9th ENCHANTED

image

Rencananya hari ini Haewoon ingin ke perpustakaan, meminjam buku dan membeli beberapa camilan sebelum mengurung diri di dalam kamar sampai besok pagi. Oh, sekadar informasi saja, Haewoon tidak ada kelas sampai dua hari ke depan jadi dia bisa santai. Dia juga bisa mengisi waktu itu dengan bekerja tanpa perlu diburu jam kuliahnya.

Tapi begitu ia membuka pintu pagar rumahnya dan melihat Cho Kyuhyun berdiri di sana, Haewoon mulai berpikir apakah rencananya akan berubah karena nampaknya pria ini akan memberinya pekerjaan lagi. Yang berarti dia tidak punya waktu untuk mengurung diri.

“Kyuhyun-ssi?” ucap Haewoon nyaris tidak percaya. “Sejak kapan kau di sini?”

Kyuhyun tetawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Baru saja,” sahutnya pelan. “Hanya berniat mengunjungimu. Apa aku mengganggu?”

“Oh, tentu tidak. Lalu di mana Hyunoo? Kau sendiri?”

“Tadi dia bersamaku, tapi begitu kuberitahu Shin Ju ada di Seoul dia langsung memintaku mengantarnya ke rumah Shin Ju.”

“Shin Ju?”

Kyuhyun berdeham, “Putri Min Ju, wanita yang kau temui di pantai waktu itu.”

“Ah…” Haewoon mengingatnya. Wanita cantik yang pada awalnya Haewoon kira istri Kyuhyun karena mereka tampak bergenggaman tangan. Tapi tunggu, Kyuhyun juga pernah menggenggam tangannya dan Haewoon membalasnya…

“Apa kau mau keluar?” tanya Kyuhyun kemudian, mengalihkan pembicaraan.

“Hanya ingin ke toko buku dan minimarket.”

“Boleh aku ikut?”

“Kau tidak sibuk?”

“Tidak mungkin aku sibuk kalau aku datang ke mari.”

Ah, benar. Pria itu tidak mungkin mengorbankan waktu sibuknya hanya untuk bertemu dengannya. Mereka ‘kan bukan siapa-siapa.

“Jadi… boleh?”

Haewoon tampak menimbang-nimbang. Bukannya dia menolak. Hanya saja ini tidak biasa untuk mereka. Kemarin mereka jalan-jalan saat ada Hyunoo, suasana tidak akan aneh. Tapi kalau mereka hanya berdua, orang-orang pasti mengira mereka berkencan dan Haewoon tidak yakin kalau dia bisa tetap menjadi dirinya yang seperti biasanya.

“Tidak apa-apa kalau tidak boleh. Tapi paling tidak temani aku makan sebentar, bagaimana? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

Haewoon mengerjap, “Sesuatu? Apa itu pekerjaan?”

Kyuhyun sontak tetawa kecil, “Apa yang ada dipikiranmu hanya pekerjaan? Kau tidak memikirkanku?”

“Jadi ini tentang kau?”

“Bisa dibilang begitu.” Kyuhyun mengangkat bahu. “Mau membantuku? Aku sangat membutuhkanmu.”

Setelah mengiyakan permintaan Kyuhyun dan meyakinkan diri kalau dia tetap bisa berani, mereka akhirnya memutuskan untuk makan di sebuah kafe di pinggir jalanan kota. Kyuhyun meminta Haewoon memilih menu untuk mereka dan seberapa pun banyak jumlahnya. Dan Haewoon—seperti biasa—yang tidak bisa melihat makanan enak tentu saja langsung memesan apa pun yang diinginkannya.

“Kau benar-benar akan mentraktirku, ‘kan?”

“Makanlah yang banyak. Aku suka melihat orang makan banyak.”

Haewoon tersenyum kecil, “Terimakasih. Tapi apa yang bisa kubantu? Oh, tunggu, makanan ini bukan untuk menyogokku, ‘kan? Kalau aku tidak bisa membantumu aku bisa menolak, ‘kan?”

“Tenanglah dulu, nona.” Kyuhyun tertawa melihat tingkahnya. Jujur saja, dia suka melihat apa pun dalam diri gadis di depannya ini. Semua itu bisa membuatnya tersenyum atau bahkan tertawa tanpa sebab. Lantas ketika Kyuhyun baru ingin memulai argumennya, seorang pelayan tiba-tiba datang dengan membawakan pesanan mereka.

Yang tentu saja membuat konsentrasi Haewoon padanya buyar dan bahkan Kyuhyun bisa melihat bagaimana mata bodoh gadis itu menatap makanan-makanan enak yang tersuguh di hadapan mereka.

“Kita bicarakan nanti saja, oke? Sekarang…” Haewoon menunjuk semua makanan itu lalu mereka tertawa bersama.

Kyuhyun mengiyakan dengan mengangguk-angguk. Lalu menarik sepiring panekuk dengan toping es krim yogurt dan madu di atasnya. Sementara Haewoon memilih waffle untuk makanan pembukanya.

Dan melihat bagaimana gadis itu memakan waffle sekarang ini entah mengapa membuat Kyuhyun tersenyum kecil. Terlebih jika teringat tentang apa saja yang sudah mereka lewati beberapa hari ini. Kyuhyun hampir tidak percaya dia bisa mengenal gadis semacam Lee Haewoon karena kepribadian gadis itu sangat terbuka, mudah untuk didekati. Kyuhyun saja yang terkadang masih sangsi pada dirinya sendiri karena tidak bisa mendekati Haewoon. Dia merasa berbeda karena ini pertama kalinya ia mendekati seseorang dengan alasan suka. Tidak seperti saat ia bersama gadis yang terang-terangan mengejarnya.

Merasa diperhatikan selama beberapa menit belakangan, Haewoon yang tadinya berusaha untuk pura-pura tidak tahu akhirnya berdeham pelan. Tangannya meraih segelas air dan meminumnya sebelum bertanya, “Kau tersenyum seperti orang bodoh sejak tadi. Kenapa?”

Kyuhyun tanpa sadar mengangat alisnya, “Benarkah?”

Haewoon mengangguk, kembali melanjutkan memakan wafflenya. “Kenapa? Kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Hm…” sahut Kyuhyun enteng. Kali ini dia yang terang-terangan menatap Haewoon seolah dia menginginkan gadis itu sekarang juga. “Aku sedang berpikir, kenapa ada gadis sepertimu di dunia ini?”

“Oh? Memang tidak boleh?”

“Bukan begitu. Tapi kau membuatku berpikir berbeda, karena kau berbeda dari mereka.”

Haewoon memiringkan kepalanya tidak mengerti. Menunggu Kyuhyun untuk melanjutkan.

“Yah… rata-rata dari mereka yang mendekatiku selalu karena uangku. Mereka berkata aku sangat tampan dan mereka sangat berharap agar aku jadi suami mereka.” Kyuhyun berhenti sejenak dan mengangkat bahu. “Tapi nyatanya mereka langsung pergi begitu tahu aku sudah punya anak sebesar Hyunoo. Cah… mereka jelas berbeda denganmu yang bahkan mendekatiku—maksudku mendekati putraku agar aku memberimu makan. Kau juga tidak berkata aku tampan, justru berpikir aku mirip Paman Goofy. Lebih lagi kau berharap agar kau bisa jadi pengasuh Hyunoo selama aku bekerja. Itu semua jelas berbeda, bukan?”

Haewoon ternganga mendengar kalimat panjang lebar yang mengalir lancar dari mulut pria itu, kemudian ia tertawa kecil, “Jangan menyanjungku, tolong.”

“Tidak, tidak. Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan selama ini.”

Haewoon balas mengangkat bahu sambil tetap tertawa. Menurutnya wajah Kyuhyun saat bicara sangat lucu. Ekspresinya membuat Haewoon berpikir bahwa pria itu sedang membual. Tapi kemudian ia mengangguk, mengiyakan argumen Kyuhyun. “Baiklah, terimakasih untuk yang kesekian kali.” Ucapnya, lalu kembali menikmati sisa makanannya.

Kyuhyun menggeleng. Tidak menyangka kalau ada gadis yang makan dengan porsi sebanyak itu di dunia ini. Dia bahkan selalu menjaga pola makannya. Tapi gadis ini…

“Haewoon-ah, ibuku pernah berkata kalau saat senang seseorang bisa makan dalam porsi besar.” Haewoon mengangkat wajahnya menatap Kyuhyun, tapi hanya beberapa saat sebelum ia kembali mengambil piring berisi waffle dengan toping coklat. “Selama aku bersamamu—maksudku saat kita ada di tempat yang sama, kau selalu saja makan dalam porsi yang tidak sedikit. Perutmu tidak apa-apa?”

Lagi-lagi Haewoon tertawa kecil, “Meskipun begini aku adalah calon dokter, aku juga makan teratur. Tidak selalu seperti ini.”

“Apa itu juga karena kau selalu senang?”

“Hm?”

“Aku baru sadar, selama aku mengenalmu kau sama sekali tidak pernah terlihat sedih. Kau selalu tersenyum bahkan saat kau terjatuh. Kenapa kau seperti itu?”

Haewoon berdeham, mendorong piringnya sedikit ke depan dan kembali meminum air untuk menetralkan rasa dalam mulutnya. Haewoon melipat kedua tangannya di atas meja, balas menatap Kyuhyun sebagaimana pria itu menatapnya.

“Kau pernah menonton film Kungfu Panda?” tanya Haewoon santai, tapi entah mengapa bisa terlihat serius di mata Kyuhyun.

“Tidak, tapi aku tahu. Hyunoo pernah merengek agar aku membelikannya CD film itu.”

“Yesterday is a history. Tomorrow is a mystery. But today is a gift. That’s why it’s called present.” Ucap Haewoon tanpa mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. “Salah satu pemeran di film itu yang mengatakannya. Dari sana aku sadar, bahwa tidak ada orang yang tidak suka diberi hadiah. Aku juga suka diberi hadiah. Lantas kenyataan tentang aku yang masih bisa bernapas pada hari ini adalah hadiah terindah yang pernah kudapat. Dan aku bahagia atas itu. Jadi tidak ada alasan untukku tidak bahagia disetiap waktu dalam hidupku. Aku harus berterimakasih pada Tuhan karena sudah memberiku hadiah dengan kebahagiaan dan juga senyuman.”

Kyuhyun tersenyum semakin lebar, “Begitukah?”

“Mm-hm… kau harus mencobanya. Kebahagiaan itu bisa menular pada orang-orang yang ada di sekitarmu, asalkan kau bahagia terlebih dahulu.”

“Apa kau merasa sudah bahagia?”

“Tentu saja.”

“Lalu apa kau mau jadi seseorang yang bisa menularkannya padaku? Aku mau mencobanya.”

Haewoon melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum melihat tingkah aneh Kyuhyun yang tiba-tiba membawanya ke sebuah supermarket dan sekarang pria itu tampak sibuk sendiri memilih belanjaan dengan troli besi di hadapannya.

“Aku tidak makan sebanyak itu, Kyuhyun-ssi. Kita juga baru makan.” Tegur Haewoon sambil berjalan mendekat. Dia tadi juga memberitahu Kyuhyun kalau ingin membeli sedikit camilan sebelum pria itu menyeretnya ke sebuah supermarket. Tapi Haewoon tidak tahu kalau ternyata Kyuhyun yang memimpin acara belanjanya.

Kyuhyun menoleh padanya sebentar, “Bukan hanya untukmu.”

“Eh?”

“Aku sedang malas pulang ke rumah. Boleh aku menginap di rumahmu? Dengan Hyunoo juga, tentu saja.”

“Kau serius?” Haewoon menyentuh troli besi itu, menghentikan pergerakan Kyuhyun. “Aku wanita dan kau pria, Cho Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun mengangkat bahu, “Kurasa kau yang bilang kalau kau percaya padaku. Jangan lupakan keberadaan Hyunoo sebagai anakku.”

“Tapi ini Seoul.”

“Lalu?”

“Kita tidak ada hubungan lagi. Kau bukan bosku dan aku bukan pengas —”

“Kau mau kita punya hubungan?”

“YE?”

Kyuhyun tertawa kecil, tampak santai sekali. “Akan kujelaskan kenapa aku malas pulang setelah kau mengizinkan kami menginap. Bagaimana?”

“Oh, astaga, kau kaya! Demi Tuhan kau punya banyak uang! Kenapa harus menginap di rumahku ketika kau tidak mau pulang?” Haewoon berdecak tidak percaya.

“Hyunoo yang ingin menginap di rumahmu.” Maaf aku berbohong. “Aku punya apartemen sendiri, jujur saja. Tapi Hyunoo mau tidur di rumahmu. Aku harus bagaimana?”

“Jangan membual, tolong.”

“Apa aku pernah membual tentang anakku?” Ini pertama kalinya.

Haewoon mengerutkan keningnya. Menatap Kyuhyun lebih tajam karena sungguh, Kyuhyun yang sekarang ini sangat berbeda dengan saat mereka pertama kali bertemu beberapa hari yang lalu. “Tidak.” Jawabnya kemudian.

“Jadi kami boleh menginap?”

“Berjanjilah untuk tidak macam-macam.”

Dan Kyuhyun sontak menepuk kening Haewoon dengan telapak tangan kanannya sebelum berkata, “Aku sudah berjanji. Jadi bolehkah?”

Haewoon tampak berat saat harus memberikan jawabannya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak mengerti harus berbuat apa ketika Kyuhyun ada di rumahnya. Tolong, kemarin dia yang menumpang dan dia bekerja untuk Kyuhyun. Dia melayani pria itu secara tidak langsung. Dan sekarang pria itu yang menumpang. Tapi Kyuhyun tidak bekerja padanya, juga tidak mungkin melayaninya. Haewoon harus bagaimana?

“Aku akan melakukan apa pun yang kau mau. Anggap saja aku bekerja padamu.”

BOOM! Pria itu bisa membaca pikirannya.

Haewoon mengerjap cepat. Lalu menurunkan tangan Kyuhyun dari keningnya sebelum memfokuskan pandangannya pada pria itu. “Besok Hyunoo harus sekolah, ‘kan?”

“Ya. Hari pertama setelah liburan.”

“Kalau begitu kau sebaiknya pulang.”

“Aku akan mengajaknya pulang pagi-pagi sekali.”

“Itu hanya akan membangunkannya terlalu pagi dan Hyunoo akan mengantuk saat di sekolah.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

Haewoon mengangkat bahu. “Urusanmu.”

“Kau tidak mau membantuku?”

“Oh, astaga, sebenarnya ada apa? Kenapa tidak pulang saja, sih?”

“Kubilang akan kujelaskan setelah kau izinkan menginap di—”

“Jelaskan sekarang baru akan kuputuskan.”

“Nanti kau mengusirku pulang.”

“Cho Kyuhyun, kumohon.”

“Atau kau saja yang ikut ke rumahku?”

“Kau gila, ya?”

“Setidaknya aku punya kau untuk menghindari kakak dan ibuku.”

“Oh… jadi itu alasannya?”

Kyuhyun mengangguk membenarkan.

“Kenapa harus menghindari mereka?”

“Karena suatu hal yang tidak bisa kujelaskan padamu.”

“Kalau begitu aku menolakmu. Kalian tidak boleh tidur di rumahku.”

“Katakan itu pada Hyunoo.”

Haewoon menggeram kesal. Inilah masalahnya. Dia tidak mungkin melarang anak itu. Hyunoo bisa mengadu pada ayahnya dan Haewoon sudah mulai berpikir apa yang akan dilakukan Kyuhyun kalau hal itu terjadi.

Kyuhyun mengulum senyum sambil menatapi Haewoon yang masih berpikir keras. Dia punya firasat baik tentang ini. Haewoon pasti mengizinkannya. “Bagaimana?”

Haewoon menggigit bibir bawahnya. Well, dia tahu dia gadis serampangan. Tapi Haewoon tahu batasan. Lagi, kemarin dia menginap di rumah Kyuhyun karena ada alasan.

Tapi kalau Kyuhyun yang menginap di rumahnya…

Bagaimana kalau dia… Kyuhyun… atau mereka… entahlah. Haewoon tidak bisa mendeskripsikan itu semua karena rasanya sangat aneh. Dia tidak pernah seperti ini.

“Apa kau takut?”

Suara Kyuhyun mengembalikan Haewoon dari alam bawah sadarnya. Gadis itu mendongak dengan pandangan linglung, tapi kemudian menggeleng. “Tidak. Aku tidak takut.”

“Meskipun begitu kau harus tetap percaya padaku. Aku tidak akan melakukan apa pun.”

“Kubilang aku tidak takut.”

“Hanya untuk meyakinkanmu.” Kyuhyun mengangkat bahu. Lalu kembali mendorong troli besi itu dengan Haewoon yang juga berjalan di sampingnya. “Jujur saja, aku sedang kesepian sekarang. Maka dari itu aku datang padamu.”

Haewoon menunggu.

“Dan mereka ingin aku menikah,” ucap Kyuhyun sebelum menunduk dan tertawa kecil. “Aku akhirnya mengatakannya.”

“Jangan diteruskan kalau kau keberatan.”

“Tidak, bukan itu. Maksudku datang padamu memang karena aku perlu teman untuk membicarakan masalah itu.”

“Kau ingin aku menasehatimu?”

Tidak. Aku ingin kau yang menjadi istriku.

“Ya. Aku perlu masukan. Kepalaku kosong dan aku tidak tahu harus bagaimana. Kalau aku menerima gadis pilihan kakak dan ibuku, aku tidak tahu apakah itu baik untukku dan juga Hyunoo. Tapi kalau aku menolak mereka tidak akan melepaskanku begitu saja.”

“Lalu kau ingin aku seperti apa?”

Kyuhyun berhenti di sebuah rak berisi berbagai macam susu anak-anak dan ia mengambil satu. Untuk Hyunoo, tentu saja. “Menurutmu aku harus bagaimana?”

Haewoon terdiam dengan tatapan langsung pada pria itu. Kyuhyun juga terdiam. Tepatnya tidak tahu harus berbuat apa ketika gadis itu terang-terangan menatapnya. Lee Haewoon benar-benar berbeda.

“Tanyakan pada hatimu.”

Kali ini Kyuhyun yang menunggu.

“Menurut pandanganku, jika kau menerima gadis pilihan mereka, setidaknya kau harus tahu apakah Hyunoo menyukainya. Dan jika kau menolaknya, maka kau harus mencari wanita lain yang kau dan Hyunoo suka agar mereka bisa melepaskanmu dari perjodohan itu.”

Kyuhyun menunduk, tersenyum. Sejak awal dia memang sudah mengambil opsi kedua. Pemikiran mereka jelas-jelas sama.

“Intinya ada pada Hyunoo.” Lanjut Haewoon kemudian. “Kau sudah memilikinya, jadi berusahalah untuk tidak egois atas pilihanmu. Karena itu hanya akan menyakitinya.”

“Tapi aku takut kalau wanita yang kusuka dan Hyunoo suka itu menolakku.”

“Memang kau sudah mencoba?”

Kyuhyun tersenyum saja. Dan lagipula Haewoon mencoba untuk tidak peduli apa jawabannya.

“Jangan pernah mau dikontrol oleh rasa takutmu itu. Kau belum mencoba. Kau belum tahu apa hasilnya.”

“Menurutmu aku harus mencoba?”

Haewoon mengangkat alisnya sebelum mengangguk mengiyakan. “Mm-hm, tentu saja.”

Haewoon menjatuhkan tubuhnya ke kursi begitu sosok Kyuhyun menjauh dari sekitarnya untuk mengangkat telepon. Haewoon mengangkat tangan, menyentuh dadanya sambil menutup mata lalu menghela napas pelan.

Rasa-rasanya dia bisa mati sekarang juga.

Sial. Dia terpaksa menahan dirinya sejak Kyuhyun bersamanya beberapa jam yang lalu. Jujur saja, Haewoon senang karena orang yang disukainya ada di dekatnya. Haewoon sudah mengatakannya, bukan? Kalau dia mungkin saja menyukai Kyuhyun tapi…

Tapi kalau seperti ini jadinya siapa yang akan tahu bagaimana kondisi jantungnya? Haewoon harus menahan diri sejak tadi apalagi karena sikap Kyuhyun yang berubah drastis dari saat pertama mereka bertemu. Sial!

Pria itu terlalu baik. Dia menjemput Hyunoo, memasak makanan kesukaan Hyunoo, mengajari anak itu melakukan sesuatu dan masih banyak lagi. Oh, Kyuhyun memang tidak seperti itu padanya tapi sungguh! Siapa yang tahan melihat seorang ayah muda yang tampan memperlakukan putranya seperti itu? Lebih lagi dia tidak punya istri! Catat itu! Dia tidak punya istri! Oh, astaga… Kenapa Haewoon harus jatuh hati pada pria itu? Kenapa harus Kyuhyun yang bahkan belum seminggu sudah membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas?

Haewoon mendesah lelah. Mendongak menatap langit-langit dapurnya dengan bayang-bayang aneh yang mendadak menyerbu isi kepalanya.

Dia harus bagaimana? Kyuhyun tidak bisa tinggal di sini atau dia yang akan mati. Pria itu secara tidak langsung mengancam kehidupannya!

“Imo.”

“Ya?” jawab Haewoon kelewat cepat ketika suara itu menghampiri gendang telinganya. Haewoon tersenyum melihat Hyunoo berdiri di samping kulkas sambil memeluk sebuah buku origami. “Ada apa, hm?”

“Ada yang mencari.”

“Siapa?”

Hyunoo mengangkat bahu. Dan Haewoon pun mengerutkan keningnya bingung. Jujur saja, dia tidak pernah kedatangan tamu karena jarang di rumah, kecuali Dae Yeon…

“Haewoon-ah, ini aku!”

Oh, benar, itu Dae Yeon.

Haewoon menghela napas lega, lalu melepas celemek dan menggiring Hyunoo berjalan keluar dari dapur untuk menyambut Dae Yeon yang berdiri diam di depan pintu yang masih terbuka.

Gadis itu melambai, tersenyum lebar pada Haewoon sebelum pandangannya jatuh pada Hyunoo. “Siapa?” tanyanya tanpa suara. Dia tahu anak itu yang tadi membukakan pintu untuknya tapi Dae Yeon tidak tahu siapa dia sebenarnya.

Haewoon balas mengerjapkan matanya berkali-kali, meminta Dae Yeon untuk diam sambil mengajak gadis itu masuk ke dalam kamarnya.

“Boleh Hyunoo ikut masuk?”

Dae Yeon terdiam melihat anak itu memegang pakaian Haewoon dan gadis itu mengiyakan. Lantas mereka pun melangkah ke dalam. Dae Yeon meletakkan tasnya ke atas meja lalu duduk di atas lantai berkapet sambil membuka bungkusan ayam yang baru dibelinya. Sementara Haewoon duduk di depannya, dengan Hyunoo yang tiba-tiba menyerobot dan duduk di atas pangkuannya.

Sekali lagi Dae Yeon memerhatikan Haewoon dan anak itu sebelum membuang muka. Dia tahu sedang ada sesuatu. Tapi tadi Haewoon menyuruhnya diam. Mungkin karena masih ada anak ini. Haewoon pasti akan bercerita padanya nanti.

“Jadi bagaimana hari liburmu?” tanyanya sambil memilih paha ayam dan memberikannya pada Haewoon. Tapi lagi-lagi matanya jatuh pada Hyunoo yang memandang ayam di tangannya dan… dia bukan gadis pelit, cukup tahu saja. Jadi Dae Yeon tersenyum kecil, lantas memberikannya pada Hyunoo. “Untukmu sebagai harga perkenalan. Siapa namamu?”

Hyunoo balas tersenyum lebar sambil mengambil potongan ayam itu, “Terimakasih, Imo.”

“Namamu?” tanya Dae Yeon sekali lagi.

“Hyunoo.”

“Ah… Hyunoo.” Dae Yeon mengangguk-angguk mengerti. Lalu mengambilkan satu potong lagi untuk diberikan pada Haewoon yang menurut Dae Yeon selalu berubah sifatnya jika bersama anak kecil. Entah mengapa, tapi Dae Yeon merasa sifat keibuan Haewoon langsung muncul dan itu yang membedakannya dengan Haewoon. “Dan kau, bagaimana hari liburmu?”

Haewoon mengangkat bahu, “Sebagian besar rencanaku gagal karena tiba-tiba seseorang datang.”

“Anak ini?” tanya Dae Yeon tanpa suara. Tapi Haewoon menggeleng santai sambil menikmati ayamnya. “Lalu?”

“Ayahnya.”

“Hah?”

Haewoon mengangkat bahu sekali lagi dan tidak berniat untuk menjawab. Toh Dae Yeon gadis yang cukup cerdas. Haewoon yakin Dae Yeon mengerti apa maksudnya tanpa perlu dijelaskan lebih.

Meskipun Dae Yeon justru tercengang dengan beberapa kemungkinan yang muncul begitu saja dalam kepalanya.

“Maksudmu dia… Jeju… bos… anak satu dan tidak beistri?”

“Uh-huh.”

“Ayahnya datang menemuimu?”

“Yes.”

“Dan menggagalkan rencanamu?”

Haewoon membenarkan sekali lagi.

“Sejak kapan?”

“Siang tadi.”

Dae Yeon langsung melihat jam tangannya, “Dan ini jam makan malam.”

“Benar sekali.”

“Kau bersamanya selama ini?”

“Kupikir kami jadi teman.”

“Oh, astaga…,” Dae Yeon menyandarkan punggungnya ke meja di belakangnya. Meskipun dia sempat berpikir kalau Haewoon menyukai pria yang diceritakannya kemarin, yang Dae Yeon tahu adalah ayah dari anak di depannya ini, Dae Yeon tetap tidak menyangka kalau Haewoon membiarkan pria itu memasuki rumahnya. “Aku sudah mengingatkanmu tentang Jayden, ‘kan?”

“Kubilang dia berbeda, Kang Dae Yeon.”

“Tapi dia tetap pria.”

“Aku percaya padanya.” Sahut Haewoon yakin. Lalu mengambil satu potong ayam lagi. “Bisa kau lihat aku bersama anaknya dan dia juga percaya padaku.”

“Apa percaya cukup untuk membuktikan cinta?”

Haewoon tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya bergerak pada Hyunoo yang ternyata juga mendongak menatapnya. Haewoon lalu berdeham pelan, mencoba tenang sambil tersenyum kecil, “Bisa Hyunoo keluar sebentar? Ada sesuatu yang harus Imo bicarakan.”

Hyunoo beralih pada Dae Yeon yang menunggu jawabannya. Kemudian kembali pada Haewoon sebelum akhirnya ia mengangguk, menerima satu potong ayam lagi dari Dae Yeon lalu berlari ke luar kamar.

Haewoon menatap punggung Hyunoo yang menghilang di balik pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Lantas menghela napas, bersandar ke pinggiran tempat tidur dan menatap Dae Yeon serius.

“Kau menyukainya, bukan?”

Haewoon diam saja. Tetap pada posisinya.

“Kau tidak pernah seperti ini, Hae-ya.”

“Entahlah.”

Kali ini Dae Yeon yang menunggu.

Haewoon menghela napas sekali lagi. “Aku sudah berpikir apakah aku menyukainya atau ini hanya perasaan sementara karena aku mengasuh anaknya. Tapi…”

“Kau tidak keberatan saat dia bersamamu nyaris seharian.”

“Dia selalu mengajakku berbincang, hal-hal aneh yang tak terpikirkan sekalipun. Aku tahu ada yang sama dari kami. Dan aku menyukainya. Tapi aku takut kalau ini hanya sementara.”

“Tanyakan pada hatimu,” ujar Dae Yeon, menegapkan tubuhnya. “Apakah kau ingin ini jadi selamanya atau kau ingin ini sementara dan berakhir secepatnya.”

Tatapan Haewoon jatuh ke lantai di depannya. Memikirkan pertanyaan Dae Yeon dan jujur saja, dia tidak tahu harus bagaimana. Bayangan ditinggalkan seseorang yang sangat dicintainya masih terbayang, membuatnya ragu untuk mencintai lagi. Dia harus bagaimana?

“Haewoon-ah,” panggil Dae Yeon lembut. Dan Haewoon mengangkat kepala, membalas tatapan Dae Yeon. “Aku kakakmu. Apa pun yang menjadi keputusanmu, aku pasti mendukungmu. Kau gadis luar biasa. Kau bisa menghadapi apa pun dan aku percaya padamu. Terkadang aku hanya takut karena sikapmu itu. Kau bisa membahayakan dirimu kapan saja. Tapi jika kau membuat suatu keputusan, kumohon tanyakan dulu pada hatimu dan jangan takut lagi. Kalau dia membuatmu merasa nyaman, kenapa tidak? Kau harus memulai semuanya lagi. Ohk? Bukankah kau yang memberitahuku untuk hidup seperti itu? So, go, ask your heart.”

Tidak seperti biasanya. Malam ini Dae Yeon pulang cepat karena suasana canggung tiba-tiba menyelimuti antara dia dengan Haewoon. Jadi setelah menghabiskan ayam mereka dan membantu Haewoon membersihkan dapur, Dae Yeon berpamitan untuk pulang.

Tapi ketika baru mencapai taman, Dae Yeon menghentikan langkahnya karena melihat Hyunoo bermain ayunan sendirian. Oh, dia hampir melupakan anak itu. Dia bahkan tidak sadar kalau Hyunoo tidak ada di rumah Haewoon saat mereka bersih-bersih tadi.

Jadi Dae Yeon melangkah mendekat, dan baru berniat memanggil anak itu ketika seorang pria memanggil Hyunoo dari kursi kayu tak jauh dari ayunan. Dae Yeon mengubah langkahnya ke arah pohon dan berdiri di baliknya. Memerhatikan Hyunoo yang kini berlari menghampiri pria itu dan melompat ke atas pangkuannya.

Sepertinya pria itu ayah Hyunoo. Dae Yeon tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena kendala penerangan. Tapi dilihat dari sikapnya, nampaknya Haewoon benar tentang pria itu yang penyayang. Mereka sempat berbicara entah tentang apa, lalu tertawa sebelum Hyunoo menjatuhkan kepalanya ke salah satu bahu ayahnya. Lantas pria itu bangkit berdiri, berjalan ke sekeliling taman sambil menepuk-nepuk punggung Hyunoo di gendongannya dan…

Pada saat itu Dae Yeon mendapati napasnya tercekat dan mulutnya tiba-tiba terbuka.

“Dia… dia…” Dae Yeon sontak menutup mulutnya. Berusaha untuk tidak mengeluarkan suara lalu berbalik dan melangkah menjauh secepat yang ia bisa.

Tangannya bergerak cepat mengambil ponselnya di dalam tas, mencari-cari nama seseorang dan menyambungkan telepon. Dae Yeon menggigit bibir bawahnya, tidak berani menoleh meskipun hanya untuk memastikan dan lantas ketika suara seseorang terdengar dari seberang sana…

“Halo, ini aku.” Dae Yeon langsung menyambar sambil melambai pada mobil taksi yang kebetulan melintas di depannya. “Beri aku informasi petinggi perusahaanmu. Penting. Akan kubayar besok kalau kau kirimkan sekarang. Terimakasih.” Ucapnya dan langsung memutuskan panggilan itu, lalu masuk ke dalam taksi dan mengatakan arah tujuannya.

Kyuhyun menghela napas pelan, lantas tersenyum kecil merasakan deru napas teratur Hyunoo yang tertidur dalam pelukkannya. Kyuhyun duduk kembali di tempatnya semula, membenahi posisi Hyunoo dan memeluknya lagi sebelum mendongak menatap langit, menutup mata.

Tadi dia dapat telepon dari Ahra. Dan Kyuhyun yang tahu apa yang akan dibicarakan kakaknya itu memilih menelepon di luar rumah karena takut Haewoon mendengarnya. Kyuhyun juga sempat melihat ada seorang gadis yang datang dan Hyunoo membukakan pintu. Sebelum beberapa menit kemudian Hyunoo berlari ke luar mencarinya, dan Kyuhyun mengajaknya ke taman untuk bermain sebentar.

Kyuhyun sudah bilang kalau Hyunoo adalah segalanya. Melihat anak itu tertawa sudah cukup berarti untuk membangkitkan perasaannya yang sempat merosot. Dan tadi Ahra membuatnya nyaris gila. Wanita itu mengatakan hal-hal yang bodoh yang sebenarnya Kyuhyun yakin tidak akan pernah terjadi. Seolah-olah Ahra tidak percaya padanya. Kyuhun muak mendengarnya dan mereka pun bertengkar. Jadi melihat Hyunoo tertawa saat bermain di taman sepi itu sendirian sudah lebih dari cukup. Itu adalah obat terampuh yang Kyuhyun punya dan dia sangat mensyukurinya.

Hyunoo melenguh pelan, merapatkan kedua tangannya di depan dada dan kembali melanjutkan tidurnya. Kyuhyun yang tahu Hyunoo kedinginan pun memutuskan untuk ke rumah Haewoon. Diam-diam ia memikirkan apakah ia harus bercerita tentang ini atau tidak. Jujur saja, Kyuhyun ingin diam dan menyimpannya dan juga menyelesaikannya sendiri. Tapi di sisi lain dia yakin kalau Haewoon bisa membantunya. Gadis itu dipenuhi aura positif dan Kyuhyun tidak bisa menyangkal lagi kalau dia menyukainya.

Jadi setelah beberapa menit dihabiskannya di perjalanan, Kyuhyun akhirnya tiba di rumah Haewoon dan bahkan gadis itu membukakan pintu untuknya. Haewoon bertanya ‘apa Hyunoo sudah tidur’ tanpa suara dan Kyuhyun balas mengangguk.

“Ke kamarku.” Ucap Haewoon kemudian, membuka pintu kamarnya dan membiarkan Kyuhyun meletakkan Hyunoo di atas tempat tidurnya. “Sejak kapan dia keluar?” tanyanya begitu Kyuhyun menghampirinya.

“Selesai aku menelepon, kuajak dia ke taman dan dia tertidur.”

“Aku hampir lupa kalau kalian di sini,” Haewoon tersenyum kecil. Lalu melangkah ke luar rumah dan duduk di meja besar yang biasa digunakannya dengan Dae Yeon untuk berpesta camilan dan menonton bintang sambil membicarakan segala hal bahkan sampai tertidur lalu terbangun keesokan harinya. Haewoon menepuk tempat di sampingnya, “Duduklah, perasaanku mengatakan kau sedang butuh teman.”

Kyuhyun tertawa kecil, “Apa terlihat sekali?”

Haewoon mengangguk mengiyakan. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi melihatmu seperti sekarang sungguh tidak nyaman untukku.” Ucapnya pelan lalu menoleh pada Kyuhyun yang sudah duduk bersila di sampingnya. “Aku lebih suka kau sebelum menerima telepon itu.”

“Aku bertengkar dengan kakakku.” Jawab Kyuhyun langsung, air mukanya tiba-tiba berubah serius. Dia tahu gadis itu ingin dia bercerita. Haewoon hanya sedang berusaha untuk tidak lancang dan menunggunya. “Tidak seperti pertengkaran biasanya tapi ini… ini cukup besar sampai aku bingung harus bagaimana.”

“Mind to share?”

“Kau jadi tempatku menumpahkan ceritaku ya belakangan ini.” Kyuhyun tertawa pelan, yang sebenarnya Haewoon tahu itu terasa dipaksakan.

“Katakan saja. Aku akan mendengarkan.”

Kyuhyun balas menggeleng. “Tidak apa-apa. Ini urusanku. Aku tidak mau membuatmu memikirkannya juga.”

“Kalau-kalau aku bisa membantu.”

“Dengan kau jadi temanku seperti ini bagiku sudah cukup.”

“Begitukah?” ucap Haewoon tanpa suara. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan perlahan lalu mendongak menatap langit seperti yang telah Kyuhyun lakukan. “Kau tahu?” tanyanya kemudian. Dan Kyuhyun berdeham tanda ia mendengarkan. “Terkadang aku bisa gila saat kenangan buruk itu secara tiba-tiba merasuki tubuhku. Mengajakku kembali ke masa lalu.
Membuatku merasakan semua kepedihan dan kesakitan itu satu demi satu.”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Haewoon sedang menerawang ke langit malam.

“Aku tidak bisa berhenti berpikir bagaimana caranya seseorang bisa mencintai orang lain. Itu memang menyenangkan pada awalnya, tapi akhirnya akan ada orang yang akan pergi, membuatmu terluka dan lupa bagaimana rasanya cinta. Aku selalu bertanya, kenapa kita tidak hidup tanpa emosi saja? Agar dunia ini aman dan tenang tanpa harus merasakan kesakitan. Tapi Tuhan sudah menakdirkan semuanya seperti ini. Aku lagi-lagi harus menyadarkan diri kalau aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seseorang kecil yang harus menjalani hidupku tidak peduli apa pun yang terjadi.

“Dan terkadang saat aku mulai gila, aku berusaha berpikir bahwa hari ini bukanlah hari terburuk dalam hidupku. Aku pasti bisa menghadapinya. Dan orang-orang tertentu di luar sana juga punya hari yang sama sepertiku. Aku tidak boleh menyerah begitu saja.”

“Justru itu kau seperti ini?”

“Hm?” Haewoon menoleh pada Kyuhyun. “Maksudmu?”

Kyuhyun mengangkat bahu, “Sudah kubilang kalau kau tidak pernah terlihat sedih, bukan?”

Haewoon menyipit sambil berpikir, sebelum kemudian tersadar dan ia menjentikkan jari lalu mengangguk  mengerti. “Ya, kau benar. Pretend that you are happy is better than pretend that you are sad.”

“Kutipan apa lagi?”

“Kutipanku sendiri.” Jawab Haewoon santai, mengangkat bahu.

“Menurutmu apa aku juga harus seperti itu?”

“Tentu saja.” Haewoon menatapnya sekilas. “Kau punya Hyunoo, dan kuingatkan padamu, jangan pernah memperlihatkan kalau kau sedang sedih di hadapan putramu. Berpura-puralah bahagia sebentar saja agar dia bahagia jua.”

Kyuhyun terdiam, meresapi kalimat itu sambil tersenyum kecil.

“Aku tidak membual saat kubilang aku kadang-kadang gila.”

“Karena apa?”

“Sudah kubilang karena kenangan bur—”

“Apa karena ibumu?”

Mendengar itu Haewoon pun sontak merapatkan mulutnya. Lalu perlahan menunduk menatapi apa pun yang ada di bawahnya. Well, dia lupa kalau pernah bercerita tentang ibunya pada pria ini. Kyuhyun jelas sudah mengerti apa yang dimaksudnya sejak tadi.

“Maaf kalau tiba-tiba membuatmu tidak nyaman.”

“Bukan masalah,” kali ini Haewoon yang berusaha tersenyum. “Aku juga yang sudah memulainya. Bukan salahmu.”

“Tapi boleh aku bertanya satu hal?”

Haewoon balas menatap Kyuhyun sekilas dan pria itu tahu Haewoon mengizinkannya.

Jadi Kyuhyun menghela napas pelan, kembali menerawang ke langit malam. “Apa yang akan kau lakukan jika ada seorang wanita yang bukan ibumu tapi sudah seperti ibumu memerintah sesuatu? Kau akan menuruti perintahnya atau tidak?”

Haewoon menoleh pada Kyuhyun tapi tidak langsung menjawab. Ia berdeham panjang, sambil memainkan kaki yang tergantung ia lalu menjawab, “Kalau dia wanita yang kupercaya, aku akan menurutinya.”

“Bagaimana kalau kau menentangnya?”

“Hm… entahlah. Tergantung apa perintahnya padaku, kalau kurasa itu tidak cocok denganku dan dia memaksa, aku akan menentangnya.”

“Begitukah…”

“Kenapa? Kau sedang berada dalam posisi itu?”

“Ya, tapi dia tidak memaksa. Dan itu membuatku tidak nyaman. Seolah-olah aku membuat salah dan aku kasihan padanya. Aku merasa aku harus menuruti perintahnya. Tapi aku juga tidak bisa.”

“Kalau begitu turuti saja. Mungkin dia sudah tahu apa yang terbaik untukmu.”

“Masalahnya, aku tidak tahu apakah yang terbaik untukku menurut pilihannya juga akan jadi yang terbaik untuk Hyunoo.”

“Ah… yang tadi.” Haewoon mengangguk-angguk, mengingat kembali percakapan mereka siang tadi. “Tentang perjodohan itu?”

Kyuhyun membenarkan.

“Ada apa? Tadi kau seolah tidak memikirkannya.”

Kyuhyun membuang napas pelan. Sebelumnya dia sudah memutuskan untuk tidak bercerita pada Haewoon. Tapi melihat bagaimana meyakinkannya wajah gadis ini entah mengapa membuat Kyuhyun berpikir sebaliknya. Dia berpikir untuk menjadi lebih terbuka agar gadis ini semakin percaya padanya.

“Tadi, ibuku menelepon dan bertanya kapan aku akan mengajak calon istriku. Kubilang aku tidak tahu. Tapi kakakku langsung menyambar dan memaksaku untuk membawa seseorang besok atau aku harus menerima gadis pilihan mereka.”

“Karena itu kalian bertengkar?”

Kyuhyun mengangguk. “Aku sudah bilang kalau mencari istri yang bersedia menjadi ibu untuk Hyunoo sangat tidak mudah. Tapi dia bilang aku harus.”

“Kenapa dia memaksa secepatnya? Apa ada alasan tertentu?”

“Entahlah… aku tidak mengerti pikiran mereka.”

“Bagaimana kalau terima saja pilihan mereka?”

“Apa?” Kyuhyun mengerutkan keningnya, tidak percaya usul Haewoon kali ini. “Kau yakin?”

“Tadinya tidak,” Haewoon mengangkat bahu. “Tapi setelah dipikir-pikir sepertinya ada baiknya mencoba pilihan mereka. Kau tidak tahu kenapa mereka memaksa. Dan kalau kau datang sendiri untuk menerima gadis itu, kau bisa tahu apa alasan mereka. Jangan lupakan Hyunoo. Dia juga berhak memilih.”

“Begitukah?”

Haewoon mengangguk membenarkan. “Menurutku begitu.” Ucapnya santai. Lalu tiba-tiba tertawa kecil sambil mendongak menatap langit. “Sudah kubilang kenapa kita tidak hidup tanpa emosi saja? Lihat, sekarang ada orang yang bingung memikirkan perasaannya. Bukankah itu sulit?”

“Sedikit,” balas Kyuhyun pelan. “Sebenarnya aku sudah tahu perasaanku. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan gadis itu.”

“Gadis seperti apa?”

Kyuhyun tersenyum sambil menatap Haewoon dari samping, “Gadis yang katanya bisa tiba-tiba gila karena teringat kenangan terburuk dalam hidupnya.”

Dan Haewoon kontan mengerjap, berhenti bernapas dan dia tidak sadar kalau mulutnya sedikit terbuka. Lantas beberapa detik kemudian ia berdeham, lekas-lekas memakai sandalnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. “Aku lupa membuat sesuatu. Omong-omong kau bisa tidur di ruang tamu. Aku masuk dulu.”

Advertisements

41 thoughts on “9th ENCHANTED

  1. amikyu98 says:

    ah,,, greget banget!!
    penasaran sm next nya…
    ayolah… saling mengakui perasaan kalian apa susahnya sih? jangan sampe terlambat
    Dae Yeon kenapa kaget gitu lihat Kyuhyun?
    apa jangan2 dia yg mai dijodohin ama Kyu??? maldo andwae!!!!!
    fighting eonnie… buat nulis lanjutannya..
    I’ll be waiting 😀

  2. ina says:

    yaahh~ kurang panjang ceritanya hahah xD
    aish kyuhyun mau ngomong kau mau jadi calon istriku gitu ko lambat bgt sih kaya siput,da yeon kenapa ko kagey bgt sih liat kyuhyun sampe lapor segala kaya gitu penasaran deh

  3. Putri says:

    sebenarnya… cukup mengakui perasaan mereka berdua…kelar masalah kyuhyun..tapi ini ya kyuhyun yang biasanya gentle jadi entahlah haha
    wah da yeon nelpon siapa ya…
    aku selalu suka momen hewon-hyuno..hewon keibuan banget …

    tetap semangat author…

    • Anggiye says:

      Masalahnya lagi, ngungkapin perasaan itu ga semudah ngeluarin odol dari tempatnya. Mikir ribuan kali dulu mau gimana caranya. >_< duh real ini namanya wkwk btw thanks ya

  4. dharu86 says:

    aduuh gemes liat tingkah haewon ya ampun haha kenaapa pada malu malu kucing gitu sih,gemes dah,, semangat buat chokyu buat dapetin haewon…
    jadi penasaran sama next chap nya…semangat juga buat authornya..

  5. gaem9488 says:

    omg akhirnya yang ditunggu publish jugaaaa….. gemes liat Kyuhyun dan Haewoon…. Kyuhyun ayolaaahhh lebih agresif mungkin? dan Haewoon ayolah jangan takut untuk membuka hati atau mengakui juga biar semua lebih mudah

  6. lazl says:

    Akhirnyaaaaaa muncul jugaa:”) cerita yg bener2 ditunggu..
    aaaaaah gregetan bgt sama mereka berduaa:(( cepet deh jadiinyaa wkwkwk. Penasaran juga nih kenapa daeyeon nya kaget yah…
    ditunggu part selanjutnyaa!!:)))

  7. auliatarzia says:

    hayooooo daewo kenapa kaget liat kyu?!haewoon lucu deh haha cie kyu udah mulai ungkap perasaan. semaga bisa bawa haewoon cepet2 jadi ibu hyunooo

  8. ellalibra says:

    Q udh bilang lom y dlu ,,q pernah berpikir apa yg jd ibunya kyu skrg adl ibunya haewon yg ninggalin dy ?? Td ada clue itu kynya eon Hoho…. Makin seru eon ,,,, haewon pst ninggalin dy kl bnr ky gt hehehe …. Tp apa ayahnya kyu msh ada ?? Ini msh kyu pedekate sm haewon y eon akh g sabar liat reaksi haewon kl tebakan q bnr :D….fighting” eon 😀 sehat sll

  9. selvy says:

    akhirnya yg ditunggu muncul juga, gemes sma hubungannya mereka..
    tapi itu knp ya tmnnya haewoon ngeliat kyuhyun ko gtu aja.. hhehe

  10. nemurire_Kyu says:

    Terima kasih sudah update,,
    Makin penasaran nihh, d tunggu part selanjutnya nee,, fighting.. 😄😄

  11. leekhom says:

    Annyeonggggg,hahaa haewoon salting bgtu kyuhyun menyebut gadis yg akan diyakinkan oleh’a 😀
    kyuhyun harus lbh berani lg nih sebelum dipaksa nikah ama ibu dan kaka’a

  12. Ainn Cho's Angel says:

    Kyaaa..uda posting.

    Biarlah meski kesannya Kyuhyun muter2(?), gak to the point,..dan hey,, mengutarakan perasaan itu gak semudah yg kita bayangkan…apalagi pelakunya seorang Cho Kyuhyun, yg sudah dikenal lembut oleh Haewoon..kan juga gak kerren kalo tiba2 Kyuhyun maen sikat aja, misal..’Haewoon ayo menikah’…nah kan? *Abaikan kkkkk

    feel jadi berasa banget..bukan maksud author mengulur-ulur kan yaa..

    oke, semoga next part ada kemajuan dgn hubungan Kyu-Hae..#ngareeepBanget

    sssttt!! itu si Dae Yeon gelagatnya kok sedikit mencurigakan?
    semoga gak ada apa2 dan berdampak positif untuk Kyu-Hye..*parno ah!

    gomawo authornim..untuk karya yg sangat keerrrreeeen dan menghibur..next part semoga cepet datang…hahahaha

    • Anggiye says:

      Setuju sama kamu! Mengutarakan perasaan itu ga mudah. Mana mereka baru kenal beberapa hari. Kan LOL kalo langsung ngajak nikah wkwk jadi sabar dulu yew kawan-kawan sekalian. Aku bikin gini bukan niat mau ngulur-ulur kok. Cuma mau nunjukin gimana dilemanya kyu pas mau ngungkapin perasaannya, gatau berhasil apa gak. Tapi inilah sudah hasil kerja otakku. But THANKYOUSOMUCH atas semua dukungan kalian yang setia menunggu dan membaca dan mengomen dan membuatku senang >_< love u all

  13. chj says:

    Tuhan maafkan diriku yga walaupun braok ujian masih baca ff hari gini
    Kenapa jadi makin penasaran… ini ngapain pula si fa eyeonnya mencuriggakan hmm..

  14. Choyoungie says:

    Aaaaa penasaran penasaran😆 cepet next dong min, penasaran banget gimana kelanjutannya😁
    Kenapa kalian engga saling mengakui aja sih? Duh greget😆
    Tapi kakaknya haewon kenapa nyuruh orang nyari tau tentang kyuhyun? Penasaran bener-bener penasaran😆
    Cepet lanjut ya min^^

  15. nae.ratna says:

    sebenar.a mereka berdua sdah saling sama2 suka tinggal mengungkapan.a aja
    tinggal nunggu mereka saling terbuka dengan perasaan masing2 aja ini mah
    v itu temen.a hae woon sampe segitu.a pas tau itu kyuhyun(?)
    jadi penasaran nih
    di tunggu lanjutan.a^^

  16. sulistyowatifitria says:

    Sebelum nya maaf banget baru comment di part ini ^^ maaf banget ya kak hehe
    Di part sebelum2 nya ga tau mau comment apaan karena ff nya udah keren banget cuma mungkin typo. hehe
    Tapi beneran dari part ini mulai ada firasat buruk, blum baca enchanted part 10 sih. Dari sini mungkin mulai tibul konflik nya, kemungkinan ibu haewoon yang udh cerai itu ibu tirinya kyuhyun. T.T
    Sumpah kalo konflik nya ada di ibu haewoon yg jadi ibu tirinya kyu ngebatin banget ini mah, haha (lebay juseo) =D
    Firasat aku kyak gitu sih hahaha =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s