Posted in Comedy, Family

The Naughty Bee

Singkatnya, mereka tidak jadi berangkat hanya karena sengatan seekor lebah di pipi putra mereka.

Ini semua terjadi ketika Kyuhyun beserta Haewoon dan juga Hyunoo berlibur ke Busan untuk menjenguk salah satu bibi Kyuhyun. Ada pertunjukan mini drama dan teater di lapangan kecil tak jauh dari rumah—Han Bongmin—bibi Kyuhyun itu malam ini. Sementara mereka baru sampai tadi pagi dan berniat menonton pertunjukan tersebut.

Kyuhyun berkata kalau dulu dia sering diikutkan teater atau drama oleh ibunya bersama Ahra, karena tinggi mereka hampir sama, bahkan Kyuhyun sedikit lebih tinggi daripada kakaknya itu. Mereka pernah berada dalam adegan berciuman sebagai adik kakak dan Kyuhyun melakukannya dengan senang hati, lebih lagi adegan itulah yang meramaikan acara. Tidak percaya dengan itu, Haewoon mengajak Kyuhyun untuk pergi ke Busan demi menonton pertunjukkan dan dia ingin membuktikan apakah yang dikatakan Kyuhyun benar atau tidak.

“Appa tidak terlihat seperti seseorang yang bisa berakting.”

Haewoon seketika menoleh pada putranya yang berucap demikian dengan tangan sibuk menyusun lego. Itulah yang Haewoon maksud. Dia tidak mengatakannya tapi Hyunoo mewakilinya.

Kyuhyun yang sedang menyiram bunga di halaman sontak menoleh, menatap Hyunoo dengan sorot malas. “Hyunoo saja yang tidak pernah melihat.”

“Benarkah?” Kyuhyun mengangguk, kembali melanjutkan kegiatannya. “Kalau begitu kenapa Appa tidak menjadi artis saja? Hyunoo ingin melihat Appa berakting.”

“Bekerja di kantor lebih santai, tidak perlu memasang topeng palsu di hadapan kamera.”

Hyunoo mengernyit, menyadari sesuatu yang tidak dimengertinya sebelum kemudian menatap Haewoon. “Jadi artis-artis di tv itu memakai topeng? Eomma, apa So Hyun Nuna juga memakai topeng saat berakting?”

Haewoon diam saja, tepatnya sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikan pada Hyunoo. Kemudian Kyuhyun mematikan keran air, menggulung selang sebelum berjalan menghampiri Haewoon yang juga duduk di teras rumah Han Bongmin.

“Jam berapa kita berangkat nanti?” tanya Kyuhyun, mulai membantu Hyunoo menyusun legonya menjadi gedung tinggi yang penuh warna.

Haewoon melirik jam tangannya sejenak sebelum menjawab, “Pertunjukannya dimulai jam delapan malam. Ingin makan malam di rumah saja atau di luar?”

Kyuhyun menoleh pada Hyunoo, meminta anak itu untuk mengatakan keinginannya, mengingat kebiasaan Hyunoo yang pasti akan kegirangan jika diajak makan di luar rumah. Tapi yang ditatap justru menampakkan wajah bingung, masih menunggu jawaban dari ibunya. “Cho Hyunoo?”

“Eomma belum menjawab pertanyaan Hyunoo.”

“Yang mana?” Haewoon hendak berkilah. Ia bangkit berdiri dan mulai meneliti bunga-bunga yang bermekaran indah di halaman rumah setelah disiram oleh Kyuhyun.

“Tentang topeng, tidak mungkin Eomma lupa, Hyunoo saja baru bertanya kurang dari lima menit.” Hyunoo menunjukkan dua jari tangan kanannya, yang langsung dibenahi Kyuhyun dengan membantu Hyunoo mengeluarkan sisa tiga jarinya yang masih tertutup.

Haewoon tertawa kecil, tapi kemudian mengangkat bahu, “Tanyakan saja pada Appa.”

Dan Hyunoo beralih pada ayahnya, memasang tampang penuh rasa ingin tahu bahkan sampai keningnya berkerut. “Jadi?”

“Jadi apanya?” Kyuhyun balik bertanya.

Hyunoo berdecak kecil, tapi tak ayal menjelaskan lagi apa yang telah mengganggu pikirannya. “Appa bilang bekerja di kantor lebih santai, tidak perlu memasang topeng di depan kamera. Lalu, apa selama ini artis seperti itu? Apa So Hyun Nuna juga selalu memasang topeng saat Hyunoo menontonnya di tv?”

Kyuhyun mendesah, sejenak melirik istrinya yang sedang tersenyum tidak jelas dengan wajah sok sibuk dengan tanaman. Kyuhyun tahu apa yang sedang dipikirkan Haewoon sekarang.

“Appa, cepat jawab Hyunoo!”

“Oh, oke,” Kyuhyun kembali pada Hyunoo. Tanpa sadar juga memikirkan jawaban seperti yang dilakukan Haewoon tadi. Tapi kemudian segera bicara sebelum Hyunoo cemberut dan bersiap menggigit tangannya. “Hm… Maksud Appa bukan topeng seperti yang Hyunoo kira.”

“Memang seperti apa topeng yang Hyunoo kira?”

“Pasti topeng seperti yang pernah Hyunoo beli di festival, ‘kan? Topeng Ultraman, Power Ranger atau Spongebob. Benar, ‘kan?”

Hyunoo meringis, tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya. “Ya, Appa benar. Hyunoo pikir kalau So Hyun Nuna memakai topeng itu berarti wajah Nuna tidak secantik yang Hyunoo lihat di tv.”

“Bukan begitu…,” Kyuhyun melihat bibinya memberi kode dari dalam rumah sebelum Kyuhyun mengangguk, lalu memanggil Haewoon, “Sayang, Bibi bilang pudingnya sudah mengeras. Giliranmu membuat vla.” Setelah itu baru kembali lagi pada Hyunoo.

“Bagaimana?”

“Baiklah, Hyunoo harus tahu kalau orang-orang yang bekerja di dunia pertelevisian seperti itu kebanyakan memakai topeng, maksudnya mereka harus memerankan sesuatu untuk mendapatkan uang. Sama saja dengan bekerja. Itu yang dinamakan akting. Mereka harus menjadi ini atau itu, sesuatu yang bertolak belakang dengan kepribadian mereka yang sesungguhnya. Itu topengnya, Cho Hyunoo. Mereka harus bisa mengendalikan topeng apa yang akan dikenakan pada adegan yang satu atau yang lain. Mengerti?”

Hyunoo memiringkan kepalanya, “Berarti sama saja kalau So Hyun Nuna tidak punya kembaran seperti di drama?”

“Yup. Exactly! Nuna itu memakai topeng yang sangat hebat saat memainkan perannya. Nanti jadi yang ini, lalu berganti jadi yang itu. Sementara bekerja di kantor seperti Appa tidak perlu memakai topeng. Kita bisa menjadi diri kita yang sebenarnya.”

Mulut Hyunoo membulat dengan kepala mengangguk-angguk tanda mengerti, “Lalu bagaimana dengan bayarannya?”

“Bayaran itu relatif. Kalau Hyunoo bekerja dengan keras dan baik juga benar, maka Hyunoo akan mendapat bayaran mahal. Tapi kalau malas-malasan, tidak akan ada orang yang mau membayar Hyunoo.”

“Seperti Eomma saat Hyunoo malas belajar dan Eomma tidak akan memberi Hyunoo makan malam.”

“Maka dari itu jangan malas belajar. Perut itu nomor satu, kalau kita kelaparan kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Itu menyedihkan. Jadi agar kita bisa makan, kita harus bekerja dan tidak boleh bermalas-malasan. Oke?”

“Oke!” Hyunoo tertawa seraya menunjukkan jari kelingkingnya, dan lagi-lagi Kyuhyun harus membenarkan jari anak itu agar ibu jari yang ditunjukkan. Hyunoo tersenyum malu, menyadari kesalahannya. “Kelingking untuk berjanji dan jempol untuk menyetujui.”

“Good job.” Kyuhyun mencubit hidung Hyunoo gemas, berikut pipi sampai mengacak-acak rambut anak itu dan berakhir dengan teriakan Hyunoo sebelum Kyuhyun berlari masuk ke dalam rumah.

Seperginya Kyuhyun yang bisa dilakukan Hyunoo hanya bermain. Teras rumah neneknya ini sudah penuh mainan tapi Hyunoo senang karena tidak ada yang memarahi.

Nenek Bongmin sangat baik hati. Bahkan tadi pagi saat mereka baru sampai nenek sudah mengajaknya ke pasar dan membelikan Hyunoo ikan hias berbagai warna sebanyak lima ekor. Hyunoo meletakkannya di wadah kaca yang diberi air dan tampak senang sekali karena ini pertama kalinya dia punya binatang peliharaan.

Lalu nenek Bongmin juga membuatkannya kue kering cokelat dengan keju di atasnya. Hyunoo bersumpah itu enak sekali sampai-sampai dia tidak bisa berhenti mengunyah jika saja Kyuhyun tidak menyuruhnya berhenti dengan alasan bisa sakit perut kalau makan terlalu banyak.

Sungguh… Busan terlalu menyenangkan untuk dilewatkan. Hyunoo senang berada di tempat ini. Senang sekali.

Beberapa menit kemudian bangunannya yang terbuat dari lego sudah selesai. Hyunoo memekik senang yang seketika mengundang Kyuhyun untuk menegurnya agar tidak berteriak-teriak. Tapi Hyunoo tidak peduli. Dia sibuk melompat ke sana untuk mengambil sesuatu, memasangnya di sisi bangunan sebelun melompat ke sini untuk mengambil sesuatu lagi. Begitu seterusnya sampai menurut Hyunoo bangunannya cukup ramai.

“Ini apartemen.” Ucapnya entah pada siapa, “Gedungnya tinggi dan ada ruang bawah tanahnya. Ada tangga dan juga lift, jendela yang banyak karena banyak juga yang tinggal di sini. Oh, ya, antena ini untuk menangkal petir, agar saluran tv di apartemen tidak rusak saat hujan deras.” Sambungnya bangga, teringat akan komponen-komponen apartemen tempat mereka tinggal yang pernah ditanyakannya pada orang tuanya sebelum mereka menjelaskan semuanya.

Tapi kemudian ada satu hal yang membuat Hyunoo mengernyit.

Anak itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari sesuatu yang pas, sebelum akhirnya berhenti di pojok halaman tempat di mana ada wadah besar tak terpakai yang tertelungkup di atas batu.

Hyunoo segera berlari ke tempat itu tanpa perlu mencari sandal. Mengangkat wadah tersebut dan meletakkannya ke tengah halaman, lalu mengambil bangunan apartemennya dengan perlahan untuk diletakkan di atas wadah itu. Hyunoo tersenyum semakin lebar. Kepalanya kembali berputar ke sekeliling mencari sesuatu untuk hiasan. Hingga akhirnya berhenti pada bunga-bunga kecil di atas rumput yang tak terlalu terhiraukan. Bahkan sepertinya tadi Kyuhyun tidak menyirami mereka.

Kakinya dengan lincah menghampiri tempat tersebut, dan baru berjongkok berniat memetik bunganya ketika sesuatu menyerang wajahnya. Hyunoo berteriak karena terkejut akibat denyutan pelan yang ia rasakan di daerah pipi kirinya. Hyunoo berdiri, sedikit menekan pipinya itu sebelum berteriak karena tiba-tiba denyutannya semakin menjadi dan ada rasa panas yang menjalar. Hyunoo sontak berteriak memanggil ayah dan ibunya seraya berlari ke arah teras, hendak naik ke atas tapi kakinya terpeleset dan hidungnya terbentur lantai, mengakibatkan teriakannya semakin menjadi diiringi suara tangis yang tentu saja langsung membawa Kyuhyun maupun Haewoon berlari ke luar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

“Cho Hyunoo! Oh, God! What the hell is going on with you?!”

“Cho Kyuhyun, words!”

Kyuhyun mendesah tanda ia tidak peduli teguran Haewoon dan langsung mengangkat Hyunoo ke gendongannya. Anak itu semakin menangis saat menyandarkan wajah ke dada Kyuhyun tapi justru ada bercak darah yang menempel di sana. Haewoon terkejut dan sontak merebut Hyunoo, menggendong anak itu dengan posisi terlentang agar darah dari hidung Hyunoo tidak keluar terlalu banyak.

“Ambilkan kotak obat. Cepat!”

Panik, Kyuhyun berlari dengan cepat ke kamar mereka. Membongkar isi tas dari tas paling kecil sampai yang paling besar hanya untuk mendapatkan kotak obat. Tapi bodohnya ia justru menemukan benda itu terletak di atas meja rias, padahal ia sendiri yang mengeluarkannya tadi pagi. Sial! Dia juga baru sadar kalau tidak pernah memasukkan kotak obat ke dalam tas melainkan di dalam mobil. Sementara hari ini berhubung sedang ada di luar kota Kyuhyun membawa kotak obat yang ada di mobil saja daripada membawa yang ada di rumah. Tapi bodohnya…

Ah, sudahlah!

“Ini, sebentar kuambilkan air.” Kyuhyun memberikan kotak obat itu pada Haewoon yang masih menenangkan Hyunoo, lalu berlari lagi masuk ke dapur ketika Han Bongmin sudah lebih dulu membawa baskom air berisi es dan juga handuk kecil. “Terimakasih, Bi.”

Bongmin mengangguk dan segera menyuruh Kyuhyun membawa baskom itu ke luar untuk menolong Hyunoo.

“Pipinya memerah.” Komentar Kyuhyun ketika Haewoon mengompres hidung Hyunoo. Kyuhyun duduk di dekat kepala Hyunoo dan baru hendak menyentuh pipi putranya itu saat Hyunoo berteriak untuk tidak menyentuh apa pun.

“Jangan! Sakit! Jangan pegang pipi Hyunoo! Ini sakit!”

“Sakit? Sakit kenapa?”

“Sakit! Jangan dipegang!”

“Kita obati, Cho Hyunoo.”

“Tidak! Hyunoo tidak mau! Jangan pegang apa pun!” Hyunoo tetap menangis. Ia ingin memberontak, tapi Haewoon memeluknya lebih erat sehingga Hyunoo hanya bisa menutupi memar di pipinya. “Appa! Jangan mendekat!” Hyunoo berteriak lagi saat dilihatnya Kyuhyun akan menyentuh pipinya lagi.

Dan Kyuhyun mengangkat kedua tangannya, menyatakan bahwa ia tidak akan menyentuhnya. “Tapi kenapa? Tadi memar ini tidak ada.” Kyuhyun bertanya, membantu Haewoon mendudukkan Hyunoo sembari terus mengompres hidungnya dengan air es, sesekali menjepit hidung anak itu untuk meredakan pendarahan.

Setelah beberapa saat tangisan serta jeritan Hyunoo mulai mereda. Kyuhyun duduk memangku Hyunoo dan mengambil alih tugas mengompres selagi Haewoon mencari sesuatu di dalam kotak obat. Kyuhyun meniup wajah Hyunoo pelan, membuat anak itu memejamkan mata dengan suara sesenggukan sisa menangis yang masih terdengar. Ia kembali bertanya, “Appa bertanya kenapa memar ini bisa ada? Oh, lihat, ini mulai membesar. Apa ini—” Kyuhyun tiba-tiba berhenti bicara karena Haewoon mencubit bibirnya pelan, mengisyaratkan untuk tidak bicara karena dia sudah tahu memar itu ada karena apa.

Haewoon mengeluarkan minyak esensial beraroma lavender dari dalam kotak, menumpahkannya sedikit ke telapak tangannya dan dioleskan ke pipi Hyunoo dengan sangat amat perlahan. Tapi itu masih tetap saja membuat Hyunoo terkejut dan seketika berteriak seperti sebelumnya, bahkan nyaris melompat jika saja Kyuhyun tidak memeluk dan menahan gerakan tubuhnya.

“Eomma!”

“Lihat, Eomma melakukannya dengan pelan. Tidak akan sakit, oke? Kalau tidak diberi ini nanti bengkaknya bisa semakin besar dan juga semakin sakit.” Haewoon menumpah lagi minyak itu ke tangannya, hendak mengoleskannya lagi tapi Hyunoo benar-benar berteriak untuk menolak. “Cho Hyunoo, kita akan pulang sekarang juga kalau Hyunoo tidak mau diobati.”

“Andwae!”

“Kalau begitu diam sebentar!” Haewoon tanpa sadar meninggikan suaranya, ia lalu menghela napas dan menjulurkan tangannya meminta Kyuhyun memindahkan Hyunoo ke pangkuannya. Tapi Hyunoo tidak mau dan justru berbalik untuk memeluk Kyuhyun lebih erat. “Maaf, Eomma tidak bermaksud membentak Hyunoo. Ini juga supaya sakitnya hilang.”

Hyunoo diam saja, semakin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun setelah tahu darah di hidungnya sudah mulai berhenti. Sedangkan Kyuhyun mengangguk-angguk seraya mengusap kepala Hyunoo untuk membuat anak itu merasa nyaman. Kemudian memberi isyarat pada Haewoon kalau Hyunoo sudah lumayan tenang.

Haewoon tidak bisa melakukan apa pun selain kembali mengolesi minyak lavender itu ke pipi Hyunoo secara perlahan, beruntung kali ini Hyunoo tidak memberontak karena terlalu sibuk merasakan usapan hangat Kyuhyun di kepalanya. Menangis membuatnya lelah, dan sentuhan Kyuhyun sama seperti nyanyian untuk mengantarnya tidur.

“Dia tersengat lebah.” Ucap Haewoon pelan ketika mereka rasa Hyunoo sudah tertidur.

“Lebah? Memang ada sarang lebah di sini?”

“Aku tidak tahu. Tapi lebah juga ada yang kecil, itu biasanya tidak terlihat karena sekilas mirip lalat. Sepertinya Hyunoo tersengat yang jenis itu.”

Kyuhyun mengangguk-angguk mengerti. Ia menoleh pada Bongmin yang sedari tadi hanya diam menatapi mereka. Wanita itu tersenyum, senang melihat bagaimana kepanikan mereka saat Hyunoo menangis karena sesuatu. Itu membuatnya teringat pada saat dulu dia masih kecil. Dia anak bungsu, sangat diperhatikan oleh kakak dan juga orang tuanya. Rasanya menyenangkan sekali. Sungguh! Entah kenapa dia tiba-tiba merasa merindukan momen seperti itu.

“Jadi, apa kalian akan tetap menonton pertunjukan malam ini?”

Mendengar pertanyaan Bongmin itu membuat Kyuhyun dan Haewoon saling berpandangan. Kyuhyun mengangkat bahu, menyerahkan keputusan pada Haewoon. Seseorang yang termasuk ‘memaksa’ untuk datang ke Busan demi pertunjukan adalah Haewoon, jadi menurut Kyuhyun terserah Haewoon saja apakah mereka akan tetap menonton atau tidak.

Haewoon bingung. Ia melihat jam tangannya sejenak sebelum kembali menatap Kyuhyun. Meminta jawaban tapi Kyuhyun tetap saja mengangkat bahu, lalu sibuk membenahi posisi tidur Hyunoo seraya sesekali mengipasi anak itu dengan kertas coretan Hyunoo yang ada di sana.

“Kyu, bagaimana?”

“Terserah kau saja. Menonton, kita berangkat. Tidak, kita tinggal di rumah saja.” Sahut Kyuhyun enteng.

“Kudengar besok malam justru akan ada festival di tempat yang sama. Bagaimana kalau kita ke festival saja?” usul bibi Bongmin kemudian.

Haewoon menjulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Hyunoo. Dia takut Hyunoo sakit. Ini pernah terjadi pada Hyunoo saat masih berusia tiga tahun dan dia nyaris kejang karena suhu tubuhnya tinggi akibat disengat lebah. Haewoon tidak mau itu terulang lagi. Mendengar teriakan Hyunoo tadi sudah cukup membuatnya ngilu, sungguh.

“Lee Haewoon,” tegur Kyuhyun pelan. Menyadarkan kembali Haewoon dari lamunannya. “Kita tinggal saja, ohk? Aku tahu kau khawatir pada Hyunoo.”

Tidak ada yang bisa Haewoon lakukan selain tersenyum lemah dan mengangguk pelan. Kyuhyun mengerti. Ia lalu menatap Bongmin, “Kami mungkin akan tinggal dua hari lagi. Hari ini terpaksa meninggalkan pertunjukannya.”

“Yah… Mau bagaimana lagi? Percuma juga kalau kita pergi tapi justru akan membuat Hyunoo sakit.” Bongmin tersenyum, menyentuh kepala Hyunoo dan mengelusnya lembut seperti yang dilakukan Haewoon tadi. “Tenang saja, dia tidak akan merengek karena tidak jadi pergi malam ini. Katakan saja besok kita akan melihat bianglala.”

Entah Kyuhyun dan Haewoon hanya bisa mengangguk-anggukan kepala mereka. Berharap apa yang dikatakan Bongmin itu benar. Sebenarnya mereka tidak akan menjamin Hyunoo tidak akan merengek malam ini. Sebagai orang tua mereka sudah hafal dengan Hyunoo yang suka jalan-jalan dan anak itu rela mengorbankan apa pun hanya untuk diajak jalan-jalan. Tapi yah… setidaknya mereka sudah melakukan yang terbaik untuk Hyunoo. Haewoon juga terpaksa menelan keinginannya untuk mengetes kemampuan Kyuhyun mengenai teater dan drama seperti yang dikatakan pria itu.

Well… Mungkin lain kali.

Advertisements

Author:

crazy girl called 'me'

7 thoughts on “The Naughty Bee

  1. selalu suka sama cerita keluarga kecil ini..rasanya bener2 real ya..kyuhyun jiwa kebapak’an apalagi haewon..ibu paling sabar lah dia…keluarga idaman mereka..ngebayangin hyunoo imutnya kayak taeoh..haha

    pokoknya aku selalu suka tulisan kakak. bawaanya enak banget dibaca..

  2. Hayooo….
    Hyunoo kenap tiba2 bisa seperti itu…
    Ud jatuh tertimpa tangga…
    Ckckckckk…
    Terlalu aktif see, jdiny Celaka kan…
    Akhirny planningny ggal…

  3. Duh seneng banget klo udah baca ff yg berkaitan sm keluarga kecil ini^^ alur ceritanya selalu bagus, walaupn beda judul tp feelnya selalu dapet, alurnya jg bagus, suka banget pokoknya 😀
    Aku selalu nunggu ff karya mu thor hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s