Posted in Family, Romance

[SERIES] “Uri Aegy Saranghaeyo!” Part. 2

Uri Aegy Saranghaeyo!

Uri Aegy Saranghaeyo!

Author: Anggieeeee
Fb: Anggie Oktaviani
Tittle: Uri Aegy Saranghaeyo! (Our Baby, We Love You!)
Length: 1-?
Genre: Family
Rate: G
Cast: -Cho Kyuhyun
-Lee Haewoon
-Lee Hyunoo/ Cho Hyunoo

Desclaimer: It’s My Own Fanfic, I made it depend on my imagination. So, don’t copas! Don’t bash me! and if u don’t like it, don’t read! Thanks a lot… *Bow*

PART. 2

~STORY BEGINS~

 

_Aku memang belum tau pasti kau anak kandungku atau bukan. Tapi kuharap kau memang benar anakku. Entah apa yang terjadi padaku setelah mengetahui jika aku telah membuahi mantan kekasihku menjadi sosok anak yang lucu dan pintar sepertimu, sungguh aku senang. Aku bahagia…_ Cho Kyuhyun

 

 

Tuesday, 16-Oct-2012, 8am KST

Pagi ini, di rumah yang dihiasi dengan gambar-gambar kartun itu, tampak Kyuhyun tengah tertidur di samping kiri Hyunoo sembari memeluk anak itu. Sedangkan Haewoon juga tertidur di samping kanan Hyunoo tetapi dengan posisi membelakangi Hyunoo dan Kyuhyun. Entah dalam kesadaran atau tidak mereka tertidur bertiga seperti itu, yang jelas mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang hidup bahagia.

Perlahan tubuh Haewoon bergerak seraya membenahi posisinya dan menghadap Hyunoo. Matanya terbuka perlahan seiring tangannya yang memanjang seraya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Tapi saat matanya terbuka sempurna, Haewoon justru tak terkejut sama sekali saat ia menangkap sebuah adegan antara Hyunoo dan Kyuhyun. Ia justru tersenyum melihat anaknya yang merasa nyaman dalam dekapan hangat seorang namja yang baru dikenalnya itu. Tapi kenapa Haewoon justru terlihat bahagia karena adegan itu? Apa yang terjadi sebenarnya?

Flashback

Desiran dinginnya angin malam kota Seoul, di temani dengan terangnya sinar sang rembulan dan bintang-bintang yang tampak indah di atas sana. Itulah yang kini tengah dinikmati oleh ketiga anak manusia itu. Ya, mereka Haewoon, Hyunoo dan Kyuhyun. Mereka duduk di sebuah sofa di kamar Haewoon yang menghadap langsung ke alam luar. Biarpun mereka tidak keluar kamar, mereka tetap bisa melihat suasana langit malam.

Tak perduli jam sudah menunjukkan pukul berapa, Kyuhyun tetap tak memiliki niatan sedikitpun untuk pulang ke rumahnya. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumah Haewoon. Bahkan ia memutuskan untuk menginap di rumah Haewoon dengan alasan ingin lebih dekat dengan Hyunoo. Dan selagi apapun yang mampu menyenangkan Hyunoo, Haewoon memperbolehkannya. Termasuk memperbolehkan Kyuhyun untuk menginap di rumahnya.

 

“Eomma! Lihat! Ada bintang jatuh!” pekik Hyunoo saat melihat ada bintang jatuh di langit sana.

“Nde, chagi… Kajja we make a wish.” Haewoon mengangguk, kemudian tangannya meraih tangan Hyunoo untuk di genggamnya bersama tangannya. Matanya tertutup dengan posisi yang berhadapan dengan tubuh mungil Hyunoo.

“Appa, kajja make a wish juga!” Hyunoo yang belum menutup matanya sentak mengajak Kyuhyun agar turut membuat permintaan. Tak ayal Kyuhyun pun menuruti dengan tangannya yang dikepal dan mata yang tertutup.

 

‘Aku tidak tau siapa sebenarnya namja yang kini sedang ada bersamaku dan Hyunoo. Ia begitu baik kepada kami. Namanya Cho Kyuhyun, ia juga tampan. Tapi boleh aku bertanya kenapa aku merasa aneh saat berdekatan dengannya? Ah, bukan aneh. Tapi senang, sangat-amat senang. Padahal aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu. Apa ini yang dinamakan dengan cinta pandangan pertama? Hm, kuharap iya.’

‘Appa, kapan appa kandung Hyunoo datang? Hyunoo ingin sekali bertemu appa. Hyunoo harap appa kandung Hyunoo seperti Kyuhyun appa, ia sangat baik dan tampan. Hyunoo menyukai Kyuhyun appa.’

‘Haewoon, Hyunoo. Dua nama orang itu tengah mengisi hatiku belakangan ini. Sebenarnya aku juga sudah lama memperhatikan Haewoon, ia cantik, pintar dan ramah. Bisa dikatakan aku sudah lama menyukainya. Hyunoo, dia anak yang pintar dan lucu. Kuharap Hyunoo memang benar anak kandungku dan Haewoon menjadi milikku.’

 

Itulah serentetan do’a dan harapan yang keluar dari dalam hati ketiga orang itu. Haewoon, Hyunoo dan Kyuhyun, perlahan mata mereka terbuka dan saling menatap satu sama lain. Menampilkan senyuman termanis yang mereka miliki masing-masing. Sampai akhirnya Hyunoo yang berdiri dan mencium pipi Haewoon sekilas, kemudian beralih mencium pipi Kyuhyun agak lama. Membisikkan sesuatu yang mampu membuat hati Kyuhyun berbunga-bunga.

“Hyunoo menyukai Kyuhyun appa sebagai appa Hyunoo…” Bisik Hyunoo.

“Nado, appa juga menyukai Hyunoo sebagai anak appa…” Balas Kyuhyun dengan suara berbisik, tapi masih mampu di dengar Haewoon hingga membuat yeoja itu terkikik geli.

“Hey, Hyunoo tak pernah bicara seperti itu pada eomma.” Ucap Haewoon seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Hehe, nde eomma… Hyunoo mencintai eomma…” Ucap Hyunoo akhirnya dan langsung melompat ke atas pangkuan Haewoon dan memeluknya. Jelas itu membuat Haewoon terlonjak karena merasa sedikit sakit di perutnya karena tingkah Hyunoo yang tiba-tiba.

“Hyunoo, jangan seperti itu. Kasian eomma kesakitan…” Kyuhyun mengelus rambut Hyunoo lembut, tapi matanya tertuju pada wajah Haewoon yang sedang menahan sakit.

“Mianhae, eomma… Gwaenchana? Mianhae eomma…”

“Nde, chagi. Gwaenchana…, sudahlah kajja kita tidur, sudah malam.” Haewoon membalas pelukan Hyunoo dan menggendongnya menuju kasur big sizenya untuk tidur. Kyuhyun pun mengikuti langkah Haewoon dari belakang.

 

“Boleh aku tidur di sini juga?” tanya Kyuhyun kepada Haewoon seraya duduk di samping kiri Hyunoo yang sudah berbaring di kasur itu.

“Terserah kau selagi itu membuat Hyunoo senang.” Jawab Haewoon tanpa menoleh ke arah Kyuhyun karena tangannya yang sibuk menutup gorden kamarnya yang tadi terbuka setelah menikmati pemandangan langit malam.

“Gomawo. Baiklah, kajja… Kita tidur Hyunoo~ya!!” pekik Kyuhyun senang dengan tangannya yang bergerak memeluk tubuh Hyunoo.

“Jaljayo appa… Eomma saranghaeyo…” Hyunoo menenggelamkan kepalanya di dada Kyuhyun yang memeluknya setelah mengucapkan kata yang tak pernah lupa ia ucapkan sebelum tidur kepada Haewoon yaitu ‘Eomma saranghaeyo’.

“Nde, jaljayo… Nado saranghaeyo Hyunoo~ya.” Jawab Haewoon sembari membenahkan posisinya di samping kanan Hyunoo. Menyelimuti tubuhnya, tubuh Hyunoo dan tubuh Kyuhyun yang ternyata sudah tertidur. ‘Cepat sekali mereka tidur, saranghaeyo Hyunoo~ah, Kyuhyun~ssi.’ Batin Haewoon sembari tersenyum dan mulai menjelajahi alam mimpinya.

Flashback End

 

Haewoon bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju meja riasnya. Merapikan rambutnya yang berantakan karena bangun tidur, setelah itu ia membuka gorden jendela kamarnya.

Tiba-tiba secercah cahaya menerobos jendela itu dan mampu membuat mata Haewoon menyipit. Tak luput dari itu, Hyunoo dan Kyuhyun yang masih tidurpun tampak menyipitkan mata mereka karena terkena pancaran sinar itu.

“Jam berapa ini? Kenapa matahari sudah seterang ini?” Haewoon menoleh ke arah jam dinding yang ada di atas meja samping jendela. Dan sontak matanya terbelalak karena jam sudah menunjukkan pukul 8. Dengan segera Haewoon membangunkan Hyunoo dan Kyuhyun. Bagaimana tidak? Sekolah Hyunoo masuk pukul 7.30 pagi, dan sekarang bahkan sudah pukul 8. Sudah jelas bukan jika Hyunoo terlambat?

“Hyunoo! Bangun chagi! Hyunoo terlambat sekolah!” seru Haewoon sembari mengguncang tubuh Hyunoo pelan.

“Eoh, Eomma…”

“Bangunlah, Hyunoo terlambat. Kyuhyun~ssi, cepat bangun. Sudah jam 8.” Tangan Haewoon terangkat untuk menepuk pipi Kyuhyun pelan. Dan orang yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa mendengus pelan sembari kembali menarik selimut yang hampir menutup seluruh tubuhnya.

“Terlambat, Eomma?” Hyunoo membuka matanya dengan susah payah. Tubuhnya yang di paksa untuk duduk itu pun tampak sedikit oleng karena rasa kantuk yang masih menyerangnya. Benar saja, tadi malam mereka tidur jam 1 malam.

“Nde, kajja bangun. Eomma mandikan lalu kita berangkat.” Tanpa banyak bicara lagi, Haewoon langsung mengangkat tubuh Hyunoo untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya itu.

“Haewoon~ssi! Biar aku saja yang memandikannya!” teriak Kyuhyun yang tiba-tiba melompat dari balik selimut dan mengambil alih gendongan Hyunoo dari Haewoon.

“Eoh?” Haewoon mengerjap tak percaya setelah tubuh Kyuhyun dan Hyunoo sudah menghilang di balik pintu kamar mandi itu. Tapi sedetik kemudian, sebuah senyuman manis tercipta di wajah cantik Haewoon. Biarpun ia belum mandi.

***

 

Seusai mereka membersihkan tubuh. Haewoon menyiapkan sarapan dan mereka bertiga makan bersama di rumah itu. Hanya nasi goreng favorit Hyunoo yang dimasak Haewoon. Karena itu yang cepat dan praktis untuk dijadikan sarapan.

Seperti biasa, Hyunoo makan dengan tangannya yang memegang robot ULTRAMAN yang baru di belikan Haewoon kemarin. Sedangkan Haewoon sendiri sibuk menyuapi Hyunoo, tanpa memperdulikan kapan dirinya sendiri akan sarapan.

Sedangkan Kyuhyun sendiri sedang menyantap nasi goreng buatan Haewoon itu dengan matanya yang terus menatap tingkah lucu Hyunoo dan Haewoon yang tengah menyuapi Hyunoo. Senyuman dibibirnya pun tak pernah luput, sekalipun sesendok nasi masuk ke mulutnya. Senyuman itu tak pernah pudar selagi ia melihat sosok Haewoon dan Hyunoo di hadapannya.

“Haewoon~ah, bukankah Hyunoo masuk sekolah pukul 07.30? Dan sekarang sudah hampir pukul 9.” Tanya Kyuhyun sembari menutup sendok dan garpunya di atas piring, pertanda bahwa ia telah selesai makan.

“Nde, geurae. Dan sudah pasti Hyunoo terlambat.” Jawab Haewoon dengan menatap Kyuhyun sekilas dan kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya menyuapi Hyunoo yang masih sibuk bermain robot-robotan.

“Apa Hyunoo akan tetap ke sekolah setelah ini?”

“Sepertinya tidak. Percuma jika pergi, pagar sekolah ditutup pukul 8.”

“Lalu, Hyunoo akan kemana? Bukankah kau bekerja setelah ini?”

“Molla, mungkin akan ku bawa ke rumah sakit. Tak mungkin jika aku meninggalkannya sendirian di rumah.”

“Ehm, jika kau tak keberatan. Aku bisa membawa Hyunoo ke rumahku, ada Eomma dan adikku di rumah. Adikku itu sangat menyukai anak kecil, bagaimana?”

“Tidak perlu, aku tak ingin merepotkanmu.”

“Aniya, gwaenchana… Lagi pula aku sudah menganggap Hyunoo sebagai anakku sendiri.”

“Tidak usah. Ehm, sepertinya aku juga tidak masuk bekerja hari ini. Badanku tidak enak, dan aku bisa menemani Hyunoo di rumah.”

“Oh, begitu. Yasudahlah, aku akan tinggal di sini saja dulu.”

“Kau tak pulang dan bekerja, Kyuhyun~ssi?”

“Aku malas pulang, adikku pasti selalu menggangguku. Ya, biarpun kadang ia juga membantuku. Tapi…, sudahlah.”

“Geureom, bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Nah, itulah… Sudah kubilang adikku, Henry juga bisa membantuku. Nanti kutelepon ia, dan memintanya membawa berkas-berkas kantor ke sini. Akan ku kerjakan di sini. Tak apa kan?”

“Eoh? Ehm… Baiklah…, kalau aku bisa,  akan kubantu.”

“Hmm… Sudahlah, selesaikan menyuapi Hyunoo. Lihatlah, ia lari ke kamar itu.” Kyuhyun menunjuk ruang bermain Hyunoo, sedetik kemudian ia berjalan menghampiri kamar itu dan diikuti Haewoon yang di tangannya masih memegang sepiring nasi goreng.

Kyuhyun mendorong pintu itu perlahan, dan matanya langsung menangkap pemandangan di mana banyak sekali mainan berserakan. Dapat dilihatnya juga Hyunoo tengah sibuk menatapi robot di pojok ruangan itu. Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. Apa yang sedang dilakukan anak itu? Pikir Kyuhyun.

“Hyunoo~ya! Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kyuhyun sembari mendekati Hyunoo.

Hyunoo pun berbalik dan.. “Appa… Hiks… Hiks… Appa…” Tangisan Hyunoo pecah seketika. Suaranya yang nyaring sudah jelas menggema di ruang bermain yang berlantai keramik itu.

“Wae? Hyunoo~ya? Wae?” Haewoon yang baru saja masuk sentak meletakkan piring makanan Hyunoo yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja yang ada di sana.

“Robot Hyunoo rusak… Hiks… Hiks…” Hyunoo menyodorkan robot ULTRAMAN yang baru di belikan Haewoon kepada Kyuhyun dengan isakkan-isakkan kecil yang masih terdengar dari mulutnya.

“Rusak? Yasudahlah, nanti Eomma belikan lagi, otthe?” Haewoon berjongkok di samping Kyuhyun dan mengahadap Hyunoo.

“Aniya, Hyunoo mau yang ini saja, Eomma.” Elak Hyunoo sembari menghapus air matanya kasar dengan punggung tangannya.

“Hm, Appa tidak bisa memperbaikinya, Hyunoo~ya… Tapi adiknya Appa bisa, nanti ia akan datang.” Ucap Kyuhyun sembari tersenyum dan menghapus air mata Hyunoo lembut.

“Jinjja, Appa?”

“Nde, Hyunoo~ya. Sudahlah, berhenti menangis. Selesaikan makanmu.” Kyuhyun mengangkat Hyunoo kepangkuannya. Seperkian detik kemudian ia beralih menatap Haewoon dan menatap yeoja cantik itu dengan isyarat ‘Cepat suapi Hyunoo lagi’. Haewoon yang mendapat tatapan seperti itu pun sentak mengangguk dan berdiri.

***

Kenyamanan itu, entah sejak kapan menghinggapi Haewoon ketika ia berdekatan dengan namja itu, Cho Kyuhyun. Melihat mata onyx-nya adalah kesenangan tersendiri bagi Haewoon. Biarpun ia melihat mata itu dengan sembunyi-sembunyi. Ya, sepertinya harapannya malam itu benar adanya. Bahwa ini yang dikatakan dengan cinta pada pandangan pertama.

Kyuhyun menoleh, menatap wajah cantik seorang Lee Haewoon dari samping. Melihat matanya yang membulat, hidungnya yang tak terlalu mancung. Pipi berisi dengan sentuhan warna merah muda di keduanya. Menambah kecantikan yeoja itu. Dan akhirnya tatapan kagum Kyuhyun berhenti pada satu titik. Titik di mana ia langsung menelan saliva-nya susah payah untuk menghilangkan pikirannya yang sepertinya telah terlanjur termasuk ke dalam pesona Haewoon. Ya, titik itu adalah bibir mungil berwarna merah alami milik Haewoon. Entah mengapa, ia menjadi ingin sekali memiliki yeoja itu begitu ia melihat sesuatu yang tampak sempurna dari Haewoon. Bukan hanya bibirnya, tapi semuanya.

“Eomma, Hyunoo lupa. Hyunoo ada PR.” Ucap Hyunoo yang langsung duduk di samping Haewoon yang kini tengah melihat-lihat buku fashion yang baru dibelinya.

Haewoon menoleh dan menutup bukunya, “PR apa? Kajja kita kerjakan bersama.” Jawab Haewoon, tentunya dengan senyuman ramah yang selalu diumbarnya.

“Matematika dan menggambar.” Sekejap, Hyunoo langsung berlari menuju kamar dan mengambil tas sekolahnya.

“Anak itu, ia tak pernah malas jika bersangkutan dengan hal belajar.” Haewoon menggelengkan kepalanya pelan dan kembali membuka bukunya.

“Aku salut denganmu, Haewoon~ah.” Timpal Kyuhyun yang kini tampak mematikan ponsel yang sedari tadi dimainkannya dengan Hyunoo dan beralih menatap Haewoon.

Haewoon mengernyit, “Kenapa bisa?”

Kyuhyun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan berkata, “Kau telah mendidik anak itu dengan sangat baik. Lihatlah, ia bahkan tak mengenal kata malas untuk belajar. Sangat berbeda dengan adikku dulu, saat kami sekolah, ia selalu mendapat nilai rendah karena malas belajar.”

Haewoon tersenyum, sepertinya ia mulai tertarik dengan jalan pembicaraan ini. “Memangnya nilaimu tinggi?”

“Tentu! Aku selalu mendapat peringkat satu di kelas. Dan bahkan aku memenangkan olimpiade matematika.” Ucap Kyuhyun membanggakan dirinya yang memang terkenal pintar.

Senyuman yeoja itu, Haewoon semakin lebar. Bahkan ia sudah menutup kembali buku itu agar ia bisa mengobrol lebih banyak dengan Kyuhyun, “Aigoo, aku tak percaya itu. Kau tak tampak seperti orang yang pintar. Haha…”

“Ish, baiklah jika tidak percaya. Akan ku buktikan.” Ucap Kyuhyun pura-pura marah, “Hyunoo! Mana PR-nya? Sini Appa bantu!”

Haewoon sedikit menunduk, apa Kyuhyun marah karena aku berkata seperti itu? Pikirnya dalam hati. Tak lama kemudian Haewoon kembali mengangkat kepalanya begitu mendengar suara hantaman yang begitu nyaring menusuk ke gendang telinganya. “Hyunoo!” pekiknya cepat.

BRAKK!

 

“Argh! Eomma! Appa!”

“HYUNOO!”

Dengan kecepatan langkah di atas rata-rata, Kyuhyun dan Haewoon berlari menuju kamar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Hyunoo hingga menghasilkan suara keras seperti itu. Raut kecemasan pun tak luput dari wajah kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu.

“Aigoo! Hyunoo!” pekik Haewoon lagi begitu dirinya masuk dengan sempurna ke ruang kamarnya itu dan mendapati Hyunoo tengah memegangi kepalanya dengan beberapa buku tebal yang berserakan di sampingnya.

Kyuhyun pun sentak mengangkat Hyunoo dan mengusap kepala anak itu yang mungkin terasa sangat sakit, mengingat buku-buku yang sepertinya menimpanya itu cukup besar dan tebal, “Gwaenchana? Mana lagi yang sakit?” tanya Kyuhyun.

“Ini, sakit Appa…” Rengeknya sembari menujuk kepala sebelah kanannya.

“Gwaenchana, chagi? Tunggu, eomma ambilkan obat. Kyuhyun~ah, tolong dudukkan Hyunoo di kasur.” Haewoon berjalan cepat ke luar kamar, lebih tepatnya ke arah dapur.

Kyuhyun yang masih dalam posisi menggendong Hyunoo langsung duduk di atas kasur dengan tangannya yang bergerak mengusap pelan kepala anak itu, “Tadi memangnya Hyunoo ingin melakukan apa?”

“Hyunoo tadi sedang mengambil buku gambar Hyunoo yang diletakkan Eomma di atas lemari. Hyunoo mengambilnya menggunakan sapu. Tapi album foto itu justru menjatuhi Hyunoo.” Jelas Hyunoo dengan wajahnya yang masih menyiratkan kesakitan.

“Kenapa tidak memanggil Appa atau Eomma untuk mengambilnya, eoh? Lihatlah, jadi Hyunoo yang kesakitan seperti sekarang.”

“Tadi Hyunoo lihat Appa dan Eomma sedang berbicara, jadi Hyunoo tidak jadi memanggil.”

Saat itu juga, Kyuhyun ingin menjawab lagi, namun Haewoon datang dengan sebuah kantung berwarna hijau yang didalamnya ada beberapa potongan es yang memang digunakan untuk meredam rasa sakit, “Sini, Eomma obati dulu.” Ucap Haewoon setelah meletakkan kantung itu ke nakas dan beralih mengambil Hyunoo dari pangkuan Kyuhyun.

“Ssshh, sakit, Eomma…” Rintih Hyunoo setelah ia duduk di pangkuan Haewoon dengan matanya yang sesekali menutup untuk menahan rasa sakit itu.

“Tahan sebentar, nanti tidak sakit lagi. Sudahlah, Hyunoo tidur saja, nanti sakitnya hilang.” Haewoon merebahkan tubuh Hyunoo ke kasur perlahan, meletakkan guling kepelukan Hyunoo dan memeluk anak itu agar ia bisa tertidur.

Kyuhyun yang sempat merasa diacuhkan itupun sentak mengerucutkan bibirnya,  tapi seperkian detik kemudian ia kembali tersenyum. “Boleh aku tidur juga?”

Tanpa menjawab, Haewoon hanya menganggukkan kepalanya dengan tangannya yang bergerak mengusap dahi Hyunoo.

Kyuhyun yang mendapat ijin dari Haewoon itupun langsung merebahkan dirinya di samping Hyunoo dan memeluk anak itu. Ya, biarpun terhalang guling yang dipeluk Hyunoo.

***

2pm KST

Suasana langit di luar sana tampak sangat cerah. Namun angin berhembus dengan kencang, sehingga membuat hawa terasa lebih dingin. Haewoon saat ini sedang berada dalam bis setelah pergi ke rumah Sora untuk minta maaf karena kemarin ia lupa jika ia dan Sora membuat janji di kedai untuk mencari Hyunoo yang sempat hilang. Haewoon sentak mengeratkan jaket biru muda yang dikenakannya begitu merasa segerombolan angin itu menerpa wajahnya melalui kaca jendela bis yang sengaja di buka. Ya, ia pergi menggunakan bis. Bukan mobilnya sendiri. Hm, mungkin itu karena ia hanya ingin menikmati bepergian dengan menaiki bis setelah sekian lama tidak menaikinya.

Lalu Hyunoo? Ia di rumah dengan Kyuhyun. Mengingat Hyunoo yang mungkin masih merasa sedikit sakit dibagian kepalanya, ditambah lagi tadi saat Haewoon ingin berangkat, Hyunoo masih tidur. Jadilah ia tak tega untuk membawa anaknya itu. Memang, Haewoon merasa tak nyaman pada Kyuhyun karena menitipkan anaknya. Bagaimanapun juga Kyuhyun adalah orang baru dikenalnya. Tapi ia percaya, Kyuhyun adalah orang yang baik.

“Ah, sebaiknya aku membelikan mereka cemilan.” Gumam Haewoon sembari menoleh ke kiri dan memandangi suasana kota Seoul dari balik jendela bis. Seperkian detik kemudian seulas senyuman terukir di bibirnya yang merah alami itu. Entah apa yang membuatnya tersenyum. Ia hanya merasa senang begitu nama Hyunoo dan Kyuhyun melintas di pikirannya. Ia tampak seperti yeoja yang sudah memiliki anak dan suami. Ya, memang benar ia memiliki anak. Tapi suami?

Selang beberapa menit kemudian, bis itu berhenti di halte pusat kota Seoul. Haewoon pun turun dari bis dan melihat ke sekelilingnya. Lebih tepatnya memperhatikan keadaan lalu lintas sekarang. Ia ingin menyeberang menuju toko makanan ringan langganannya yang ada di seberang halte itu. Tapi sayang, lampu lalu lintas masih hijau untuk para pengendara. Jadilah ia harus menunggu sampai lampu berubah menjadi merah dan ia bisa menyeberang jalan.

“Apa makanan kesukaan Kyuhyun?” gumam Haewoon lagi sembari memasukkan tangannya ke saku jaket yang dikenakannya. “Apa ia suka Taokaenoy? Hm, Hyunoo dan aku suka sekali itu,” tambahnya, Haewoon menoleh ke arah lampu lalu lintas. Tapi masih sama, masih hijau dan belum berubah. “Sudahlah, aku beli itu saja.”

Setelah itu akhirnya lampu pun berubah, Haewoon dengan segera menyeberang jalan dengan sesekali membenahi rambutnya yang jatuh ke wajahnya kemudian menyibakkannya ke belakang telinga. Biarpun Haewoon tak berpakaian layaknya dokter pada umumnya, yang selalu berpakaian resmi. Tapi itu tak mengurangi keanggunan dan kecantikan Haewoon. Hanya dengan kemeja biru tua yang di lapisi jaket biru muda panjang selutut dan celana panjang hitam. Itu semua mampu memikat banyak pasang mata atas penampilannya, dan Haewoon sepertinya tidak merasa risih. Ia hanya mampu memberikan senyuman ramahnya kepada orang yang menatap dan tersenyum ke arahnya.

@Food Shop

Begitu sampai di seberang jalan, Haewoon langsung masuk ke toko makanan itu. Haewoon membungkuk sedikit kepada pemilik toko itu yang sudah dianggapnya sebagai bibinya sendiri.

“Ahjumma, bagaimana kabarmu?” sapa Haewoon ramah.

“Baik, bagaimana kabarmu dan anakmu?” balas Ahjumma itu sembari mengelus lembut rambut Haewoon.

“Baik, aku ke sini ingin membelikannya makanan kesukaannya.”

Taokaenoy?”

“Nde, Ahjumma. Masih ada, bukan?”

“Tentu, itu di sana.”

“Nde, gamsahamnida. Aku ke sana dulu.” Haewoon pun berjalan meninggalkan Ahjumma itu dengan masih mengumbar senyumnya. Ia berjalan menuju rak yang tertumpuk banyak sekali jenis Taokaenoy.

Haewoon berdiri di samping seorang namja yang entah mengapa selalu terkikik begitu matanya menatap sekumpulan Taokaenoy yang ada di depannya. Haewoon mengernyit, apa orang ini gila? Pikirnya. Haewoon mencoba tak menghiraukan namja itu, tapi sialnya namja itu justru semakin tertawa geli dan menghalangi Haewoon untuk mengambil Taokaenoy.

“Permisi, tuan.” Ucap Haewoon kepada namja itu. Sontak namja itu menoleh dan menatap Haewoon dengan tatapan tak percaya. Haewoon kembali mengernyit. Tatapan namja itu seolah-olah mengatakan bahwa ‘Bukankah ini orangnya?’ tapi Haewoon tak mengerti maksudnya apa. Hanya saja namja itu langsung menghentikan tawanya setelah melihat Haewoon. “Tuan…, gwaenchana?” tanya Haewoon sembari menggoyang-goyangkan tangan kanannya di depan wajah namja itu.

“Eoh? N-nde, gwaenchana…” Jawabnya begitu ia sadar dari tatapan terpakunya terhadap Haewoon tadi. Dan seperkian detik kemudian, namja itu membungkukkan badannya dan meminta maaf pada Haewoon.

“Mianhae, Aggashi.”

“Nde, gwaenchana.”

“Permisi…” Tanpa basa-basi lagi, namja itu langsung berbalik meninggalkan Haewoon ke arah meja kasir dengan membawa beberapa Taokaenoy yang di ambilnya sembarangan tanpa melihat terlebih dahulu rasa dan apa jenisnya.

‘Mirip sekali dengan Haewoon yang di foto milik Kyuhyun hyung itu. Tapi tidak mungkin itu Haewoon, ia seorang dokter. Tidak mungkin berpakaian seperti itu. Seorang dokter biasanya memakai kemeja resmi yang terlihat rapi dan juga rok. Tapi yeoja itu? Ya, memang pakaiannya cukup rapi dan ia juga tampak cantik. Tapi kurasa ia tak seperti seorang dokter. Hh, sudahlah Henry… Itu bukan Haewoon si dokter cantik itu.” Ucap Henry dalam hati, sesekali ia melirik Haewoon yang masih memilih cemilan. Sedangkan ia menunggu penjaga kasir mentotalkan berapa belanjaannya.

Setelah menerima kembalian, Henry merasa ponselnya bergetar.  Dengan segera ia mengambil ponselnya dan berjalan keluar dari toko itu. Henry menepi di samping toko yang di sana juga telah di sediakan sebuah bangku panjang untuk siapa saja yang ingin duduk. Henry pun duduk di bangku itu.

“Eoh, Kyuhyun Hyung? Wae, Hyung?” ucap Henry setelah menerima telepon yang ternyata dari Kyuhyun.

“Bisa kau bawakan foto Bollin ke rumah Haewoon?”

“Apa, Hyung? Foto siapa? Sungguh aku tidak mendengarnya, di sini terlalu berisik.”

“Foto Bollin. B-O-L-L-I-N.”

“Oh, Bollin Noona? Di mana kau menyimpannya?”

“Di nakas samping tempat tidurku. Di laci paling bawah.”

“Apa Hyung? Laci bekas?”

“Di laci nakas paling bawah, Cho Henry!”

“Oh, ne ne ne, Hyung. Hehe…”

“Ish, kau ini.”

“Mianhae nae Kyuhyun Hyuuuunggg….”

“Aish…”

Bip!

Henry tersenyum kemenangan dengan lidahnya yang menjulur begitu memutuskan sambungan teleponnya dengan Kyuhyun. Tentu saja, ia sebenarnya hanya berbohong. Ia bilang tempat itu berisik sehingga ia tak bisa mendengar ucapan Kyuhyun dengan jelas. Tapi nyatanya? Tempat itu tidak berisik, hanya terdengar deru mesin mobil yang melaju. Dan itu pun tak terlalu berisik. Satu lagi, sebenarnya Henry mendengar dengan jelas ucapan Hyungnya tadi.

Disisi lain, tampak Haewoon tengah memperhatikan Henry yang tengah mengutak-atik ponselnya. Ia memang tak sengaja mendengar percakapan yang antara Kyuhyun dan Henry dari sambungan telepon itu ketika ia ingin keluar toko dan pulang. Haewoon yang merasa sedikit penasaran pun akhirnya memilih untuk mendengarkan Henry berbicara di balik punggung namja bermata sipit itu. Tadi bukankah namja itu menyebut nama ‘Kyuhyun’? Apa benar yang diucapkan namja itu adalah Kyuhyun yang kini ada di rumahku? Bersama anakku? Hmm, jika benar. Lalu siapa itu Bollin? Pikir Haewoon sembari menggigit bibir bawahnya.

“Aish,  apa yang kau pikirkan Lee Haewoon!” desis Haewoon sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sedetik kemudian ia melangkah meninggalkan toko itu dan kembali menyeberang menuju halte bis.

-Apa aku sudah bernar-benar menyukaimu, Cho Kyuhyun? Jika tidak, kenapa saat aku mendengar namja itu menyebut nama ‘Kyuhyun’ aku merasa ada yang aneh? Apa benar yang dimaksud namja itu adalah Kyuhyun kau yang baru dua hari ini bersamaku dan Hyunoo? Jika iya, siapa itu Bollin? Apa kau sudah memilki kekasih? Atau sudah menikah?- Lee Haewoon.

***

 

Di sisi lain, tampak Kyuhyun yang sedang asik melihat-lihat album foto yang tadi menjatuhi Hyunoo sembari menunggu kedatangan Haewoon. Hyunoo juga masih tidur di sampingnya. Sesekali ia tersenyum untuk menahan tawanya agar Hyunoo tidak terbangun saat melihat foto-foto itu.

Bisa dilihatnya di album itu banyak sekali foto-foto pertumbuhan Hyunoo sejak ia masih bayi hingga sekarang. Saat Hyunoo menangis, tertawa, tersenyum, bahkan saat ia marah pada Haewoon dan wajahnya terlihat sangat kesal. Sangat amat lucu. Di sana juga tertera beberapa tulisan tangan yang di temple di samping foto itu.

‘Ini saat Hyunoo sedang menangis karena aku menakutinya dengan sosok Ahjussi pencabik itu. Hihi, anakku ini memang sangat lucu.’

‘Suasana liburan kali ini begitu indah. Jadi aku mengajak Hyunoo ke Paris untuk bertemu dengan kedua orangtuaku di sana. Lihatlah, ia terlihat sangat senang.’

‘Aigoo, dari mana anakku ini memperoleh senyuman semanis itu, eoh?’

‘Aku ingat sekali dengan yang satu ini. Saat aku mengajaknya jalan-jalan keliling kota Seoul, kemudian ia meminta es krim padaku, tapi aku tidak membelikannya. Ya, karena ia memang sedang sakit flu. Jadilah ia marah dan mengerucutkan bibirnya seperti itu.’

 

Senyum Kyuhyun merekah semakin lebar saat membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di berbagai kertas berwarna di dalam album itu. Tidakkah ia merasakan bagaimana kasih sayang Haewoon terhadap Hyunoo yang begitu besar?

“Sebegitu sayangkah kau terhadap anakku ini, Lee Haewoon?” ucap Kyuhyun masih dengan senyumannya dan tangannya yang masih sibuk membolak-balik album foto itu. Terkadang wajahnya terlihat murung saat mengingat bahwa ia tak bisa merawat dan mengetahui perkembangan Hyunoo sejak kecil. Tapi sekarang ia sudah menemukan Hyunoo. “Kuharap kau akan selalu menyayanginya, gomawo, Lee Haewoon.”

 

-TBC-

Advertisements

Author:

crazy girl called 'me'

111 thoughts on “[SERIES] “Uri Aegy Saranghaeyo!” Part. 2

  1. omo… omo… kyu mau apakan tuh foto bollin?
    nih ff ada comedy nya jg ternyata hahaha…. henry nihhh….
    next, keep writ and hwaiting thor^^

  2. Wah memang salut sama Haewoon bisa ngurus Hyunoo dgn baik walau bukan anak kandung.
    Trus kapan Kyu mau ngaku dia ayahnya Hyuno ya hmm….
    Seru ffnya!

  3. Hebat bgt hyuwoon, wlopun hyunoo bkan anak kandung.y tp dia sgt mnyayanginya dn juga dia mmbesarkn.y dgn baik.

  4. Sebenernyaa aku agak bingung, kok haewoon ngasih ijin kyu kerumahnya? Smpe tidur bareng lagi… Emang sih haewoon suka sama kyuu, tapi harusnya kan dia jaga jarak dulu :”

    But, it’s okaay lah yaa😁 namanya jugaa ff… Aku jugaa suka ff inii…. Semangaat author~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s