10th ENCHANTED

image

Pagi-pagi sekali di rumah itu, Haewoon sudah merapikan segala hal yang tadi malam tidak sempat dibersihkannya. Sementara Kyuhyun langsung terbangun begitu mendengar Haewoon menjatuhkan sesuatu di dapur dan sekarang pria itu sedang di kamar mandi.

Oke, tunggulah sebentar dan kau akan merasakan jantungmu berdetak normal lagi.

Haewoon mengangguk-angguk sambil mencuci piring. Cukup tahu saja, tengah malam tadi Hyunoo tiba-tiba terbangun, meminta susu dan mencari ayahnya dan sialnya Kyuhyun menghilang entah ke mana. Haewoon sedikit gila karena perkataan Kyuhyun sebelumnya sampai dia lupa bagaimana caranya membuat susu. Dia justru membuat kopi. Lalu tersadar dan segera menggantinya dengan susu Hyunoo yang sebelumnya Kyuhyun beli. Tapi lagi-lagi dia tidak sadar dan terlalu banyak menuang takarannya. Tidak ada pilihan selain membuangnya karena Haewoon takut Hyunoo sakit perut. Dan begitu dia sudah meyakinkan diri untuk membuat susu dengan benar, Kyuhyun tiba-tiba datang dan membantunya. Bahkan menggendong Hyunoo yang menangis sampai anak itu kembali tidur lalu mengajaknya makan ayam goreng.

Pria itu bilang dia kelaparan. Jadi keluar tengah malam untuk membeli makanan dan sayangnya Haewoon menolak, dia memilih melanjutkan tidurnya karena… Sungguh! Melihat Kyuhyun hanya membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas. Dia tidak mau mati sekarang.

Lantas sekarang, begitu ia selesai membersihkan dapur dan berniat membangunkan Hyunoo, dia kembali dibuat merasa aneh karena ternyata di dalam kamarnya anak itu sedang bermanja-manja dengan ayahnya.

Oh, Tuhan… dia pasti sudah gila. Bagaimana bisa membeku di depan pintu kamarnya sendiri sambil menonton tingkah mereka dan… Hei! Apa dia sedang tersenyum?

“Oh, Imo!” pekik Hyunoo yang menyadari kehadirannya.

Haewoon segera menyadarkan diri, lalu tersenyum kecil sambil melangkah mendekat untuk membuka jendela.

“Apa tadi malam Hyunoo tidur dengan Imo?”

“Hyunoo lupa?”

Anak itu mengangguk.

“Benarkah? Hyunoo lupa kalau tadi malam Hyunoo tidak seperti biasanya?”

Hyunoo menoleh pada ayahnya yang bertanya, “Bagaimana?”

“Begitulah.” Sahut Kyuhyun, tidak berniat menjelaskan. “Sekarang ayo, Hyunoo harus sekolah hari ini.”

“Tapi ini pagi sekali,” anak itu merangkak di atas tempat tidur untuk melihat suasana di luar jendela. “Lihat, mataharinya saja belum naik.”

“Kita harus pulang dulu. Bersiap-siap, makan pagi lalu baru berangkat.”

“Apa Imo akan ikut?” Hyunoo beralih pada Haewoon yang masih berdiri di depan pintu.

“Tentu tidak. Imo harus bekerja.”

“Di kedai itu?”

Haewoon memiringkan kepala, lalu sedetik kemudian mengangguk mengiyakan. “Ya, kedai yang waktu itu Imo bilang.”

Hyunoo menoleh pada ayahnya, “Appa, ayo makan di sana pulang sekolah nanti.”

“Kalau tidak sibuk.”

“Ayolah…”

“Kalau tidak sibuk. Oke?”

“Sebentar saja.”

“Lihat nanti, Cho Hyunoo.”

“Appa…”

Kyuhyun tidak menjawab lagi. Pria itu bahkan segera mengangkat tubuh Hyunoo, membawanya ke kamar mandi tanpa peduli rengekan anak itu yang membuat Haewoon tertawa sendiri. Lihat, dia suka dengan cara Kyuhyun menyikapi keinginan Hyunoo. Tidak selalu dituruti meskipun dia kaya raya.

Berbeda dengan Haewoon. Di sebuah kamar apartemen yang cukup besar itu, Kang Dae Yeon justru tidak menutup matanya sama sekali bahkan sampai matahari menjunjung tinggi. Dia tidak tidur, tidak juga menyentuh makanan karena menurutnya ada sesuatu yang lebih penting. Matanya terasa panas, berair dan tidak dapat dipungkiri kalau tubuhnya sudah berteriak kelelahan. Tapi Dae Yeon tetap berusaha duduk tegap, menggerakkan kesepuluh jarinya di atas papan tombol komputer demi menemukan sesuatu yang sebenarnya sangat tidak ingin ditemukannya.

Sepulang dari rumah Haewoon tadi malam, salah satu temannya yang bekerja di perusahaan milik ayah Hyunoo langsung mengiriminya berkas yang dimintanya. Tepatnya data diri pribadi Cho Kyuhyun yang sebenarnya sudah lama diketahuinya meskipun mereka tidak kenal dekat.

Pria itu terkenal tempramen. Mudah marah saat di kantor apalagi kalau ada yang berbuat kesalahan. Meskipun tampan dan kaya raya, kepribadiannya tetap saja buruk. Dae Yeon tahu sendiri karena perusahaan tempatnya bekerja pernah menjalin hubungan dengan perusahaan Kyuhyun dan dia melihat sendiri bagaimana sikap dingin pria itu dan bagaimana wanita-wanita cantik menempel padanya dan… entahlah. Sejak saat itu Dae Yeon tahu kalau timnya akan bekerja sama dengan seseorang yang sulit seperti Cho Kyuhyun. Intinya, dia sudah tidak menyukai pria itu sejak lama.

Tapi, ada satu hal yang membuat Dae Yeon rela tidak tidur semalaman hanya untuk mengetahui kebenaran.

Dan itu kebenaran bahwa Cho Kyuhyun sudah mempunyai seorang putra yang bernama Hyunoo.

Tidak, tidak, sebenarnya bukan itu masalahnya. Bukan tentang Kyuhyun yang sudah punya anak. Tapi bagaimana bisa Kyuhyun itu punya anak? Yang Dae Yeon tahu Kyuhyun masih lajang dan… Kyuhyun terlalu muda untuk jadi ayah dengan anak laki-laki sebesar Hyunoo. Lebih lagi, Haewoon menyukai pria itu. Dae Yeon ingat dengan sangat jelas apa yang dikatakan Haewoon kemarin. Oh, astaga, itulah masalah terbesarnya. Dae Yeon tidak bisa membiarkan sahabatnya menyukai seorang pria yang bahkan tidak tahu punya anak dari siapa.

Dae Yeon mengerjap cepat, menyadarkan diri dari lamunan sesaatnya sebelum kembali berkutat dengan layar datar di hadapannya, juga beberapa kertas yang berserakan di atas meja. Sejauh ini Dae Yeon belum mendapatkan data pribadi Kyuhyun. Dia hanya tercatat sebagai putra dari keluarga Cho. Tidak ada keterangan jelas mengenai Hyunoo. Bahkan saat bertanya pada temannya tadi, Dae Yeon menangkap fakta kalau sepertinya tidak banyak yang tahu mengenai Kyuhyun yang sudah punya anak. Pria itu menyembunyikannya dengan rapat. Tapi Dae Yeon harus menemukannya, siapa Hyunoo sebenarnya agar dia bisa tenang jika Haewoon benar-benar menyukai pria itu.

“Terimakasih. Silakan datang kembali.” Ucap Haewoon sambil membungkuk sopan. Senyumnya tidak pernah luntur selama hampir dua jam ia berdiri di balik meja kasir ini dan dia cukup bersemangat hari ini. Tentu saja setelah berusaha keras melupakan ‘yang malam tadi’ dan berpikir bahwa dia harus jadi normal lagi.

Haewoon mengedarkan pandangannya, menghitung berapa meja yang terisi dan berapa yang kosong. Lalu tersenyum sebelum menarik kursi tinggi dan duduk di sana, sempat juga melambai singkat pada temannya yang bertugas di depan pintu.

Hah… beginilah kesehariannya. Bekerja di kedai ini dan hanya diberi jatah empat jam sehari. Dia pekerja paruh waktu. Kapan saja bisa datang asalkan pulang setelah empat jamnya selesai. Lalu biasanya dia ke rumah-rumah langganannya yang biasa menitipkan anak kecil kepadanya. Bukan hal sulit menurut Haewoon. Dia menikmati semua yang dilakukannya. Selagi dia senang dan itu menguntungkan, bukan masalah.

Haewoon tersenyum sendiri, memikirkan segala macam hal yang ada di dalam kepalanya dan mendadak wajahnya berubah.

Sesuatu melintas dipikirannya

“Gadis yang katanya bisa tiba-tiba gila karena teringat kenangan terburuk dalam hidupnya.”

Oh, astaga… pria itu tidak sungguh-sungguh, bukan? Haewoon jelas tahu itu tertuju padanya. Tapi apa benar Kyuhyun punya perasaan padanya? Tidak, tidak. Berhenti memikirkan itu. Haewoon harus bekerja. Yah, benar. Gadis itu menepuk kepalanya, mengangguk beberapa kali untuk meyakinkan sendiri sebelum berdiri untuk melayani dua orang gadis yang baru datang.

Dengan ramah Haewoon bertanya apa pesanan mereka dan mengatakan tagihan yang harus dibayar. Tapi belum sempat ia memberikan uang kembalian, salah satu temannya berlari dari belakang dan berkata ada yang menelepon, mencarinya. Haewoon sempat berpikir siapakah orang itu dan begitu menyadarinya, Haewoon dengan segera memberikan kembalian itu dan meminta yang lain untuk menjaga kasir.

Haewoon berlari kecil ke dapur yang tampak tidak terlalu sibuk, menghampiri telepon yang dibiarkan menggantung itu untuk menerima panggilannya. Haewoon ingat tadi Kyuhyun berkata kalau mungkin dia sibuk sekali hari ini, jadi Kyuhyun ingin menitipkan Hyunoo padanya. Maka dari itu Haewoon memberikan nomor telepon kedai karena dia tidak punya ponsel.

“Cho Kyuhyun-ssi?” tanyanya langsung setelah mengangkat telepon itu. “Ini aku.”

“Oh, bisa kau bantu aku sekarang? Apa kau sibuk?”

“Menjemput Hyunoo?”

“Kau sibuk?” tanya Kyuhyun sekali lagi.

Dan Haewoon mengedarkan pandangannya selama beberapa saat, “Tidak juga. Aku bisa minta izin kalau harus menjemput Hyunoo.”

“Tidak apa-apa? Aku sungguh sedang sibuk.”

“Selesaikan saja pekerjaanmu, di kedai tidak terlalu ramai. Aku bisa pergi sebentar.”

“Kalau begitu terimakasih. Maaf merepotkanmu.”

“Bukan masalah.” Haewoon mengangkat bahu.

“Kau tahu sekolahnya, ‘kan? Kalau bingung berikan saja kertas alamatnya pada sopir taksi.”

“Aku tahu. Tenang saja.”

“Baiklah, terimakasih.”

Haewoon berdeham pelan sebagai jawaban sebelum meletakkan gagang telepon itu ke tempat semula. Ia berbalik, mencari bibi pemilik kedai dan tersenyum lebar begitu melihatnya sedang membuat sesuatu di salah satu meja yang ada di sana.

“Bi, boleh aku izin satu jam?”

Wanita setengah baya itu menoleh padanya, “Ada apa? Kau bilang hari ini tidak ada kelas.”

“Ada pekerjaan mendadak.”

“Kau sedang bekerja, sayang.”

“Maaf, maksudku ada anak kecil yang harus kujemput dan kuantar pulang. Sebentar saja.”

“Berjanjilah untuk kembali.”

Haewoon mengangguk yakin. “Satu jam, oke?”

“Jangan bohong.”

“Kapan aku tidak menepati janjiku, Bi? Aku juga akan bekerja lebih lama hari ini.”

“Sudahlah sana pergi dan cepat kembali.”

Haewoon tersenyum senang dan sontak memeluk wanita itu penuh sayang. Cukup tahu saja, dia adalah wanita yang menemukan Haewoon dan mengajaknya bekerja di kedai ini sejak pertama kali Haewoon tiba di Seoul. “Aku pergi dulu.” Ucapnya berbisik. Lalu berlari ke ruang ganti untuk mengambil tas dan jaketnya sebelum berlari lagi ke luar kedai.

Haewoon berjalan ke halte terdekat sambil memasang jaket dan meletakkan ranselnya di depan dada, mencari kartu bus dan begitu menemukannya, kebetulan bus yang akan dinaikinya sudah datang. Haewoon berlari kecil, masuk ke dalam bus itu sambil sedikit menyerobot dan duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana.

Tanpa sadar Haewoon tersenyum. Tidak. Dia bukannya tidak sadar sedang tersenyum karena gadis itu selalu tersenyum. Tapi tepatnya Haewoon tidak sadar kalau dia tersenyum sambil memikirkan apa yang akan dilakukannya hari ini. Entah mengapa, Haewoon merasa titik tersenang dalam dirinya hari ini sedang dalam puncak tertinggi. Haewoon tidak bisa menjelaskannya lebih rinci karena dia saja masih belum bisa mengerti.

Dia hanya akan menjemput Hyunoo di sekolahnya lalu mengantar anak itu pulang dengan selamat sampai di rumah. Begitu saja. Dan lagi pula ini sudah biasa. Haewoon sering melakukan pekerjaan semacam ini karena dia hanya bertugas menjemput, lalu dia dapat uang dan dia bisa sekalian jalan-jalan. Itu menyenangkan meskipun bayarannya kecil. Tapi, Haewoon tidak pernah merasa sesenang ini. Entahlah, mendengar suara Kyuhyun yang meminta tolong padanya untuk menjemput Hyunoo terasa seperti sesuatu yang luar biasa. Tidak pernah terpikirkan olehnya. Intinya, dia senang karena pria itu sangat memercayainya dan bisa mengandalkannya.

Haewoon mendecih kecil tanpa kehilangan sedikitpun senyum di wajahnya. Kenapa seperti ini? Haewoon menunduk, tertawa kecil kalau lagi-lagi teringat apa yang dikatakan Kyuhyun malam tadi.

“Aku sudah gila.” Ucapnya pelan, mengangkat kepala dan bersandar di kursi sambil menatap jalanan ramai di depan sana.

Lantas setelah beberapa belas menit berlalu dalam kediamannya, Haewoon akhirnya menekan bel dan bus berhenti di halte terdekat. Dia tahu di mana sekolah Hyunoo saat Kyuhyun memberitahunya tadi pagi. Jadi tidak sulit untuk menemukannya. Haewoon hanya perlu berjalan satu blok dari halte tempatnya turun tadi lalu belok ke kanan. Dan sekitar seratus meter dari sana tepatnya di kanan jalan, Haewoon bisa melihat pagar beton besar dengan tulisan nama sekolah di bagian atasnya.

Tapi belum sempat Haewoon mendekat ke pintu gerbang sekolah itu, seseorang memanggilnya dari arah seberang jalan dan Haewoon tahu itu adalah Hyunoo.

“Imo!”

“Tunggu.” Ucap Haewoon tanpa suara. Lalu menyeberang jalan, menghampiri Hyunoo yang duduk sendiri di sebuah kursi kayu yang dibentuk melingkar di sekeliling pohon besar. “Kenapa di sini?”

“Hyunoo suka menunggu sini.”

“Memang selalu di sini?”

Hyunoo mengangguk.

“Tapi di sini bahaya. Lain kali tunggu di depan sekolah saja, mengerti?”

“Di sana tidak ada tempat duduk.”

“Hyunoo bisa duduk di dalam.”

“Nanti tidak tahu kalau appa datang.”

Appa pasti akan bertanya pada penjaga sekolah, ‘kan?”

“Tapi Hyunoo suka di sini.”

“Lain kali jangan lagi. Banyak orang asing di sekitar sini.”

Hyunoo mengerucutkan bibirnya, tapi tetap mengangguk mengiyakan karena wajah Haewoon sangat serius. Sepertinya… “Apa Imo marah?”

Haewoon mengerutkan keningnya. Lalu tersadar akan sesuatu dan ia segera menghela napas, perlahan tersenyum dan menjawab, “Tidak marah. Hanya sedikit khawatir karena Hyunoo di sini sendirian.”

Imo khawatir? Benarkah?”

Haewoon membenarkan. “Maka dari itu jangan menunggu di sini sendirian. Jangan membuat Imo khawatir. Mengerti?”

Hyunoo mengangguk lagi. “Hyunoo janji tidak akan duduk di sini lagi.”

“Tepatnya jangan sendirian.”

“Iya, Hyunoo berjanji.” Anak itu mengambil tangan Haewoon dan meletakkannya di dahinya. “Sudah tercatat.”

Haewoon tersenyum senang. Kemudian ia mengajak Hyunoo pulang. Tadi pagi Kyuhyun membayarnya lebih dulu, katanya untuk biaya transportasi menjemput Hyunoo, jadi sekarang Haewoon memutuskan untuk naik taksi. Setidaknya dia membuat Hyunoo nyaman daripada naik bus.

“Hyunoo ingat jalan ke rumah, bukan?”

Hyunoo mengiyakan sambil menempelkan keningnya ke jendela taksi. “Terus saja, Paman. Nanti ada toserba besar lalu belok kiri.”

Haewoon terkekeh kecil, lalu bertanya, “Hyunoo sudah makan?”

“Sudah.”

“Makan apa?”

Halmeoni sudah menyiapkan bekal tadi pagi. Banyak sekali. Dan enak sekali.”

“Benarkah?”

Hyunoo berhenti menempel di kaca jendela lalu beralih cepat menghadapnya, “Halmeoni memang terkenal karena masakannya.”

“Oh, ya? Kenapa tidak membuka restoran?”

“Kata appa dan Ahra imo tidak boleh. Lebih baik di rumah saja, menemani Hyunoo.”

“Begitu, ya…” Haewoon mengangguk-angguk mengerti. “Pantas saja appa pintar memasak.”

“Karena belajar dari halmeoni. Di rumah yang tidak bisa memasak hanya Hyunoo dan Ahra imo.”

“Apa Hyunoo mau belajar memasak?”

Hyunoo tampak memiringkan kepalanya, berpikir sambil menyipitkan mata. “Nanti saja. Kalau sudah besar dan menikah dan punya anak. Seperti appa.”

Haewoon tersenyum mendengarnya. Dilihat-lihat cara bicara Hyunoo dan Kyuhyun sangat mirip. Ada lipitan unik di sudut kanan bibirnya yang terkadang muncul saat bicara, seperti Kyuhyun.

“Oh, benar, apa Imo tahu bagaimana eomma?”

“Eomma?”

Hyunoo mengangguk semangat. “Hyunoo eomma.”

Haewoon tersenyum lembut lalu menggeleng pelan. “Tidak. Bagaimana? Apa dia cantik?”

Appa bilang eomma cantik.” Ucap Hyunoo senang. Lalu tiba-tiba melompat naik ke atas pangkuannya, menghadapnya. “Rambutnya panjang dan berwarna cokelat, kulitnya seperti Hyunoo dan apa Imo tahu? Gigi eomma sangat rapi.”

“Wah… dia pasti sangat cantik.”

“Mm-hm… eomma suka vanilla dan tidak suka cokelat. Maka dari itu tidak pernah makan cokelat dan eomma sangat merawat giginya. Appa bilang saat tersenyum eomma suka memperlihatkan giginya.”

Appa beruntung sekali bisa menikah dengan wanita secantik itu.” Haewoon tersenyum lembut. Jujur saja, bayangan wajah ibu Hyunoo langsung terbentuk begitu Hyunoo menjelaskan ciri-cirinya. Haewoon yakin dia adalah gadis yang sangat cantik. “Hyunoo juga beruntung bisa dilahirkan olehnya.”

“Tapi Hyunoo tidak beruntung karena tidak bisa bertemu eomma.” Ucapnya lagi dan raut wajahnya tiba-tiba murung. Haewoon yang melihatnya jelas bersimpati. Jadi dengan perlahan ia menarik tubuh Hyunoo, memeluknya sambil terus tersenyum kecil. “Tidak ada yang mau bicara kenapa eomma pergi sebelum bertemu Hyunoo.”

“Itu karena mereka sayang Hyunoo.” Haewoon menepuk pelan punggung Hyunoo, sementara anak itu menatap ke luar jendela. “Mereka tidak mau Hyunoo sedih, jadi memilih untuk diam.”

“Tapi Hyunoo mau tahu.”

“Kalau begitu bukan waktunya. Nanti, kalau Hyunoo sudah besar, appa pasti akan menceritakannya. Percayalah.”

Hyunoo mengangkat wajahnya untuk menatap Haewoon. “Benarkah?” Haewoon mengangguk mengiyakan. “Bagaimana kalau appa menolak menceritakannya?”

“Tanyakan alasannya, kenapa appa tidak mau. Yang jelas, jangan pernah menentang appa, jangan memaksanya, dan ikuti saja apa katanya. Itu semua demi Hyunoo.”

Hyunoo terdiam selama beberapa saat. Lalu ia kembali mendongak, mendapati tatapan lembut dan meyakinkan di mata Haewoon membuat Hyunoo berpikir kalau dia memang harus begitu. Yah, dia memang harus menuruti apa kata ayahnya.

“Sekarang… kita ke mana?”

Hyunoo membalikkan tubuhnya dan menyadari mereka sudah berbelok ke kiri dari toserba itu. “Dua blok lagi belok kanan, rumahnya ada di kanan, nomor 5.”

Kurang dari sepuluh menit setelah itu, mereka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berpagar beton yang sangat tinggi. Haewoon membayar tagihan taksi, lalu mengikuti Hyunoo yang sudah turun terlebih dulu.

“Terimakasih.” Ucapnya pada sopir taksi itu sambil membungkuk sopan. Kemudian beralih pada Hyunoo, yang berusaha menekan bel meskipun tidak sampai. Haewoon mengangkat tubuh Hyunoo dari belakang, membantunya menekan bel dan kemudian mereka tertawa bersama. “Minum susu lebih banyak, eh. Supaya tinggi.”

Appa bilang nanti Hyunoo akan tinggi.”

“Kapan?”

“Saat sudah besar nanti.”

“Benarkah?”

“Iya! Hyunoo akan tinggi sepeㅡ”

KLEK!

Kepala Hyunoo sontak menoleh mendengar kunci pintu yang sudah terbuka. “Halmeoni!!” teriaknya senang lalu dengan cepat menerobos masuk. Tapi begitu teringat dengan Haewoon yang mengikutinya di belakang, Hyunoo segera berbalik dan menggandeng tangan Haewoon. “Nanti Imo tersesat. Pegang tangan Hyunoo baik-baik, ya.”

Haewoon tertawa kecil. Tapi tetap mengangguk dan mengeratkan pegangan tangan mereka. Hyunoo benar. Dia bisa saja tersesat karena rumah ini besarnya luar biasa. Tapi Haewoon tidak heran. Toh memang Kyuhyun sendiri saja sudah kaya. Bagaimana keluarganya? Rumah sebesar ini jelas tidak ada apa-apanya.

Hyunoo mengajaknya menaiki tangga putih yang tidak terlalu tinggi, sebelum kemudian mereka tiba di depan sebuah pintu yang Haewoon pikir adalah pintu utama. Hyunoo dengan segera mendorongnya, lalu berlari masuk dan melupakan gandengan tangan mereka. Haewoon yang entah sejak kapan merasa gugup berusaha untuk tenang. Ia melihat Hyunoo berlari masuk dan berbelok ke kanan, sebelum kemudian terdengar suara ribut yang sepertinya suara ibu Kyuhyun yang sedang bercanda dengan Hyunoo.

Haewoon menghela napas pelan. Berusaha untuk tersenyum sebiasa mungkin sambil berdiri tak jauh dari pintu utama tadi. Dia takut masuk lebih dalam karena dia… orang asing. Well, dia baru ingat alasan Kyuhyun ingin dijodohkan adalah agar ada yang menjaga Hyunoo. Agar Hyunoo tidak lagi berteman dengan orang asing seperti dirinya.

“Kau tidak berbuat salah. Tenanglah.” Bisiknya pada diri sendiri. Haewoon mengangguk-angguk, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Lalu terdengar langkah kaki yang berlari mendekat. Haewoon tahu itu Hyunoo. Jadi ia tersenyum lebih lebar, agar anak itu senang. Namun ketika akhirnya Hyunoo muncul dan membalas senyumannya bersama seorang wanita di belakangnya, Haewoon tiba-tiba membeku. Senyumnya menghilang dalam sekejap dan kepalanya serasa baru dilempari sebongkah batu sampai membuat tubuhnya oleng begitu saja.

“Imo…”

Haewoon bisa mendengar suara Hyunoo yang memanggilnya. Tapi pandangannya tidak pernah jatuh pada anak itu melainkan wanita itu…

“Imo.”

“Maaf.” Haewoon cepat-cepat menunduk. Matanya tidak bisa berhenti bergerak dan tanpa sadar kedua tangannya bertautan sangat erat. “Maaf sudah lancang masuk rumahmu, Nyonya. Aku…”

Imo yang menjemput dan mengantar Hyunoo pulang.”

Haewoon mendengar Hyunoo bicara, tapi tidak bisa menimpali atau mengiyakan karena… entahlah, dia mendadak bingung harus bicara apa. Rasanya aneh. Sangat aneh. “Maaf.” Ucapnya sekali lagi. Lalu meletakkan tas Hyunoo ke sebuah kursi kayu tak jauh darinya dan membungkuk ragu sebelum berbalik pergi.

Tapi Hyunoo yang melihat itu jelas mengejarnya. “Imo, jangan pulang dulu.”

“Maaf, Imo harus pergi.” Haewoon berusaha tersenyum untuk Hyunoo. Yang sebenarnya telihat tidak biasa di mata Hyunoo. Jadi anak itu terpaksa melepaskan pegangannya pada Haewoon, membiarkan gadis itu melangkah keluar sambil menunduk tanpa bicara apa-apa lagi.

Hyunoo menggigit bibir bawahnya melihat Haewoon berjalan menuju gerbang di depan sana. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada bibi kesayangannya itu. Wajah Haewoon mendadak pucat dan tangannya dingin saat Hyunoo menyentuhnya. Tidak seperti saat mereka masih di luar rumah tadi…

Halmeoni, apa Imo sakit?” tanya Hyunoo kemudian setelah beralih pada neneknya yang ternyata tengah mengerutkan kening dan pandangan tidak terbaca. “Halmeoni!” panggilnya sekali lagi.

Dan Oh Hae Young cepat-cepat mengerjap, lalu menunduk untuk menatap cucunya. “Ya?”

“Sepertinya imo sakit.”

“Benarkah?”

Hyunoo mengangguk membenarkan. “Tangannya dingin sekali, dan imo sangat berbeda dengan saat masih di luar tadi.”

Hae Young membuka mulutnya ingin bicara, tapi Hyunoo sudah lebih dulu berlari masuk ke dalam kamarnya. Ia mengerjap, memiringkan kepala memikirkan sesuatu yang entah apa dia juga tidak tahu lalu kakinya tanpa perintah berjalan ke arah jendela. Tangannya bergerak menyibak tirai putih yang ada di sana dan dia…

Dia melihat gadis itu berjalan gontai menjauhi kediamannya. Hae Young terdiam cukup lama. Menunggu sampai punggung kuyu itu menghilang dari pandangannya lalu menghela napas pelan. Matanya bergerak ke beberapa arah, tanpa tujuan dan dia tidak mengerti apa yang mendadak terjadi padanya. Ini hanya terasa aneh. Tidak nyaman. Hae Young sudah menepuk dadanya beberapa kali sambil berjalan ke kamarnya. Dia tidak sesak napas. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang membuatnya gelisah dan Hae Young tidak tahu apa penyebabnya.

“Mungkin hanya kelelahan.” Ucapnya pelan. Memutuskan untuk berbaring sebentar dan menutup mata. Yah… dia baru pulang mengurus beberapa hal untuk Kyuhyun, seperti rencana Ahra. Mungkin dia kelelahan karena terlalu banyak berjalan. Dia hanya harus istirahat dan nanti pasti akan segar kembali.

Setelah dua jam terjebak di dalam ruang rapat di mana Kyuhyun harus mengerahkan semua idenya bersama beberapa karyawannya, Kyuhyun akhirnya bisa bernapas lega. Semuanya sudah selesai dan besok mereka hanya perlu menunggu Choi Yoon Ji yang tidak hadir hari ini untuk meminta pendapatnya. Karena bagaimanapun gadis itu termasuk tokoh utama dalam proyek perusahaan mereka saat ini.

Tapi belum sempat Kyuhyun menyentuh pintu ruangannya, suara Donghae yang berlari di belakangnya membuat pergerakkan Kyuhyun tiba-tiba terhenti. “Wae?” tanyanya.

Donghae berhenti tepat di hadapannya, mengatur napas lalu memberikan ponsel Kyuhyun yang ada padanya. “Kau meninggalkannya di dekat laptop sepanjang rapat.”

“Oh, benarkah?” Kyuhyun mengambilnya. “Aku lupa.”

“Sepertinya ada yang menelepon, banyak panggilan tidak terjawab.”

“Oh, benarkah?”

“Mode senyap, ‘kan?” Kyuhyun mengangguk sambil menyalakan ponselnya.

Dan benar saja. Ada lima belas panggilan tidak terjawab. Dari rumahnya. Tepatnya nomor telepon rumah utama.

Kyuhyun mengernyit. Hanya ada satu orang yang menggunakan telepon rumah dan itu adalah Hyunoo. Tanpa berpikir panjang lagi, Kyuhyun segera memanggil nomor itu sembari membuka pintu ruangannya, bersama Donghae yang mengikuti di belakangnya.

“Hyunoo-ya?” Kyuhyun meletakkan jasnya ke atas meja lalu duduk di sofa seberang Donghae. “Hyunoo-ya, ada apa?”

“Kenapa lama sekali?”

“Maaf, tadi sedang rapat. Memang ada apa, hm?”

“Sepertinya imo sedang sakit. Tadi setelah mengantar Hyunoo pulang imo cepat-cepat pergi. Wajahnya pucat dan tangannya dingin sekali.”

“Benarkah? Apa sudah lama?”

Hyunoo berdeham mengiyakan, “Appa, ayo ke rumah imo sekarang.”

“Oh, tunggu sebentar,” Kyuhyun beralih pada Donghae yang sedang menonton televisi. “Aku tidak ada jadwal lagi, ‘kan?”

Donghae mengecek ponselnya sejenak, lalu mengangguk. “Kau mau pulang?”

“Ya, Hyunoo mengajak ke suatu tempat.”

“Kalau begitu ayo, aku mau menjenguk eomma.”

“Hyunoo-ya, Appa pulang sekarang.”

Hyunoo mengiyakan. Kemudian Kyuhyun mengambil kembali jasnya, juga tas kerja lalu mengikuti Donghae yang sudah siap pergi dan menunggu di depan pintu ruanganmu. “Mobilku?” tanya Kyuhyun sambil lalu.

“Hm, mobilku masuk bengkel sejak kemarin.”

“Oke.”

Mendengar suara pagar yang terbuka membuat Hyunoo yang sejak tadi menonton kartun langsung bangkit berdiri. Kakinya berlari ke pintu utama, membukanya lalu berlari lagi untuk menyambut ayahnya yang bahkan baru mematikan mesin mobilnya.

“Appa!”

“Hei, tunggu sebentar.” Kyuhyun tersenyum kecil, mengambil barang-barangnya di jok belakang lalu baru menghampiri Hyunoo yang melompat-lompat kecil saat melihatnya. “Kenapa tidak pakai sandal?”

Hyunoo menggeleng. Tidak tahu harus menjawab apa. “Appa, imo sakit.”

“Mungkin kelelahan saja.”

“Tapi imo aneh. Saat masih di luar rumah imo masih sehat, tapi saat sudah sampai rumah imo tiba-tiba pucat. Appa, ayo ke rumah imo sekarang.”

“Imo?”

Hyunoo yang mendengar suara itu sontak menoleh dan mendapati Donghae baru keluar dari mobil ayahnya. “Samcheon!”

Donghae balas tersenyum sambil melambai. Tapi sepertinya ia lebih tertarik menatap Kyuhyun, “Imo siapa?”

“Seseorang.” Kyuhyun mengangkat bahu. Tidak berniat menjelaskan. Lalu dengan cepat mengangkat Hyunoo ke gendongannya dan berjalan lebih dulu, meninggalkan Donghae yang menyipit curiga kepadanya.

Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan.

Donghae tersenyum kecil melihat punggung Kyuhyun yang menjauh bersama Hyunoo. Lihat saja. Dia tidak akan tinggal diam. Donghae pasti akan tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan.

Ia lalu mengejar mereka. Dengan tersenyum lebar Donghae masuk ke rumah besar itu. Dilihatnya Kyuhyun menurunkan Hyunoo di kamar mandi dan Donghae tahu pria itu pasti menyuruh putranya cuci kaki. Sementara ia berjalan ke sebuah kamar di mana ibunya selama ini tinggal.

Oh, mungkin ini sedikit membingungkan. Tapi benar seperti inilah nyatanya.

Awalnya Donghae sendiri juga bingung, dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Tapi beginilah takdirnya. Jadi Donghae hanya mencoba untuk menerimanya.

“Eomma…” Bisiknya pelan sambil membuka pintu. Dan senyumnya pun melembut begitu melihat sosok ibunya sedang duduk di sebuah kursi, menatap luar jendela dan bahkan tidak menyadari kedatangannya. “Eomma, sedang apa?” panggil Donghae lagi sambil memeluk ibunya dari belakang.

Dan Oh Hae Young yang seperti baru tersadar sontak menoleh, lalu tersenyum melihat Donghae yang juga tengah tersenyum padanya. “Sejak kapan kau di sini, hm?”

“Apa yang Eomma pikirkan sampai tidak tahu aku datang?”

Hae Young tertawa kecil, “Hanya sedikit tentang masa lalu.”

“Benarkah?” Donghae memindah posisinya, menarik kursi untuk duduk di samping ibunya. “Eomma jarang sekali bernostalgia. Aku juga mau tahu. Bagaimana kalau berbagi sedikit denganku?”

“Kau sudah tahu.”

“Hanya sebagian. Aku mau tahu lebih detail lagi. Ayolah, Eomma… Sejak lahir aku sudah tinggal di Seoul. Ceritakan lagi apa yang aku tidak tahu tentang kota kelahiranku.”

Eomma sudah menceritakannya. Kau tahu segalanya.”

“Lalu apa yang kau pikirkan sekarang?”

Hae Young berdecak pelan sambil menoleh pada putranya, “Hanya sedikit tentang masa lalu.”

“Sedikit tentang masa lalu sampai-sampai tidak tahu kedatanganku?”

“Ayolah… Eomma hanya sedang memikirkanㅡ”

“Adikku?” potong Donghae cepat yang seketika membuat Hae Young bungkam. Ia menunduk, lalu membuang muka kembali ke luar jendela. “Aku benar, ‘kan?”

Hae Young hanya tersenyum kecil, memutuskan untuk tidak menjawab. Donghae memang dirawat orang lain sejak kecil dan tidak tahu kalau punya adik. Hae Young pernah bercerita pada Donghae tentang adiknya, tapi tidak pernah mengatakan siapa namanya karena takut Donghae akan mencarinya. Bagi Hae Young semuanya akan baik-baik saja seperti sekarang. Setidaknya Donghae tahu kenyataannya.

“Eomma,” panggil Donghae lembut, mengambil tangan Hae Young dan menggenggamnya hanya untuk membuat wanita itu menoleh menatapnya. “Apa yang terjadi padanya?”

Kyuhyun berjalan keluar dari kamar sambil memasang jaketnya. Sempat dilihatnya masih ada barang-barang Donghae di ruang tengah yang berarti orang itu masih ada di rumahnya. Mungkin sedang bermanja-manja dengan ibu mereka jadi biarkan saja. Kyuhyun lalu mengambil selimut kecil milik Hyunoo yang sudah disiapkannya di dekat sofa sebelum kemudian melangkah ke luar, menghampiri Hyunoo yang sudah berjongkok di depan mobil, menunggunya.

“Ayo.” Kyuhyun membukakan pintu untuk Hyunoo dan melempar selimut itu ke jok belakang. Lalu duduk di kursi kemudi dan siap pergi.

Appa, bagaimana kalau imo benar-benar sakit?”

“Kita bawa ke rumah sakit.”

“Kalau imo tidak mau?”

“Tidak mungkin. Imo itu calon dokter, dia jelas tahu apa yang harus dilakukan untuk kesehatannya.”

“Bagaimana kalau imo pingsan di tengah jalan?”

“Tidakㅡ” Hei! Mungkin saja. Kyuhyun mengerjap, berpikir. “Apa tadi imo terlihat sakit sekali?” tanyanya setelah beberapa saat.

Hyunoo mengangguk membenarkan, “Awalnya tidak. Tapi setelah itu imo jelas-jelas pucat, tangannya dingin sekali. Hyunoo juga lihat imo memegang kepalanya saat keluar dari pintu rumah.”

“Benarkah?”

“Iya, Appa. Kemarin Seung Hoon seperti itu saat olahraga, dia lalu pingsan di tengah lapangan.”

Kyuhyun mengernyit lagi, berpikir lagi. Dia yang paling tahu bagaimana Hyunoo. Dan Hyunoo adalah anak paling perhatian karena jika ada yang sakit, Hyunoo harus memastikan kesembuhan orang itu sebelum pergi. Di balik sifatnya yang terkadang tidak peduli, Hyunoo sebenarnya sangat peduli.

Appa, lebih baik telepon imo dulu.”

Imo tidak punya ponsel.”

“Telepon rumah?”

“Tidak ada juga.”

“Telepon yang lain?”

“Tid…” Kyuhyun sontak menghentikan kalimatnya, juga menghentikan mobilnyaㅡyang belum keluar dari perkomplekan rumahnyaㅡke pinggir jalan.

Hyunoo benar. Lebih baik menelepon dulu.

Jadi dengan segera Kyuhyun menyalakan ponselnya, mencari nomor telepon kedai tempat Haewoon bekerja dan langsung menyambungkannya. Kyuhyun menggigit bibir, sesekali melirik Hyunoo yang menunggunya dan pada deringan kelima…

“Halo, ini kedai Bubㅡ”

“Maaf, aku Cho Kyuhyun.” Potong Kyuhyun cepat, terang-terangan menolak sambutan panjang tentang kedai seperti yang tadi didapatkannya. “Aku temannya Lee Haewoon, yang tadi menelepon.”

“Ah…,” terdengar sedikit suara ribut di seberang sana dan Kyuhyun yakin gadis si penerima telepon sedang bertanya-tanya pada temannya. Lantas beberapa detik kemudian… “Ah! Temanku bilang kau memang menelepon. Kami juga mau menelepon sejak tadi tapi tidak tahu nomor teleponmu. Omong-omong…”

“Apa Lee Haewoon sakit?” potong Kyuhyun sekali lagi.

“Ye?” dan terdengar ribut juga sekali lagi. “Apa maksudmu, Tuan? Kami ingin meneleponmu karena kau orang terakhir yang menghubunginya sebelum dia hilang.”

“Apa?”

“Maksudku dia tidak kembali lagi ke kedai. Padahal hari ini dia ingin bekerja lebih lama.”

“Jadi dia tidak ada di sana?”

“Tidak ada. Kami khawatir padanya, jadi ingin bertanya padamu.”

“Oh, tadi dia hanya mengantar anakku pulang dan dia langsung pergi. Kupikir dia ada di kedai.”

“Mungkin dia di rumah.”

“Ah… baiklah. Aku akan ke rumahnya. Terimakasih. Maaf sudah mengganggu.” Suara gadis itu juga berterimakasih di ujung sana sebelum Kyuhyun memutuskan panggilan mereka.

Haewoon tidak kembali ke kedai. Padahal tadi pagi gadis itu bilang akan tetap di sana sampai sore. Lalu apa benar Haewoon sakit jadi dia pulang ke rumah?

“Appa?” panggil Hyunoo, mengernyit melihat ayahnya terdiam selama beberapa detik. “Apa imo benar sakit?”

“Entahlah, imo sepertinya ada di rumah.”

“Kalau begitu ayo pergi.”

Kyuhyun mengangguk mengiyakan. Lalu melajukan kembali mobilnya dengan arah tujuan rumah Haewoon. Entah mengapa, ada secuil rasa khawatir yang tiba-tiba muncul dalam hatinya tentang kondisi Haewoon sekarang. Meskipun dia tidak mengenal Haewoon terlalu lama, tapi Kyuhyun tahu gadis itu sangat memegang apa yang diucapkannya.  Dia benar-benar masih ingat kalau tadi Haewoon bilang akan ada di kedai sampai sore. Tapi nyatanya gadis itu tidak kembali ke sana. Apa ada sesuatu yang terjadi?

Mengingat tindakan ini sama sekali bukan tindakan yang akan Haewoon ambil. Gadis itu tidak memegang ucapannya. Itu bukan Haewoon.

Dan pasti ada sesuatu yang bisa membuat seseorang berubah menjadi orang lain. Sesuatu yang Kyuhyun masih belum tahu apa.

Langit tiba-tiba mendung ketika Dae Yeon menyerah menunggu Haewoon dan memutuskan untuk pulang. Dia sudah ada di rumah ini sejak satu jam yang lalu untuk memberitahu Haewoon sesuatu. Tepatnya ingin memperingatkan Haewoon tentang siapa sebenarnya yang gadis itu suka. Tapi sampai sekarang Haewoon tidak muncul juga. Dae Yeon ingin menelepon kedai tapi ponselnya mati. Tidak ada cara lain selain menunggu.

Jadi setelah memastikan tidak ada jendela atau pintu yang terbuka, Dae Yeon mengunci pintu dengan kunci cadangan yang ada padanya dan membawa tasnya untuk pergi pulang.

Tapi baru saja kakinya melangkah keluar dari pagar dan tangannya bergerak ingin mengunci pagar itu, Dae Yeon tersentak karena seseorang bertubuh tinggi yang berdiri sekitar lima meter di depan rumah itu justru mengejutkannya.

Apa yang dilakukannya?

Dae Yeon mengerjap. Menyadarkan diri dari tampang bodoh sesaatnya lalu berdeham pelan, menyelesaikan mengunci pagar sebelum berbalik, tersenyum paksa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Cho Kyuhyun-ssi?” ucapnya, santai sekali. “Kuharap kita tidak memasukkan masalah pekerjaan di sini.”

Kyuhyun sendiri yang baru menyadari siapa gadis di depannya ini pun menggangguk pelan. Dalam hati bertanya-tanya apakah gadis yang dilihatnya datang ke rumah Haewoon malam tadi adalah Kang Dae Yeon?

“Memang harus begitu,” sahut Kyuhyun kemudian, berusaha sebiasa mungkin sambil menutupi rasa penasaran yang tiba-tiba datang. “Tapi kenapa kau…,” Kyuhyun menunjuk rumah Haewoon dengan isyarat matanya, “Kenapa kau keluar dari rumah itu?”

“Ini rumah adikku.” Jawab Dae Yeon santai, mengangkat bahu. “Apa salah kalau aku berkunjung ke rumah adikku?”

“Ah, tidak… aku hanya mengenal pemilik rumah itu dan kupikir dia tidak punya kakak.”

“Mungkin dia belum memberitahumu.” Dae Yeon maju beberapa langkah.

Melihat sikap Dae Yeon yang di mata Kyuhyun cukup angkuh entah mengapa membuat otaknya berpikir lebih cepat dan mendetail tentang gadis itu. Jadi sambil tersenyum kecil Kyuhyun juga maju lalu berkata, “Mungkin tidak memberitahu karena kau bukan kakak kandungnya.”

“Aku benar kakaknya, cukup tahu saja.”

“Ya, bukan kakak kandung.” Kyuhyun mengangkat bahu. “Nama belakang kalian berbeda dan Haewoon tidak pernah bercerita tentang kakaknya.”

“Untuk apa juga dia bercerita padamu?”

Kyuhyun berdeham, “Kami bertukar cerita. Banyak sekali. Bisa dibilang dia sudah membuka dirinya padaku.”

“Haewoon? Membuka diri?”

“Jadi kau memang bukan kakak kandungnya.”

Dae Yeon berdecak, membuang muka. “Aku menganggapnya adikku sendiri dan dia menganggapku kakaknya. Puas?”

“Itu lebih baik.” Ucap Kyuhyun sambil tertawa kecil. Gadis ini tidak pintar berbohong. “Sekarang bagaimanaㅡ”

“Tunggu sebentar,” Dae Yeon melihat jam tangannya. “Biarkan aku bicara lebih dulu karena aku harus segera pergi.”

Kyuhyun ingin membuka mulut, tapi melihat Dae Yeon yang sepertinya ingin bicara serius membuat Kyuhyun memilih diam dan mengangguk mengiyakan.

“Jadi sebenarnya aku sudah tahu kalau Haewoon dekat denganmu beberapa hari ini karena pertemuan kalian di Jeju. Haewoon sudah menceritakannya padaku dan… dan aku melihat sesuatu yang aneh pada gadis itu. Maksudku dia memang suka anak kecil tapi saat bersama Hyunoo… well, tadi malam gadis itu berbeda. Uhm… Haewoon…” Dae Yeon tanpa sadar menggigiti bibir bawahnya, mencari kata yang pas untuk diucapkan. “Dia… dia bilang padaku kalau dia merasakan sesuatu seperti… uhm… seperti… Hah! Tidakkah kau merasakan sesuatu yang aneh juga?”

Ya, karena aku menyukainya.

“Maksudmu?” alih-alih menjawab pertanyaan Dae Yeon dan mengatakan apa yang hatinya katakan. Kyuhyun justru balik bertanya.

“Oh, oke, lupakan itu. Aku tidak punya hak untuk bicara tentang itu jadi aku hanya ingin memperingatkanmu.”

Kyuhyun menunggu. Tanpa sadar matanya melihat pagar rumah Haewoon yang digembok dan ia mengernyit bingung.

“Aku, Kang Dae Yeon, sebagai seseorang yang sangat dekat dengan Haewoon dan pernah bekerja sama denganmu. Aku harap kau tidak membuat Haewoon terluka karena kehadiran putramuㅡmaksudku tidak ada yang tahu siapa ibu dari putramu itu jadi aku mohon padamu untuk tidak mempermainkan Haeㅡ”

“Aku tidak pernah mempermainkannya.”

“Bukan begitu.” Dae Yeon membasahi bibirnya. Tiba-tiba gugup karena raut wajah Kyuhyun berubah serius. “Kau tahu Haewoon suka sekali anak kecil jadi kau memanfaatkannya dan itu membuatnya berpikir kalau kau mempunyai sesuatu kepadanya.” Kyuhyun mengernyit. Dan Dae Yeon tanpa sadar memainkan jari-jari tangannya. “Intinya, kalau kau tidak berniat menyakitinya, lebih baik jauhi dia. Jangan membuat dia berpikir kalau kau menyukainya dan yah… sudah kubilang tidak ada yang tahu siapa ibu dari putramu. Hanya kau yang tahu. Jadi kumohon pergi saja. Aku takut dia sakit hati kalau terus berpikir kau menyukainya sementara kau bisa saja pergi kapan pun bersama ibuㅡ”

“Aku menyukainya.”

Mulut Dae Yeon kontan terbuka, tanpa suara. Matanya mengerjap menatap Kyuhyun tidak percaya. “Kau sudah punya anak Cho Kyuhyun-ssi, bagaimana kalauㅡ”

“Haewoon sudah tahu semuanya.” Ucap Kyuhyun sambil membuang muka. “Dia tahu siapa ibu Hyunoo, hanya belum pernah melihat wajahnya. Aku sudah bercerita semuanya pada Haewoon.”

“Tapiㅡ”

“Dia hanya tidak tahu aku menyukainya.”

“Kau…,” Dae Yeon menunjuk pria itu tidak percaya. Ia merasa keningnya berkerut karena… oh, astaga, bisa-bisanya pria ini bicara sesantai itu? “Kau serius?”

“Tidak pernah seserius ini untuk masalah wanita.”

“Ohㅡ” Kang Dae Yeon mundur selangkah. Tangannya terangkat menyentuh kepala dan dia mendadak pening. Jadi… jadi mereka saling suka? Mereka saling suka hanya saja belum mengatakannya, begitu? Dan Haewoon sudah tahu semuanya? Lalu apa gunanya ia bersusah payah mencari tahu tentang Cho Kyuhyun ini?

Kyuhyun terdiam melihat Dae Yeon yang tampak tidak percaya. Gadis itu masih memegang kepalanya, mundur selangkah demi selangkah sambil sesekali menggeleng dan membuang napas. Kyuhyun lalu menoleh ke belakang, teringat pada Hyunoo yang tadi ia minta bermain sebentar ke taman karena ia melihat Kang Dae Yeon keluar dari rumah Haewoon.

Kyuhyun kemudian melangkah mendekati rumah Haewoon, membiarkan Dae Yeon berpikir sendiri. Dilihatnya pintu pagar itu benar-benar digembok dan dengan itu Kyuhyun tahu kalau Haewoon tidak ada di dalam. Tidak mungkin Dae Yeon mengunci Haewoon dari luar sementara gadis itu…

“Apa Haewoon tidak ada?” tanyanya setelah berbalik. Oke, dia hanya ingin tahu kepastiannya karena Dae Yeon baru saja keluar dari rumah ini.

“Haewoon?” Dae Yeon tampak lebih tenang. “Bukankah dia masih di kedai tempatnya bekerja? Dia tidak ada kelas hari ini.”

“…”

“Kenapa? Apa ada sesuatu? Aku menunggunya sejak tadi di sini.”

“…”

Dae Yeon mengernyit melihat Kyuhyun yang tampak berpikir. Ia maju selangkah, “Kyuhyun-ssi, apaㅡ”

“Ke mana saja Haewoon biasanya pergi?”

“Oh? Itu…” Dae Yeon ingin mengatakannya, tapi sesuatu mendadak muncul dalam kepalanya dan ia kontan menatap Kyuhyun dengan air muka tak terbaca. “Apa maksudmu dia tidak ada di kedai sekarang?”

Kyuhyun membenarkan, “Dia menjemput Hyunoo hari ini dan Hyunoo bilang wajahnya pucat saat pulang.”

“Dia gila.” Ucap Dae Yeon begitu saja. “Dia sedang gila, aku yakin itu. Haewoon tidak pernah terlihat sakit meskipun sedang sakit jadi kupikir dia sedang gila sekarang. Oh, jangan salah pahamㅡ”

“Aku tahu. Dia teringat masa lalunya.”

Kyuhyun bahkan mengetahuinya?

Dae Yeon mengatupkan mulutnya. Memilih diam dan segera menyalakan ponsel, mencoba menghubungi beberapa orang yang bisa membantunya sebelum berlari pergi. Dia sudah pernah mengalami hal seperti ini. Tepatnya menghadapi Haewoon yang seperti ini. Dan Dae Yeon harap dia bisa menemukan Haewoon di tempat-tempat yang memungkinkan keberadaannya. Dia harus menemukan gadis itu secepatnya sebelum hal buruk terjadi. Dae Yeon tidak mau melihat Haewoon nyaris bunuh diri lagi seperti yang pertama kali.

Melihat bagaimana air muka Dae Yeon yang berubah begitu diberitahu keadaan Haewoon dan bahkan gadis itu berlari meninggalkannya, Kyuhyun tahu kalau Dae Yeon sangat mengkhawatirkan Haewoon. Dia tahu kalau pernah terjadi sesuatu pada gadis itu sampai-sampai membuatnya takut seperti sekarang.

Jadi tanpa pikir panjang Kyuhyun mengikuti Dae Yeon, menyuruhnya masuk ke dalam mobil dan memanggil Hyunoo yang sedang duduk di ayunan taman. Mereka harus menemukan Haewoon secepatnya.

“Ke mana tujuan awal kita?”

Dae Yeon tidak peduli dia bersama siapa. Yang dipikirkannya hanyalah keselamatan si gila Lee Haewoon jadi dengan sedikit gemetar ia menjawab, “Sungai buatan
kecil di belakang Universitas Seoul.” Tempat Haewoon pernah ingin menenggelamkan diri, menjadi tempat pertama yang Dae Yeon ingin kunjungi.

Semilir angin dingin membantunya membawa tubuh lesu yang sesungguhnya tak mampu lagi berjalan itu. Rambutnya yang tergerai sudah berantakan. Matanya memerah dan ada bekas air mata di kedua belah pipinya. Tapi siapa yang peduli? Untuk sekarang gadis itu hanya peduli pada urusan hati. Dia hanya peduli pada perasaannya yang tiba-tiba bergejolak aneh seperti dahulu kala.

Haewoon tidak menyukainya. Waktu paling menyakitkan itu tidak ingin lagi dirasakannya karena dia tidak tahu kapan bisa melupakannya. Kapan dia bisa kembali normal seperti biasanya. Inilah yang terjadi padanya… kadang-kadang dia gila saat masa lalu itu kembali bergumul dalam tempurung kepalanya.

Sekali lagi, Haewoon tidak menyukainya.

Tapi tidak bisa juga menghindarinya.

Ribuan kali ia bertanya, “Takdir macam apa ini?” tapi tak ada satu orang pun yang menjawabnya. Dia tidak tahu kenapa bisa ditempatkan pada posisi sesulit ini karena… sungguh, dia hanya manusia biasa. Haewoon benar-benar manusia biasa yang tidak punya kemampuan khusus. Tapi kenapa Tuhan memberinya cobaan seberat ini?

Untuk kesekian kalinya hari ini Haewoon menghela napas lelah. Lalu berhenti melangkah dan mendongak menatap langit malam yang berbintang. Ia mendecih, membayangkan betapa bahagianya langit sementara ia harus menahan sakit.

“Baiklah… kalau seperti ini takdirnya, aku bisa apa?”

Dan sebuah senyuman kecil mulai muncul dari kedua sudut bibirnya.

Okay, guys. I am really really sorry for being late. Sebenarnya sudah di kopi bagian ini ke wp nya beberapa waktu yang lalu, tapi waktu diedit dan baru setengah dan aku gak kuat lagi dan akhirnya I pressed back, hasil editannya gak kesimpan yang berarti aku harus ulang dari awal. Dan baru malam ini ada keinginan untuk kembali mengeditnya jadi maafkan ya… btw aku mau tanya, kira-kira Kyu sama Haewoon kalo kupisahin gimana ya? Hehe… thanks for reading and support me anyways ^^^^^^^

Advertisements

59 thoughts on “10th ENCHANTED

  1. nae.ratana says:

    aduh kenapa tuh hyewoon
    trus ada hubungan apa di masa lalu.a hyewoon sama ibu kyu(?)
    aduh nyesek baca.a nih pas akhir TT.TT
    makin penasaran nih..
    cepet update yah kkk

  2. selvy says:

    jgn dipisahkan pokoknya, pasti ada solusi buat mereka bersatuuuuu.. 😦
    good job dua jempol untukmu, puas bacanya tapi malah jadi penasaran lanjutan terus..

    komen sebelumnya ga tau sampe apa ga, tidak ditampilkan ga kaya biasanya jadi kirim lagi aja hhegeh:)

  3. antikairawan says:

    apa hubungan eomma kyu oppa dan hae? dan apa hubungan hae oppa, eomma kyu oppa dan kyu oppa? hae eonni kenapa kaget seperti itu? dan apa arti senyum itu? next chap, banyak banget yg di kepoin

  4. mitarashi8899 says:

    apa mungkin haewoon n kyu saudara tiri.. secara donghae n haewoon kan adik kakak.. and kyu sm donghae itu saudara tiri kan.. jadi~ fuihhh pantesan aja haewoon shock begitu

  5. ajengmukti says:

    Haewon …donghae namanya sama mereka adik kakak😐😐 terus ibunya kyu kan hae young…thor aku lupa donghae sodara tiri kyu ……apa baru disini diungkapin?terus kyu sm haewon gimana mereka jd sodara tiri aigooo …..

  6. ina says:

    dongahe punya hubungan apa sama keluarga ny kyuhyun? entahlah, dan juga masa lalu apa yg eomma kyuhyun alami sampe2 ngeliat haewoon sama kaya gitu

  7. Putri says:

    Ini chapter 10 dan masih banyak penasarannya. Hubungan donghae sama kyuhyun dan ibunya. Terus kenapa Hewon juga terkejut gitu. Hubungan Kyu-Won juga masih ngambang. Setelah sekian lama nolak cewek sana sini sekalinya Kyuhyun jatuh cinta malah mau dipisahin authornya?? 😢 tega sekali.. Bunuh saja Kyuhyun 🙅

    Nextnya ditunggu anggie.. Semangat nulisnya haha

    • Anggiye says:

      Haha seenggaknya kalo mau misahin aku bakal berusaha pake cara yang gak biasa. Tapi kamu bener juga, setelah nolak sana sini dan berakhir sama Haewoon, kalo dipisahin kok kayaknya sia-sia ya aku nulisnya. Wkwk baru sadar w thanks yaa ^^^^

  8. Kyurim says:

    No! Jangan! Jangan pisahin mereka. Barangkali donghae itu kakaknya haewon yg berarti ibunya yg waktu dia kecil itu pergi adalah ibu kyuhyun sekarang. Eh apa iya ya? Nggak taulah. Btw ini pendek loh kak. Atau akunya aja yg nggak sadar kalo ini tuh udah panjang :v. Tapi syukur update setelah sekian lama.

    • Anggiye says:

      Loolll aku kok ngerasa ini panjang ya? Yg ngopi ke wp capeknya minta ampun dan kau bilang ini puendek?? Tapi thankyou udah baca dan mencurahkan pemikiranmuuu ^^^^(<=lagi suka emot yg entah apa artinya ini)

  9. putrinurulalya says:

    Ughhh lama sekali menunggu ff ini muncul lagi
    Jadi bingung nih karena donghae manggil eomma juga ke eommanya kyu, tapi marganya beda, huh bingung
    Btw kayanya haewoon itu adiknya donghae yaksss hehe
    Next chap ditunggu hehe

  10. lazl says:

    Waaaw masih adaa kejutan tentang haewoon dan ibunya kyuhyun yah…
    Semogaaa ga jadi penghalang buat hubungan kyuhyun&haewoon:(
    aaaaaaa jangan dipisahin pleaseeee:(

  11. Ainn Cho's Angel says:

    ANDWAEEEEEEEEE!!!!
    jangan pisahin Kyu-Hae…bisa epileps berjamaah ntar readernim thoorr..ohh..ternyata ada sesuatu dibalik sesuatu antara Hae Woon- Dong Hae-Hae Yong..Ayolaaahh..buka rahasia kalian para Hae-Hae Lee..

    authornim..aq selalu menanti datangnya ff ini..boleh aq kasih saran nggak yaa..boleh yaa..gimana kalo Enchanted series dikelarin dulu thor? fokusnya biar gak terbelah-bercabang..baru deh ntar kalo kelar..ff lain muncul..eh??maunyaaa..*abaikan..
    makasih karyanya thor, sangat menghibur..

    • Anggiye says:

      Wkwk epilepsi berjamaah??? Lol… wkwk btw thanks atas sarannya. Maunya juga gitu sistah. But ide ini masalahnya. Kadang pas aku mau nulis seri ini, eh malah gaada ide. Jadi stuck dan cuma bisa tulis hapus tulis hapus. Dan kadang juga pas mau nulis ini, eh malah dapet ide untuk nulis hal lain. Tapi bakal kucoba deh, semoga lancar yg ini sampai tamat yaa… ^^^^^^^^^^^

  12. ellalibra says:

    Eonn lama bgt huhuhuu … Akhirnya dpost jg .. Y setuju q pisahin kyu dr haewon eon skrg haewon tau kl eommany yg prg trnyta ada drmh kyuhyun otomatis jd kluarga kyu yg udh ngambil eommany kan pst sedih bgt kl jd haewon ;-( .. Bayangin aja msh kcl dtinggal ibunya dg cara spt itu gmn rasanya cb … Smp trauma gt Dtinggalin gt aja sm ayahnya ttp aja alasan apapun ibunya haewon prg skt hati nya haewon g bs dibayangin ky gmn ..Tp q g nyangka donghae kakak haewon ko bs?? Tbcny ganggu bgt eon hehe…… Dtunggu neeeeeeext cpt y eon hehe fighting 🙂

  13. dhharu86 says:

    aduh haewon kenapa itu? ada hubngan apa masa lalunya dengan ibu kyuhyun? apa bisa hubungan nya bisa buat haewon dan kyuhyun pisah? aah andwae….
    ditunggu ya thor buat lanjutannya 🙂

  14. Chokyu says:

    Entah kenapa aku ngerasa kalo ibunya kyuhyun itu ibunya haewoon? Bener ga sih? 😔😔😔 dan jangan bilang kalo kyuhyun haewon saudaraan huh mampuslah weh gabisa bersamalah mereka

  15. Choyoungie says:

    Huwaaa akhirnya seelah sekian lama ini ff muncul jg😁 sumpah nunggu dari chap 9 ke 10 berasa setaun .g 😂 lama soalnya thor hihi kepo banget sm kelanjutannya, akhirnya sekarang udah terobati keponya, tp tetep aja ini ff selalu bikin penasaran😩 sambil nunggu ada update-an di wp ini suka baca” ff sebelum”nya sampe hafal thor😂 abis ff nya keren, enak dibaca jg 😆
    Sebenarnya ada apa eomma kyu sm haewon? Dan tadi… Donghae sm haewon adik kakak?? Wah ini nanti kelanjutan hubungan kyu sm haewon gimana?😩 duh thor-nim jgn dipisahkan dong mereka, masa sekalinya kyu jatuh cinta eh…. Malah dipisahin kan kasian huhu😢 please thor persatukan cinta kyu-won💪
    Semangat author-nim😆

    • Anggiye says:

      Uuu love u yg komentarnya bikin aku tersenyum tanpa sadar (actually to all the comentators here) hehe… mafya sekali lagi karena lama. Ive told u all the reason tapi aku bakal berusaha cepet kok. Thanks ya!!^^^^

  16. Firza Putri Pradira says:

    baru komen… T_T barusiap ujian UAS di kampus..jadi baru baca :V hmmm hmmm paling benci klo udah masuk konflik.. berasa nunggu banget jadinyaaa.. gak pake konflik aja ditunggu banget.. apalagi pakai konflik.. di tunggu okeyyy

  17. sungminyooblog says:

    jadi donghae itu oppanya haewoon? Terus kyu sama dong itu saudara seibu atau gimana sih ? Kyu ma haewoon gmana ? Ya tuhan aku makin penasaran aja ma ceritannya .eunn,jgn lama2 updetnyaya
    Fighting

  18. sungminyooblog says:

    jadi donghae itu oppanya haewoon? Terus kyu sama dong itu saudara seibu atau gimana sih ? Kyu ma haewoon gmana ? Ya tuhan aku makin penasaran aja ma ceritannya .eunn,jgn lama2 updetnyaya
    Fighting

  19. Dea ananda says:

    Apa halmeoni hyuno itu ibu nya haewon

    Soalnya kyuhyun bilang kan itu bukan ibu kandung nya dan donghaedonghae adalah kakak haewon
    Sepertinya begitu ya

  20. nazaki says:

    Omma tirinya kyu itu eomma kandungnya haewon kan? Trus donghae kakaknya.tapi kenapa donghae mesti dititipin ke orang lain pas kecil?
    Agak ribet sih, tapi walopun kyu & haewon jadi saudara tiri sebenernya g da hubungan darah apapun kan? Jadi g p2 lo mereka nikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s