnya.

Donghae berhenti melangkah di depan lift yang masih tertutup dan tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambilnya dari dalam saku dan… well, si penyihir itu sudah mulai meneleponnya. Sekarang saatnya Donghae memasang pertahanan diri yang lebih kuat.

Lantas pada dering ketiga panggilan itu yang bebarengan dengan terbukanya pintu lift, Donghae mengangkatnya sebelum melangkah masuk. “Ya, Nuna.” Ucapnya mencoba sesantai mungkin. Tidak ada orang yang naik lift selain dia jadi Donghae menempelkan ponsel ke bahu dan telinganya untuk menekan tombol lantai yang dituju. Mengingat dia juga membawa tas kerja di tangan kirinya.

“Di mana?” suara Ahra terdengar datar. Donghae yakin gadis itu sudah mulai meradang di seberang sana.

“Lift.”

“Baru datang?”

“Ya. Aku naik taksi.”

“Mobilmu?”

“Dipinjam teman.”

“Kyuhyun?”

Donghae mengerang tanpa suara, sebelum ia menjawabnya pelan, “Ya… Kyuhyun.”

“Ke mana lagi dia?”

“Dia tidak bilang apa-apa.”

“Kalau begitu cari.”

“Apa?” Donghae terbelalak tepat pada saat dentingan lift terdengar dan pintu terbuka. Mencarinya? Ini sudah sepuluh menit sebelum rapat dimulai dan mencari Kyuhyun sekarang…

“Rapat hari ini tidak ada gunanya kalau Kyuhyun tidak ada.” Ucap Ahra kemudian, suaranya terdengar melemah. “Aku tahu ini akan terjadi karena dia tidak pulang malam tadi. Jadi aku mengundurkan rapat ke jam dua siang nanti.” Hening sejenak sebelum kemudian, “Kau punya beberapa jam untuk mencarinya. Jadi cepat pergi.”

“Tapiㅡ”

Sambungan terputus.

Dan Donghae sontak berdecak, memandang ponselnya tidak percaya. Ahra menyuruhnya mencari Kyuhyun? Mencari Kyuhyun? Sial, ini jelas tidak mudah. Sejak pria itu kabur dengan mobilnya tadi Donghae sudah mencoba meneleponnya ribuan kali. Tapi Kyuhyun tetaplah Kyuhyun si kepala batu. Tidak ada satupun panggilannya yang diterima.

Tapi mau bagaimana lagi? Ahra bukan sembarang orang. Gadis itu bisa melakukan sesuatu tanpa disadari orang lain. Bukan takut padanya. Donghae hanya merasa sebagai pekerja dia memang harus melakukan apa yang diperintahkan padanya.

Jadi setelah sampai di ruangannya yang bersambung dengan ruangan Kyuhyun, Donghae menghempaskan tubuhnya di kursi. Menatap ponselnya yang lagi-lagi ia gunakan untuk menelepon Kyuhyun tanpa tahu harus berbuat apa lagi.

Satu hal yang Donghae tahu sejak ia mengenal Kyuhyun adalah keberadaan pria itu tidak akan pernah diketahui kecuali kau membuntutinya diam-diam sejak dia bangun tidur di pagi hari. Kyuhyun sangat pintar menyimpan sesuatu. Dan ketika ia pergi seperti sekarang iniㅡdi mana Kyuhyun tidak berkata apa punㅡ Donghae yakin pria itu sudah melakukan sesuatu agar keberadaannya tidak terbaca. Artinya Kyuhyun tidak mau ada yang mengikutinya.

Donghae mendesah lelah ketika panggilan itu tidak diterima juga. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Mencoba berpikir. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering dan ia dengan cepat mengangkat kepala, hanya untuk melihat nomor asing yang tertera di layar ponselnya. Oke, nomor asing. Bukan nomor Kyuhyun.

Jadi dengan perasaan sedikit malas ia menerima panggilan itu, meletakkannya ke telinga. “Halo, denganㅡ”

“Hyung.”

Tubuh Donghae kontan menegap begitu mendengar suara itu. Oh, ini suara Kyuhyun.

“Hyung, ini aku.”

“Benar kau?” tanya Donghae sangsi. Dan Kyuhyun membenarkannya di seberang sana. “Ada di mana kau sekarang, eh? Kau tahu nuna menakutkan sekali meskipun dia hanya meneleponku dan itu karena kau? Sekarang cepat kembali ke kantor, rapat diundur jadi jam dua siang nanti.”

“Maaf, tapi aku tidak bisa kembali sekarang.”

Donghae memiringkan kepalanya dengan kening mengerut dalam.

“Mobilmu mogok lagi dan aku meninggalkannya di bengkel. Tapi aku tetap harus pergi. Soal rapat akan kuurus sendiri dan aku akan menelepon nuna. Maaf merepotkanmu. Tapi kau tidak berniat melacak keberadaanku dari nomor ini, ‘kan?”

“Aku baru saja berpikir untuk melakukannya.”

“Oh, ayolah… aku benar-benar ada urusan penting.”

“Sepenting apa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya.”

“Lalu bagaimana denganku? Apa yang harus kukatakan pada nuna? Dan bagaimana juga dengan Hyunoo? Kau akan membawanya? Atau kauㅡ”

“Maaf sekali lagi tapi aku tidak mengajaknya. Tolong jemput dia hari ini. Katakan saja aku sedang sibuk.”

“Tapiㅡ”

“Aku akan meneleponnya segera. Oke?”

“Kapan kau kembali?”

“Besok.”

“Tidak bisa hari ini?”

“Akan kuusahakan.”

Donghae mendesah frustasi. Baru saja dia merasa lega, sekarang Kyuhyun lagi-lagi membuatnya gila. “Sebaiknya katakan saja ke mana kau sebenarnya. Aku perlu perlindungan diri dari nuna, kau tahu.”

“Oke, begini saja,” Kyuhyun terdengar berdeham di seberang sana. Donghae bisa tahu sekarang pria itu sedang menaruh sikunya ke atas telepon umum sambil memijit keningnya. “Jangan pergi dari ruanganmu sebelum aku meneleponmu. Aku akan bicara dengan nuna jadi kau cukup diam saja. Oke?”

“Kau yakin itu membantu?”

“Tentu saja.”

Donghae menyandarkan punggungnya dan sejenak mengangkat ponsel dari telinga, melihat jam sebelum menempelkannya kembali. Well… dia tidak punya pilihan lagi. Toh membujuk Kyuhyun untuk kembali tidak akan berhasil juga. Jadi setelah terdiam selama beberapa detik ia pun menghela napas, mengiyakan permintaan Kyuhyun sebelum memutuskan panggilan secara sepihak lalu menjatuhkan kepalanya ke atas meja begitu saja.

Ini terdengar sepele. Memang. Tapi percayalah ini tidak sesepele itu. Donghae tahu bagaimana kalau Kyuhyun bertengkar dengan Ahra. Tidak akan ada yang mau mengalah dan… dan itu sungguh buruk sekali untuk pendengaran siapa pun yang ada di dekat mereka. Ini bisa jadi peperangan yang akan berlangsung lama.

Donghae menghela napas sekali lagi, lelah sekali sampai rasanya dia mau pulang dan menyembunyikan dirinya di balik selimut tanpa mau tahu apa yang terjadi pada dunia. Tapi begitu dua ketukan ringan yang sudah menjadi panggilan untuknya terdengar dari arah pintu, Donghae kontan mengangkat kepalanya, lantas tersenyum lebar melihat seseorang yang sangat diharapkannya berdiri di depan sana.

“Hai, sayang.”


Terkurung di dalam toko yang sebenarnya dihabiskan Haewoon dengan menonton televisi di ruang tengah ternyata tidak berhasil membunuh kebosanannya. Dia ingin jalan-jalan. Tapi dia merasakan sesuatu yang aneh yang dia sendiri tidak tahu harus menggambarkannya bagaimana. Haewoon sesekali berjalan ke luar toko, menatap sekeliling lalu masuk lagi sambil melihat jam. Entah sudah berapa kali ia seperti itu yang jelas hari ini dia peduli sekali pada jam dinding. Kepalanya menoleh lebih sering daripada biasanya pada benda itu dan buruknya ini baru dua jam dia di sana tanpa Byul atau teman mengobrol tapi entah kenapa rasanya lama sekali.

Sangat membosankan.

Dia sedang tidak mood membaca buku dan Byul sedang ke percetakan untuk mengecek sesuatu. Ayahnya juga sedang menulis di depan sambil menjaga toko. Haewoon ingin membantu, tapi tidak tahu harus bagaimana. Pekerjaan ayahnya jelas bukan keahliannya. Dia tidak akan membantu sama sekali.

Lagi, gadis itu menoleh pada jam dinding dan melenguh tahu sudah hampir setengah jam sejak ia berbaring di sofa dan memikirkan segala sesuatu dalam hidupnya. Kenapa baru setengah jam? Dia bisa mati bosan kalau seperti ini caranya.

Haewoon mengerucutkan bibirnya setelah mematikan televisi dan membuang tatapannya ke arah jendela berukuran sedang di sisi kirinya. 

Ada pot bunga kecil di sana, dengan bunga aster berwarna kuning yang sangat nyaman dipandang mata. Haewoon tahu pastilah Byul yang menanamnya. Gadis itu penyuka warna kuning, cukup tahu saja. Karena katanya tidak banyak orang yang suka warna kuning, sehingga dia tidak perlu takut kalau miliknya diambil orang lain.

Tapi kalau dipikir-pikir benar juga.

Haewoon memiringkan kepala menatap tanaman itu lebih dalam. Dia tidak tahu kapan tepatnya Byul menanam bunga itu. Tapi kelihatannya gadis itu merawatnya dengan sangat baik. Mungkin karena itu dia tidak suka kalau ada yang mengambil miliknya.

Yah… mengambil miliknya.

Kehilangannya.

Haewoon sontak tertawa kecil menyadari sesuatu yang melintas begitu saja, mengganggu khayalannya tentang bunga aster milik Byul. Tangannya bahkan sontak terangkat, menyeka sesuatu yang menetes tanpa peringatan dari sudut matanya.

Hah… Kenapa teringat lagi? Erang Haewoon dalam hati.

Dia sudah bersusah payah melupakannya karena… yah, dia sudah bilang inilah takdirnya. Haewoon harus menerimanya.

Meskipun orang yang disukainya ternyata adalah orang yang mengambil miliknya, Haewoon rasa dia tetap harus bersabar dan terus menghadapinya.

Ya, lagi-lagi bicara tentang ‘mengambil miliknya’.

Ia menghela napas pelan. Berpikir sejenak sebelum memutuskan sesuatu dan ia bangkit berdiri. Kepalanya menoleh ke sekitar, tidak tahu juga sedang mencari apa jadi ia mengangkat bahu. Lantas berjalan ke luar menghampiri ayahnya.

“Appa,” panggilnya. Membuat Daehan mendongak sebentar dari monitor di depannya. “Aku mau jalan-jalan, tapi dompetku tertinggal di rumah dan akuㅡ”

“Minta uang?” potong Daehan yang tahu maksud putrinya.

Dan Haewoon mengangguk membenarkan sebelum mereka tertawa bersama. Daehan juga tanpa banyak tanya mengeluarkan dompet dan memberinya beberapa lembar uang. Daehan tahu kebiasaan putrinya yang berkata ingin jalan-jalan berarti menghabiskan waktu mengunjungi toko-toko makanan. Dan memberinya kartu kredit untuk hal itu adalah ide terburuk yang diketahuinya.

“Terimakasih, Appa. Kalau aku tidak kembali sampai malam mungkin aku menginap di rumah Yoo Kyung.” Ucapnya sambil memasang sepatu. Untuk info saja, Yoo Kyung adalah sepupunya dari pihak ayahnya. Ibu Yoo Kyung adalah adik Daehan yang paling muda.

Setelah itu Haewoon pun melangkah keluar dari toko. Tapi angin dingin mendadak menyerangnya, membuat Haewoon mendongak dan dia baru menyadari betapa gelapnya langit di atas sana. Haewoon pun menarik topi pada hoodie yang dikenakannya, menyimpan tangan di saku lalu berjalan cepat menyusuri trotoar jalan yang tampak lebih ramai. Beberapa orang bahkan berlari kecil untuk menghindari titik-titik hujan yang perlahan turun, lagi-lagi membuat Haewoon mendongak dan satu tetes air jatuh ke pipi kanannya.

Sial! Dia bahkan baru berniat membunuh kebosanannya dengan jalan-jalan tapi ternyata cuaca sangat tidak mendukungnya.

Haewoon mengerucutkan bibirnya kesal, sambil mempercepat langkah kaki ia mengedarkan pandangannya. Kalau tidak salah ada kedai kecil yang makanannya enak dan murah di sekitar sini. Haewoon sering ke sana saat masih sekolah dulu bersama Byul dan Yu Yeol tapi entahlah sekarang. Terakhir kali mereka ke sana sudah beberapa tahun yang lalu.

Haewoon semakin ke pinggir saat orang-orang tanpa sengaja menubruk bahunya, karena ternyata air hujan mulai turun semakin deras. Bahkan tubuhnya sedikit basah karena cipratan air, membuat Haewoon semakin melangkah minggir. Haewoon mendesah, sejenak berhenti dan menempelkan tubuhnya ke dinding toko untuk memberi jalan orang-orang yang tidak ingin terkena hujan. 

Kenapa bisa mendadak hujan seperti ini? Seingatnya hari ini cuaca bagus sekali. Yah, setidaknya sampai Haewoon memutuskan untuk jalan-jalan sendiri. Well, siapa yang tahu? Bisa saja ‘kan satu menit lagi matahari muncul dan cuaca jadi cerah lagi.

Haewoon mendecih kecil sambil menunduk menatap kakinya yang mulai basah. Lagi-lagi karena takdir. Hah! Ternyata takdir berperan sangat besar sampai dia tidak tahu lagi harus berbuat apa selain melewatinya.

Haewoon mendongak untuk melihat jalanan yang tidak lagi terlalu ramai sehingga dia bisa berjalan. Sejenak ia terdiam sambil menatap toko roti yang ada tepat di seberang jalan. Saat dingin dan hujan bukankah enak makan roti dan segelas cokelat hangat? Haewoon bertukar pikiran dengan dirinya sendiri. Tapi dirinya yang lain masih ingin pergi ke kedai yang tadi dibicarakannya. Tapi godaan tentang roti sangat menggiurkan…

Haewoon menggigit bibir bawahnya dengan sengaja, berpikir apakah ia akan menyeberang dan membiarkan dirinya basah tapi setelah itu menikmati cokelat hangat. Atau berjalan pelan di pinggiran toko untuk mencari kedai itu. Hm…, kalau tentang makanan bagi Haewoon ini memang pilihan yang sulit. Sama seperti dia yang tidak terlalu suka memilih makanan. Namun nyatanya, setelah beberapa detik dihabiskannya hanya untuk menatap jalanan di depannya, Haewoon akhirnya memantapkan diri. Ia membenahi topinya sejenak, memasukkan tangan ke saku sebelum berlari kecil ke penyeberangan dan satu setengah menit kemudian ia sudah tiba di depan toko roti yang bahkan dari luar saja sudah terasa kehangatannya.

Ia melangkah masuk dengan sedikit tergesa. Lalu melepas topi dan memerhatian keadaan sekitar sebelum tersenyum lebar begitu menemukan kue favoritnya. Yah, cheesecake kecil dengan es krim vanilla di atasnya. Haewoon mengambil satu potong, lalu beberapa kue kecil dengan berbagai rasa. Ia juga memesan segelas cokelat hangat yang begitu diberikan padanya uapnya mengepul ke udara, memberitahu Haewoon betapa nyamannya menikmati minuman itu di cuaca dingin seperti sekarang.

Haewoon memilih duduk di lantai dua karena di sana lebih hangat, dan  dekat jendela kaca besar yang untuk sekarang sedikit berembun karena terkena percikan air hujan. Senyum di wajahnya tidak pernah luntur, karena apa yang diinginkannya kini tersuguh di depan matanya. Dan mungkin juga karena dia tanpa sengaja lupa tentang sesuatu yang belakangan mengganggunya.

Tapi, baru saja Haewoon menangkup cangkir cokelatnya, meresapi kehangatan itu melalui kedua telapak tangannya ketika tiba-tiba saja bangku kayu di seberangnya bergerak dan seseorang duduk di sana. Yang sontak saja membuat Haewoon membeku dan lupa kehangatan seperti apa yang baru saja dirasakannya.

Advertisements

Author:

crazy girl called 'me'

43 thoughts on “11th ENCHANTED

  1. Akhirnya eon dipost jg ni lanjutannya stlh sekian lm 😀 q kepo jg bnr g sih donghae kakak haewon ??ank lee daehwan Knp dy dibuang dlunya knp dy bru mau ktmu ayahnya skrg????emnk ayah haewon g nyariin y???? Kira” haewon udh ngambil kputusan lom ttg kyuhyun y stlh dy balik keseoul ?? Dtunggu neeeeeeext fighting eon ^_^

  2. Bacanya udh semalem tinggal komen coz semalem jaringan error jd gatot mulu kkkk.. Appanya haewon bijak bgt ya.. And ga nyangka kyu nekat jg nyari haewon sampe segitu nya kkk..

      1. Thank youuu… aku juga kangen hyunoo. Kadang mau bikin fic kaya dulu yang cuma dia sama kyu atau dia sama haewoon tapi aku ga dapet feel sama sekali. Dan baca komen komen kalian kek gini bikin aku semangat lagi sumpah. Makasih ya sekali lagi

  3. Akhirnya update juga 😀😀 udah lama nunggu ni ff .. apa benar donghae itu kakaknya haewoon ? Apa donghae dulunya dibuang .. eh sepertinya yg duduk diseberangnya haewoon kyuhyun deh

    1. Maaf ya lama… aku galau banget nulis chap ini entah kenapa. Ditambah wordpress kalo di hape berubah habis di update, jadi hasil ketikan aku berantakan dan aku harus ngedit satu satu lagi dan sialnya lagi pas di post malah gaada perubahan. Btw thanks ya udah nunggu:)

  4. masih belum ketahuan nih sebener.a ada masalah apa ibu.a kyuhyun n haewoon
    apa ibu.a kyuhyun itu ibu.a haewoon juga(?)
    ah penasaran nih sama masalah.a haewoon
    wah jangan bilang itu kyuhyun
    aw aw aw kkk

  5. pasti itu kyuhyun yg duduk didepan’a haewon hhhhp
    mpe jd kaku gitu saking rindu’a tuhhhh

    kyuhyun kyk orang gila ditinggl haewon,kyuhyun donghae’a kocak bgt tuh hhhh

  6. Kyu yg dateng kan????
    Kirain kyu frustasi karena kehilangan haewon sampai ngamuk mecahin barang2 di apartemenya, ternyata karena g sengaja….. lo donghae jadi nemuin ayahnya selama masih ada haewon bakalan ketemu mereka,,,,,

  7. akhirnya kakkk post juga ff-nyaa *walau harus tunggu lama*
    semangat terusss kak nulisnyaa ^^ fighting!
    p.s; kalo bisa ff yg careless wife dipost lagii. tolong😝😝

    thankyouu❤️

    1. Maaf banget. Si careless wife sebenarnya tetep aku tulis. Udah banyak, tapi blm dapet feel buat endingnya. Sorry lama. Aku usahain cepet ya. Makasih sudah nungguu

  8. Akhirnya update :’) *telat* wkwkwk thor serius deh ngga sabar nunggu kelanjutannya dan akhirnya update jg, semoga next part cpt ya updatenya, ini aja seru pasti next part lebih seru>< ngga sabar baca kelanjutannya

  9. Sumpah baru inget lagi sama ini ff 😀
    Dulu pernah berfikir kalo ibu haewoon ninggalin haewoon trus sekarang jadi ibu tiri kyuhyun.
    Tapi sekarang entah lah binggung juga konflik nya kyak gimana, masih samar2 buat nebak nya juga, jadi penasaran berat hahaha
    Jujur aja tadinya aku kurang nyambung baca part ini karena udah lupa cerita awal nya. Hehe 😀
    Semangat nulis karya2 nya lagi ya kak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s