[ONESHOOT] “Our Anniversary” Kyu-Woon

Our Anniversary posterTittle: “Our Anniversary”

Cast: Cho Kyuhyun, Lee Haewoon, Cho Hyunoo, Song Haena, Shim Changmin

Genre: Family, Married Life, sad, etc

Rate: T/Straight

Author: Anggihae

Poster credit by Anggihae


DO NOT COPY PASTE! BE CAREFUL OF TYPO. IT’S PURE MINE! OKAY!

 

Now… Here it is! A simple fic from 14 years old girl like me. Hehe. I have to say many many thankfull to you, who read this and give me a comment. And I have to say sorry, too, cause this is not good. I don’t know where I find the imagination like this, and I just share it as a ‘Little Gift’  from me to lovely Cho Kyuhyun. Happy Birthday, Oppa. That’s all… Thank you so much…

“Our Anniversary”

  

“Kau tahu perasaan seseorang itu tak bisa dipaksakan, bukan? Aku yakin, semua orang tahu hal seperti ini. Jika ada seseorang yang mencintai orang yang lain, namun orang lain itu sama sekali tak membalasnya, maka yang harus mengalah itu adalah orang yang mencintai!”

 

 

Mentari pagi kembali menyapa. Wanita berambut ikal dan bermata bulat itu masih setia bergumul di balik selimut tebalnya tanpa perduli biasan cahaya matahari yang sudah merembes ke tirai jendela. Memaksanya membuka mata, melihat cerahnya dunia di pagi senin ini. Ingin membawanya kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Dan terus mencoba membuatnya merasa nyaman tanpa perlu menatap lagi ke belakang punggungnya. Ke masa lalunya.

Lee Haewoon, wanita itu. Ia mengerang kecil saat sinar itu sudah benar-benar menelisik celah jendela kamarnya. Terpaksa ia membuka mata sembari menguap kecil, meregangkan ototnya yang terasa kaku tanpa mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melirik ke jam kecil di atas nakas, lalu mengucek matanya dan bangkit duduk.

“Meeting.” Gumamnya serak, teringat jadwalnya di kantor hari ini. Dan tentu saja ia harus segera bersiap untuk itu. Ia lalu menoleh ke kanan, ke ranjang kecil berwarna biru yang berjarak tak lebih lima meter darinya. Haewoon sentak tersenyum melihat malaikat kecilnya yang juga sudah bangun. Duduk di sana sembari memegangi botol susu. “Morning, sweetie.” Sapanya.

“Morning, Mom.” Jawab Hyunoo, anak berusia tiga tahun itu. Ia lalu turun perlahan dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Haewoon. “Eomma, waeyo? Pusing lagi, ya?” tanyanya polos saat melihat jemari tangan Haewoon yang memijat pelan pelipisnya.

Haewoon mengangguk sembari tersenyum lemah.

“Pasti karena minuman ini, kan?” Hyunoo merunduk, mengambil kaleng Soju yang memang sempat dihabiskan Haewoon beberapa tadi malam sebelum tidur. Sebenarnya bukan sempat, tapi sudah kebiasannya. Yah, mungkin sejak dua tahun yang lalu, lebih tepatnya sejak Hyunoo berhenti menyusu padanya.

Haewoon selalu seperti itu setiap malam. Saat jam sudah menunjukkan untuk Hyunoo tidur, ia dengan telaten mengurus anaknya itu. Menidurkannya, dan apabila Hyunoo tak mau tidur juga, ia akan membacakan dongeng. Terlebih saat Hyunoo cerewet, ia bahkan tak segan untuk menggendong anak itu sampai terlelap.

Tapi ia tak bisa membawa Hyunoo tidur bersamanya. Maka dari itu Hyunoo tidur di ranjang terpisah walau pun mereka masih ada di satu ruangan yang sama. Karena setelah Hyunoo benar-benar tidur, Haewoon akan mengerjakan hobinya dua tahun belakangan ini. Yaitu duduk di atas ranjang sembari menghabiskan berkaleng-kaleng Soju. Entah apa tujuannya. Haewoon hanya merasa jika hatinya terasa damai jika melakukan itu. Beban pikirannya terbang melayang entah ke mana. Dan tubuhnya terasa hangat, yang tentu saja akan sangat nyaman jika tidur dengan kondisi seperti itu. Tenang… bukankah begitu? Yah, walau pun pikiran sedikit terganggu. Tapi setidaknya tak menganggu orang, karena setelah itu ia tidur. Dan kembali bangun di pagi hari, mungkin dengan efek pusing seperti sekarang ini.

“Eomma?” panggil Hyunoo, merasa terabaikan oleh Haewoon.

“Ah, ya, sayang? Ada apa, hm?”

Hyunoo menggeleng. Ia mengacungkan kaleng yang masih dipegangnya itu pada Haewoon. “Bisa Eomma berhenti minum ini? Baunya tidak enak, dan Eomma selalu pusing setiap bangun pagi.”

Haewoon hanya tersenyum kecil, bingung ingin menanggapi seperti apa. “Akan Eomma coba, tapi tidak janji.”

Geurae, Appa bilang ini tak baik untuk kesehatan.” Hyunoo meletakkan lagi kaleng itu di lantai. Dan saat mendongak ia menyadari wajah ibunya yang berubah menjadi lebih murung daripada tadi. Hyunoo berjalan mendekat, menyentuh pipi ibunya itu dan mengelusnya lembut. Rautnya cemas, takut-takut ibunya marah karena ucapannya tadi. “Eo-eomma…,”

“Tak apa.” Sahut Haewoon singkat, dan baru hendak melanjutkannya ketika terdengar suara pintu kamarnya yang diketuk ringan. Haewoon menarik nafasnya panjang lalu menghelanya perlahan. Ia menatap manik mata anaknya itu. “Lupakan. Cepat mandi dengan Appa, ia menunggu di luar.”

Hyunoo diam saja. Ia masih menatap Haewoon seolah ingin menangis. Tapi Haewoon yang mengerti sentak tersenyum lebar, ingin mengecup wajah anak itu ketika ingat bau mulutnya yang pasti tidak enak setelah meminum Soju, dan ia mengurungkannya.

“Cah, cepat mandi sana.”

Akhirnya Hyunoo mengangguk. Lantas berbalik dan berlari ke arah pintu dan membukanya. Di depan sana sudah ada Kyuhyun yang menyambutnya dengan tangan terbuka lalu menggendongnya.

Haewoon melihat itu. Melihat apa yang dilakukan suami dan anaknya itu. Wajah Kyuhyun yang sudah terlihat segar dengan kemeja biru muda yang melekat di tubuhnya. Dan pria itu dengan senyum merekah menyambut Hyunoo dan menggendongnya menjauh dari kamar Haewoon. Tanpa meliriknya sedikit pun.

Tapi tak apa, toh Haewoon tak mengharapkannya. Ia sama sekali tak ingin Cho Kyuhyun itu menatapnya. Karena ia cukup tahu diri siapa dirinya dan karena apa mereka menikah hingga hidup seperti ini. Hidup dalam satu atap bersama sosok mungil bernama Cho Hyunoo namun Kyuhyun dan Haewoon sendiri seolah tak mengenal satu sama lain.

Singkatnya, mereka jauh, walau kenyataannya dekat.

Haewoon menghela nafasnya lagi, dan mendadak kejadian tiga tahun silam terlintas di benaknya. Haewoon terdiam sembari menutup mata rapat-rapat. Mencoba menghalau ingatan itu, walau nyatanya ia tak bisa.

Tiga tahun yang lalu… saat seorang pria datang padanya, mengajaknya menikah dengan alasan ingin mengisi rumahnya yang kosong. Bodoh, memang. Tapi saat itu Haewoon menerimanya, mengingat kala itu ia yang sangat menginginkan kehadiran sosok kecil dihidupnya. Sampai-sampai ia ingin mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. Dan itu urung terjadi karena Kyuhyun-lah yang lebih dulu datang.

Haewoon tak tahu kenapa saat itu ia sangat menginginkan anak. Ia hanya berpikir ia bisa merasakan bagaimana jadi seorang ibu, setelah ibu kandungnya membuangnya begitu saja. Tanpa alasan. Haewoon tak mau menjadi wanita seperti itu. Ia sangat menyukai anak kecil, biar pun terkadang muak karena tingkahnya yang berlebihan.

Awalnya Haewoon merasa senang karena akhirnya menikah, padahal tujuan utamanya bukan itu. Ia hanya ingin mempunyai anak. Haewoon tak tahu bagaimana Kyuhyun merasakannya, apakah pria itu senang atau tidak. Tapi dapat Haewoon pastikan jika Kyuhyun senang saat mengucapkan janji suci di gereja. Memang saat itu Haewoon belum terlalu mengenal Kyuhyun, tapi ia cukup pintar untuk menyadari ekspresi seseorang.

Kulit putihnya berseri, tulang pipinya terangkat, matanya menyipit, bibirnya melengkung indah dan pada saat matanya kembali seperti semula, ada pancaran tulus dari sana. Itu yang dilihat Haewoon saat mereka menikah dulu.

Tapi… setelah mengetahui dirinya hamil. Ia berusaha menutup diri. Ia tak mau berdekatan dengan Kyuhyun lagi, bahkan sampai saat ini, terkecuali jika ada sangkut pautnya dengan Hyunoo. Haewoon tak tahu kenapa ia seperti itu. Toh padahal mereka sudah menikah.

Haewoon sadar akan sikapnya ini. Sangat amat sadar. Dan alasan kenapa ia melakukan itu baru ditemukannya dua tahun yang lalu, tepat sejak pertama kali ia menyentuh kaleng minuman bernama Soju. Alasannya, karena ia hanya ingin memiliki Hyunoo. Ia bahkan langsung mengatakannya sehari setelah itu pada Kyuhyun jika ia hanya ingin Hyunoo, bukan Kyuhyun. Ia juga mengajak Kyuhyun untuk bercerai tapi hak asuh Hyunoo jatuh padanya. Namun Kyuhyun menolak, dan Haewoon tak bertanya ‘kenapa’ karena ia sudah terlalu muak dengan wajah pria itu. Pria egois yang pernah ditemuinya, bahkan sudah menikah dengannya.

Tunggu, sebenarnya ia juga egois. Haewoon sangat sadar dengan sifatnya yang sudah mendarah daging itu. Ia sama sekali tak keberatan jika orang-orang mengatainya seperti itu. Karena itu memang sifatnya. Egois!

Jadi, siapa yang harusnya disalahkan di sini? Kyuhyun-kah? Atau Haewoon?

Mereka sama-sama egois.

Hingga sampai saat ini, tak ada yang mau mengalah. Mereka ingin mengasuh Hyunoo, tapi tak ingin bersama, terutama Haewoon. Apa lagi yang bisa mereka lakukan selain hidup seperti sekarang ini? Masih berstatus suami-istri, mempunyai anak, tapi tak merasa kenal. Yah… bagi mereka itulah jalan yang benar jika tak ingin ada yang disalahkan.

***

Anak lelaki itu berlari keluar dari kamar mandi setelah dimandikan ayahnya, handuk putih yang membalut tubuh mungilnya terjatuh di lantai tanpa diperdulikannya. Ia berlari ke atas ranjang, meraih ponsel putih milik ayahnya dan menekannya asal.

“Ini foto Hyunoo!” pekiknya girang saat melihat foto dirinya yang digunakan Kyuhyun sebagai wallpaper.

Kyuhyun tertawa kecil, lalu berjalan ke ruangan kecil yang menyediakan pakaian khusus untuk Hyunoo. Mengambil beberapa pakaian yang dikiranya cocok dan membawanya pada Hyunoo. “Itu bukan Hyunoo. Itu anak orang dipinggir jalan kemarin.” Sahut Kyuhyun baru saja. Ia mengacungkan kemeja kecil yang sewarna dengan kemejanya. Baru ingin mengenakannya pada Hyunoo ketika menyadari wajah tertekuk anak itu. “Wae?”

Appa tidak mengakui Hyunoo, eoh?”

“Memangnya kenapa?”

“Jawab saja, Appa.”

“Hm…,” Kyuhyun mengetuk-ketukkan jarinya di dagu. Bingung ingin menjawab apa.

“Sudahlah, Appa jahat.” Hyunoo menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun, sentak turun dari ranjang dan berlari keluar kamar. Disertai suara Kyuhyun yang juga sontak berteriak menyadari anaknya kabur tanpa busana sama sekali. “YA! Cho Hyunoo!”

Hyunoo berbalik sejenak, kembali menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun yang mengejarnya dengan langkah lebar. Hyunoo berlari lagi, hendak ke ruang makan ketika tubuhnya menabrak seseorang yang juga tengah melintas. “Eomma-ya!” serunya. Sentak menjulurkan tangannya pada Haewoon.

Haewoon yang mengerti sentak mengangkat anak itu ke gendongannya. “Ada apa? Mana baju Hyunoo? Kenapa keluar seperti ini saja?”

Hyunoo menunjuk Kyuhyun yang berdiri tak jauh dari mereka. “Appa!”

Haewoon mengikuti arah pandang Hyunoo itu. Dan ia melihat Kyuhyun membawa kemeja kecil di tangan kanannya, bahkan kemeja pria itu sendiri tampak basah dengan bagian tangannya dilipat sebatas siku. Pasti habis memandikan Hyunoo, batin Haewoon.

Appa bilang Hyun—“

“Ayo,” potong Kyuhyun cepat. Ia berjalan menghampiri mereka dan mengambil alih Hyunoo dari gendongan Haewoon. Sentak berjalan ke kamarnya tanpa mengucapkan apa pun. “Pakai bajumu dulu, baru keluar, mengerti?” ucap Kyuhyun saat mereka sudah sampai lagi di kamar Kyuhyun. Hyunoo mengangguk.

“Hari ini Appa bekerja?”

Kali ini Kyuhyun yang mengangguk. “Ne, waeyo? Mau ikut Appa ke kantor?”

“Tidak, Hyunoo ikut Eomma saja.” Kyuhyun mengangkat Hyunoo ke meja tak jauh dari tempat tidurnya itu. Mendudukkan anak itu di sana lalu mengusap kepalanya dengan handuk. “Tapi tadi Hyunoo mendengar Eomma berkata ‘meeting’. Apa itu, Appa?”

Kyuhyun belum menjawab. Ia masih sibuk mencari minyak penghangat tubuh yang biasanya digunakan Hyunoo dibagian perut agar tetap merasa hangat. Hingga ia tersentak saat sisir putih mengenai kepalanya. “Kenapa memukul, Appa? Tidak boleh, Hyunoo.”

Mianhae, tapi Appa tak menjawab pertanyaan Hyunoo.”

“Apa, hm?”

Meeting itu apa?”

Kyuhyun menghentikan aktivitasnya mencari minyak itu. Beralih berdiri di hadapan Hyunoo dengan tangan di kedua sisi pinggangnya dan mata yang berputar-putar bingung, mencari kalimat yang pas dan sekiranya Hyunoo mengerti apa yang akan dijelaskannya. “Hm… Meeting itu pertemuan. Jika seseorang bekerja di kantor, seperti Appa, biasanya ada pertemuan-pertemuan khusus untuk membicarakan sesuatu yang penting.”

“Sesuatu seperti apa?”

“Seperti… hm…, seperti… produk baru, mungkin.”

“Produk baru itu yang bagaimana?”

“Barang baru. Yah, barang yang baru mau di jual di pasaran. Mengerti?”

Hyunoo diam sejenak. Berusaha mencerna sebelum mengangguk pasif. “Berarti… mungkin hari ini Eomma akan ada pertemuan khusus untuk bicara tentang produk baru. Benar, kan, Appa?”

Yes! Benar sekali.” Kyuhyun mengacungkan dua jempolnya untuk Hyunoo. “Jadi, mau ikut Appa hari ini? Appa tidak ada meeting dan tidak akan sibuk.”

“Tidak ada meeting dan tidak akan sibuk.” Ulang Hyunoo. “Berarti Eomma ada meeting dan akan sibuk.”

“Pintar sekali!”

Eomma akan sibuk?”

Kyuhyun mengangguk. “Ikut Appa?”

Hyunoo memainkan lidahnya sembari berpikir. Setiap harinya ia memang ikut Haewoon ke kantor, dan di sana ia hanya akan bermain sendirian sementara ibunya sibuk bekerja. Atau bersama seorang pria yang Hyunoo tak tahu siapa namanya, ia hanya memanggilnya ‘Ahjussi’. Jadi… tak ada salahnya jika ia ikut Kyuhyun hari ini, mungkin ia tak akan kesepian karena Kyuhyun bilang ia tak akan sibuk. Yah, itu benar.

Anak itu lalu menatap ayahnya dengan mata berbinar. Lantas mengangguk semangat. “Nde, Hyunoo ikut Appa saja.”

“Bagus. Kalau begitu izin dulu sana, tanyakan juga di mana minyak penghangat Hyunoo. Oke?” Hyunoo mengangguk mengerti, dan ia sentak berlari keluar kamar setelah Kyuhyun menurunkannya.

***

“Chagi-ya!” pekik Hyukjae, tersenyum senang ke arah kekasihnya yang baru turun dari mobil. Pria bermata sipit itu sentak saja berlari mendekat dan melayangakan sapuan ringan di pipi kekasihnya itu. “Sendirian?” tanyanya kemudian.

Haewoon mengangguk, “Hm.”

“Di mana Hyunoo? Kau tak mungkin meninggalkannya di rumah sendirian, bukan?”

“Tentu saja tidak! Ia ikut Appa-nya. Ke kantor juga sebenarnya.” Sahut Haewoon acuh, merasa tak terlalu semangat hari ini. Padahal satu jam ke depan ia harus memimpin rapat dan mempresentasikan design gaun yang sudah dirancangnya jauh hari untuk projek musim dingin tahun ini.

“Oh, begitu.” Hyukjae mengangguk mengerti, tangannya bergerak meraih pinggang wanita itu dan merangkulnya lembut. “Kau terlihat lesu. Sudah makan?” Haewoon mengangguk. “Kurang tidur?” Haewoon menggeleng. “Tidur jam berapa tadi malam?”

“Jam satu. Hyunoo menangis terus mencari Appa-nya yang lembur.”

“Tidak minum Soju, kan?”

Kali ini Haewoon diam. Ia melengos saja sembari melepaskan rangkulan Hyukjae di pinggangnya, lantas berjalan memasuki gedung kantor mereka dengan langkah gontai.

Hyukjae menggeleng pelan sembari melipat tangannya di depan dada. Wanita ini, sudah berapa kali ia berkata untuk tidak lagi minum Soju sebelum tidur jika ingin paginya tampak fresh. Dan tentu saja nyaman untuk dilihat siapa pun. Tapi lihatlah… nasehatnya itu selalu saja dianggapnya angin lalu. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

“YA! Tunggu aku, chagi!”

“Cepatlah,” sahut Haewoon pelan, namun bisa terdengar oleh Hyukjae. Pria itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkahnya dengan Haewoon, lantas kembali merangkul bahu wanita itu dan berjalan bersama. Ia bahkan tak sungkan mencium pipi bahkan bibir Haewoon secara kilat walau pun ada karyawan-karyawan kantor yang lewat.

Haewoon sendiri juga tidak risih. Ia menerima saja apa yang dilakukan Hyukjae padanya. Setidaknya itu tidak sampai ke tahap yang menyalahi aturan.

Tak lama kemudian mereka tiba di salah satu ruangan di kantor itu. Ruangan Haewoon yang langsung memiliki sekat dengan ruangan Hyukjae. Memang Hyukjae yang menjadi direktur di perusahaan mode ini, tapi lebih banyak Haewoon-lah yang menangani karena ia sekretarisnya. Lagi pula ia senang mendesain dan menikmati perkejaannya ini. Tanpa perduli pekerjaan suaminya sendiri juga ada di bidang yang sama.

Yah, perusahaan Kyuhyun. Juga bergerak di bidang style. Bahkan melebihi perusahaan Hyukjae yang hanya menangani masalah style pakaian. Perusahaan Kyuhyun menangani tak hanya itu, tapi juga design interior ruangan, dan masih banyak lagi bidang yang lainnya.

Jujur saja. Sebenarnya Haewoon lebih tertarik pada perusahaan suaminya itu. Tapi… begitulah, karena alasan yang sama ia jadi lebih memilih bekerja sama dengan Hyukjae. Yang juga sudah menjadi kekasihnya ini.

Kyuhyun tahu jika Haewoon dan Hyukjae memiliki hubungan. Bahkan itu tak berselang lama setelah Haewoon mengajaknya bercerai namun ditolaknya. Dan seperti sekarang ini, Kyuhyun tampak tak melakukan apa pun.

Lalu, kenapa Hyukjae bisa menjadi pilihan hati Haewoon setelah ia ingin bercerai dengan Kyuhyun? Bukankah alasannya bercerai karena ia hanya ingin anak? Tak ingin suami atau pendamping? Lalu bagaimana dengan Hyukjae? Bukankah posisinya sama saja dengan Kyuhyun? Bahkan Kyuhyun berada satu tingkat lebih tinggi karena ia suami Haewoon. Tapi, kenapa wanita itu justru memilih Hyukjae? Apa Kyuhyun memiliki kekurangan? Apa?

Haewoon menggelengkan kepalanya keras saat pemikiran seperti itu mengganggunya. Lagi dan lagi. Ia meletakkan tasnya di atas meja lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa begitu saja. Matanya tertutup, tapi ia bisa mengetahui jika kini kekasihnya itu justru tengah berdiri tak jauh darinya. Bersendekap tangan sembari menggelengkan kepala.

“Jangan menatapku seperti itu, Hyukjae!”

“Aku hanya tak mengerti dengan sikapmu itu, Lee Haewoon. Sebenarnya terbuat dari apa kepalamu itu? Terlalu keras, kau tahu?”

Haewoon berdecak kecil sebelum membuka matanya, lalu menegakkan duduknya. “Aku tak enak badan, mimpi menyeramkan itu lagi-lagi menghantuiku. Dan pusing di kepalaku tak kunjung berhenti karena itu.”

“Kalau begitu jangan dipikirkan.” Hyukjae mengangkat bahunya, lantas memposisikan tubuhnya di samping Haewoon. Merangkul pinggang wanita itu dan memeluknya hangat, sementara kepalanya terjatuh ke bahu kiri Haewoon sembari menutup mata.

“Aku tak mau memikirkannya. Tapi itu datang dengan sendirinya, aku tak bisa mengelak untuk tidak memikirkannya.”

“Pikirkan aku saja.”

Haewoon menoleh ke kiri, menatap wajah Hyukjae yang tampak senang memeluknya. “Apa yang harus kupikirkan?”

Hyukjae membuka matanya, mendongak sedikit agar bisa membalas tatapan Haewoon. “Apa saja. Seperti bagaimana saat nanti kita… menikah. Lalu memberikan adik untuk Hyunoo, merawat mereka bersama. Yang pasti, hidup bahagia. Bukankah itu terdengar lebih menyenangkan daripada memikirkan mimpi mengerikan itu?”

Haewoon terdiam sejenak. Apa pria ini menyinggungnya tentang bagaimana kehidupan rumah tangganya? Menikah? Yah, Haewoon sudah menikah walau itu tak seperti orang pada umumnya. Lalu memberi Hyunoo adik, Haewoon tak pernah memikirkan hal seperti itu, apalagi jika dengan Hyukjae. Kemudian merawat mereka bersama, oke, ia dan Kyuhyun merawat Hyunoo bersama, lebih tepatnya bergantian. Dan hidup bahagia. Yang satu ini mungkin tidak.

“Ya! Kenapa diam saja?” tegur Hyukjae, merasa diacuhkan oleh Haewoon yang menatapnya dengan kosong. “Mulai memikirkan aku, ya? Memikirkan apa yang kukatakan tadi?” lanjutnya, tersenyum geli melihat Haewoon yang mulai gelagapan sendiri.

“Ah, t-tidak. A-aku… aku hanya tak yakin.”

“Karena apa?”

Haewoon menggeleng, lalu cepat-cepat bangkit dan duduk di balik meja kerjanya. Mulai mengeluarkan notebook miliknya dan mencari bahan yang akan dipresentasikannya nanti.

“Hey! Kau sudah pintar, tidak usah sok sibuk dengan membaca bahan seperti itu. Toh nanti kau akan mengatakannya dengan lugas tanpa menilik catatan sedikit pun.”

Haewoon melirik Hyukjae sejenak seraya menjulurkan lidahnya sebelum kembali pada notebook-nya. Jari tangannya dengan lincah menjelajahi layar benda itu dengan mulutnya yang sesekali bergerak, membaca apa yang ada di sana. Kemudian mengerang kecil saat menyadari ada sesuatu yang dirasanya kurang. Dengan sigap Haewoon meraih tasnya, mencari catatan kecil di sana dan mulai mengetik apa yang dimaksudnya kurang itu. Tapi pergerakan jari tangannya sentak terhenti saat melihat sesuatu di sisi paling kanan layar notebook-nya.

Itu gambar kalender berbentuk kotak dan jam digital bulat di sampingnya. Mata Haewoon menatap lekat kalender itu, dan tanpa sadar kursor itu bergerak ke tanggal hari ini. Tanggal yang sama sekali tak ingin Haewoon ingat walau pada nyatanya ia selalu mengingatnya. Dan itu membuatnya sungguh ingin membuang otaknya sekarang juga.

Haewoon lalu menggeleng pelan, tangannya terangkat menutupi wajahnya lalu mengerang kesal. Kepalanya mendadak pening, dan mimpi buruk nan mengerikan itu kembali menyerang pikirannya.

“Chagi-ya?” panggil Hyukjae. Merasa ada yang aneh dengan wanitanya itu. Yah, benar… tadi sejak di parkiran ia memang sudah merasa aneh dengan sikap Haewoon. Tapi kemudian menganggapnya hanya perasaannya saja. Dan sekarang, wanita itu semakin aneh.

Hyukjae bangkit dari duduknya. Menghampiri Haewoon dan menariknya perlahan ke dalam dekapannya. Dapat Hyukjae dengar suara isakkan yang keluar dari mulut Haewoon dan kemeja putihnya yang terasa basah karena air mata.

Ini kedua kalinya. Ya, kedua kalinya Haewoon menangis dihadapannya sejak pertama kali mereka bertemu.

Dengan sabar Hyukjae menenangkan wanita itu, mengelus punggungnya, mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Sampai berbicara dengan sangat amat lembut agar Haewoon mengerti, sebelum mengecup kedua matanya yang basah dan memerah.

“Aku di sini, oke? Jangan merasa sendiri, katakan apa yang mengganggu pikiranmu. Aku di sini akan selalu mendengarkanmu.” Ucap Hyukjae sembari mengeratkan pelukannya pada Haewoon. Tapi Haewoon justru semakin kencang menangis. Ia bahkan tanpa sadar memukul-mukul dada Hyukjae dengan brutalnya. Dan Hyukjae hanya bisa sabar, sesekali mungkin ia mencekal tangan Haewoon agar wanita itu berhenti menyakitinya.

“Siapa yang bodoh di sini, hah? Kenapa aku terus merasa seperti ini? Ini tidak nyaman, kau tahu?! Aku tak mau lagi hidup, tapi aku juga tak mau meninggalkan anakku sendiri. Apa yang harus kulakukan? Kita seperti orang asing, dan sekarang aku membenci hal itu!”

Hyukjae mendesah keras saat lagi-lagi Haewoon menyerangnya bertubi-tubi. Dengan keras pula ia mencekal lengannya, agar Haewoon berhenti dan kini hanya menangis tersedu-sedu.

“Tenang. Berhenti menangis. Kau bisa istirahat terlebih dahulu. Jangan pikirkan meeting kita. Tidurlah… aku di sini.” Kata Hyukjae memerintah dengan lembutnya. Ia kembali menarik belakang kepala Haewoon ke dadanya, lalu menunggu sampai wanita itu benar-benar tidur dan beristirahat. Oke, sepertinya meeting hari ini harus ditunda sampai Haewoon fresh kembali.

Hyukjae melirik wajah Haewoon yang tampak tertekan dengan matanya yang membengkak. Wanita itu sudah tertidur, nafasnya teratur. Dengan perlahan Hyukjae menggendongnya ke sofa yang tadi sempat didudukinya dengan Haewoon. Lalu merebahkan Haewoon di sana dan mencarikan posisi senyaman mungkin. Sebenarnya Hyukjae tahu jika tidur di sofa bukanlah pilihan yang baik. Terutama untuk seorang wanita. Tapi mau bagaimana lagi? Di mana ia bisa merebahkan tubuh Haewoon selain di sana? Tak ada ranjang empuk di ruangan ini, tentu saja!

“Aku belum gagal, kan, Lee Haewoon?” gumam Hyukjae, lalu mengecup bibir wanita itu sekilas sebelum berjalan ke meja kerja. Ia baru hendak mematikan notebook Haewoon saat menyadari sesuatu.

Kursornya ada tepat di tanggal tiga februari. Dan itu hari ini. Well, bisa Hyukjae pastikan jika sebelum Haewoon menangis tadi ia melihat ini. Tak mungkin kursor itu berjalan sendiri, kan?

Dengan hati-hati Hyukjae duduk di sana, tangannya membuka laci dengan pandangannya yang terus terarah pada Haewoon. Hingga ia menemukan sesuatu di sana. Sesuatu yang sudah diketahuinya sejak lama. Tapi ia tak berani membukanya karena Haewoon yang dengan keras melarangnya. Namun hari ini ia tak bisa lagi menahannya, ia harus tahu apa yang sebenarnya disembunyikan wanitanya itu.

Amplop. Berwarna putih kusam. Dan coretan tangan anak kecil di atasnya, yang Hyukjae yakini jika itu coretan tangan Hyunoo.

Perlahan Hyukjae membuka amplop itu, mengambil selembar kertas putih di sana dan membaca isinya. Sesungguhnya berat melakukan ini, tapi ego mengalahkannya. Menyuruhnya untuk melakukannya hingga ia hanya bisa membekap mulutnya sendiri saat menyadari sesuatu. Sesuatu yang seharusnya ia ketahui sejak awal. Dan sekarang ia sadar… seberapa lama pun ia bersama wanita itu. Bersikap seolah hanya ia yang tahu bagaimana seorang Lee Haewoon. Masih ada sesuatu yang tak diketahuinya. Dan sesuatu itu tertulis di kertas putih ini.

***

Dear, someone

Hidup itu terkadang tak sesuai dengan kehendak, ya? Aku pikir itu sesuai. Tapi ternyata tidak untuk kehidupanku. Dulu… aku merasakan bagaimana sedihnya aku saat ditinggalkan Eomma di halte bus dekat Universitas Kyunghee. Saat itu usiaku sekitar empat tahun. Aku memang tak mengerti di mana aku berada, tapi aku tahu saat aku sudah dewasa. Jika aku ditinggalkan Eomma di halte dekat universitas tersebut. Tapi beruntungnya aku, diasuh oleh sebuah keluarga yang begitu menyayangiku. Mereka keluarga Lee Jong Hyuk. Appa angkat terbaik bagiku. Dan aku berpisah dengan mereka ketika aku ingin hidup mandiri, tinggal di apartemen yang cukup luas untukku tinggali seorang diri. Hingga aku merasa kesepian, terkadang di rumah aku bisa bermain bersama kakak dan adik angkatku, Lee Kira dan Lee Kina. Jadi aku memutuskan untuk mengadopsi seorang anak di panti asuhan. Dengan begitu aku pikir aku bisa belajar menjadi seorang Eomma yang baik untuk anakku kelak. Tentu saja aku tak ingin menjadi seperti Eomma kandungku yang sudah membuangku. Saat itu… setiap malam aku memikirkan akan tindakanku itu dengan baik dan matang. Yah, aku akan mengadopsi seorang anak. Aku pasti bisa merawatnya dengan jerih payahku sendiri. Tanpa meminta dari Jong Hyuk Appa. Dan setiap malam pula aku tersenyum membayangkan hidupku yang bahagia bersama sosok kecil yang memanggilku ‘Mommy’ atau ‘Eomma’. Ya, Tuhan… entah apa yang membuatku seperti itu. Tapi aku senang, dan semakin tak sabar menunggu saat yang tepat untuk pergi ke panti dan memilih anak yang cocok denganku.

Tapi semua anganku itu hancur saat sosok pria bernama Cho Kyuhyun itu datang. Ia datang tiba-tiba ke apartemenku, berkata ia juga kuliah di universitas yang sama denganku. Dan memintaku membantunya mengerjakan tugas. Aku tak tahu apa-apa, jadilah aku menolongnya. Jujur aku merasa nyaman saat berdekatan dengannya yang sungguh bisa membuatku tertawa lebih dari dua puluh kali dalam sehari.

Pada hari itu pula, saat mentari sudah kembali ke peraduannya. Pria itu menggenggam tanganku. Hangat. Dan aku tersenyum padanya ketika ia mengatakan jika ingin menikahiku. Ia juga berkata tujuannya ini karena ia ingin mengisi rumahnya yang kosong. Untuk yang ini konyol dan aku kembali tertawa dibuatnya. Saat itu aku berpikir, jika aku menikah dengan pria ini. Maka aku akan memiliki anak dengannya, dan anak itu sudah pasti anak kandungku. Bukankah itu lebih menyenangkan daripada mengadopsi anak? Kemudian dengan senang hati aku mengangguk. Mengiyakan ajakannya untuk menikah setelah wisuda kami dua minggu ke depannya.

Dan lagi-lagi. Anganku itu hancur setelah aku tahu diriku berbadan dua. Oke, jujur aku senang karena akhirnya aku akan punya anak. Tapi, ada sesuatu yang lain dalam diriku. Berkata padaku jika aku hanya memerlukan anak ini. Bukan Kyuhyun. Dan itu benar setelah aku memikirkan kembali bagaimana tujuan hidupku sebelum menikah. Yah, aku hanya ingin hidup bersama anakku. Lebih tepatnya aku ingat akan tujuanku itu setelah aku menyentuh kaleng Soju untuk yang pertama kalinya.

Mungkin bodoh, atau gila jika ada seorang istri yang tengah hamil dan begitu menyayangi kandungannya itu justru meminum Soju. Tapi itulah yang aku lakukan. Aku gila saat itu. Karena tak memikirkan janinku, sampai aku pulang ke rumah dan mendapati raut marah seorang Cho Kyuhyun. Aku hanya tertawa remeh melihat itu sebelum mengatakan padanya jika aku ingin bercerai. Tapi ia menolak. Dan aku tak mau memikirkannya lagi karena baru ingat jika aku sedang hamil.

Paginya aku bertemu dengan Kyuhyun di meja makan. Ia berkata dengan nada dingin bahwa kami tak perlu berpisah karena ingin sama-sama merawat buah hati kami. Aku menurutinya. Kemudian aku ke dokter untuk memeriksakan kandunganku. Oh, Tuhan… aku sangat berterimakasih karena bayiku sehat-sehat saja.

Dan sesuatu yang sangat tak pernah kuduga terjadi, aku bertemu seorang pria setelah pulang dari dokter kandungan. Pria itu Hyukjae. Dan ia menjadi kekasihku. Well… untuk yang satu ini aku sungguh minta maaf. Hyukjae, pada dasarnya aku tak mencintainya. Aku menerimanya untuk menjalin hubungan karena aku hanya ingin membuat Kyuhyun semakin benci padaku. Agar Kyuhyun mau bercerai denganku dan aku dapat hidup tenang bersama anakku. Tapi jujur saja, aku merasa cukup nyaman di dekat Hyukjae. Dia pria yang tak jauh berbeda dengan Kyuhyun, sebenarnya, suka membuat orang lain tertawa.

Jadi… aku sungguh minta maaf karena sudah bersikap seperti ini, terutama pada Hyukjae. Maafkan aku…

Sekarang aku tahu, hidupku benar-benar tak sesuai keinginanku. Dan yang bisa kulakukan hanyalah menjalaninya.

Baiklah, aku sudahi tulisan ini. Aku tak bisa menulis diary. Jadi aku menulisnya di kertas ini. Terimakasih.

-Lee Haewoon, Cho Hyunoo, 3 februari 2012. ‘The second wedding anniversary with Cho Kyuhyun.-

***

 

 

Kyuhyun melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah jam delapan lebih ternyata, tapi toh ia tak perduli. Ia bisa kapan saja datang ke kantor. Lagi pula hari ini ia memiliki waktu luang yang cukup banyak. Mengingat semua tugas penting sudah dikerjakannya hingga larut semalam.

“Hyunoo, pilih yang mana?” tanyanya pada Hyunoo yang asik menyedot botol susunya di atas tempat tidur.

“Hitam.” Jawab Hyunoo, tangannya menunjuk dasi yang ada di tangan kanan Kyuhyun.

“Ini?” Kyuhyun mengangkat tangannya. Dan ketika Hyunoo mengangguk, ia justru menggeleng. “Ini bukan hitam. Ini biru tua.”

Ahjussi bilang itu hitam. Kemarin ia juga memakai dasi seperti itu.”

“Jinjjayo?”

Hyunoo mengangguk lagi. “Hm, ia bilang Eomma yang memberikan dasi itu.” Kata Hyunoo enteng, ia kembali menyedot susunya sembari berbaring dan memainkan ponsel ayahnya. Tapi kemudian sentak bangkit saat menyadari sesuatu. “Tapi, Appa. Siapa sebenarnya Ahjussi itu? Hyunoo tidak tahu namanya dan ia sering sekali bersama Eomma. Kemarin Ahjussi itu mencium Eomma.”

Kyuhyun menoleh lagi pada Hyunoo setelah tadi fokus melihat bayangannya di depan cermin. Mencoba memasang dasi yang tentu saja bukan pilihan Hyunoo tadi. Ia tak mau memakai sesuatu yang sama dengan orang lain. Terlebih jika orang itu… sudahlah. “Namanya Hyukjae, Lee Hyukjae.” Jawab Kyuhyun singkat, kembali menghadap pada cermin.

Appa mengenalnya?”

“Aniyo.”

“Lalu kenapa Appa tahu namanya?”

“Karena Eomma pernah mengatakannya.”

“Untuk apa?”

“Agar Appa tahu jika…,” Kyuhyun menghela nafasnya berat, bingung harus seperti apa melanjutkan kalimatnya itu. Ia takut jika nanti itu justru menyakiti hati kecil Hyunoo. Walau pun seratus persen ia yakin jika Hyunoo tidak akan mengerti. Tapi siapa yang tahu? Anak itu bisa saja mengerti biar pun tidak semuanya. Dan Kyuhyun tahu, anak itu tipikal orang yang selalu bertanya jika ia sangat ingin mengetahui sesuatu.

Appa? Kenapa melamun?”

Gwaenchana, Appa hanya… hanya memikirkan sesuatu.”

Hyunoo mengangguk saja sebelum melanjutkan pertanyaannya, lagi. “Jadi, siapa Hyukjae Ahjussi itu? Kenapa ia sering sekali bersama Eomma, mencium Eomma. Tapi justru Appa yang jarang.”

Kyuhyun mencengkeram ujung dasinya. Giginya bergemelutuk saat ia lagi-lagi harus dihadapkan dengan pertanyaan yang baginya tidak penting seperti ini. Terlebih lagi yang memberi pertanyaan itu anaknya sendiri. Oh, god! Apa yang harus dilakukannya? Berkata yang sebenarnya? Berkata jika Hyukjae itu kekasih ibunya, dan tentu bisa dengan bebas mencium ibunya. Lalu berkata karena ia dan ibunya tidak dalam kondisi baik sehingga tak melakukan hal layaknya suami-istri. Begitu?

Ayah yang bodoh.

Itu yang patut diberikan pada Kyuhyun jika sampai ia berkata seperti itu.

Kyuhyun menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum berbalik pada Hyunoo. “Appa tidak tahu, sayang. Cah… sudahlah, untuk apa kita bicarakan ini? Lebih baik sekarang Hyunoo siap-siap. Kita berangkat sebentar lagi.”

Hyunoo mengerucutkan bibirnya kesal, tapi tetap mengangguk dan turun dari tempat tidur. Ia berlari ke kamarnya dan ibunya, mengambil mantel dan beberapa mainan yang tadi sudah disiapkan Haewoon di dalam tasnya. Kemudian kembali lagi ke kamar Kyuhyun sembari menggeret semua perlengkapannya itu. Lengkap dengan botol susu yang masih menggantung di mulutnya. Lebih tepatnya, digigit olehnya.

“Ya, Tuhan,” gumam Kyuhyun. Ia menghampiri Hyunoo dan mensejajarkan tingginya. “Kenapa ditarik seperti itu? Nanti kotor, Cho Hyunoo.”

“Ini berat, Appa.”

“Siapa suruh membawa banyak mainan, eh?” Kyuhyun mengambil tas itu, meletakkannya di samping tubuhnya lalu memasangkan mantel pada Hyunoo.

“Siapa suruh membelikan banyak mainan?” ujar Hyunoo, membalikkan pertanyaan Kyuhyun yang sontak menghentikan aktivitasnya tersebut.

“Oh, kalau begitu Appa tidak perlu membelikan Hyunoo mainan lagi.”

Hyunoo memasukkan botol susunya itu ke mulut Kyuhyun sembari menekuk wajah. Kesal. “Hyunoo tidak ikut ke kantor Appa. Hyunoo di rumah saja.” Rajuknya, sentak berbalik dan berlari ke luar kamar.

Kyuhyun sudah melepaskan botol tersebut dari mulutnya sebelum mengerang kecil. “Cho Hyunoo! Di rumah ada hantu! Hyunoo mau digigit hantu, eoh?” ucap Kyuhyun menakuti dengan sedikit menaikkan volume suaranya. Ia mengambil jas hitamnya yang tersampir di sebuah kursi lalu keluar kamar dengan perlengkapan Hyunoo dan juga perlengkapan kerjanya.

Ia mendapati Hyunoo tengah berdiri di samping meja makan sembari mengunyah roti panggang sisa sarapan tadi. “Hm… ada yang kelaparan ternyata.”

Hyunoo sentak berbalik dan menyembunyikan sisa roti itu di punggungnya. “Siapa? Hyunoo tidak lapar. Bukankah sudah sarapan dengan Eomma dan Appa tadi.” Sergahnya.

“Bohong atau…,”

Hyunoo menggigit bibir bawahnya. Takut ayahnya melakukan sesuatu yang sangat tidak diinginkannya. Saat Kyuhyun hendak membuka mulutnya lagi, melanjutkan kalimatnya yang tadi, Hyunoo sentak memekik. Lalu menunduk sembari menunjukkan roti itu pada Kyuhyun. “Ya! Hyunoo memang makan roti, tapi Hyunoo tidak lapar, Appa.”

Kyuhyun menahan tawanya yang hampir meledak melihat ekspresi Hyunoo yang seolah sangat ketakutan akan sesuatu. Padahal ini hanya masalah roti panggang. Ck! “Oke, oke, habiskan saja. Lagipula sayang jika dibuang.”

Hyunoo tersenyum lebar menanggapi itu. Lalu menjulurkan tangannya. Kyuhyun yang mengerti sentak mengangkat Hyunoo dengan susah payah ke gendongannya. “Berangkat!”

“Berangkat!” sahut Hyunoo, kembali melanjutkan acaranya memakan roti sementara Kyuhyun menggendongnya keluar rumah.

***

 

 

Langkah anggun itu tampak menyusuri lorong kantor yang cukup besar ini. Suara ketukan sepatunya yang lembut terasa memenuhi pendengarannya. Seperti sudah biasa, dan ia tak terlalu memperdulikannya. Terlebih lorong ini cukup sepi.

Gadis itu berhenti tepat di depan sebuah pintu, mengetuknya sebentar sebelum membukanya dan melongokkan kepalanya ke dalam. Ia tersenyum pada seorang pria yang duduk di balik meja dengan kacamata putih yang bertengger di hidungnya.

“Annyeong haseyo, Changmin-ssi.” Sapanya ramah.

Pria bernama Changmin itu menoleh dan membalas senyumannya, “Nado annyeong, Haena-ssi.”

“Kyuhyun Oppa sudah datang?” tanyanya, kini sudah dengan sempurna memasukkan tubuh mungilnya ke ruangan berinterior cukup mewah itu. Tapi, tentu tidak sebanding dengan mewahnya ruangan lain yang hanya berbatas dinding dengan ruangan itu.

Changmin menatap jam tangannya, “Belum. Tidak biasanya ia datang terlambat. Tapi ia juga tidak ada jadwal meeting hari ini, mungkin itu yang membuatnya santai.”

“Oh, baiklah. Kira-kira kapan ia datang?”

Mollaseo. Mungkin sebentar lagi, ponselnya tidak bisa dihubungi.”

“Bisa aku menunggu?”

“Ya, tentu saja. Silakan duduk, akan kubuatkan kopi.” Changmin bangkit dari kursinya dan berjalan ke sudut ruangan.

Sementara gadis cantik bernama Haena itu sudah duduk di sofa merah yang ada di sana sembari memainkan ponselnya. Sibuk menatapi desain-desain ruangan yang tersedia di sana. Hingga ia mendongak saat Changmin mengangsurkan segelas kopi dengan kepulan asap di atasnya. “Terimakasih.”

“Hm… memangnya ada perlu apa kau datang? Kurasa ini pertama kalinya sejak seminggu lalu kau absen.” Tanya Changmin setelah mengambil posisi di salah satu sudut sofa.

Haena menghirup pelan kopinya itu, meminumnya sedikit lalu memfokuskan tatapannya pada Changmin. “Aku hanya… merindukannya. Hm, sebenarnya aku tak datang sejak seminggu yang lalu karena kami…,” Haena mengedikkan bahunya pelan. “Bertengkar.” Lanjutnya.

“Aku tidak tahu,”

“Memang kau siapa sampai harus tahu, eh?” Haena tertawa kecil, sedikit mencairkan suasana.

“Hanya sekretarisnya.” Tekan Changmin, juga tertawa menyadari kebodohannya yang satu ini. Hey! Ada benarnya, kan? Ia tak harus tahu apa yang terjadi dengan masalah pribadi presdirnya. Tapi… entahlah.

“Kami bertengkar karena aku yang selalu membantahnya.” Haena melanjutkan, merasa tak ada salahnya jika ia bercerita sedikit pada pria ini. Toh, sekalian mengurangi beban yang seminggu ini dipendamnnya. “Aku tahu ia sama sekali tak menyukaiku. Ia tak suka jika aku selalu datang ke kantornya, membawakannya makan walau akhirnya aku makan sendiri. Tapi aku bersikeras. Karena aku… tak ingin ia sendiri. Ia memang memiliki istri dan anak, tapi aku tahu hubungan mereka tak cukup baik. Jadi aku memutuskan untuk menghiburnya, setidaknya menyadarkan jika masih ada orang yang mencintainya, dan itu aku. Tapi… ia menolakku dengan keras. Dan bodohnya aku juga dengan keras mempertahankan cintaku.”

Haena meringis kecil. “Dan hari ini, aku ingin kembali menyadarkannya. Aku ingin ia menerimaku. Bagaimana pun caranya, aku sudah lama berada di sisinya. Yah, kau tahu jika aku hanya seperti lumut yang terus menempel padanya, dan tak dihiraukannya sama sekali. Keras kepala. Aku tak perduli. Egois. Memang, tapi ia juga egois karena tak mau menerimaku. Itu berarti kami imbang, kan, Changmin-ssi?”

Changmin hanya diam menatapi gelas kopinya dengan kepala penuh memikirkan apa yang dikatakan gadis itu.

“Kuharap aku berhasil, hari ini.” Haena tersenyum sendiri, lalu menoleh pada Changmin yang terus diam. “Doakan aku, Minnie.”

Changmin merasa sesuatu bergejolak di dadanya tepat setelah Haena menyebutnya seperti itu. Ia mendongak menatap Haena, dan baru hendak membuka mulut ketika pintu yang tadi dimasuki Haena terbuka. Menampilkan seorang anak lelaki dengan setelan kemeja biru dan celana panjang putih yang tengah tersenyum membawa robot mainannya.

“Annyeong, Ahjussi!” sapa Hyunoo riang, sentak berlari ke arah Changmin dan menghambur ke pelukan pria itu. “Bogoshipeoyo, Ahjussi. Kita lama tidak bertemu.”

Changmin menepuk kepala anak itu pelan seraya tersenyum senang. Sejenak melupakan perbincangannya dengan Haena tadi. “Nado bogoshipeo. Kenapa Hyunoo jarang kemari, eoh? Ahjussi sering kesepian jika waktu makan siang. Bagaimana jika nanti kita makan siang bersama? Berdua saja, Appa Kyu tidak usah diajak. Otthe?”

“Kasihan Appa. Hyunoo makan bersama Appa saja.”

“Yasudah, kalau begitu kita ajak juga Appa Kyu. Tapi Hyu— ah… Sajangnim.” Changmin tersenyum tiga jari melihat Kyuhyun yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan gemasnya. Ia berdiri dari duduknya dengan Hyunoo di gendongannya.

“Jangan mengotori pikiran anakku, Shim Changmin!”

“Ah… tidak. Aku hanya mengajaknya makan siang bersama.”

“Benar, Appa. Tapi Ahjussi tidak mau mengajak Appa.” Sahut Hyunoo.

“Nah… aku tahu apa yang akan kau lakukan, Tuan Shim. Jang—“

“Oppa,” sergah Haena, sentak bangkit dari duduknya dan menghampiri Kyuhyun. Berdiri di hadapan pria itu sejenak. Tersenyum hangat sebelum memeluknya hangat. “Bogoshipeo.”

Kyuhyun memutar bola matanya malas sembari mendesah keras. Dengan sedikit paksaan ia menyentuh bahu Haena dan mendorongnya mundur. “Untuk apa lagi ke sini, eoh? Aku bilang aku tidak menyukaimu. Kita tak memiliki hubungan apa pun, kau tahu itu, Song Haena.”

“Aku hanya ingin membuktikan padamu jika aku tak akan pernah menyerah. Aku mencintaimu, dan seharusnya kau tak egois dengan memperlakukanku seperti ini, Oppa!”

“Dan aku tak mencintaimu, NOT AT ALL! Seharusnya kau juga tak egois dengan memaksakan kehendakmu itu padaku. Kau tahu perasaan seseorang itu tak bisa dipaksakan, bukan? Aku yakin, orang sepertimu sudah tahu hal seperti ini. Jika ada seseorang yang mencintai orang yang lain, namun orang lain itu sama sekali tak membalasnya, maka yang harus mengalah itu adalah orang yang mencintai. Itu namanya tidak egois! Dan sekarang, kaulah yang berada di posisi itu! Tidakkah kau mau membuktikannya?” jelas Kyuhyun sarkatis. Ia sentak berjalan ke ruangannya yang hanya disekat dengan ruangan tersebut. Ia bahkan tak perduli lagi dengan Hyunoo yang sejak tadi terdiam sembari memeluk leher Changmin erat karena ketakutan.

Dengan keras Kyuhyun membanting pintunya sampai-sampai Haena yang masih berdiri mematung tampak bergidik sejenak sebelum sebulir air meluncur dari pelupuk matanya. Tubuhnya bergetar hebat ketika kalimat menyakitkan Kyuhyun itu kembali terngingat di kepalanya. Sakit! Sangat! Hati gadis mana yang tak sakit jika dikatakan seperti itu oleh sosok pria yang dicintanya? Tapi tak pernah membalas cintanya.

Tapi Haena tak boleh menyerah. Sudah lama ia bertekad ingin menaklukan Kyuhyun. Ia harus mendapatkan pria itu! Harus!

Gadis itu mengusap air mata yang sempat mengalir di pipinya. Lalu dengan mantap dan yakin melangkah ke ruangan Kyuhyun, menyentuh kenop pintu tersebut dan membukanya dengan kasar. Matanya menatap dalam dan lurus pada Kyuhyun yang bahkan belum sempat duduk di kursi kebesarannya.

“Siapa yang menyuruhmu masuk?” ucap Kyuhyun dengan nada bertanya yang terkesan sinis. Ia membuka jas dan melempar benda itu ke sembarang tempat, lantas berdiri di hadapan Haena yang masih berada tak jauh dari pintu. Tangannya bertengger di pinggang, lalu matanya menatap Changmin di luar sana. Sedikit memberi isyarat pada sekretarisnya itu untuk membawa Hyunoo pergi ke luar sebentar.

“Tak ada, aku sendiri yang ingin. Kenapa? Kau tak suka? Kau tak suka jika melihatku di sini, eh?! Melihat gadis yang dimatamu rendah ini, berdiri di hadapanmu, kau sama sekali tak suka, kan?” kata Haena lantang, ia mengepalkan kedua tangannya ketika sedikit terkejut karena pintu ruangan yang tertutup otomatis.

Kyuhyun benar-benar memandangnya remeh, dengan tangan sudah bersendekap di depan dada ia berjalan mengitari tubuh Haena. Hingga berhenti dan memajukan mulutnya mendekati daerah leher dan telinga kiri gadis itu. “Aku tahu kau cukup pintar untuk mempersepsikan tentang itu, Nona Song.” Ia tertawa kecil. “Dan aku yakin kau tidak bodoh sampai berkata merendahkan diri sendiri seperti itu. Kau pikir aku akan luluh, eoh? Jawabannya tidak! Aku tidak akan pernah luluh dengan semua yang kau lakukan. Tak perduli kau datang setiap hari ke kantorku, membawakanku makanan, atau apa pun itu. Aku sama sekali tak perduli karena semua itu hanya kuanggap sampah tak berguna darimu. Mengerti?”

Haena merasakan hembusan nafas Kyuhyun dengan tubuh bergetar hebat. Kepalan tangannya semakin mengeras seiring berjalannya pernyataan Kyuhyun tadi di kepalanya. Serendah itukah? Sampah? Cih!

“Kenapa diam saja? Baru menyadari tingkah bodohmu itu, ya?” Kyuhyun sudah menjauhkan wajahnya. Ia mengambil posisi di depan gadis itu lagi. “Asal kau tahu, ya, Nona. Biar pun hubunganku dan istriku sama sekali tak bisa dibilang baik, tapi kami masih bersama. Aku mencintainya, tentu saja! Karena ia wanita yang sudah melahirkan malaikat kecilku! Sedangkan kau? Apa alasanku untuk mencintaimu? Kau bukan siapa-siapa. Kau yang tiba-tiba datang ke kehidupanku, mencaritahu seluk beluk rumah tanggaku dan berusaha merebut hatiku. Hey! Jangan pernah menganggapku pria gampangan, oke? Aku tidak akan tergoda dengan semua yang kau miliki. Jadi… berhenti mengejarku jika kau tak mau suatu hal buruk terjadi padamu. Aku memang diam selama ini. Tapi aku bisa berubah menjadi sosok tak terpikirkan jika aku menginginkannya, asal tahu saja!”

Haena menghela nafasnya susah payah. Ia lalu mendecih pelan saat melihat seringaian kecil di wajah Kyuhyun. “Dan kau pikir aku juga tak bisa berubah menjadi sosok tak terpikirkan jika aku menginginkannya?” Haena melipat tangannya di depan dada, mengikuti sikap Kyuhyun setelah memantapkan hatinya. “Aku bisa, Cho Kyuhyun. Aku bisa.” Ujarnya sembari tersenyum licik, perlahan mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun dengan tangannya yang mulai membelai permukaan wajah pria itu.

Kyuhyun tak bereaksi apa pun dengan tingkah gadis di hadapannya ini. Ia tak tergoda, walau pun sebenarnya dengan susah payah ia menahannya. Oke, ia pria yang konsisten dan tentu saja tidak memakan perkataannya sendiri.

“Jadi…,” Haena menarik dasi Kyuhyun manja. “Bagaimana?”

“Bagaimana, ya?” tanya Kyuhyun balik, sontak tertawa keras sebelum rautnya berubah mengeras dan segera mengempaskan tangan Haena di tubuhnya. Dengan cepat Kyuhyun bergantian mencengkeram gadis itu dan memojokkannya di balik pintu. “Cih! Ternyata kau bukan hanya gadis rendah. Dasar jalang!”

“Ah…,” Haena meringis keras setelah merasakan panasnya tamparan Kyuhyun yang mengenai pipi kirinya. Nafasnya memburu menatap Kyuhyun yang sudah mundur beberapa langkah dengan wajah tak bersalah sama sekali.

Kyuhyun menatap tangan kanannya sejenak, tersenyum menyadari tangannya tadi tak cukup kuat untuk melayangkan sebuah tamparan. Well… tentu saja ia tak menggunakan seluruh tenaganya atau ingin gadis itu mati tepat dihadapannya juga. Ia masih tahu diri.

“Kau…,” desis Haena sembari menggigiti bibir bawahnya. “Pria terjahat yang pernah kutemui.”

“Bagus.” Kyuhyun tertawa, terpaksa. Ia sekali lagi mendekatkan wajahnya. “Bagus jika kau berpikir seperti itu, dan dengan alasan itu pula, kau seharusnya menjauhiku. Bukankah begitu?” ucap Kyuhyun lalu berbalik dan berjalan ke meja kerjanya. Duduk di kursi hitam empuk miliknya, kemudian mengerutkan kening karena melihat gadis itu tak melakukan apa-apa. “Jadi untuk apa kau masih berdiri di sana?”

Haena mendongak. Air matanya kembali jatuh menyadari maksud tak langsung yang terucap dari mulut pria itu.

“Cepat pergi!”

Dan sekarang itu langsung.

Haena merubah tatapannya yang tadi pada Kyuhyun menjadi pada dinding polos di balik punggungnya, dengan datar. Ia lantas membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan itu tanpa berkata apa pun. Air matanya saja ia tak perduli lagi, entah seberapa banyak lagi air biadab itu ingin muncul dari pelupuk matanya.

Kyuhyun menghela nafasnya berat setelah melihat dan mendengar pintu ruangannya itu terkunci, dan gadis yang baginya memuakkan itu sudah benar-benar pergi. Kyuhyun menutup matanya sembari merilekskan punggungnya ke sandaran kursi. Merasa ini terlalu melelahkan baginya, terlebih ini masih pagi dan ia bahkan baru saja sampai ke kantornya ini.

Namun kemudian matanya kembali terbuka ketika menyadari ada seseorang yang masuk. Sebelumnya ia bersumpah jika gadis itu lagi yang masuk, maka ia tak akan segan-segan untuk melakukan hal yang lebih dari sebuah tamparan. Tapi ia urung melakukannya karena yang masuk bukan Haena. Melainkan Changmin dengan wajah serba salahnya.

Sajangnim… ia tak mau pergi. Aku sudah membujuknya untuk membiarkanmu sendiri terlebih dahulu, tapi ia tetap bersikukuh untuk menunggumu di luar.”

Kyuhyun mendecih mendengar itu. Oh, astaga… sebenarnya terbuat dari apa hati dan pikiran gadis itu? “Biarkan, acuhkan saja dia. Yang penting jangan dekatkan Hyunoo padanya. Aku tak mau anakku terkontaminasi dengan mulut busuknya yang selalu menawarkan segala hal itu.”

“Tapi Hyunoo…,”

“Jangan bilang sekarang ia sedang bersama gadis itu.” Changmin diam sejenak sebelum mengangguk dan langsung mendapati wajah masam Kyuhyun. “Bawa ia masuk! Kau berjaga saja di luar.”

“Ya, baiklah.” Changmin kembali membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangannya itu. Membuat Kyuhyun kembali ke aktivitas sebelumnya, menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam.

***

 

 

Haewoon mengerang kecil saat merasa bagian punggungnya terasa sakit. Ia menyentuhnya pelan sebelum memaksa matanya untuk terbuka, lalu mengambil posisi duduk dengan masih diiringi ringisannya. Benar saja, ia tidur di sofa. Dan bisa Haewoon pastikan jika tadi Hyukjae-lah yang mengangkat dan menidurkannya di sini.

Ah, Hyukjae. Haewoon jadi mengingat pria itu. Tapi di mana ia sekarang?

Haewoon bangkit berdiri, merapikan rambutnya sebentar dan berjalan ke meja kerjanya. Diambilnya cermin kecil yang memang selalu ada di sana, lantas memandangi wajahnya.

Oh, Tuhan… matanya bengkak dan sedikit memerah. Astaga, separah itukah tadi ia menangis?

Ia lalu menoleh ke samping, tepat ke laptopnya yang sudah dalam keadaan mati. Tangannya lalu bergerak menekan salah satu tombol yang ada di sana, dan tak lama kemudian layar datar itu kembali menyala.

Dada Haewoon kembali terasa bergemuruh saat yang pertama kali dilihatnya di layar itu adalah tanggal hari ini. Ah… benar. Ini ulangtahun pernikahannya yang keempat bersama Kyuhyun. Dan tak seharusnya ia menangis di hari ini, tidak seharusnya!

Haewoon menunduk, menutup matanya rapat-rapat untuk mengurangi perasaan aneh di dadanya. Sepersekian detik kemudian ia membukanya, dan matanya langsung mendapati laci mejanya terbuka. Sebuah kertas yang sangat menjadi rahasianya selama ini, tak ada di sana melainkan di sisi kanan laptopnya. Haewoon mengambilnya dan meremasnya kuat-kuat.

Hyukjae. Lee Hyukjae.

Pria itu pasti membukanya. Pria itu pasti sudah membacanya. Dan pria itu pasti sudah mengetahui segalanya.

“Ah…,” desahnya kemudian menggigiti bibir bawahnya gusar. Matanya kembali terasa berat dan Haewoon yakin air-air sialan itu sudah mengumpul di sana. Bersiap untuk kembali terjun dan menambah buruk penampilannya hari ini.

Baru saja ia ingin membuka mata, menghirup nafas panjang untuk menahan tangisnya ketika pintu terbuka. Dan sosok Lee Hyukjae berdiri di sana. Dengan tampang yang sangat tak biasa ia berikan pada Haewoon. Kedua tangan pria itu mengepal di kedua sisi tubuhnya dan rahangnya tampak mengeras.

Sungguh, Haewoon tahu kenapa Hyukjae seperti itu. Pasti karena surat ini. Haewoon tak bisa membayangkan seberapa marahnya pria itu padanya.

“Op… oppa…,” gumamnya bergetar. Bersusah payah berdiri dengan tangannya yang masih meremas surat rahasianya itu.

Hyukjae mendesah keras sebelum merilekskan tubuhnya, kepalan tangannya mengendur dan lambat laun langkahnya mencapai tepat di hadapan Haewoon. “Aku sudah tahu semuanya.” Ucapnya, dingin.

Haewoon menunduk. “Maafkan aku.”

“Kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Aku, aku hanya… hanya… entah, entahlah, aku tak tahu. Maafkan aku.”

Kaki Hyukjae maju selangkah, tangannya menyentuh kedua sisi wajah Haewoon dan membimbing wanita itu agar menatapnya. “Apa kau tak merasakan bagaimana aku mencintaimu selama ini? Tak perduli kau sudah bersuami, bahkan ada Hyunoo. Kau benar-benar tak bisa merasakannya, ya?”

“Bu-bukan begitu, Oppa. Aku su-sungguh bisa merasakannya. Tapi aku… bingung, aku bingung dengan perasaanku. Aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan. Di satu sisi aku sudah sebagai seorang istri dan Eomma, lalu entah dorongan dari mana aku ingin membuat suamiku itu membenciku, agar ia mau menceraikanku dan membiarkanku tinggal berdua bersama anakku. Jadi aku… aku menggunakanmu. Maafkan aku, Oppa… aku tak menyangka akan seperti ini jadinya.” Jelas Haewoon, mulai bisa berkata-kata dan membalas tatapan tajam Hyukjae dengan tatapan sendunya.

Hyukjae menggertakkan giginya mendengar kalimat wanita itu. Tanpa sadar tangannya sudah mencengkeram kedua pipi Haewoon, bahkan ia tak mengindahkan sama sekali ringisan Haewoon karena ulah tangannya itu. “Aku kecewa padamu, Lee Haewoon. Aku pikir kau benar-benar ingin hidup bersamaku, aku tak perduli kau sudah punya Hyunoo. Kau tahu jika aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri dan kita bisa membesarkannya bersama. Tapi kenapa kau seperti ini? Kenapa tidak kau katakan saja dari awal jika tujuanmu hanya ini, eoh? Hanya ini! Memanfaatkanku! Ingat itu! Dengan begitu aku bisa menahan diriku untuk tidak terlalu dalam mencintaimu. Tapi ini sudah terjadi, apa lagi yang bisa kulakukan? Aku tidak bodoh untuk tetap mencintai orang yang kenyataannya memanfaatkanku.”

“Maaf, maaf, maaf… Kumohon maafkan aku… maaf…,”

“Kau pikir dengan kata maaf bisa mengatasi semuanya? Berhenti, Haewoon! Aku tak perlu kata itu! Aku hanya perlu kepastian!”

“Apa maksudmu?”

“Kita akhiri hubungan ini atau kita lanjutkan tapi kau harus terus bersamaku, entah dengan Hyunoo atau pun tidak.”

Haewoon meneguk ludahnya susah payah. Ya, Tuhan, apa yang harus dijawabnya? Ia tak memiliki rasa sama sekali pada Hyukjae, terkecuali rasa terimakasih karena selama ini sudah menemani dan menghibur harinya dengan Hyunoo. Jadi, tak ada masalah sebenarnya jika mereka berpisah. Tapi… rasa bersalah itu menghantuinya.

Lagi, apabila mereka tetap melanjutkan hubungan mereka, Haewoon tak yakin bisa tetap hidup dengan tenang. Karena kemungkinan ia bisa bersama Hyunoo atau hak asuh anak itu jatuh pada Kyuhyun. Ia tak mau itu. Ia juga mau kepastian, ia mau tetap bersama Hyunoo, Hyunoo, dan Hyunoo. Tapi Haewoon tahu jika Hyukjae bukanlah orang yang main-main dengan bicaranya, terlebih jika ia sedang marah. Pria itu tak segan-segan melakukan apa pun yang diinginkannya. Satu kata. Psikopat! Itulah Hyukjae saat rasa amarahnya sudah diambang batas.

“Jawab aku!”

Haewoon kembali berpikir keras. Oh, Tuhan… apa yang harus dikatakannya?

“Aku ingin…,” kata Haewoon menggantung. Ia melirik kertas kumal yang tadi diremasnya dan kini sudah tergeletak di samping kakinya. Pada saat itu ia teringat akan pernikahannya dengan Kyuhyun. Susah payah ia menggerakkan lidahnya seraya mendongak menatap Hyukjae. Lalu melanjutkan kalimatnya, “Aku ingin kita berpisah.”

Hyukjae sentak mengangkat tangannya ke atas. Seolah menyerah. “Oke, itu pilihanmu. Aku berterimakasih atas semua yang sudah kau lakukan padaku, Lee Haewoon.”

Haewoon menunduk dalam menyadari kalimat sindiran itu. Tanpa mendongak ia menjawab, “Aku juga berterimakasih, sebanyak-banyaknya karena telah menemaniku dan Hyunoo selama ini. Kau patut mendapatkan yang lebih baik dari pada wanita sepertiku, Oppa. Yah, tidak seperti wanita yang sudah memanfaatkanmu ini.” Kata Haewoon seraya menggenggam tangannya kuat-kuat. Biarkan saja… biarkan saja ia berdosa. Bahkan dosanya selama ini sudah tak terhitung, ditambah lagi dosanya pada Hyukjae ini. Ia bisa menebusnya nanti. Yah, Haewoon yakin ia bisa.

***

Hyunoo mengeratkan pegangan tangannya di tangan besar Changmin saat melihat banyaknya mobil yang melintas tak jauh darinya berdiri. Sangat ramai. Mengingat ini jam makan siang. Dan benar apa yang dikatakan Changmin tadi pagi, mereka akan makan siang bersama, tanpa Kyuhyun.

Tadinya Hyunoo memaksa Kyuhyun agar ikut, bahkan sampai menangis dan membuat kepala ayahnya bertambah pusing. Hingga akhirnya Changmin yang mengiming-iminginya berbagai mainan berhasil membujuknya untuk keluar berdua saja. Kyuhyun sendiri lebih memilih berdiam di dalam kantornya karena merasa tubuhnya mendadak kurang fit. Lebih tepatnya sejak pertengkarannya dengan Haena tadi. Dan dengan alasan lain, yaitu gadis itu masih menungguinya di luar. Maka tidak menutup kemungkinan jika ia keluar, maka Haena akan mengikutinya. Tentu Kyuhyun benci itu.

Ahjussi, apa mereka keluarga?” tanya Hyunoo, menarik-narik jas hitam Changmin sembari menunjuk objek tatapannya di seberang jalan.

Changmin membungkuk, menyamakan tingginya dengan Hyunoo dan mengikuti arah pandang anak itu.

Di sana… seorang pria tinggi, wanita cantik, anak laki-laki kecil dan bayi mungil yang ada di gendongan wanita cantik itu.

Well, dengan pertanyaan Hyunoo itu, Changmin tahu apa maksudnya, lebih tepatnya bagaimana perasaan anak itu.

“Ya, mereka keluarga. Ada apa, hm?”

Hyunoo menggeleng lemah dan kembali menatap Changmin dengan senyum kecilnya yang terkesan di paksakan. “Gwaenchana. Oh, ya, Ahjussi sudah selesai membeli makanan itu?” Hyunoo kembali bertanya, berniat mengalihkan pembicaraannya dengan menunjuk gerobak kecil yang sejak tadi memang berada di samping Changmin.

“Sudah, Hyunoo mau mencobanya?” Hyunoo menggeleng. “Kalau begitu Hyunoo mau apa? Hyunoo belum makan siang.”

Appa juga belum, Hyunoo tidak akan makan jika Appa tidak makan.”

Changmin terdiam sejenak. Dan sedetik kemudian tersenyum lebar dengan mata berbinar menatap Hyunoo. “Bagaimana jika kita membelikan sesuatu untuk Appa Kyu? Hyunoo tidak ingat hari ini ulang tahun Appa Kyu?”

“Ah…,” desahnya sembari menepuk dahinya pelan. “Hyunoo lupa, Ahjussi. Sungguh! Aigoo… temani, temani, temani Hyunoo membeli kado saja, ya? Hyunoo, Hyunoo ingin memberikan Appa sesuatu.” Lanjutnya terbata.

Changmin tertawa kecil melihat tingkah gugup anak itu sebelum mengangguk dan mengikuti tarikan tangan Hyunoo yang membawanya ke sebuah toko. Hingga mereka berhenti di sebuah toko perhiasan yang cukup ramai pengunjungnya. Changmin meneguk ludahnya memikirkan apa yang dilakukan anak ini. Hey! Apa lagi jika bukan untuk membeli perhiasan? Dan tentu anak itu tak membawa uang. Jadi siapa yang harus membelikannya? Shim Changmin, tentu saja!

Ahjussi… Hyunoo minta tolong. Pinjamkan Hyunoo uang, ya? Uang tabungan Hyunoo di rumah.” Pelasnya, seolah mengerti apa yang dipikirkan Changmin saat ini.

Changmin menolehkan kepalanya ke kiri-kanan. Lalu mengangguk pasrah dan disambut Hyunoo dengan pekikan girangnya sebelum semua mata menatap mereka. Changmin membungkuk sopan lalu menggendong Hyunoo ke salah satu etalase yang ada di sana.

“Cincin?” tanya Changmin, Hyunoo menggeleng. “Gelang?” anak itu menggeleng lagi. “Bros? Gantungan? Atau kalung?”

Yup! Kalung!”

Changmin menghela nafasnya, lalu menghampiri seorang gadis penjaga yang berdiri di balik etalase kalung. “Maaf, Nona. Bisa berikan pilihan kalung untuk anak ini?”

“Siapa yang akan menggunakannya? Anak ini, ya?” jawab gadis itu ramah.

Appa, bukan Hyunoo.” Sahut Hyunoo lugas. Gadis itu mengangguk mengerti dan mengambilkan beberapa kalung yang sekiranya berkesan di hati Hyunoo. Anak itu pun tampak terkagum-kagum melihat kilauan emas putih yang berejejer rapi di depannya. “Ini bentuknya burung, ya, Ahjussi?” tanyanya, menunjuk kalung berliontin angsa.

“Bukan, itu angsa.”

“Temannya burung kalau begitu?”

“Bukan juga, tapi saudaranya.”

“Oh… lalu siapa Eomma dan Appa-nya?”

“Aish, pilih saja, Cho Hyunoo! Kenapa banyak tanya!” Changmin mendesis kesal. Sedangkan Hyunoo terkekeh kecil sebelum menunjuk sebuah kalung pasangan berliontin sayap yang bisa saling di satukan dan dipisahkan.

“Ini bagus, kan, Ahjussi.” Kata Hyunoo, lalu tatapannya beralih pada kalung berliontin bintang yang bisa dibuka. “Ini juga bagus. Ini, ini, ini, ini, dan ini bagus semua.” Lanjutnya dengan tangannya yang bergantian menunjuk deretan kalung itu. Ia lalu menatap Changmin, bingung. “Yang mana, Ahjussi? Semuanya bagus. Hyunoo tidak tahu Appa suka yang mana.”

Changmin berdehem sembari menatapi kalung tersebut, mencoba memilihkan yang bagus sebagai hadiah dari Hyunoo untuk ayahnya. Walau pun secara tidak langsung dialah yang memberikannya. “Yang sayap saja bagaimana? Hyunoo suka tidak?”

“Hm… sayap? Baiklah.”

Changmin menunjuk kalung berliontin sayap itu pada gadis di hadapannya sembari tersenyum lembut. “Yang ini saja, Nona. Tolong dibungkus dengan rapi, kalau bisa terlihat sedikit kekanakan.”

Nde, tunggu sebentar.” Gadis itu lalu berlalu pergi untuk menyiapkan kalung tersebut.

Sementara Changmin mengajak Hyunoo yang masih digendongannya untuk duduk di salah satu sofa empuk yang ada di sana. “Setelah ini kita ke mana lagi?”

“Hyunoo ingin bertemu Eomma,”

“Ah… untuk yang satu itu Ahjussi tidak bisa. Kantor Eomma Hyunoo terlalu jauh. Ahjussi tidak membawa mobil.”

“Kalau begitu kita ambil mobilnya. Ada di kantor Appa, kan?”

“Kuncinya hilang, kita tetap tak bisa pergi.”

“Ish,” gumam Hyunoo kesal, ia memalingkan wajahnya yang tertekuk ke arah lain. “Bilang saja tidak mau, Ahjussi jelek!” sambungnya pelan.

***

Langit senja mulai terlihat seiring berjalannya sang mentari untuk kembali ke peraduannya. Hembusan angin dingin pun sudah terasa dengan berterbangnya dedaunan yang baru jatuh dari pohonnya. Menandakan jika sore hari ini sudah berakhir dan akan digantikan dengan gelapnya langit malam.

Wanita itu menatap kosong jalanan di depannya, cukup ramai sebenarnya. Tapi entah mengapa rasanya begitu kosong. Aliran air sungai Han yang banyak dipandangi orang-orang sebagai objek menarik pun, untuk saat ini terasa biasa saja baginya. Hatinya terasa lain… terlebih karena kepalanya tak berhenti memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sesuatu yang tak pernah dipikirkannya jika akan berakibat seperti ini. Yah, akibat perasaan bersalah itu. Perasaan yang menghantuinya saat ini.

Haewoon, wanita itu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kemudi mobilnya, lalu menoleh ke kiri. Tepat pada saat itu matanya mendapati pemandangan yang membuatnya kembali meringis sedih. Pemandangan di mana berkumpulnya sebuah keluarga. Itu sebenarnya yang ingin dirasakannya sejak dulu. Tapi… lihatlah apa yang terjadi sekarang, bahkan sangat berbanding terbalik.

“Hh… Cho Hyunoo,” gumamnya lalu tersenyum lemah. Teringat wajah lucu anaknya itu saat merengek karena digoda olehnya atau pun ayahnya. Astaga, bahkan hari ini ia tak mengetahui kondisi anak itu sama sekali.

Dengan cepat Haewoon meraih ponsel di dalam tasnya, baru hendak menekan nomor ponsel Kyuhyun ketika gerakannya terhenti. Dadanya mendadak bergemuruh dan perasaannya terasa aneh. Padahal ini cukup biasa ia lakukan dengan Kyuhyun, tentu saja hanya untuk membicarakan Hyunoo. Dan itu pun terjadi karena mereka tak saling bertatap muka. Toh nanti akhirnya saat bertatapan mereka kembali membisu.

Haewoon menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran aneh yang mulai menggelantung di kepalanya. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan sebelum memutuskan untuk menekan tombol ‘call’. Tapi lagi-lagi gerakannya itu terhenti karena sebuah panggilan lebih dulu masuk. Dan itu dari suaminya. Cho Kyuhyun, tentu saja!

“Yeoboseyo?” tanya Kyuhyun di seberang sana, nada suaranya terdengar biasa saja. Tak terkesan datar atau pun dingin.

Haewoon mengerjapkan matanya sejenak sebelum menjawab, “Ah, nde, yeoboseyo. Ada apa, Kyuhyun-ssi?”

“Kau di mana?”

“Aku… aku di sungai Han.”

“Apa yang kau lakukan di sana?”

“Apa itu penting?”

“Jawab saja, setidaknya aku tahu yang kau lakukan itu berguna atau tidak.”

“Cih, aku hanya bersantai.”

“Tidak berguna ternyata, kalau begitu cepat pulang.”

“Tidak bisa, aku masih ingin bersantai.”

“Kubilang pulang! Atau kau mau anakmu ini menangis sampai pingsan, eh?”

“Hyunoo? Kenapa dia? Dia menangis?”

“Ya, karena mencarimu! Jadi cepat pulang! Sekarang!”

Haewoon langsung mematikan sambungan itu tanpa menjawabnya. Dengan asal ia melempar ponselnya itu ke kursi penumpang di sampingnya dan mulai menyalakan mobil. Kekhawatiran penuh yang melandanya membuat Haewoon mengendarai mobilnya secepat yang ia bisa. Membelah jalanan sore kota Seoul yang ramai karena orang-orang pulang beraktivitas.

Tak sampai tiga puluh menit, mobilnya sudah terpakir di halaman rumah. Dengan tergesa ia turun dari mobil setelah merampas tas serta ponselnya lalu berlari masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu seperti biasanya.

Matanya dengan cepat mengitari seluruh isi rumah itu, hingga berhenti di ruang tengah. Di sana tampak Kyuhyun yang tengah duduk di atas sofa dengan Hyunoo di pangkuannya. Suara tangisan anak itu masih terdengar walau kecil, dan Haewoon tahu seberapa kesulitannya Kyuhyun tadi saat menenangkan anak itu. Karena ia sendiri sudah sering.

Eomma pulang.” ucapnya pelan.

Kyuhyun sentak menoleh dengan tangannya yang masih menepuk-nepuk punggung Hyunoo pelan. “Kemarilah,” jawabnya. Lalu kembali menatap Hyunoo yang menangis dengan mata terpejam. Sepertinya anak itu tak menyadari kedatangan ibunya. “Sayang, Eomma sudah datang.”

“Eoh? Eo-eomma?” Hyunoo membuka matanya, dan langsung mendapati Haewoon yang tengah berdiri tak jauh darinya. Tersenyum lembut sembari merentangkan kedua tangannya.

“Kenapa putra Eomma menangis, hm?” tanya Haewoon setelah sudah berdiri di samping Kyuhyun dan berniat mengambil alih gendongan Hyunoo. Tapi melihat Kyuhyun menggeleng membuatnya mengurungkan niatnya itu.

“Duduk,” kata Kyuhyun seraya menatap Haewoon.

Eomma kenapa baru pulang?” tanya Hyunoo sesenggukan setelah Haewoon duduk di sampingnya dan juga Kyuhyun.

Haewoon tersenyum lemah sembari mengelus rambut anak itu yang sedikit berantakan. Dapat Haewoon lihat matanya yang sedikit membengkak dan hidungnya yang memerah. “Maaf, Eomma sibuk tadi. Eomma juga tak menelepon Hyunoo seharian ini. Maafkan Eomma, eoh?”

Hyunoo mengangguk. “Ne, Hyunoo hanya… hanya… huaa… Appa….” Tangisnya kembali pecah, anak itu menenggelamkan lagi wajahnya di dada Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun dan Haewoon hanya bisa saling bertatapan tak mengerti.

“Kurasa ia tak enak badan,” gumam Haewoon, meletakkan punggung tangannya di dahi Hyunoo. Dan benar saja, suhu tubuh anak itu terasa panas. “Berikan padaku, biarkan dia istirahat.”

“Hyunoo sakit?” Kyuhyun bertanya, matanya tampak panik menatapi Hyunoo yang masih saja menangis dengan tangannya yang melingkar di lehernya.

“Hm, sudah sejak tadi malam. Tapi kurasa tadi pagi ia sudah baikan.”

“Kenapa baru berkata sekarang.”

Haewoon tak menjawab, ia justru berjalan ke dapur dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa semangkuk bubur juga obat Hyunoo. “Tolong bawa Hyunoo ke kamar, dia belum makan, kan? Aku sudah memanaskan buburnya tadi malam.”

Kyuhyun mengangguk saja lalu mengikuti langkah Haewoon menuju kamarnya. Dengan perlahan Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur, tapi tidak merebahkan Hyunoo karena anak itu sentak memekik saat Kyuhyun menundukkan tubuhnya. Oke, tak apa, Kyuhyun rela tidur semalam dengan posisi seperti ini, asalkan anaknya merasa nyaman. Itu lebih dari cukup bagi Kyuhyun.

“Hyunoo-ya, makan dulu, eoh? Eomma sudah membuatkan bubur.” Ucap Haewoon, sudah memposisikan tubuhnya di hadapan Kyuhyun dan Hyunoo dengan semangkuk bubur di tangannya.

“Hyunoo tidak mau!”

“Nanti Hyunoo tambah sakit, sayang.”

“Tidak mau!”

“Hey, dengarkan, Appa. Laki-laki itu harus kuat, tentu saja harus makan dan istirahat. Jadi sekarang Hyunoo makan lalu istirahat, oke?” Kyuhyun mendekatkan wajahnya dengan wajah Hyunoo. Mencium pipi anak itu seraya memutar tubuh Hyunoo perlahan agar mau menghadap Haewoon dan memakan buburnya.

“Itu benar. Ayo, buka mulutnya,” Haewoon menjulurkan sesendok bubur di depan mulut Hyunoo. Tapi lagi-lagi dengan wajah kusut anak itu menggeleng. “Ayolah, sayang… Hyunoo mau apa? Eomma janji akan melakukannya asalkan Hyunoo makan.”

Hyunoo tak mengindahkannya dan kembali bergerak-gerak di pangkuan Kyuhyun. Ingin memeluk ayahnya itu lagi. “Panas, Eomma. Tidak nyaman,” eluhnya seraya mengusap wajahnya gusar.

Haewoon mendesah pasrah dengan tatapan sendunya pada anak itu. Tentu saja tak enak, Cho Hyunoo, maka itu cepat makan dan kita tidur, batin Haewoon. Tapi yang terjadi justru tak sesuai keinginannya itu. Hyunoo hanya mengerang kecil dan berbicara tak jelas karena merasa tubuhnya tak enak.

“Apa lagi?” tanya Kyuhyun.

“Apanya yang apa lagi?” Haewoon balik bertanya.

“Ini, apa lagi yang harus kita lakukan? Tidak mungkin ia bisa tidur dengan keadaan seperti ini.”

“Tak ada cara lain selain minum obat agar tidurnya nyenyak, tapi sebelumnya juga harus makan.”

Kyuhyun mengusap puncak kepala Hyunoo yang terasa basah karena keringat. Wajah anak itu pucat, sangat berbeda dengan keadaannya tadi pagi. “Hyunoo, kita akan tidur bersama, kan, malam ini? Kalau begitu bagaimana jika main game dulu?”

Hyunoo mendongak sedikit, “Benarkah? Hyunoo boleh main game?”

“Tidak,” sahut Haewoon yang langsung dihadiahi Kyuhyun dengan delikan tajam matanya. “Oh, baiklah.”

“Boleh, Appa?”

Kyuhyun mengangguk semangat dengan senyumannya. “Ne, tapi harus makan dulu, oke?”

Hyunoo diam sejenak, mencerna baik-baik perkataan ayahnya itu sebelum mengangguk. “Baiklah.”

“Bagus, anak pintar.”

Haewoon juga tersenyum, ia lalu bersiap menyuapkan bubur itu ke mulut Hyunoo. Sampai suapan terakhir, ia melakukannya dengan telaten. “Lalu minum obat.”

“Tidak pahit, kan, Eomma?”

“Tentu saja tidak, dokter tidak akan memberi obat yang pahit jika anak itu pintar.”

“Benar sekali.” Sambung Kyuhyun.

Hyunoo pun dengan pasrah menerima suapan obat tablet yang sudah dihancur oleh Haewoon dan diberi sedikit air. Awalnya ia merasa biasa saja karena berpikir ucapan ayah dan ibunya tentang ‘obat yang tidak pahit’ itu benar, tapi saat obat itu mengalir melewati pangkal lidahnya ia sentak memekik. Oh, Tuhan. Mereka bohong!

“Pahit!!” pekiknya.

“Pahitnya sebentar saja, nanti juga hilang.”

“Minum yang banyak.”

Hyunoo mengikuti saran ibunya itu dan langsung merampas gelas yang ada di tangan Kyuhyun lalu menegaknya hingga habis. “Hyunoo tidak mau minum obat lagi!”

“Terserah, yang penting sekarang Hyunoo istirahat.”

“Main game-nya?”

“Besok saja, besok Appa libur, oke?”

Hyunoo mengerucutkan bibirnya, ia dibohongi, lagi! Anak itu dengan cepat turun dari pangkuan Kyuhyun dan berbaring di atas tempat tidur dengan wajah ditutupinya dengan bantal. Terlampau kesal karena sudah dipermainkan. Beruntung kondisi tubuhnya terasa lumayan lebih nyaman setelah makan bubur dan minum obat tadi. Jika tidak mungkin ia sudah kembali menangis kencang dan membuat orangtuanya itu gelimpungan.

Hyunoo semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada bantal saat merasa punggungnya di gerak-gerakkan oleh seseorang. Hyunoo tahu itu ayahnya, dan ia tak mau menghiraukannya. Biarkan saja, toh anggap saja ini sebagai pembalasan dendam, pikirnya.

Tapi beberapa saat kemudian Hyunoo tak merasakan lagi gerakan itu. Ia perlahan memutar tubuhnya dan tak menemukan seseorang pun di kamar itu. Mungkin Kyuhyun sudah keluar dan Haewoon sedang mandi, karena ada suara gemericik air dari arah kamar mandi.

Hyunoo lalu bangkit duduk. Matanya menjelajahi kamar itu saat sesuatu terasa mengganjal hatinya. Sesuatu yang terlupakan olehnya, dan baru teringat saat melihat tasnya yang tergeletak di atas meja rias ibunya.

“Aigoo!” pekiknya tertahan. Ia sentak melompat dari tempat tidur dan meraih tasnya itu. Mengobrak-abrik isi tas tersebut sebelum tersenyum senang mendapati sesuatu yang sempat dilupakannya masih ada di sana.

“Sayang?” ucap Haewoon heran saat melihat Hyunoo berdiri di depan meja riasnya. Ia pikir tadi anak itu sudah tidur, jadi ia mengusir Kyuhyun untuk keluar sementara ia mandi. “Apa yang Hyunoo lakukan?”

Hyunoo menggeleng cepat, sontak menyembunyikan kotak berhias pita biru itu ke balik punggung mungilnya. “Bukan apa-apa. Eomma sudah mandi?” Haewoon mengangguk. “Ayo keluar, temani Hyunoo bertemu Appa sebentar. Lalu Hyunoo janji akan tidur.”

“Untuk apa?”

“Melakukan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Lihat saja nanti.”

Haewoon mengangguk lalu menghampiri Hyunoo, ingin mengajaknya berjalan bersama tapi tak jadi karena anak itu semakin mundur, “Waeyo?”

Eomma jalan duluan, baru Hyunoo.” Katanya memohon, jika mereka jalan bersama nanti Haewoon tahu apa yang dibawanya!

Haewoon mengangguk, lagi. Kemudian berjalan keluar kamar lebih dulu diikuti Hyunoo yang berlari dengan tangannya yang masih tersembunyi di balik punggungnya.

Kyuhyun yang saat itu tengah duduk di ruang tengah sembari memakan krim sup sontak terheran karena melihat Haewoon berdiri tak jauh darinya, disusul Hyunoo yang berlari kecil di belakanganya. “Astaga, dia belum tidur?”

“Belum,” jawab Haewoon acuh. Ia menoleh pada Hyunoo. “Hyunoo?”

Hyunoo tersenyum semakin lebar, ia berjalan maju, lalu menggandeng tangan Haewoon dan mengajaknya duduk di samping Kyuhyun, kemudian ia dengan memaksa duduk di antaranya. Melihat wajah bingung Kyuhyun dan Haewoon membuat Hyunoo yakin dengan apa yang akan dilakukannya ini. Oke, semoga ia berhasil!

“Ini,” gumam Hyunoo, perlahan menjulurkan sebuah kotak berhiaskan pita biru pada Kyuhyun dengan kepala tertunduk. “Saengil Chukhaeyo, Appa. Ini hadiah dari Hyunoo.” Sambungnya malu-malu.

Kyuhyun langsung merasa jantungnya lepas mendengar kalimat dari anaknya itu. Ia tersenyum lembut sebelum menarik wajah Hyunoo dan menciuminya bertubi-tubi, bahkan ia tak sadar perlakuannya itu justru membuat air matanya sendiri ingin jatuh membasahi pipi. “Gomawo, chagi. Appado saranghaeyo.”

“Cepat buka,” Hyunoo menarik pitanya, lalu membimbing tangan Kyuhyun untuk cepat-cepat membukanya. Kyuhyun menurutinya, dan ia mendapati sepasang kalung sayap di hadapannya yang sungguh tampak indah.

“Sepasang, ya?”

Hyunoo mengangguk. “Kata Min Ahjussi, setiap orang itu pasti hidup berkegantungan dengan orang lain. Seperti sayap ini, jika sayapnya hanya satu, pemiliknya pasti tak akan bisa terbang. Justru itu sayap ada dua. Jadi… kalung ini, Hyunoo ingin memberikannya untuk Appa dan Eomma. Hyunoo ingin kita seperti keluarga lainnya. Saling berkegantungan dan memenuhi. Appa memiliki sayap kanan, dan Eomma kiri. Sayap itu bisa bersatu jika didekatkan.” Jelas Hyunoo setelah memberikan satu persatu kalung tersebut pada Kyuhyun dan Haewoon.

Haewoon menyambutnya dengan senyum haru. Tak menyangka anaknya bisa bicara bahkan berpikir sedewasa itu. Sebegitu inginnyakah Hyunoo memiliki hidup seperti keluarga pada umumnya? Tentu saja! Jadi, apa ia harus melakukannya? Dengan cara melupakan semua yang selama ini terjadi dengan Kyuhyun?

Kyuhyun juga berpikiran sama, ia menatap kalung itu dalam diam. Kepalanya terasa penuh dan dadanya bergemuruh hebat. Kemudian mendongak, di saat yang bersamaan dengan Haewoon yang juga melakukan hal sama. Mata mereka bertemu… Kyuhyun bisa menemukan guratan kebingungan dan haru di wajah wanita berstatus istrinya itu.

“Appa? Eomma? Waeyo?” tanya Hyunoo polos, merasa diacuhkan dengan kediaman mereka semua.

Haewoon menggeleng sejenak, lalu kembali tersenyum pada Hyunoo. “G-gwaenchana.”

Eomma tidak menyukai kalung itu, ya?” Hyunoo menunduk sedih, “Padahal Min Ahjussi bilang hari ini juga hari ulang tahun pernikahan Eomma dan Appa. Jadi Hyunoo memberikannya untuk itu juga.”

Sekali lagi Kyuhyun dan Haewoon tergelak. Mereka kembali bertatapan setelah tadi membuang muka satu sama lain.

“Ah… tidak, sayang. Eomma suka sekali,”

“Tapi kenapa kalian diam saja?”

“Hm… tidak apa-apa. Appa dan Eomma hanya kagum melihat kalung ini, sayang. Appa tak menyangka anak Appa yang nakal ini bisa memilih kalung yang bagus.” Jawab Kyuhyun, kembali menarik wajah Hyunoo dan menciuminya sayang.

“Jadi kalian suka, kan?” Haewoon dan Kyuhyun mengangguk mantap. “Kalau begitu Hyunoo akan tidur sekarang. Saranghae Eomma, Appa.” Ucapnya lucu setelah mengecup pipi ayah dan ibunya bergantian, lalu bangkit dari sofa sebelum berlari ke kamarnya dengan lincahnya.

Kyuhyun menghela nafasnya melihat putra kesayangannya itu. Pikirannya masih kalut. Memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini. Ia ingin menjadi ayah yang baik untuk Hyunoo, dengan bisa menuruti apa yang diinginkannya. Tapi… Kyuhyun tak yakin ia bisa. Anak itu, secara tidak langsung tadi berkata jika ia ingin Kyuhyun dan Haewoon hidup layaknya sepasang suami istri dengan seorang anak seperti pada umumnya. Oke, Kyuhyun akan melakukan itu. Namun, tak mudah, tentu saja. Ia takut jika ia meminta pada Haewoon, wanita itu semakin membencinya dan tak menegurnya sama sekali.

“Aku masuk dulu,” ucap Haewoon memecah keheningan yang sempat tercipta. Tangan kanan wanita itu masih menggenggam kalung pemberian Hyunoo tadi dengan erat. Ia berjalan ke kamarnya dan Hyunoo, entah mengapa langkahnya terasa lambat, atau ini hanya perasaannya saja?

“Selamat tidur.” Sahut Kyuhyun yang masih bisa didengar Haewoon. Wanita itu mengangguk tanpa membalikkan tubuhnya. Matanya pun sentak terpejam entah karena apa, dengan dadanya yang mendadak berdesir hebat. Haewoon mencoba menstabilkan perasaannya dengan menghela nafas, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tapi baru saja ia ingin menyentuh kenop pintu, kepala Hyunoo sentak menyembul dari dalam dengan senyuman khas seperti milik ayahnya.

Appa, sekali lagi saengil cukhaeyo. Jalja….” Katanya dengan mimik khas anak-anak. “Eoh? Eomma, ayo kita tidur.” Lanjutnya ketika melihat Haewoon berdiri tak jauh darinya.

Haewoon mengangguk pelan seraya meraih tubuh anak itu dan menggendongnya masuk ke dalam kamar.

***

 

 

“In the end I say…”

 

 

Siulan angin malam terasa memecahkan keheningan malam ini. Begitu dingin… tapi tak membuat wanita cantik yang satu ini untuk masuk ke dalam kamarnya dan bergumul di dalam selimut.

Haewoon menghela nafasnya berat… merasakan hembusan angin malam yang menerbangkan anak rambutnya yang tak terikat. Sekarang sudah tengah malam, sebenarnya. Tapi ia masih betah berdiri di balkon kamarnya ini dengan tubuh tanpa dibalut baju penghangat. Hanya setelan baju tidur tipis yang dikenakannya.

Ia tak bisa tidur, tepatnya setelah Hyunoo menangis tadi. Haewoon sudah menyangka sebenarnya. Tadi anak itu memaksakan dirinya untuk bangun dan memberikan kadonya pada Kyuhyun, tak perduli jika kondisinya sangat lemah. Dan tadi, beberapa jam setelah Hyunoo ditidurkannya. Anak itu bangun dan menangis karena tubuhnya yang kembali merasa tak nyaman. Haewoon dengan susah payah menenangkannya seorang diri, hingga anaknya itu kembali tenang dan tidur sampai saat ini. Akibatnya, ia yang tak bisa tidur sehingga menghabiskan waktunya di balkon kamar yang sunyi dan dingin ini.

“Kenapa kau di sini?” tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkari perutnya. Dan punggungnya terasa hangat. Haewoon menutup matanya erat-erat menyadari siapa orang yang melakukan ini. Ia ingin menolak, tapi ia tak sanggup. Sebagian dari tubuhnya merasa nyaman akan sikap tiba-tiba orang ini.

“Kau mau menemani Hyunoo sakit, eh?” tanya Kyuhyun, orang itu, lagi. Oke, ia sudah membulatkan tekadnya dengan mendekam di dalam kamar selama beberapa jam setelah acara kecil pemberian kado dari Hyunoo tadi. Yah, ia ingin mencobanya. Ia ingin mencoba hidup sebagai keluarga kecil bersama Haewoon dan Hyunoo. Tak lagi memikirkan ego yang selama ini hanya membuat hati kecil anaknya sakit.

Haewoon membuka matanya perlahan. “Aku… tidak bisa tidur.” Jawabnya.

“Kalau begitu sama,” Kyuhyun tertawa kecil. “Apa itu karena permintaan Hyunoo tadi?”

Haewoon terdiam sejenak sebelum mengangguk.

“Jadi, apa jawabanmu untuknya?”

“Maksudmu?”

“Kau tak mau membahagiakannya? Kau tak mau mengikuti permintaannya?”

“Sebenarnya aku…,” ucap Haewoon menggantung, bingung harus melanjutkannya bagaimana. Sedangkan Kyuhyun yang tak sabar sentak membalikkan tubuh Haewoon sehingga mereka berhadapan. Saling bertatapan di manik mata dengan dalam.

Kyuhyun mengangguk meyakinkan, seolah siap dengan apa saja kalimat yang akan menjadi jawaban Haewoon.

Haewoon menarik nafasnya, lalu membuangnya perlahan sebelum melanjutkan, “Sebenarnya aku mau, tapi aku… tak yakin dengan hal itu. Apa kau masih mau menerimaku dengan apa yang sudah kulakukan. Tak menganggapmu sebagai suamiku dan sejak dulu aku hanya memikirkan Hyunoo sebagai anakku. Singkatnya, aku yang sejak dulu tak pernah menganggapmu. Aku tak yakin kau masih menerimaku.”

Kyuhyun tersenyum sementara tangannya terangkat menangkup wajah istrinya itu dengan lembut. “Kau takut akan hal itu?” Haewoon mengangguk pasif. “Kau tahu, selama ini aku juga berpikiran seperti itu.” Kyuhyun tertawa kecil, “Sudah sejak dulu aku ingin bicara seperti ini denganmu. Membicarakan dengan serius bagaimana sebenarnya hubungan kita ini. Karena jujur saja, aku merasa tak nyaman memiliki istri tetapi tidak saling tegur sapa. Tapi, ya, begitulah… aku takut kau juga masih membenciku. Jadi dengan mencari jalan aman, aku diam saja dan mengikuti apa yang kau lakukan padaku.”

Tanpa sadar kedua sudut bibir Haewoon berkedut dan membentuk sebuah senyuman tipis. “Jadi?” tanyanya.

Kyuhyun mengangkat bahunya, “Jadi?” ulangnya. “Kita bisa memulainya.”

“Dari awal.”

“Setuju.”

Haewoon tertawa dan langsung menghambur memeluk suaminya itu. Perasaan berat yang selama ini menggantungi dadanya entah mengapa terasa hilang malam ini. Sungguh lega… terasa tak ada beban sama sekali.

“Mulai sekarang, tataplah aku… aku yang selalu di sampingmu, aku bisa melakukan apa pun untukmu. Bukan Hyukjae lagi, mengerti? Berhenti menatap pria lain.” Ujar Kyuhyun seraya mempererat pelukan mereka. Tangan kanannya mengelus lembut surai istrinya itu dan menghirup aromanya dalam-dalam. Terasa menenangkan dan… menyenangkan.

“Aku sudah berhenti menatapnya.”

“Baguslah. Kita buka lembaran baru di hidup kita. Demi masa depan dan kebahagiaan putra kecil kita, Cho Hyunoo.” Kyuhyun merasa Haewoon mengangguk di pelukannya, tepat pada saat hembusan angin menerpa kulit mereka berdua. Kyuhyun merenggangkan pelukannya sedikit, “Kita masuk, ini sudah sangat larut.”

“Baiklah,” Haewoon melepaskannya, lantas berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar sementara Kyuhyun menutup pintu kaca yang menghubungkan ruang kamar dan balkon. Haewoon menghampiri tempat tidur Hyunoo dan duduk di pinggirannya dengan tersenyum lembut. “Semoga cepat sehat, Baby Cho.” Ucapnya sebelum mengecup dahi Hyunoo lama. Setelah melepaskannya, Haewoon melihat Kyuhyun yang tengah berdiri di depan salah satu meja sembari melihat-lihat album yang berada di atasnya.

Haewoon menghampiri Kyuhyun, menepuk bahunya ringan yang membuat pria itu berbalik dan tersenyum menatapnya. Dengan pasti Haewoon berpegangan di kedua bahu Kyuhyun, lalu berjinjit dan mengecup bibirnya dengan lembut.

“Saengil chukha hamnida, itu hadiah dariku. Maaf terlambat dan tak menyiapkan apa pun.” Katanya setelah melepaskan ciumannya.

Kyuhyun sentak mengait pinggang Haewoon dan balas menciumnya tanpa menjawab. Ia baru menjawab setelah beberapa saat tenggelam dalam perasaannya. “Dan ini hadiah dariku atas ulang tahun pernikahan kita yang keempat. Terimakasih, sayang.”

END!

 

Sekali lagi Selamat ulang tahun Appanya Hyunooooo… Maaf telat, Oppa. Toh cuma satu hari kan… hehe…

Advertisements

22 thoughts on “[ONESHOOT] “Our Anniversary” Kyu-Woon

  1. diana says:

    keren saeng,akhirnya mereka mau meruntuhkan ego mereka demi hyunoo, kado nya hyunoo daebak bgt. makin keren banget ff mu saeng 🙂

  2. abrian says:

    Wahhh saengi, ff nya selalu sukses membuat hati dek2 kan. . . Seperti biasa alurnya sedih namun happy ending. . . Suka karakter kyu di sini, walupun hubnya dng istri tdk bgitu baik, tp dia selaku melindungi dirinya dngn status suami tdk mau smpai tergoda oleh wanita lain. . . Kerennnnn bkn sequel dong tentang kehidupan rmh tangga mereka, . . Seru kalau nambah keluarja baruuu

  3. Kyuhyun_Sparkyu says:

    daebakk kak, bner2 kluarga yg bhgia. akhirnya haewoon dan kyuhyun bsa baikan jga krna hyunoo. anak itu mmang mmbwa berkah. aku tnggu krya lainnya kak. keep writing, gomawo 🙂

  4. ayukomala101592 says:

    ceritanya ga masuk akal.
    anak umur 3 thn ngomong nya udh seprti ANak 7 thn. -,-

    tolong perbaikin lagi karekter nya supaya lbh kuat dan nyambung.
    dan segla sesuatu itu hrus di cari tau dlu jgn asal tebak. klo mau kd penulis harus mendalami lagi ciri2 org.
    akuvagal kcewa sama sikp ank kcil di ff ini. dpdhl ff nya lumayan bagus.

    • Anggihae says:

      Iya, terimakasih atas masukkannya. Aku ga asal tebak ko. There’s nothing impossible in this world, right? Soalnya anak kecil di deket rumah aku ada yg kek gitu dan dia baru umur tiga tahun januari kemaren. Tp ngomongnya udah jelas dan terkesan lebih cepet tanggap dari temen sebayanya. Lebih lagi yang ngasuh dia bahkan waktu masih dalem perut ibunya itu keluarga aku, jadi aku cukup tahu gimana anak itu tumbuh. Mungkin karena aku banyak bicara jadi nular ke dia karena dia banyak main sama aku. Ini beneran loh, aku ga bohong. Tp beneran deh, terimakasih banyak ya, kritikannya sangat membangun untuk aku jadi lebih baik ^^

  5. syalala says:

    huhu kesel sama prinsip hidupnya haewoon sebenernya hahahaha kyuhyun selalu kasian di ff ini yah hahah

  6. kyla says:

    Ga ngerti sama cerita awalnya, pas bagian Haewoon.. Tapi awalnya juga Haewoon yang salah-_- Hyukjaenya juga kasian kan di manfaatin._. Tapi happy ending yaa?? So sweet terakhirnyaa>.<

  7. Eliza fie says:

    huuaahhh keren ceritanya so sweet banget , walaupun diawal sempet saling kyak orang asing yang saling nggak kenal !
    aku suka ceritanya ngalir dan konfliknya juga nggak terlalu berat !!!

  8. Eliza says:

    huuaahhh keren ceritanya so sweet banget , walaupun diawal sempet saling kyak orang asing yang saling nggak kenal !
    aku suka ceritanya ngalir dan konfliknya juga nggak terlalu berat !!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s