[SERIES] “Uri Aegy Saranghaeyo!” Part. 3B

Uri Aegy Saranghaeyo!

-Uri Aegy Saranghaeyo!

 

Author: Anggieeeee
Fb: Anggie Oktaviani
Tittle: Uri Aegy Saranghaeyo! (Our Baby, We Love You!)
Length: 1-?
Genre: Family
Rate: G
Cast: -Cho Kyuhyun
-Lee Haewoon
-Lee Hyunoo/ Cho Hyunoo

Desclaimer: It’s My Own Fanfic, I made it depend on my imagination. So, don’t copas! Don’t bash me! and if u don’t like it, don’t read! Thanks a lot… *Bow*

PART. 3B

~STORY BEGINS~

 

Pohon dengan dedaunannya yang tampak basah, rumput hijau yang terawat dengan baik, sampai pemandangan sejuk nan indah pun dapat dilihat dari halaman belakang kediaman keluarga Cho ini. Tampak di sana kedua orang berbeda jenis kelamin nan sudah berumur itu tengah asik menikmati indahnya pelangi di atas sana dengan sesekali menyesap cokelat panas andalan keluarga mereka.

Tuan Cho, namja paruh baya itu tampak mendongak, mengarahkan kepalanya ke langit dengan mata yang tertutup dan nafas yang dihembuskannya secara perlahan. Mencoba merasakan sejuknya udara saat ini.

Nyonya Cho, ia yang melihat tingkah suaminya itu hanya bisa tersenyum dan terus tersenyum. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Tapi ia tahu, dengan memberi suaminya itu sebuah senyuman ketulusan. Maka suaminya itu akan kembali bersemangat dan tidak memikirkan sesuatu yang entah apa belakangan ini tengah mengganggu pikirannya.

 

Flashback

Presdir utama di sebuah toserba yang cukup besar di Korea Selatan ini, sebut saja itu ELF Department Store. Dan ya, Tuan Cho atau ayah Kyuhyunlah yang memiliki itu. Tampak ia tengah berjalan dengan santai ke ruangan anaknya yang bernama Kyuhyun itu sembari membawa sebuah amplop coklat yang entah apa isinya.

Tuan Cho menyapa beberapa pegawainya sebelum akhirnya ia akan membuka pintu ruangan Kyuhyun. Tapi langkahnya terhenti begitu tangannya akan membuka knop pintu itu. Samar-samar ia mendengar Kyuhyun tengah berbicara dengan seorang yeoja dan seorang anak laki-laki di dalam sana. Dari nada suaranya, Kyuhyun terdengar sangat senang. Tuan Cho mengernyit, suara siapa itu? Pikir Tuan Cho.

“Kyu, bagaimana ini? Setelah mengetahui dengan benar bahwa kau Appanya, Hyunoo jadi sering sekali merengek padaku dan meminta untuk bertemu denganmu.” Ucap seorang yeoja di dalam sana dengan nada kesal. Tuan Cho yang mendengar itupun sentak semakin mendekatkan telinganya ke daun pintu. Berniat memperjelas pendengarannya tersebut.

“Jinjjayo? Wah, anak Appa jadi manja rupanya. Haha, kemarilah….” Suara Kyuhyun terdengar, tenggorokkan Tuan Cho tiba-tiba terasa tercekat begitu mendengar Kyuhyun berkata seperti itu. Apa maksudnya ini? Appa?

“Appa, Hyunoo punya PSP baru. Eomma membelikannya kemarin.” Suara anak kecil, pikir Tuan Cho. Tubuh Tuan Cho menegang seketika. Jangan katakan jika anak itu…

“Benarkah? Apa itu bagus?”

“Nde, Appa. Tapi, Hyunoo tak bisa menggunakannya. Hehehe….” Kekehannya, sama persis seperti kekehan Kyuhyun biasanya. Tapi sekarang, itu bukan kekehan Kyuhyun. Melainkan anak itu.

“Nanti Appa ajarkan, otthe?”

“Hmmm, Appa kena—“

“Hyunoo~ya, kajja kita pulang. Sudah sore.” Potong yeoja itu. Merasa bahwa yeoja dan anak itu akan segera keluar dari ruangan Kyuhyun.Tanpa menunggu apa-apa lagi, Tuan Cho langsung berjalan menjauhi pintu ruangan Kyuhyun itu. Takut-takut jika nanti Kyuhyun ataupun yeoja itu mengetahui jika ia tengah menguping tadi.

 

‘Tuhan, apa maksudnya ini? Suara anak itu… Kyuhyun… Dan yeoja itu… Apa Kyuhyun, anakku sudah memiliki….’

FLASHBACK END

“Yeobo~ya…, kau kenapa, eoh? Ada yang kau pikirkan?” tanya Nyonya Cho sembari menggenggam lembut tangan suaminya.

Tuan Cho menoleh, menatap sendu kearah istrinya itu sembari tersenyum simpul, “Hmm, aku sedang memikirkan istriku yang cantik ini.”

“Ish, kau ini masih saja merayuku seperti itu. Hhh, tapi aku bingung kenapa bakat merayumu itu tidak terjangkit ke anak kita, Kyuhyun ataupun Henry? Lihatlah, mereka tak tampak memiliki kekasih ataupun berkata pada kita bahwa mereka ingin menikah,” Keluh Nyonya Cho. “Tapi bukankah belakangan ini Kyuhyun terlihat lebih ceria daripada biasanya? Benar tidak, yeobo?”

Tuan Cho menghela nafas berat dan hanya menjawab ucapan istrinya itu dengan senyuman yang dimilikinya. Sungguh, ia bingung harus menjawab apa. Ia memang belum yakin dengan apa yang didengarnya dari ruangan kerja Kyuhyun beberapa waktu yang lalu. Namun di sisi lain hatinya seolah mengatakan jika itu benar.

“Appa!! Eomma!!” pekik seseorang secara tiba-tiba, jelas itu membuat Tuan dan Nyonya Cho terkejut. Mereka berbalik dan langsung menemukan Kyuhyun berdiri di sana dengan seorang anak yang ada di gendongannya dan di samping kanannya ada seorang yeoja berparas cantik.

Nyonya Cho bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Kyuhyun. “Siapa mereka?” kepalanya melongok ke samping kanan Kyuhyun. Tampak matanya yang menyiratkan akan sesuatu aneh saat ia menatap Haewoon.

“Appa, apa dia halmeoni Cho?” tanya Hyunoo tiba-tiba sembari menatap Nyonya Cho dan Kyuhyun bergantian.

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk, “Nde, ia halmeoni Cho. Cantik, bukan?”

“Nde, Appa. Halmeoni masih cantik.”

“Apa maksudnya ini? Kyu, kenapa anak ini memanggilmu Appa?” Nyonya Cho mulai mengeluarkan raut bingungnya. Ia terlihat seperti orang yang tengah dalam kebingungan yang teramat sangat. Benar saja, bagaimana bisa anaknya yang baru saja dibicarakan karena tidak kunjung memiliki kekasih, kini justru datang ke rumahnya dengan membawa seorang yeoja dan seorang anak. Terlebih lagi karena anak itu memanggil Kyuhyun dengan sebutan ‘Appa’.

“Annyeong, joneun Lee Haewoon imnida. Maaf mengganggu Nyonya Cho. Tapi ada sesuatu yang ingin kubicarakan mengenai anak ini dan Kyu.” Timpal Haewoon tanpa menghiraukan pertanyaan Nyonya Cho sebelumnya. Entah keberanian dari mana, yeoja itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap sendu ke arah Nyonya Cho.

‘Lee Haewoon?’

Gumam Nyonya Cho pelan sembari terus menatap Haewoon. Ia seolah ingat akan sesuatu mengenai yeoja itu. Namun ia tak yakin. Perlahan matanya meneliti tubuh Haewoon mulai dari rambut hingga kaki. Sungguh, ia merasa ada perasaan aneh yang menjalari tubuhnya begitu mendengar nama yeoja itu. Apa benar ini Haewoon yang dulu? Pikirnya.

Tuan Cho yang sedari tadi hanya duduk dan menutup matanya sembari menghela nafas berat itupun akhirnya bangkit dan menyentuh pundak istrinya, “Kita masuk dulu.” Ucapnya pelan.

“Kau mengetahui tentang ini, yeobo?”

“Aniya.”

“Tapi—“

“Sudahlah, kita masuk dulu. Kajja, Kyu, aggashi masuk dulu.” Tuan Cho mengajak Haewoon dan Kyuhyun agar masuk ke ruang tengah rumah itu sembari membimbing istrinya yang sepertinya sedang dalam kebingungan itu.

***

Suasana itu, suasana sejuk yang tadi terasa karena hujan yang baru mereda dan indahnya pelangi yang menghiasi langit sana. Kini semua itu seolah tak terasa lagi. Hanya ada kecanggungan saja yang kini terasa di antara beberapa orang dewasa dan satu anak kecil itu. Mereka semua terdiam, saling menatap satu sama lain dengan bingung. Namun sepertinya enggan untuk mulai membuka suara dan menjelaskan yang sebenarnya.

Terlebih lagi Nyonya Cho yang sedari tadi menatap Haewoon dengan pandangan yang sulit di artikan. Jujur saja, ia merasa mengenal yeoja itu. Entah di masa lalu ataupun kapan itu. Ia merasa pernah mendengar nama itu. Mungkin karena terlalu banyak orang bernama Lee Haewoon di dunia ini.

Sedangkan Hyunoo yang merasa aneh karena semuanya terdiam itupun sentak menghampiri Haewoon dan duduk di pangkuan yeoja itu, kepalanya mendongak dan mengatakan, “Eomma, ayo pulang. Hyunoo takut di sini.”

Haewoon tersenyum simpul, “Untuk apa takut? Tunggu Appa dulu, baru kita pulang.” Jawabnya lembut sembari mengelus pipi anak itu.

“Appa?” Nyonya Cho menengahi. Nada bicaranya tersirat rasa aneh, jengkel dan bingung. Matanya menatap tajam ke arah Kyuhyun dan Haewoon bergantian.

“Kajja, Eomma… Hyunoo takut….” Ucap Hyunoo lagi, bahkan kini ia menarik-narik lengan blazzer Haewoon. Dan ya, sepertinya Hyunoo takut karena ia melihat Nyonya Cho menatap tajam ke arah Eomma dan Appanya itu.

“Ehm, baiklah. Aku akan menjelaskannya.” Ucap Kyuhyun tegas setelah menghela nafas dan duduk dengan tegap di samping kiri Haewoon.

“Tapi, Kyu… Bukankah ak—“

“Sudahlah, Haewoon~ah. Aku saja yang akan menjelaskannya.” Potong Kyuhyun terhadap ucapan Haewoon sebelumnya. Ia menunduk sebentar dan akhirnya menghela nafas untuk memulai penjelasannya tersebut, “Eomma… Appa, ini anak kandungku. Namanya Lee Hyunoo. Ah, bukan, Cho Hyunoo.” Ucap Kyuhyun yakin dengan tubuhnya yang tegap dengan kesungguhan yang terlihat jelas di wajah tampannya.

Bagaikan tertohok sebuah benda berujung tajam nan runcing, Nyonya Cho sentak menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar hebat seiring menetesnya buliran bening itu melalui kelopak matanya. Sungguh, tak dapat dipercaya. “Andwae… Mana mungkin dia anakmu? Tidak mungkin… Tidak!” racau Nyonya Cho. Ia masih tidak percaya ini. Anaknya? Sudah memiliki seorang anak laki-laki? Bukankah itu berarti cucunya?

Kyuhyun tersenyum getir, nampak pula namja itu tengah menahan desakan dari matanya, “Eomma… Ia benar anakku. Maafkan aku… Aku memang baru saja menemukannya setelah selama ini aku mencarinya. Tolong… Terimalah anak ini. Sungguh aku menyayanginya. Setelah 3 tahun belakangan ini aku mencarinya, dan sekarang aku menemukannya. Mana mungkin aku meninggalkannya lagi? Ia darah dagingku. Kumohon…. “ Kyuhyun kembali menunduk, mencoba menyembunyikan airmata itu. Namun dirasanya ada dua buah tangan mungil nan lembut tengah menyentuh kedua pipinya. Kyuhyun pun mendongak.

“Appa….” Ucap Hyunoo pelan sembari menatap Kyuhyun lembut. Ia tersenyum lucu khas anak kecil pada umumnya. Sungguh, itulah yang membuat hati orang mana saja yang melihatnya terasa tentram. Dan itulah senyum yang selama ini telah membuat Kyuhyun merasakan ketentraman dan kedamaian.

Tak kuasa melihat lucunya anak itu, Kyuhyun sentak menarik Hyunoo kedekapan hangatnya. Memeluk anak itu erat, seolah tidak ingin kehilangan anak itu lagi. Dan bahkan sekarang Kyuhyun benar-benar sudah meneteskan airmatanya di bahu seorang anak bernama Hyunoo itu.

Tak mau ketinggalan, Tuan Cho pun merasa terharu atas adegan yang terjadi tepat di depannya. Ia mendongak menatapi langit-langit ruang tengah rumah mewah ini untuk menahan sesuatu yang mungkin ingin bergegas turun dari kelopak matanya. Pikirannya tak salah ternyata, anak itu adalah cucunya.

“Terserah kau! Selagi itu membuatmu senang!” ucap Nyonya Cho acuh dan langsung berdiri,  kakinya berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua. Sesekali ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan menghapus jejak airmata di pipinya. Perasaannya sungguh berkecamuk, setelah mendengar apa yang dikatakan Kyuhyun. Ditambah lagi rasa yakinnya karena mengenal sosok yeoja bernama Haewoon itu. Membuatnya tak kuasa untuk membendung emosi yang mungkin akan segera meluap. Entah itu emosi yang baru saja muncul karena pengakuan Kyuhyun atau emosi yang memang sudah lama dipendamnya.

Haewoon menengok Nyonya Cho yang terus berjalan. Entah dorongan dari mana, ia ingin sekali mengejar Nyonya Cho dan berbicara dengannya secara perlahan agar ia bisa menerima Hyunoo dengan tulus. Bukan seperti ini, menerima dengan penyataan yang mungkin bisa dianggap sedikit kasar. Tidakkah itu yang dinamakan dengan ketidak tulusan seseorang? “Maaf, Tuan Cho. Boleh saya menghampiri Nyonya Cho?”

Tuan Cho menatap Haewoon sendu, yeoja yang sopan dan baik, pikirnya. Ia tersenyum dan mengangguk, “Silakan, mungkin kau bisa menenangkannya.”

“Hmm, Kyu aku ke atas dulu.” Haewoon menoleh ke arah Kyuhyun sebentar kemudian berjalan menuju kamar Nyonya Cho di lantai dua.

Tanpa keraguan sedikitpun, Haewoon terus melangkahkan kakinya menapaki tangga yang akan membawanya ke lantai dua rumah tersebut. Tadinya ia merasa sedikit takut, karena mungkin akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Hyunoo. Ya, benar. Karena tadi Nyonya Cho menerima Hyunoo dengan perasaan tidak tulus. Dan sekarang, Haewoon telah membuang jauh-jauh rasa takut itu. Karena ia sadar bahwa ia melakukan ini demi masa depan dan kebahagiaan anaknya tersayang, Hyunoo.

Tepat di depan sebuah kamar dengan dua buah pintu putih yang menutupinya. Haewoon menunduk sebentar sembari menutup matanya, dan seperkian detik kemudian kepalanya kembali terangkat dan tangannya yang sudah mengepal untuk mengetuk pintu itu. Tapi kegiatannya itu sentak terhenti begitu sebuah suara tertangkap oleh pendengarannya. Penasaran, Haewoon pun membatalkan niatnya untuk mengetuk pintu itu dan beralih memegang knopnya.

“Hiks… Hiks… Tuhan… Mengapa ini terjadi padaku? Hiks… Memang, aku akan menerima anak itu. Tapi yeoja itu! Kenapa ia kembali datang ke keluarga kami? Aku tak menyangka ia adalah ibu dari anak itu. Aku hanya bingung, tak cukupkah ia menghancurkan hidupku di masa lalu? Kenapa sekarang harus terulang lagi? Yah, mungkin ia tak akan mengingat siapa aku. Tapi aku yang mengingatnya! Hiks… Hiks… Bodoh! Hiks….” Haewoon tergelak, apa yang Nyonya Cho katakan tadi? Yeoja yang dipikirnya adalah ibu Hyunoo? Bukankah itu ia? Lalu apa maksudnya menghancurkan hidupnya di masa lalu? Apa mungkin Haewoon dan Nyonya Cho pernah memiliki hubungan di masa lalu yang sekarang sudah tak diingatnya lagi?

“Aku tak menyangka dunia ini begitu sempit! Tapi kenapa harus yeoja itu?! Ya, aku tahu ia tak ingat sama sekali dengan kejadian itu! Tapi tak bisakah ia pergi dan jangan pernah muncul dihadapan kami lagi? Sudah cukup ia membuat kami sedih. Jangan ganggu keluarga kami lagi. Hiks….” Suara Nyonya Cho kembali terdengar. Haewoon yang sedari tadi berniat membuka pintu itu sentak berhenti dan lebih memilih untuk mendengarkan isakkan demi isakkan itu. Ia masih belum mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Nyonya Cho.

‘Apa yang kau maksud itu aku, Nyonya Cho? Lalu, apa maksudmu dengan menghancurkan hidupmu di masa lalu?’

Gumam Haewoon dalam hati. Sungguh, ia bingung dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Ahra… Apa yang harus Eomma lakukan, chagi? Sungguh, Eomma masih belum bisa melupakan kejadian itu. Yeoja itu, yeoja yang mengakibatkan kau meninggal. Haruskah Eomma memaafkannya? Hiks… Hiks….” Entah sudah keberapa kali Haewoon mendengar Nyonya Cho terisak seperti itu. Terdengar dari nada bicara Nyonya Cho, sepertinya ia tengah dalam kesedihan akan masa lalu. Tapi, apa itu? Dan Ahra, mendengar nama itu, Haewoon justru kembali teringat ucapan Henry dan Kyuhyun seminggu yang lalu. Yang di mana mereka berkata bahwa Ahra adalah kakak mereka yang sudah meninggal. Lalu, apa maksud dari Nyonya Cho tadi bahwa yeoja itu adalah akibat meninggalnya Ahra? Haewoon kah maksud dari penyebab itu?

‘Benar, yeoja yang kau maksud itu aku, Nyonya Cho. Dan itu kah alasanmu mengapa tidak menerima Hyunoo? Baiklah, aku akan menjauh dari anak itu agar kau menerimanya. Aku rela asalkan anak itu bisa bahagia bersama kalian.Yah, biarpun aku masih belum mengerti betul dengan apa yang baru saja kau ucapkan. Tapi aku cukup mengerti bagaimana perasaanmu dan harus bagaimana aku sekarang.’

Gumam Haewoon lagi. Perlahan tubuhnya terjatuh dan terduduk di depan pintu kamar itu dengan tangannya bergetar hebat. Entah apa maksudnya ini, kepalanya berdenyut dan pandangannya kian meremang. Seolah ada sesuatu yang memaksa masuk ke dalam kepala yeoja itu. Haewoon pun sentak mengangkat tangannya dan memijat pelan keningnya itu. Matanya tertutup dan sesekali meringis. Namun rasa penasarannya itu masih menghantuinya, sehingga ia tak berniat untuk bangkit dan masih ingin mendengarkan apa yang diucapkan Nyonya Cho dari dalam sana.

“Haewoon! Ya, Lee Haewoon! Yeoja itu yang telah membunuh anakku! Anak yeoja ku, Cho Ahra! Arrrggghhh….” Nyonya Cho berteriak, mencoba mengeluarkan apapun yang kini mengganjal di hatinya. Sungguh ia tak tahan menahan itu semua.

Haewoon yang masih memijat kepalanya dan mendengar teriakan itupun sentak berdiri dan ingin meraih knop pintu itu. Namun mengingat apa yang dikatakan Nyonya Cho sebelumnya, membuat Haewoon kembali mengurungkan niatnya. “Aku? Aku yang membunuh Cho Ahra? Kenapa bisa?” tanyanya entah kepada siapa dengan nada suara yang sangat amat pelan.

Selang beberapa menit kemudian, suara isakkan dan teriakan pilu itu tak lagi terdengar. Hanya ada suara senyap yang kini terasa di dalam kamar itu. Entah apa yang terjadi dengan orang di dalamnya.

Haewoon yang masih tidak bisa berpikir jernih itu sentak mengerjapkan matanya sembari memijat keningnya. Sungguh, apa yang dikatakan Nyonya Cho tadi sangat tidak terpikirkan olehnya. Bagaimana bisa ia membunuh anak yeoja Nyonya Cho? Kapan? Ia bahkan tak ingat sama sekali. “Baiklah… Aku tak perlu penjelasan lebih. Jika apa yang dikatakan Nyonya Cho tadi bisa membahagiakan Hyunoo, maka aku akan pergi dan tidak berhubungan lagi dengan anak itu… Tapi kumohon, biarkan hari ini aku bersamanya….” Lirih Haewoon sembari melangkah meninggalkan kamar itu. Ia rasa tak ada gunanya lagi mendengarkan apa yang dikatakan Nyonya Cho jika intinya sudah diketahuinya. Ya walaupun masih sulit untuk dimengerti.

***

Tampak dua orang anak manusia ini tengah dalam kondisi yang tak seperti biasanya, berdiam diri dan bersikap canggung. Seolah-olah mereka adalah orang yang baru mengenal satu sama lain. Ya, siapa lagi jika bukan Kyuhyun dan si dokter cantik Haewoon. Ditambah lagi keadaan Hyunoo yang tertidur di pangkuan Haewoon, membuat suasana hening menyelimuti mobil yang kini mereka naiki itu.

Entahlah, mengapa mereka bersikap seperti itu sejak pulang dari kediaman keluarga Cho tadi. Bahkan untuk saling menyapa dan bercanda seperti biasa mereka lakukan pun sepertinya mereka enggan melakukannya. Terutama Haewoon, yeoja itu tampak terus diam seraya menatap sendu wajah seorang anak yang kini tertidur di pangkuannya dengan tangannya yang bergerak mengelus lembut puncak kepala anak itu. Sedangkan namja itu, Kyuhyun. Ya, ia memang sedang menyetir, tapi sesekali ia melirik Haewoon dari ekor matanya. Jujur saja, namja itu ingin sekali berbicara dengan Haewoon saat ini. Namun mengingat Haewoon yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, membuat Kyuhyun kembali mengurungkan niatnya.

Tak lama kemudian, mobil putih Kyuhyun akhirnya terparkir di halaman rumah Haewoon. Kyuhyun keluar dari mobilnya dan beralih membukakan pintu untuk Haewoon yang sepertinya kesulitan, mengingat Hyunoo yang tertidur. Perlahan Kyuhyun mengambil alih Hyunoo dari gendongan Haewoon dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Belum sempat Kyuhyun sampai di depan pintu kamar Haewoon, ia kembali berbalik, “Bukankah tadi Hyunoo belum makan?” tanyanya.

Haewoon yang tengah sibuk mencari ponselnya di dalam tas itupun sentak mendongak dan mengangguk, “Hmm, tapi bagaimana? Ia sudah tertidur. Aku tak tega membangunkannya.”

“Sudahlah, biarkan dia tidur dulu.” Seperkian detik kemudian, Kyuhyun masuk ke kamar itu dan merebahkan tubuh Hyunoo perlahan. Ditatapnya wajah lucu nan mungil anak itu. Matanya yang bulat dan hidungnya yang mancung, seolah itu yang paling dikagumi Kyuhyun dari anak itu. Hhh, betapa beruntungnya ia memiliki anak itu.

“Kyu… Bagaimana tanggapan Appamu tentang Hyunoo?” tanya Haewoon yang kini tampak mengikuti Kyuhyun dari belakang untuk memasuki kamar itu.

Setelah dengan sempurna Kyuhyun merebahkan Hyunoo di kasur empuk itu, ia berbalik dan menatap Haewoon lembut, “Appa selalu menerima apapun yang bisa membahagiakanku. Termasuk menerima Hyunoo menjadi cucunya.” Jawab Kyuhyun seraya tersenyum, dan kemudian melanjutkan, “Lalu, bagaimana tanggapan Eomma? Bukankah kau bicara dengannya tadi?”

Haewoon tergelak, haruskah ia mengatakan apa yang di dengarnya tadi pada Kyuhyun? Yah, ia tidak mengatakan apapun sejak tadi memang. Ah, sepertinya tidak. Ia rasa ia harus memikirkannya dulu. Mungkin jika ia mengatakannya sekarang, itu hanya akan membuat Kyuhyun terkejut. “Nanti saja kuceritakan.”

***

-Memang aku masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud Nyonya Cho tadi. Tapi aku bisa merasakan jika ucapannya itu sepenuhnya tertuju kepadaku. Apa ini tentang masa laluku? Jika iya, siapa itu Ahra? Kurasa aku pernah mendengar nama itu,tapi siapa? Sungguh aku lupa!- Lee Haewoon.

 

-Jujur aku masih penasaran. Yeoja itu, Haewoon, sikapnya berubah sejak tadi kami pulang dari rumahku. Ia menjadi yeoja dingin dan pendiam. Tadi ia berkata padaku bahwa ia akan menceritakan apa yang dikatakan Eomma kepadanya. Tapi bahkan sampai sekarang ia terus berdiam diri di dalam kamarnya tanpa berniat bermain dengan Hyunoo ataupun mengobrol denganku seperti biasanya. Apa yang terjadi sebenarnya?- Cho Kyuhyun.

 

Sang mentari tampak berjalan menuju peraduannya sembari meninggalkan semburat cahaya kekuningan yang mengiasi langit sana. Sangat indah. Dan tak lama kemudian, tampaklah sang rembulan yang sudah bersiap untuk menjalankan tugasnya menggantikan sang mentari. Memancarkan cahayanya dengan ditemani oleh ribuan bintang yang begitu cantik menghiasi langit yang kini sudah mulai menggelap.

Begitupun yang dilakukan Haewoon sedari tadi, hanya duduk di sofa yang sering didudukinya dengan Kyuhyun dan juga Hyunoo untuk melihat suasana malam hari dari dalam kamarnya. Haewoon duduk dengan kakinya yang dilipat dan dipeluknya. Bahkan ia tak menghiraukan teriakan demi teriakan yang berasal dari pintu kamarnya. Ia seolah tuli untuk sementara waktu akan suara dari dua orang namja itu. Ya, siapa lagi jika bukan suara Kyuhyun dan Hyunoo yang memang sudah bangun dari tadi.

Hmm, bisa dikatakan jika Haewoon mengurung diri di kamarnya setelah memberi Hyunoo makan dan memandikan anak itu. Awalnya ia menyuruh Hyunoo agar bermain dengan ayahnya, sedangkan ia ingin beristirahat di kamarnya. Apalah daya, Kyuhyun dan Hyunoo pun akhirnya menurutinya. Mengingat alasan Haewoon yang ingin beristirahat itu.

Istirahat. Hh, mungkin itu tak cocok untuk mengakui apa yang kini tengah dilakukan Haewoon. Ya, benar memang ia berkata pada Kyuhyun dan Hyunoo bahwa ia ingin istirahat. Tapi nyatanya? Bahkan merebahkan diri di kasur pun tidak! Ia hanya duduk di sofa itu dengan mata yang sembab. Padahal ia sudah 2 jam seperti itu. Tapi sepertinya ia tak memilki sedikitpun niatan untuk keluar dari kamarnya. Entah hanya untuk memanjakan Hyunoo seperti biasanya atau apapun itu. Dan ia justru tampak seperti yeoja yang banyak pikiran saat ini. Tapi apa yang dipikirkannya? Apakah itu tentang apa yang dikatakan Nyonya Cho tadi?

“Eomma!! Kajja kita makan!!” terdengar pekikan Hyunoo dari luar kamar itu. Sesekali ia menggedor pintu itu agar Haewoon membukanya.

“Haewoon~ah, apa yang kau lakukan di sana? Apa kau punya masalah? Ayolah, keluar… Kau bisa menceritakannya padaku. Haewoon… Kumohon keluarlah….” Tak mau kalah, suara Kyuhyun pun terdengar. Tapi sepertinya Haewoon tak merasa adanya suara itu. Terbukti dari wajahnya yang tampak datar.

“Jika Nyonya Cho tidak menerima Hyunoo hanya karena kedekatanku dan aku yang merawat Hyunoo selama ini. Haruskah aku meninggalkan Hyunoo dan membiarkannya tinggal bersama Kyuhyun setelah ini? Ya, jika itu akan membuat Hyunoo diterima, maka aku akan melakukannya.” Gumam Haewoon bergetar seiring jatuhnya buliran kristal itu dari pelupuk matanya. Benar, ternyata itu yang dipikirkannya sejak tadi. Sungguh, hatinya seolah robek setelah mendengar kata-kata dari Nyonya Cho tadi. Ya, benar memang jika ia masih belum mengerti betul dengan apa yang dimaksud oleh Nyonya Cho ditengah isak tangisnya tadi. Tapi ia tahu jika semua itu tertuju padanya. Pada Haewoon!

Perlahan Haewoon mengambil ponselnya yang ada di samping kirinya itu. Ditekannya tombol merah untuk mengaktifkan ponsel yang sedari tadi memang tidak diaktifkannya. Setelah itu ia menekan beberapa digit nomor yang sudah di hafalnya, dan akhirnya ia menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.

“Haewoon? Cepat buka pintunya.” Ucap orang di seberang sana setelah sambungan telepon itu terhubung. Ya, Haewoon menelpon Kyuhyun.

Haewoon menghela nafas berat lalu berkata dengan nada bergetar, “Bisa kau masuk ke kamarku tanpa Hyunoo? Aku ingin berbicara berdua denganmu.”

“Bagaimana? Tidak mungkin aku meninggalkan Hyunoo sendirian.” Terdengar suara Kyuhyun yang tampaknya sedang bingung.

“Hhh, suruh ia bermain di ruang bermainnya. Aku hanya ingin bicara sebentar.”

“Baiklah… Tunggu aku.”

“Hmm….”

***

Kyuhyun menatap ponselnya bingung setelah menutup sambungan telepon dengan Haewoon, kenapa Haewoon menelponnya? Padahal jarak mereka tidak terlalu jauh. Bahkan masih berada dalam satu rumah yang sama. Tak ingin mengambil pusing, Kyuhyun pun langsung memasukkan ponselnya ke saku celana dan beralih mendekati Hyunoo yang tampak sedang asik menonton tv.

“Chagi, Hyunoo main di ruang bermain dulu. Appa ingin melihat Eomma di kamar. Otthe?” ucap Kyuhyun lembut setelah ia duduk di samping Hyunoo.

Hyunoo menoleh dengan wajahnya yang tampak bingung, “Hyunoo ikut, Hyunoo juga ingin melihat Eomma.”

“Sebentar saja, Eomma sedang tak enak badan. Appa harus melihatnya, otthe?”

Dengan berat hati, akhirnya Hyunoo pun mengangguk dan berjalan dengan langkah gontai menuju ruang bermainnya, “Jangan lama-lama, Appa. Hyunoo juga ingin melihat Eomma.” Ucapnya sebelum akhirnya menutup pintu ruangan itu.

Kyuhyun tersenyum melihat kelakuan puteranya itu. Dan seperkian detik kemudian ia berjalan ke arah pintu kamar Haewoon dan mengetuknya, “Haewoon… Buka pintunya.”

Tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang sedang membuka kunci pintu dari dalam, sudah bisa di pastikan jika itu adalah Haewoon, “Masuklah….”

Dengan senyuman tipis yang mengembang di sudut bibirnya, Kyuhyun pun memasuki ruangan itu seraya mengikuti langkah Haewoon dari belakang. “Ada apa? Kenapa kau seperti ini? Kau tak terlihat seperti Haewoon yang kukenal.”

Haewoon menghempaskan dirinya di sofa yang tadi di dudukinya dengan mata tertutup dan menghela nafas, “Aku ingin berkata sesuatu, duduklah dulu….”

“Hmm, ceritakan padaku.” Kyuhyun duduk di samping Haewoon dengan tubuhnya yang mengarah pada yeoja itu, dapat dilihatnya mata Haewoon yang sembab dan penampilannya yang cukup berantakan.

Haewoon kembali menghela nafasnya, perlahan ia mengarahkan tubuhnya ke arah Kyuhyun. Membuat mereka saling berhadapan satu sama lain, “Besok, bukankah besok surat hasil tes DNA kalian keluar? Hhh, aku ingin setelah itu kau membawa Hyunoo tinggal bersamamu dan jauhkan ia dariku.”

Tenggorokan Kyuhyun tercekat begitu mendengar perkataan Haewoon itu, apa dia bilang? “Kau gila, eoh? Bukankah kemarin kau yang memintaku agar Hyunoo tetap bersamamu? Tapi kenapa sekarang seperti ini? Ada apa denganmu?” entah dalam kesadaran atau tidak. Kyuhyun sudah menggenggam kedua tangan Haewoon erat.

Haewoon menggeleng lemah, “Aniya, aku tidak gila. Aku sudah pasti melakukan ini. Ini semua agar Hyunoo bahagia. Aku tahu Eommamu tidak menerima Hyunoo dengan tulus itu hanya karena aku. Karena aku yang merawatnya. ” Jelas Haewoon. Buliran itu, entah sudah berapa kali berjatuhan dan sudah berapa kali Haewoon mengusapnya. Sungguh, hatinya masih terasa tertohok mengingat ucapan Nyonya Cho tadi. Biarpun ia sudah berkali-kali menepis pikirannya itu, tapi tetap saja. Ucapan Nyonya Cho terus mengiang ditelinga dan memenuhi otaknya.

“Aniya… Eomma tidak mungkin tidak menerima Hyunoo hanya karena kau yang merawatnya. Bagaimanapun juga kau sudah menyelamatkan anakku. Aku tahu, Eomma bukan orang seperti itu….”

“Tapi ini semua demi Hyunoo. Aku tak ingin ia tak bahagia, Kyu… Aku memang tak tahu apa yang dulu pernah terjadi. Tapi aku yakin Eommamu tidak menerima Hyunoo karena ia membenciku.” Haewoon menunduk dengan isakkannya yang semakin menjadi.

Kyuhyun mengernyit, “Dulu? Apa maksudmu?”

“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Aku sungguh tidak mengingat apa-apa tentang masa laluku. Maafkan aku, tadi aku tak berbicara dengan Eommamu. Aku tidak sengaja mendengar apa yang diucapkannya dari balik pintu. Maafkan aku….”

“Ceritakan padaku. Kumohon… Apa saja yang dikatakan Eomma?” Kyuhyun mendekat, mencoba menghapus airmata yeoja itu dengan kedua ibu jarinya.

“Sudahlah, Kyu… Aku tak perlu menceritakan itu. Aku sendiri belum mengerti betul, tapi aku yakin jika itu semua mengarah padaku. Dan sekarang aku hanya ingin kau mengabulkan permintaanku tadi.”

“Menjauhkanmu dari Hyunoo?”

Haewoon mengangguk, namun berbeda dengan hatinya. Sungguh, jiwa keibuan yang dimilikinya selama ini tak bisa hilang biarpun Hyunoo bukanlah anak kandungnya. Anak itu sudah menjadi segalanya baginya.

Kyuhyun yang melihat Haewoon seperti itu sentak menarik yeoja itu dan memeluknya erat. Membiarkan kemejanya basah karena tangisan yeoja yang begitu dicintainya itu. Ia tak yakin bisa memisahkan Hyunoo dan Haewoon, mengingat ia juga ingin selalu berada di sisi yeoja ini. Dan sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan yeoja itu tempat bersandar dan pelukan hangat yang belakangan ini sudah sering diberikannya pada Haewoon dan juga Hyunoo. “Sudahlah… Jangan bicarakan itu. Aku tak akan memisahkanmu dengan Hyunoo. Karena aku juga ingin selalu berada di sisimu. Haewoon, aku mencintaimu. Percayalah, dengan seperti ini, Eomma pasti akan menerima Hyunoo tanpa harus menjauhkannya denganmu terlebih dahulu.”

“Aku juga mencintaimu, Kyu… Maafkan aku, tapi kumohon jauhkan aku dengan Hyunoo. Aku tak ingin anak itu tak bahagia hanya karena aku.” Ucap Haewoon di tengah isakkannya yang tak kunjung berhenti di dada bidang seorang Cho Kyuhyun. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat senang karena Kyuhyun menyatakan perasaannya. Dan itu mampu membuat rasa sedih Haewoon berkurang. Ya, biarpun sedikit.

“Untuk apa minta maaf, eoh? Aku sudah mengatakan perasaanku selama ini padamu, dan kau pun begitu. Yang perlu kita lakukan mulai sekarang hanyalah berjuang bersama agar kita bisa selalu bersama uri aegy, Cho Hyunoo.” Kyuhyun merenggangkan pelukannya pada Haewoon dan beralih menangkup wajah yeoja itu.

“Aku tak yakin… Eommamu membenciku, Kyu….”

“Aniya… Eomma tidak membencimu. Percayalah….”

“Tapi aku mendengar langsung apa yang dikatakan Eommamu tadi, Kyu! Ia membenciku. Dan aku—“

CHUP!

 

Lelah karena mendengar seluruh keluh kesah Haewoon, Kyuhyun sentak mencium bibir yeoja itu sekilas untuk yang pertama kalinya. Membuat yeoja itu sentak menghentikan isakkannya dan beralih menatap namja dihadapannya ini dengan tatapan terkejut.  “Dengar aku! Kau dan Hyunoo sudah menjadi milikku. Dan aku tak akan membiarkan siapapun memisahkan kita, terutama memisahkanmu dan Hyunoo.” Ucap Kyuhyun tegas.

“Tap—“

CHUP!

 

“Aku bukan orang yang suka menerima penolakan. Jadi mulai sekarang kau hanya perlu melindungi Hyunoo dan ikuti apa kataku, arra?”

Haewoon mengangguk lemah, sungguh… Ia tak mengerti, kenapa ia tampak sangat lemah di hadapan namja ini? “Saranghaeyo, Kyu….”

Kyuhyun tersenyum. Ia tak menyangka, dirinya mampu mengucapkan perasaannya itu pada Haewoon di saat seperti ini. Memang ini bukan waktu yang tepat, mengingat Haewoon dalam suasana hati yang buruk. Tapi apalah, Kyuhyun sudah menyatakannya. Begitupun dengan Haewoon.

-Namja itu telah mengucapkan perasaannya padaku. Begitupun halnya denganku. Jujur saja, aku senang saat ia menyatakannya. Namun aku masih tak yakin. Bukan tentang cinta namja itu padaku. Tapi tentang anak itu, akankah ia hidup bahagia jika aku masih berada di dekatnya? Hh…, kuharap iya.- Lee Haewoon.

 

-TBC-

Advertisements

85 thoughts on “[SERIES] “Uri Aegy Saranghaeyo!” Part. 3B

  1. Syifa amalia says:

    Yeyyy.. Mereka sudah bersama. Romantis banget, mengungkapkan perasaan nya enggak bertele tele.. Bagus bgt eon 😀 (y)

  2. Fahmi "kashira" cho says:

    memng kenapa ahra, haewonkan dokter, apa ahra sakit parah ditangani haewon, trus mninggal.
    benar benar rumit. kenapa gak tnya aja sama kyuhyun kenapa ahra bisa mninggal, kronologinya bagaimana?
    gak tega bagaimana perasaan hyunoo kalau eommanya gak ada..

  3. ambar says:

    Haewoon ngebunuh Ahra? ko bisa? dan itu kenapa Haewoon ga inget masa lalu nya? appa Haewoon amnesia? oh jadi masalah nya itu ada di masa lalu Haewoon. dan apa Nyonya Cho akan merestui Kyuhyun Haewoon dan nerima Hyunoo? wah penasaran sama masa lalu Haewoon…

  4. hyemi says:

    Nooo Comennttt 😥
    Aku nangis baca nya 😦 😥
    Tega amatt ibunya kyu . Mungkin aja kesalahpahaman aja . Bukan haewoon yg membunuh ahra.
    Hikss 😥

  5. Nana says:

    Sebnernya gmna hub ahra dg haewoon? Klo haewoon yg bunuh ahra, knpa kyuhyunnya ga tau? Mlah kyuhyun cinta dg haewoon.. Ah bingung 🙂
    Next part lg ya… 🙂

  6. octhaviee says:

    Ibunya kyuhyun MasyAllah sewot bener
    Ada apa hayoo sama masalalunya Haewoon? Tapi kok kayaknya Haewoon gak inget apa2 gitu ya ..
    Baca part selanjutnya yaa
    Keep writing anggie

  7. Eliza says:

    ihhh penasaran sebenernya ada hubungan apa sih haewoon sama ahra ? kok ny cho benci bnget ? haewoon juga kok lupa gitu ?

    bagian akhirnya so sweet mereka saling menyatakan CINTAA HOREEYY !!

  8. Kyunara says:

    aigoo~ makin ke sini makin bagus aja.. salah paham kan nyonya cho.. td sempet shock jg denger kata” nyonya cho… masih ada misteri masa lalu..jiahhh…bahasa gue.. tak lanjut dulu.

  9. lulu says:

    huaaaaa akhir’y mreka jadian juga…seneng’y
    tp ada sedih’y jg….coz eomma’y kyu ga setuju dy benci bnget sm haewoon
    knpa sih benci’y smpe segitu’y
    ada apa sih sm masa lalu’y en tntang ahra…jd pensarn
    cuzzz ke part 4

  10. lenara says:

    . Astaga aku udh bca dri part 1 smpe ini. Dan dan dan dan maaf bru coment skrg hehe tpi kakak tenang aja dari part 1 sampai part ini aku kasih 5000 jempol buat kakak dan fightingggggg . Intinya aku like like like like like like like +++++ oke eonni aku suka suka suka suka suka suka suka/….. Dan ini aku wakilin buat eonni dri part 1 sampai part ini ne.. Noh eonn aku kasih 50000000000/./….. Jempolers

  11. Fira^^ says:

    sebenarnya apa yg terjadi d masa lalu haewoon? tp aku senang d part ini mereka saling mengungkapkan isi hati mereka masing² …
    next… keep writ and hwaiting thor^^

  12. Dorothy_kyu says:

    Woah daebak!
    Ada apaa lagi ini antara Haewoon sama keluarganga Kyu….
    Trus kenapa Haewoon bisa hilang ingatan gitu

    Ffnya seru bgt!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s